Senin, 28 Desember 2015

TUGAS UAS SOSIOLOGI

Tema : sekolah elit dan non elit
Nama :
Nadya Hendriyan putri (11150510000158) Jurnalistik 1A
Maulida wahid (11150510000023) KPI 1A
sholihah asri wijayani (11150510000091) KPI 1B

BAB I

PENDAHULUAN

 

Pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam menopang kemajuan pembangunan nasional.Pendidikan tentunya harus sistematis, mulaidari TK-SD-SMP-SMA dan PERGURUAN TINGGI.Dalam bidang pekerjaan pun, aspek yang paling diutamakan adalah "setinggi apakah jenjang pendidikannya?"sekolah adalah sarana pendidikan, ada sekolah negeri dan ada pula sekolah swasta. Tentunya, sekolah negeri adalah sekolah yang didirikan dan milik pemerintah, sedangkan sekolah swasta adalah sekolah yang di dirikan oleh pihak swasta (yayasan). Jaman ini, tidak semua sekolah tentunya berakreditasi A. ada yang berakreditas B/C/ bahkan belum memiliki akreditasi.Akan tetapi,  tentunya masyarakat jaman ini bisa dan sudah menilai mana sekolah yang berakreditasi baik/bahkan tidak baik.dalam makalah ini, kami akan mengupas mengenai tingkatan sekolah yang dinilai elit,biasa saja, dan non elit. Hal yang kami kupas,tentunya melihat dari perspektif sosiologi, dimana "mengapa mereka memilih sekolah elit ?" dan "mengapa mereka masuk sekolah non elit?". Tentunya banyak alasan diantaranya, mulai dari kemampuan anak tersebut sampai pada tahap "gengsi" yang dimana, kita ketahui jika kita masuk pada sekolah elit,pastinya banyak hal yang kita dapatkan, diantaranya yaitu naiknya kelas sosial kita dimata masyarakat. Terkadang, memang pada realitanya sekolah elit itu memiliki banyak keunggulan yang jauh lebih baik ya walaupun disamping biayanya pun cukup menguras keringat orang tua murid, dibanding dengan sekolah non elit yang bisa dibilang tidak ada keunggulan yang bisa menopang kualitas simurid secara signifikan.Dalam pembangunan nasional masa kini, tentunya kita harus mengetahui seberapa berperankah sekolah yang di cap "elit" dan "non elit" tersebut,dan apa pengaruhnya pada paradigma di masyarakat seputar sarana pendidikan tersebut.

                                                                                                                        

 

 

LANDASAN TEORI SOSIOLOGI

Pada penelitian ini, kami menggunakan teori sosiologi "kelas sosial" yang di usungo leh Karl Marx (Marxisme).Mengapa kami menggunakan teori sosiologi marxisme (kelas sosial) ?karena ini sesuai dengan apa yang kami teliti, yakni tentang adanya kesenjagan antara sekolah elitdan non elit yang dilihat dari perspektif sosiologi, tentunya teori kelas sosial inilah yang paling sesuai. Teori kelassosial (kapitalis&proletar) merupakan pengelompokan sosial paling mendasar pada masyarakat.Masyarakat selalu bertransformasi sehingga menyebabkan munculnya kaum kapitalis dan kaum proletar.Jika dilihat secara keseluruhana kan ada dua kelas dalam tatanane konomi kapitalis, yaitu kaum borjuis & kaum proletar. Kaum borjuis adalah pemilik sarana produksi dan pembeli tenaga kerja.Sedangkan kaum proletar adalah sekelompok orang yang tidak memiliki sarana produksi dan hidup dengan mengandalkan tenaga kerjanya.Borjuis sama dengan kapitalis,yang berprospek menghasilkan uang. Untuk menghasilkan uang, kaum kapitalis atau kaum borjuis harus membuatrelasi dengan kaumproletar,ya dengan cara membeli tenaga kerja kaum proletariat tsb. Lalu apa hubungan yang paling inheren antara teori ini dengan penelitian kami yang bertemakan "sekolah elit& non elit" ??tentunya ada, dikutip oleh teori kelas sosial yang mengatakan bahwa adanya perbedaan yang mendasar di masyarakat seputar kelas sosial, yakni kaum borjuis dan kaum proletar. Tentunya, sekolah elit adalah sekolah yang memang menyuguhkan kelebihan dari berbagai aspek, mulai dari fasilitas hingga tawaran bahwa "naiknya kelas sosial" jika kita memasuki saran pendidikan yang elit, bukan naik kelas sosial dalam hal materi saja, tetapi pandangan masyarakat pun akan merubah kelas kita secara otomatis. Lalu untuk apa adanya sekolah non elit ?yap, memang sekolah elit bukan berarti sengaja di berikan bagi mereka yang menerima sebutan "proletar" tetapi, ya pada realitanya, sekolah non elit menjadi tempat bagi mereka yang memang kecewa akan kemampuannya. Ntah kemampuan akademis ataupun kemampuan materinya.tentunya dari hal tersebut kita bisa melihat bahwa memang ada hubungan yang sangat melekat antara sekolah elit& non elit dengan kaum borjuis&proletar.

                                                                                                              

 

METODE PENELITIAN

Metode yang kami gunakan adalah metode observasi wawancara, yang dimana peneliti mendapat informasi dengan cara bertanya langsung kepada responden sambil bertatap muka antara penanya dengan responden dengan menggunakan alat bantu yang dinamakan interview guide (panduan wawancara). Dalam penelitian ini kami mengobservasi di 3 sekolah swasta,dengan 3 narasumber disetiap sekolahnya, ya sekitar 9 orang narasumber yang dilibatkan dalam observasi ini. Dalam sebuah wawancara, tentunya tidak langsung saja kami dapat melakukan wawancara, apalagi yang kami tujuan adalah sebuah sarana pendidikan formal yang memang dalam hal ini jika ingin menggali info, harus secara resmi yakni menggunakan surat pengantar dari fakultas,juga ditanya 'untuk apa datanya nanti ?'. pada hari pertama (12/12/2015), kami memutuskan untukobservasi disalah satu SMA swasta di Bogor, yakni SMA PGRI 1 BOGOR, saat tiba kami langsung menuju ruangan tata usaha, yang ternyata bisa langsung wawancara dikarenakan kegiatan belajar mengajar sudah tidak begitu aktifh anyad iisi dengan classmeeting,tentunya salah satu guru disana pun dapat dimintai keterangan, tetapi tida kingin di abadikan "gakusah di fotoya" pintanya. Setelah kami mewawancarai sang guru, langsung kami meminta salah satu murid untuk dimintai wawancara, wawancara pun berjalan dengan santai dan terbuka, untuk pendapat masyarakat, kami meminta pendapat dari salah satu supira ngkutan umum 01 di Bogor. Pada hari selanjutnya (14/12/2015), kami memutuskan untuk melakukan observasi wawancara kesalah satu sekolah swasta di daerah UIN, tetapi ternyata saat kelokasi, itu bukan berbasis SMA,maka dari itu, harii tu pun kami memutuska nuntuk membatalkan observasi. Pada hari berikut (15/12/2015) kami memutuskan untuk ke MA PEMBANGUNAN, saat kami ke MA, ternyata satpam disana berkata bahwa harus ke kantornya (di dalam MI MTS PEMBANGUNAN),saat kami kesana, pihak sekolah berkata bahwa kami harus menggunakan surat pengantar observasi dari fakultas, itu pula yang menyebabkan kami terpaksa harus berbalik arah&langsung kembali ke fakultas untuk menunggu pembuatan surat pengantar dan tidak ingin membuang waktu karena mengingat jika libur sekolah sudah dekat, dan kami memutuskan untuk observasi wawancara di SMA DUA MEI, dengan bantuan teman kami yang alumni di SMA DUA MEI,kami langsung ke lokasi. tetapi setelah ditunggu 2 hari ternyata surat pengantar tersebut tidak kunjung jadi, menyebabkan kami menjadi mengganti objek wawancara yang semula ingin di MA PEMBANGUNAN menjadi SMA REGINA PACIS di Bogor, kebetulan salah satu teman saya ada yang bersekolah di SMA REGINA PACIS sehingga dapat meminta bantuannya. Akan tetapi saat kami ke SMA REGINA PACIS BOGOR sedang ada classmeeting dan KBM tidak aktif karena baru selesai uas, untuk wawancara pun kami tidak begitu menggali banyak info karena pihak yang bersangkutan tidak begitu bisa memberi info yang mendalam (18/12/12) Sedikit pelajaran dan pengalaman barubah wawasan nya metode wawancara tidak semudah jika anda bertukar informasi dengan teman yang dimana kalian sudah akrab, tetapi bermain diranah yang mana kita tidak mengenal bahkan tidak mengetahui objek tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

GambaranLokasi

 

Dalam penelitian ini kami akan meneliti 3 sekolah swasta berbasis SMA. Yakni dalam hal ini yaitu, pertama adalah SMA dua mei yang beralamat di Kp.Bulak,Ciputat Timur,Tanggerang Selatan Banten, lalu yang kedua adalah SMA PGRI 1 BOGOR yang beralamat di jalan binamarga 1 no.17,Bogor timur,kota Bogor,dan yang ketiga adalah SMA REGINA PACIS BOGOR yang beralamat di jalan Ir.Haji Juanda No.2 Bogor. Dalam hal ini kami menempatkan SMA REGINA PACIS sebagai sekolah elit, SMA PGRI 1 BOGOR sebagai sekolah biasa dan SMA dua mei sebagai sekolah yang bisa disebut non elit. Perbedaan memang terlihat dari segi lokasi yang dimana bahwa SMA REGINA PACIS bertempat di pinggir jalan sekitar Istana Bogor,di daerah SMA REGINA PACIS terdapat pula SD dan SMP nya, ya bisa disebut sebagai suatu yayasan yang terpadu. Suasana sekolah SMA REGINA PACIS sangat bersih dan ter urus,memiliki banyak kelas, tetapi uniknya disini yakni bangunan kelasnya tidak mencapai atas, dan tidak ada jendelanya (terbuka) hanya berpintu seperti pager saja, dan disana pula masih menggunakan lonceng. Walaupun terlihat bangunan tua, tetapi arsiteknya masih kokoh dan elit, tidak gersang, kamar mandi nya pun bersih. SMA PGRI 1 BOGOR, inipun dari lokasinya terletak di sebuah gang sebelah jalan tol Bogor, suasana sekolahnya memang bersih, akan tetapi tidak sebersih di SMA REGINA PACIS, disini suasana kelas pun cukup gaduh karena saat classmeeting, justu malahan kelas menjadi sangat acak-acakan karena tidak adanya guru. Suasana kantin pun acak-acakan karena siswa banyak diam di kantin. Lalu di SMA dua mei terletak di dalam gang, suasana disana sedang ada class meeting ya di ingat ini sudah menyelesaikan uas, tetapi kebersihan juga cukup di perhatikan disini. Suasana kelas di SMA dua mei sama hal nya sepergi di SMA PGRI 1 BOGOR, ya acak-acaan banyak pula yang berdiam di kelas dengan tatanan kursi dan bangku yang tidak sesuai pada tempatnya. Suasana kantin nya pun tidak jauh berbeda dengan di SMA PGRI 1 BOGOR, tetapi memang ukuran kantin lebih kecil, daripada di SMA PGRI 1 BOGOR. Dari ketia sekolah yakni , SMA REGINA PACIS,SMA PGRI 1 BOGOR, dan SMA dua mei cukup kumplit sarana yang di berikan. Ada tempat ibadah (musholah) untuk SMA PGRI 1 BOGOR & SMA dua mei, dan ada ruang peribadatan umat kristian untuk SMA REGINA PACIS ya diingat SMA REGINA PACIS adalah sekolah dengan keyakinan katolik. Tetapi dalam penelitian ini, yang kami sebut "elit" dan "non elit" bukan dari segi fasilitas, tetapi dari prestasi didalamnya. Walau tidak bisa kami pungkiri ketika prestasi baik, maka fasilitas pun "biasanya" akan mendukung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

Analisishasil

 

Seperti yang sudahdijabarkan sebelumnya,bahwamarxmembedakan 2 kelassosial di masyarakat, yaknikaumborjuis&proletar. Hal initentueratkaitannyadengansaranapendidikan yang sepertiapa yang secaratidaklangsungmenjaditempatbagikaumborjuis&proletartadi,diingatbahwamasakini "dimanakamusekolah?" menjadipertanyaan yang sengit, jikamemangkitabersekolah yang di sekolahan elite yang bisamenaikankelassosialkitasecaraotomatis. Dalamanalisishasilini, kami akancobamenjabarkanperbedaan yang ada di setiapsekolahtentunyadariperspektifsosiologi.

 

SMA DUA MEI

SMA dua mei, kami masukan kedalam kategori sekolah non elit. Mengapa ??karena berdasarkan narasumber yang kami dapat yakni guru dan murid juga pandangan masyarakat yaitu, sebagai berikut :

·         Guru

 

Kami sudah memberikan pertanyaan untuk guru, yang dijawab sesuai adanya. Disebutkan bahwa, mayoritas murid yang masuk ke sekolah SMA dua mei adalah mereka yang :

1.      Tidak di terima di SMA NEGERI

2.      Mereka yang memiliki kasus di sekolah sebelumnya

Guru pun menyebutkan bahwa murid di sekolah ini sangat kurang antusiasnya kepada mata pelajaran, tidak semua murid ingin mengejar nilai dengan baik, seperti hal nya remedial pun harus selalu diingatkan, adanya pula perbedaan yang mendalam antara jurusan ips dan ipa, yang dimana menyebutkan bahwa anak ipa lebih rajin dari pada anak ips. Ia menyebutkan bahwa, anak ipa lebih antusias saat belajar dan anak ips lebih malas tidak begitu antusias dalam setiap mata pelajaran. Guru pun menyebutkan, bahwa halnya dari sisi orang tua pun, dilihat dari penampilan ya mereka berpenampilan biasa saja (mayoritasnya), jika dalam pembagian rapot pun dilihat bahwa mereka ya terima-terima saja, tidak begitu perhatian terhadap nilai anaknya, ya disebutkan bahwa " ya terima aja anaknya memang kecil dari sisi akamedis nya",kami simpulkan bahwa mereka (orang tua siswa) memaklumi mengapa anaknya masuk SMA dua mei diluar keterbatasan kemampuan akademiknya.Respon orang lain pada saat sang guru mengajar disitu ya "duh pak, anaknya masih pada rese-rese gak di dua mei?" banyak memang komentar miring menghampiri. Dari segi KKM di setiap mata pelajaran sekitar 75 itupun tidak semua murid bisa mencapai 75 "ya namanya juga anak-anak nya pada males ya, jadi gak semua bisa mencapai kkm, paling dibantu remedial. Itu juga kadang harus di kejar-kejar",ini menunjukan bahwa ketertarikan anak sangat memprihatinkan.

Masalah yang timbul dari muris antara lain :

1.      Telat masuk sekolah (itu sudah sering)

2.      Murid membantah kepada guru

3.      Keluar saat jam pelajaran

4.      Tauran (satu tahun lalu)

 

·         Murid

 

Nama :  M. Taufan

Umur : 17 tahun

Kelas : 12

Murid mengatakan bahwa alasan mereka masuk ke SMA dua mei adalah "gak keterima di negeri", "aku sih pindahan, abisnya sempet ada kasus ga keterima di sekolah lain soalnya mau uas, tapi disini di terima, jadi ya masuk sini", dan ada pula "deket dari rumah kak". Sangat sedikit murid yang memang "berniat" dari awal agar masuk SMA dua mei. Murid pun mengatakan, bahwa murid-murid disini sangat mengutamkan "dandan". "disini cewenya dandan mulu kak, lagi belajar aja ngaca mulu, lipstikan pake alis juga ada ya", ini menunjukan bahwa murid kurang seriu pada pelajaran ataupun saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, mereka lebih mengutamakan, dandan dibanding focus belajar. Saat ditanya berapa harga jajanan di sekolah tersebut, ya mereka mengatakan bahwa memang terjangkau, tidak terlalu mahal.Diantara tersebut, ditanya bagaimana hubungan teman satu dengan teman yang lainnya, mereka mengatakan "hubungannya sih akrab kak, kadang becanda mulu dikelas" dari jawaban tersebut kami dapat menganalisis bahwa mereka berbaur dan tidak ada tingkatan sosial yang signifikan menjadi pembeda yang mencolok. Lalu, saat ditanya apakah mereka mengikuti les lain, mereka menjawab "engga kak, pusingg" ada pula "bayar lagi kak berarti haha" ini menunjukan bahwa memang ketertarikan untuk belajar di lain lembaga itu tidak ada,dan dari segi ekonomi pun kurang mendukung. Saat diberi pertanyaan bagaimana kualitas guru, mereka menjawab bahwa guru ya semuanya baik adapula yang tegas,"santai sih kak, ga terlalu menekan", dan saat di Tanya jika nilai kalian kurang apa yang guru kalian lakukan, mereka menjawab "kalo nilai kurang ya ga semua guru ngejar-ngejar kita juga ya, kadang gimana kita aja, kalo ga remed ya merah di rapot" ini menunjukan jika guru nya pun tidak begitu perhatian akan nilai muridnya. Selain itu, ada beberapa siswa yang mengaku bahwa memang 1tahun lalu sangat in sekali mengenai tauran "iya kak,sama disini juga tauran sih anak tongkrongannya rata-rata ikut rebut semua" ini menunjukan bahwa memang siswa di sekolah tersebut kurang sadar akan perannya disekolah. Lalu bagaimana cara guru menyelesaikan kasus biasa aja, jarang sekali untuk di beri punishment yang keras, mungkin karena gurunya pun sudah biasa dengan tingkah anak-anak yang melanggar. Saat ditanya bagaimana respon orang lain saat kalian masuk sekolah SMA dua mei ?mereka menjawab "ya gitu katanya, ya elah kenapa dua mei?", "wess anak ribut dong", dari hal in I menunjukan bahwa memang komentar negative kadang ada atau cemoohan kadang ada saat mereka bersekolah di sekolah tersebut.untuk segi transportasi banyak yang menggunakan angkutan umum dan jalan kaki (bila rumahnya dekat)

·         Komentar masyarakat

Mengenai komentar masyarakat, kami meminta komentar dari salah satu penjaga warnet di sekitar dua mei, mengatakan bahwa murid di dua mei ya terkadang sudah memasuki jam kegiatan belajar pun masih ada yang berkeliaran di luar gerbang "kadang ada juga yang di warnet sih mba, jam 10 pagi aja di warnet". ini menunjukan bahwa masyarakat pun melihat murid-murid disekitar sini kurang patuh terhadap peraturan. tetapi ditambahkan bahwa "ya kalo di murid-muridnya baik-baik sih gak songong",ini menunjukan bahwa memang dari segi tingkah laku kepada masyarakat tetap sopan dan ramah.

Dari segi prestasi,sayangnya SMA dua mei tidak memiliki prestasi dari segi akademis nya. Tetapi dari segi non akamedis ada, seperti takwondo dan karate.

 

SMA PGRI 1 BOGOR

SMA PGRI 1 BOGOR,kami memasukan SMA PGRI 1 BOGOR dalam kategori sederhana. Berikut keterangan dari Guru, murid, dan masyarakat sekitar.

 

·         Guru

Kami sudah memberikan pertanyaan untuk guru, yang dijawab sesuai adanya. Disebutkan bahwa, mayoritas murid yang masuk ke sekolah SMA PGRI 1 BOGOR  adalah mereka yang :

1.      Tidak di terima di SMA NEGERI

2.      Mereka yang memiliki kasus di sekolah sebelumnya

Guru mengatakan bahwa " kalo disini banyaknya yak arena ga diterima di SMA KOTA ya, kalo yang pindahan sih diliat gimana dia di SMA sebelumnya, gabisa nerima pindahan saat semester nanggung" ini menunjukan bahwa SMA PGRI 1 BOGOR sedikit selektif disbanding SMA dua mei. Guru mengatakan bahwa kini murid di SMA PGRI 1 BOGOR lebih meningkat mengenai kepatuhan terhadap peraturan sekolah, sepertinya mereka tidak banyak melanggar, karena sudah di tegaskan beberapa kali ya mereka jadi patuh untuk sekarang, seperti halnya pelanggaran di sekolah lain, kini sudah minim pelanggaran yang terjadi, dari segi berseragam pun mereka patuh. Dari kkm pun, kini sudah ada peningkatan, "ada yang 80 tapi belum banyak", dan dari segi ketertarikan belajar juga mereka rata-rata sudah mulai peduli akan nilai mereka. Dan kasus yang ada di sekolah tersebut memang sama seperti di SMA DUA MEI, antara lain :

1.      Telat masuk sekolah

2.      Membantah kepada guru

3.      Tidak masuk sekolah

4.      Sempat ada tauran

Mengenai tauran, memang 2 tahun lalu sempat musim tetapi tidak melibatkan atau membawa namaSMA PGRI 1 BOGOR melainkan hanya melibatkan beberapa murid saja. Tetapi sekarang sudah tidak ada siswa yang terlibat kasus tersebut.Dari sisi orang tua, disini lebih beragam, tidak sedikit orang tua yang sangat care kepada anaknya sehingga banyak juga yang memantau anaknya melalui sang guru "disini pada baik juga ya, ada beberapa yang kalo anaknya ulang tahun di undang". Respon orang lain, pada saat sang guru mengajar di sekolah tersebut ya beragam ada yang "aduh gimana kkm naek ga ?".murid pun sekarng menjadi lebih disiplin karena banyak peraturan baru yang mengikat dan mengatur siswi yang pada akhirnya sekarang yang telat pun sudah sedikit bahkan kadang tidak ada, hanya hari tertentu saja, karena sanksi tegas yang membawa mereka untuk berubah menjadi lebih disiplin.

·         Murid

Nama : M.Fadly Firdaus

Umur : 17 tahun

Kelas : 12

(dan teman-temannya)

Dari sisi murid,kebanyakan mereka bahwa "aku ga masuk ke sma 3 bogor, jadi deh kesini" adapula yang berkata bahwa "pindahan dari sma 7 bogor kak" menunjukan bahwa mayoritas yang masuk ke SMA PGRI 1 BOGOR  karena mereka yang tidak masuk SMA yang mereka mau. Mereka mengatakan pula, saat masuk SMA PGRI 1 BOGOR ini juga dengan dukungan orang tua. Murid disitu pun memang banyak yang mengikuti les di luar, mereka bilang "disuruh orang tua sih les" ini menunjukan bahwa memang perekonomian orang tua mereka cukup, dan mereka peduli dengan kualitas sang anak. Mengenai kantin di sekolah, mereka mengatakan bahwa lumayan jajanan yang tawarkan, seperti mie ayam ya 8rb, jus 5rb. Itu menunjukan jika jajanan dikantin tersebut akan menyesuaikan dengan kemampuan siswa siswi yang bersekolah disitu. Mereka kebanyakan menggunakan motor sebagai kendaraan transpot ke sekolah. Soal uang saku pun "ya 25rb sehari sih" ini pula menunjukan bahwa perekonomian orang tua ya standar. Mengenai bagaimana cara guru mengajar mereka berkata bahwa kebanyakan guru ya tegas,jika belum remedial akan di suruh remedial secepatnya, dengan memberi tugas tambahan atau justru ulangan kembali. Sat ditanya mengenai kedekatan antara siswa dengan temannya yang lain, mereka mengatakan bahwa "disini akrab aja sih,cuman yang gaul ya sama yang gaul becandanya" ini menunjukan bahwa memang ada sedikit kesenjangan di antara mereka, "yang gaul sih style juga beda, dandan mereka mah, tapi itu anak cewe sih, anak cowonya engga biasa aja", disekolah ini pun hamper sama seperti sekolah dua mei, anak muda yang dandan. Mengenai tauran mereka berkata bahwa "oh iya pernah pas lagi musim, cuman itu sama tongkrongan bukan atas nama pione (SMA PGRI 1 BOGOR)" jadi memang pada saat musim tauran di bogor beberapa tahun lalu, mereka sempat ikut hal tersebut,hanya saja tidak membawa nama sekolah.mengenai respon teman-teman pada saat mereka masuk SMA PGRI 1 BOGOR beragam "wes anak sma kota","ga keterima ya di negeri ?" dll nya.

·         Komentar masyarakat

 

Kami melibatkan penjual mie ayam di sekitar sekolah yang mengatakan "wah anak smapione sekarang pada baik sih, gapernah banyak ulah kaya 2 tahun lalu" dan juga "udah ga pernah keliaran pas jam belajar sih yasoalnya katanya sih sekarang tegas" ini menunjukan bahwa memang sekarang SMA PGRI 1 BOGOR muridnya memiliki peningkatan disbanding dengan beberapa tahun sebelumnya.

 Mengenai prestasi yang di raih di SMA PGRI 1 BOGOR,yakni lomba Nasyid tetapi untuk akademik nya belum.

 

SMA REGINA PACIS BOGOR

Kami mengkategorikan SMA REGINA PACIS BOGOR sebagai Sma yang elit. Berdasarkan 3 narasumber yakni :

·         Guru

Sang guru mengatakan bahwa mayoritas murid yang memilih SMA REGINA PACIS adalah mereka yang memang umat katolik yang ingin belajar dengan baik disertai ilmu pengetahuan mengenai keagamaan katolik.Tetapi adapula yang memilih SMA REGINA PACIS karena mereka yang tidak diterima di SMA 1 BOGOR. "kalaupun karena tidak diterima di sekolah negeri, ya itu paling hanya SMA 1 BOGOR" sisanya pasti mereka mungkin akan memilih sekolah swasta yang lain, yak arena ini sekolah katolik maka mayoritas hamper sluruhnya umat katolik". Dari sisi orang tua pun, memang kebanyakan orang tua yang berekenomi cukup, karena biaya SPP nya pun mahal dibanding sekolah swasta lain disertai fasilitas yang memuaskan. Karakter orang tua disini jika ada pembagian rapot ya beragam, ada yang membawakan kue atau bahkan sampai tas sebagai tanda terima kasih dan mayoritas mereka memiliki kendaraan pribadi. Para orang tua sangat care kepada siswa, dan memiliki kontak guru, bahkan jika ada yang tidak hadir, pasti sang orang tua juga ikut di hubungi guna memastikan alasan ketidak hadirang sang anak. Mengenai nilai rata-rata KKM itu sekitar 85 dan memang hamper selurnya mencapai target, tidak begitu sulit bagi mereka mencapai KKM. Jika ada yang di remedial pun, sang guru langsung menentukan waktu & lokasi remedial guna mempercepat penilaian ulang.untuk kasus murid, tidak begitu banyak, tidak pernah tercatat ada kasus yang berat, hanya telat saja, itu pun sangat jarang, karena sekolah ini sangat disiplin, ya kita ketahui sekolah katolik memang terkesan dengan kedisiplinan yang tinggi. Aturan pun tertib di patuhi, "gak ada siswi yang memang sengaja bandel atau asal bicara, mereka aktif dikelas dan gak bermasalah". Semua siswi rata-rata seimbang ketertarikannya antar mata pelajaran.

 

·         Murid

 

Alasan murid masuk atau memilih SMA REGINA PACIS anatara lain :

1.      Karena SMA ini dikenal dengan SMA yang elit dan disiplin juga terkenal dengan murid yang berkualitas

2.      Karena ini sekolah SMA katolik yang bagus disbanding yang lain

3.      Karena disuruh orang tua

4.      Karena memang keluarga banyak alumni sini

5.      Karena tidak di terima di SMA 1 BOGOR

Mereka masuk di SMA REGINA PACIS BOGOR karena memang didukung dengan kemauan orang tua yang tinggi, "ini udah dikenal SMA swasta yang bagus dari banyak sisi kak" ini menunjukan bahwa memang SMA REGINA PACIS elit dari sisi pendidikan akademik nya. Murid pun memang mengikuti les diluar "hamper semua ikut les diluar, kaya di BP/LIA/EF/primagama" ini menunjukan bahwa orang tua & murid sangat mengutamakan pendidikan dan tentunya didukung dari sisi ekonomi yang menopang. Mereka banyak transpot menggunakan angkutan umum,motor,dan di jemput oleh orang tua atau abudement. Hubungan antar teman pun baik, tapi mengena waktu "ya kita becanda kalo ga ada guru aja, kalo ada guru emang semuanya merhatiin jadi buat ngobrol pun kadang ga ada temen".Lalu, hubungan disana ya akrab tetapi untuk rasa kepedulian tidak begitu melekat "disini sih yang aku rasain ga begitu kepo ya ka biasa aja", mereka memang cenderung "cuek".Untuk kedisiplinan, mereka sangat mengutamakan, tidak ada yang bermake up, karena pasti di tegur oleh guru dan pasti di cemooh oleh teman-teman nya, "alay" begitu mereka bilang. Respon teman-teman saat mereka bersekolah di SMA REGINA PACIS tentunya banyak yang memuji seperti "cie anak RP"/"kkm nya kuat ?" respon lebih ke arah yang positive. Dan bagi pria nya, mereka tidak pernah sekalipun ikut yang namanya "tauran" karena memang lingkungan disana bebas dari tauran, mereka hanya ambisi sekali dalam hal basket, kalo untuk tauran mereka tidak mau ikut-ikutan. Mengenai kantin disana, hanya ada jajanan yang memang sama seperti di supermartket, tidak ada jajanan yang aneh-aneh, ya jus aja sekiatr 8rb, mie goreng 6rb, tetapi banyak dari mereka ya memilih untuk membawa bekal masing-masing.

·         Komentar masyarakat

 

Kami mewawancarai pedangan bakso didepan SMA REGINA PACIS, mereka berkomentar baik seperti "ya dari dulu juga ga pernah aneh-aneh anak reginapacis, namanya juga sekolahan elit neng" kita bisa menilai bahwasanya sekolah SMA REGINA PACIS dikenal dengan ke elitannya ntah itu dari bidang akademik ataupun fasilitasnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

 

Dari ketiga sekolah SMA swasta tadi yang telah kami jabarkan, bisa dilihat adanya perbedaan antara sekolah elit,biasa, dan non elit. Untuk sekolah elit kami tempatkan pada SMA REGINA PACIS BOGOR,  sekolah biasa SMA PGRI 1 BOGOR,dan sekolah non elit adalah SMA DUA MEI. Dilihat dari sisi kelas sosial pun, memang sangat jauh antara ketiga SMA tersebut, ketika mereka masuk SMA REGINA PACIS, komentar positive pun datang "cie anak RP"/ "kuat gak kkm nya" beda halnya dengan SMA DUA MEI & SMA PGRI 1 BOGOR memiliki komentar yang sedikit negative ya tetapi tidak menjelek-jelekan juga. Dari sisi orang tua pun, mereka yang memasukan ke SMA yang elit adalanya mereka yang juga berekonomi baik dan tinggi, ditopang dengan kepedulian terhadap kelas sosial yang tinggi,karena memang dikenal sebagai sekolah favorite sejak lama, ntah itu dalam bidang akademik maupun fasilitas, banyak yang masuk ke SMA REGINA PACIS BOGOR karena memang tujuan utama mereka, tetapi beda hal nya dengan SMA DUA MEI ataupun SMA PGRI 1 BOGOR yang bisa dikatakan sebagai pilihan terakhir. Dari sisi KKM pun berbeda, untuk SMA REGIN PACIS mereka sudsh menginjak KKM 85 sedangkan yang sederhan & non elit itu hanya sekitar 75 sampai 80. Dari sikap muridnya pun berbeda, di SMA non elit & sederhana mereka cenderung masih ada rasa care antar teman, tetapi di SMA REGINA PACIS mereka cenderung individual dan tidak begitu ingun tahu. Dari sisi masalah yang dihadapi pun,SMA REGINA PACIS jauh bahkan tidak mengenal yang namanya ":tawuran" berbeda jauh dengan mereka yang bersekolah di SMA DUA MEI & SMA PGRI 1 BOGOR yang memang dekat dengan lingkungan tawuran. SMA REGINA PACIS lebih dikenal denga ekslusif terhadap hal negative yang membawa nama baik sekolah, murid nya pun tidak begitu minat & tertarik akan nongkrong tidak jelas bahkan tawuran. Dari sisi kantin dan jajanan pun, sesuai dengan perkenomian siswa siswi yang bersekolah disitu. Ini menunjukan bahwa ketika kita masuk ke dalam sarana pendidikan yang elit, kita pun akan secara otomatis naik kelas sosial.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

1.      Prof.DR. I.B WIRAWAN- teori teori sosial dalam tiga paradigma

2.      www.reginapacis.sch.id



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini