Minggu, 09 Maret 2014

Ahmad Afandi_Tugas1_Konsep Kabuyutan


Konsep Kabuyutan
"Ekologi Manusia"
Ahmad Afandi                  1111054000007
            Manusia, sama seperti organisme lainnya, merupakan bagian tak terpisahkan dari lingkungannya. Dengan demikian, semua kaidah atau hukum ekologi yang mengontrol mahluk hidup di muka bumi juga berlaku bagi manusia. Akan tetapi, manusia cenderung merasa superior sehingga ia sering kali berpikir mereka adalah organisme satu-satunya yang berkepentingan terhadap lingkungan sehingga tidak lagi mampu memenuhi prinsip-prinsip lingkungan. Ekologi manusia secara umum mengidentifikasi hubungan dan keterkaitan manusia dengan lingkungannya, termasuk bagaimana ia beradaptasi dengan lingkungan tersebut untuk memenuhi kebutuhannya.
            Pada materi kali ini akan dijelaskan juga mengenai ekologi manusia pada konsep kabuyutan yaitu konsep universal kebudayaan tatar sunda yang mewajibakan pada keturunannya untuk menjaga dan memilihara kosep kabuyutan ini.  Istilah kabuyutan selanjutnya terdapat dalam naskah kuna Sunda peninggalan abad ke-13, yaitu Naskah Ciburuy atau Naskah Galunggung yang terkenal sebagai "Amanat Galunggung" atau "Amanat Prabuguru Darmasiksa". Naskah Ciburuy ditemukan di daerah Ciburuy, Garut Selatan. Berdasarkan istilah istilah yang banyak mengenai istilah kabuyutan, ada beberapa yang bisa dikemukakan, diantaranya adalah:
1.      Kabuyutan yang berarti leluhur atau ketrunan nenek moyang
2.      Bedasarkan kata "buyut" yang artinya senutang larangan atau pantangan dari para leluhur sebagaimana yang diterapkan adat masyarakat baduy
3.      Nama suatu lembaga pendidikan dalam sejarah tatar sunda
4.      Nama desa-desa di kepulauan jawa di masa lalu buyut atau istilahnya dhari yang berarti nama seorang pemimpin desa.
            Demikianlah, kabuyutan untuk pembangunan kebudayaan dapat kita pandang sebagai salah satu nilai-nilai pokok dari Kebudayaan Tatar Sunda. Dari sudut pandang pembagian unsur kebudayaan, dimensi penting kabuyutan ini memuat kandungan multi nilai, diantaranya: sistem religi dan kepercayaan yang terkandung dalam situs, tempat keramat atau sakral; pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi; sejarah, arkeologi dan filologi; lingkungan, arsitektur dan tatanan alam lainnya; bahasa dan kesenian. Dimensi kabuyutan akhirnya berkaitan erat dengan unsur ekonomi, sosial, dan politik, sehingga secara keseluruhan kabuyutan mengandung muatan nilai-nilai seluruh unsur kebudayaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini