Senin, 18 Maret 2013

EKOMAN_1_LILIS_YUNENGSIH_PMI

Nama  : Lilis Yunengsih
Nim     : 111005400005
Jurusan : Pengembangan Masyarakat Islam
Menuju Zaman Surya
Pandangan hidup sistem merupakan suatu landasan yang kuat tidak hanya bagi ilmu-ilmu perilaku dan kehidupan melainkan juga bagi ilmu-ilmu sosial, terutama ilmu ekonomi. Semua persoalan ekonomi kita dewasa ini sebenarnya merupakan persoalan-persoalan yang sistematik yang tidak lagi dapat dipahami.
Para ekonom konvensional, baik neoklasik, Marxis, Keynestian, atau pasca Keynestian, pada umumnya kurang memiliki suatu perspektif ekologis. Para ekonom cenderung memisahkan ekonomi dari struktur ekologis yang melingkupinya, dan cenderung menggambarkannya dalam pengertian model-model teoritis yang sederhana dan sangat tidak realistik. Sebagian besar dari konsep dasar mereka, yang didefinisikan secara sempit dan digunakan tanpa konteks ekologis yang terkait, tidak lagi tepat untuk memetakan aktivitas-aktivitas ekonomi dalam sebuah dunia yang secara fundamental saling tergantung.

Situasi tersebut semakin diperlemah karena sebagian besar ekonom, dalam suatu pencarian keketatan ilmiah yang salah bimbing, secara terang tidak menerima sistem nilai yang menjadi dasar model mereka dan secara diam-diam menerima perangkat niali-nilai yang benar-benar tidak seimbang. Nilai-nilai ini telah membawa kepada penekanan yang berlebihan pada teknologi keras, pemakaian yang boros, dan eksploitasi sumber daya alam. Pertumbuhan ekonomi, teknologi, dan kelembagaan yang tak terbedakan masih dianggap sebagai tanda dari suatu ekonomi yang "sehat" oleh sebgaian besar ekonom, meskipun pertumbuhan tersebut kini menyebabkan malapetaka ekologis.
Pendekatan sistem terhadap ilmu ekonomi akan memungkinkan suatu tatanan di dalam kekacauan konseptual dewasa ini dengan cara memberi perspektif ekologis yang sangat dibutuhkan itu kepada para ekonom. Menurut pandangan sistem, ekonomi adalah sebuah sistem yang hidup yang terdiri atas manusia dan organisasi-organisasi sosial yang berbeda dalam interaksi secara terus menerus satu sama lain dan dengan ekosistem-ekosistem yang mengitarinya yang menjadi gantugan hidup kita. Seperi halnya organisme individual, ekosistem merupakan sistem yang mengorganisasikan diri dan mengatur dirinya sendiri dimana binatang, tumbuh-tumbuhan, mikro organisme, dan zat-zat tak hidup terkait malalui suatu jaringan-jaringan saling ketergantungan yang kompleks yang melibatkan pertukaran materi dan energi di dalam siklus yang terus-menerus. Penerimaan terhadap hakikat semua dinamika sistem yang non-liniar merupakan esensi kesadaran ekologis, esensi "kearifan sistemik", sebagaimana kata Beteson. Jenis kearifan ini merupakan ciri khas kebudayaan-kebudayaan tradisioanal nontulis, tetapi secara menyedihkan telah diabaikan di dalam masyarakat kita yang terlalu rasinala dan termekanisasi.
Kearifan sistematik didasarkan atas suatu penghormatan yang tinggi pada kearifan alam, yang sepenuhnya konsisten dengan wawasan-wawasan ekologi midern. Lingkungan alam kita terdiri atas ekosistem-ekosistem yang dipenuhi oleh organisme-organisme yang tak terhitung yang telah berevolusi bersama selama milyaran tahun. Prinsip-prinsip pengatur ekosistem-ekosistem ini harus dianggap lebih unggul dari pada prinsip-prinsip teknologi manusia yang didasarkan pada penemuan-penemuan baru-baru ini dan seringkali, pada proyeksi-proyeksi linier jangka pendek.
Pelanet kita sekarang ini berpenduduk sedemikian padat sehingga semua sistem ekonomi sebenar-benarnya terajut dan saling tergantung secara penuh persoalan-persoalan yang paling penting sekarang ini adalah persoalan-persoalan global.
Untuk menggambarkan ekonomi dengan tepat di dalam konteks sosial dan ekologis, konsep-konsep dasar dan variabel-variabel dari berbagai teori ekonomi harus dikaitkan dengan konsep dan variabel yang digunakan untuk menggambarkan sistem-sistem sosial dan ekologis. Hal ini menyiratkan bahwa tugas pemetaan ekonomi itu akan memerlukan suatu pendekatan yang multidisipliner. Tugas itu tidak dapat lagi diserahkan pada ekonom semata melainkan harus ditopang dengan wawasan-wawasan dari ekologis, sosiologis, ilmu politik, psikologis, dan disiplin-disiplin lainnya.
Pada waktu kita mengadopsi suatu perspektif ekologis dan menggunakan konsep-konsep yang tepat untuk menganalisis proses-proses ekonomis, menjadi jelaslah bahwa ekonomi kita, lembaga sosial kita, dan lingkungan alam kita kini mengalami ketidak seimbangan secara serius. Obsesi kita dengan pertumbuhan da ekspansi telah membuat kita memaksimalisasikan terlalu banyak variabel secara berlarut-larut. Sebagaimana dalam organisme individual, ketidak seimbangan dan kurangnya fleksibilitas semacam itu dapat digambarkan dalam pengertian stres, dan berbagai aspek krisis kita dapat dilihat sebagai gejala majemuk dari stres sosial dan ekologis ini. Untuk memulihkan suatu keseimbangan yang sehat kita harus mengembalikan varibel-varibel yang sudah terlalu gawat itu ke tingkat-tingkat yang dapat dikendalikan.
Karena kondisi ketidak seimbangan kita dewasa ini sebagian besar merupakan konsekuansi dari pertumbuhan yang tak terpilah-pilihkan, maka persoalan skala akan memainkan suatu peran yang sentral dalam reorganisasi struktur ekonomi dan sosial kita. Kriteria skala harus berbanding dengan dimensi-dimensi manusiawi. Yang terlalu luas, cepat, atau terlalu ramai dalam bandingannya dengan dimensi-dimensi manusiawi itu berarti terlalu besar. Pentingnya persoalan skala tersebut menjadi semakin jelas bahkan dari sudut pandang ekonomi melulu meskipun, pada waktu semakin banyak perusahaan raksasa menderita sentralisasi yang berlebihan dan kerentanan-kerentanan teknologi yang saling terkait secara kompleks.
Diantara banyak contoh pertumbuhan yang berlebihan, pertumbuhan kota merupakan salah satu ancaman terbesar bagi keseimbangan sosial dan ekologis; oleh karena itu, deurbanisasi akan menjadi suatu aspek yang menentukan bagi pengambalian ke suatu skala yang lebih manusiawi. Sebagaimana telah di uraikan oleh Roszak, proses deurbanisasi buakan merupakn sesuatu yang perlu digagalkan; proses tersebut hanya perlu dimungkinkan untuk terjadi. Beberapa pol pendapat telah menunjukan bahwa hanya sekelompok kecil penduduk kota tinggal di kota. Sedangkan mayoritasnya lebih suka tinggal di kota-kota kecil. Dengan demikian, yang kita perlukan untuk mengekang pertumbukan kota adalah menciptakan insentif ekonomi, teknologi, dan program-program bantuan yang tepat yang akan dimungkinkan orang-orang melakukan transisi dari kehidupan kota ke kehidupan pedesaan.
Untuk kembali ke suatu skala yang lebih manusiawi akan berarti suatu pengembalian ke masa lampau tetapi sebaliknya juga akan memerlukan pengembangan bentuk-bentuk teknologi dan organisasi sosial baru yang berbakat.
Diantara teknologi-teknologi alternatif kini telah dikembangakan. Teknologi-teknologi tersebut cenderung beskala kecil dan didesentralisasi, yang tanggap terhadap kondisi-kondisi lokal, dan dirancang untuk meningkatkan kecukupan diri, yang berarti memberiakan tingkat fleksibilitas maksimum. Teknologi-teknologi tersebut seringkali disebut dengan teknologi-teknologi "lunak" karena dampaknya pada lingkungan banyak terkurangi oleh penggunaan sumber daya-sumber daya yang dapat diperbaharui dan pendaurulangan materi yang konstan.
Peralihan dari teknologi keras ke teknologi lunak paling menddesak dibutuhkan di daerah-daerah yang berhubungan dengan produksi energi. Akar-akar terdalam dari krisis energi kita dewasa ini terletak pada pola-pola produksi dan konsumsi yang terbuang yang telah manjadi karakteristik masyarakat kita. Untuk menyelesaikan krisis tersebut kita tidak memerlukan lebih banyak energi, yang hanya akan memperparah persoalan, melainkan perubahan-perubahan besar dalam nilai-nilai, sikap, dan gaya hidup kita. Namun demikian, sementara kita mengejar tujuan jangka panjang ini kita juga perlu mengalihkan produksi energi kita dari sumberdaya yang dapat diperbaharui, dan dari teknologi keras ke teknologi lunak, untuk mecapai keseimbangan ekologis.
Satu-satunya cara keluar dari krisis energi tersebut adalah dengan mengikuti "jalur energi lunak," yang menurut pikiran Lovins mempunyai tiga komponen utama: konservasi energi dengan menggunakan energi yang lebih efisien, pemanfaatan sumber energi yang tak dapat di perbaharui dengan bijaksana, dan mengembangkan secara pesat teknologi-teknologi lunak untuk produksi energi dari sumber-sumber yang dapat diperbarui.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini