Sabtu, 22 September 2012

Resume Demografi-Badzlia-PMI 5-Tugas 2

Judul              : Resume Tentang Sejarah Perkembangan Penduduk Dunia & Indonesia
Nama              : Badzlia Rusydina Framutami
Jurusan          : PMI 5
Fakultas         : Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
Tugas              : 2 (dua)
BAB III
SEJARAH PERKEMBANGAN PENDUDUK DUNIA DAN INDONESIA
A.    Keseimbangan Lama dan Baru
Yang dimaksud dengan keseimbangan lama dari perkembangan penduduk adalah, ketika reit kematian  dan kelahiran dari penduduk suatu wilayah masing-masing berada pada tingkat yang tinggi, sehingga perkembangan jumlah penduduk sangat lambat, bahkan untuk sebagian besar periode, jumlah  kelahiran tak banyak berbeda dengan jumlah kematian.
Keseimbangan yang lama penduduk suatu negeri pada hakekatnya menunjukkan fase sebelum mulainya transisi demografi dari penduduk negeri yang bersangkutan.
Keseimbangan baru berarti keadaan di mana reit kelahiran dan kematian berada pada tingkat yang rendah. Sehubungan dengan reit kelahiran dan kematian, perserikatan bangsa-bangsa mengklasifikasikan penduduk-penduduk dalam tipe-tipe : kelahiran tinggi-kematian tinggi, kelahiran tinggi-kematian cukup tinggi atau sedang menurun, kelahiran tinggi-kematian rendah, kelahiran sedang menurun-kematian rendah, dan kelahiran rendah-kematian rendah.
B.     Angka-Angka Perkembangan Penduduk Dunia Pada Berbagai Periode
Seperti telah dikemukakan, fase perkembangan penduduk dunia yang sangat lambat berjalan untuk jangka waktu yang sangat lama. Bagi hampir keseluruhan periode adanya manusia di bumi, reit perkembangan penduduk tahunan dunia hampir-hampir mendekati nol. Sejak munculnya manusia hingga masa permulaan sejarah, reit perkembangan penduduk tahunan dunia mungkin hanya sekitar 0,002 persen pertahun atau 20  perjuta pertahun suatu reit perkembangan yang memerlukan waktu sekitar 35.000 tahun agar penduduk dunia pada masa itu menjadi lipat dua .
Fenomena perkembangan penduduk cepat (ledakan penduduk) merupakan fenomena yang muncul dalam abad-abad terakhir.
Kemajuan pesat dalam perkembangan jumlah manusia paralel dengan penemuan-penemuan besar yaitu penemuan sistem pertanian, mulai kehidupan perkotaan dan perdagangan, pengendalian kekuatan-kekuatan non-manusiawi, dan revolusi teknologi.
Jika pada permulaaan tahun masehi (AD1) penduduk bumi di taksir hanya sekitar 250 juta, dan pada tahun 1650 baru menjadi sekitar 500 juta, pada tahun 1975 telah mencapai sekitar 4 milyar dan pada tahun 1987 menjadi 5 milyar. Ini berarti sejak permulaan tahun masehi telah terjadi 4 kali kelipatan dua penduduk dunia.
Perkembangan penduduk yang cepat sedang terjadi di negara-negara berkembang. Namun, kecuali di kawasan Afrika reit perkembangan penduduk tahun di negara-negara berkembang secara keseluruhan tampak agak menurun dalam periode1980-an dibandingkan dengan dalam periode 1970-an. Reit perkembangan penduduk tahunan di Amerika Latin menurun dari 2,7 persen pertahun pada periode 1970-1975 menjadi 2,3 persen pada tahun 1985, dan di Asia Selatan juga menjadi 2,3 persen pada tahun 1985 dari 2,5 persen per tahun pada periode 1970-1975.
C.    Perkembangan Penduduk Jawa Abad ke-19
Di Indonesia, sekali pun untuk Jawa , informasi atau data Demografi abad ke-19 yang tersedia sangat terbatas, bahkan informasi yang sangat dasar seperti angka-angka jumlah penduduk sering merupakan sumber perdebatan. Angka-angka jumlah penduduk Jawa hasil perkiraan atau perhitungan resmi untuk tahun-tahun tertentu antara tahun 1795-1900, dan reit perkembangan tahunan untuk berbagai periode dalam masa itu. Para ahli pada umumnya berpendapat adanya under enumeration bagi angka-angka jumlah penduduk resmi awal abad ke-19. Namun angka-angka tersebut seperti angka "sensus" Raffles masih dipandang bermanfaat. Bahkan ada penulis-penulis yang walaupun mengakui angka Raffles terlalu rendah sebagai penduduk Jawa di permulaan abad ke-19, telah mengambil data "sensus" Raffles tersebut sebagai starting point.
Memang Jawa merupakan suatu ilustrasi klasik perkembangan penduduk bagi dunia, akan tetapi reit perkembangan tahunan sebesar angka di atas sukar untuk diterima. Widjojo Nitisastro, dengan menunjuk kelemahan-kelemahan pada berbagai angka penduduk publikasi resmi, seperti data Raffles, data untuk periode 1826-1831, data Blecker untuk tahun 1845, dan data untuk periode 1849-1879 berkesimpulan bahwa, kurang adanya bukti-bukti terjadinya perkembangan penduduk cepat antara 1815-1880 di Jawa. Reit sebesar 2,2 persen untuk jangka waktu yang cukup lama akan menempatkan Jawa sebagai suatu kasus yang "tanpa bandingan" dalam sejarah perkembangan demografi dunia.
Breman berpendapat bahwa angka-angka pertambahan penduduk Jawa abad ke-19 atas dasar angka-angka resmi lebih tinggi daripada kenyataan yang sesungguhnya walaupun dibandingkan dengan abad-abad sebelumnya dan dengan masyarakat praindustri lainnya, Jawa mengalami pertambahan penduduk yang sangat cepat.
Beberapa ahli telah mencoba untuk mengoreksi angka "sensus" penduduk Raffles yang diantaranya Breman (1971) dan Peper (1970). Menurut Breman suatu persentase kesalahan sebesar sebesar 34 persen dari angka jumlah penduduk yang dikemukakan Raffles akan berarti jumlah penduduk Jawa pada tahun1815 sebanyak 6,3 juta. Setelah membahas secara agak komprehensif data penduduk di Jawa abad ke-19 dengan terutama memberi perhatian pada bagian pertama abad yang bersangkutan, Peper berkesimpulan bahwa, jumlah penduduk Jawa sekitar tahun 1800 terletak antara 8-10 juta. Jawa tidaklah merupakan pengecualian dalam hal pola demografis masyarakat pra-industri periode 1800-1850. Dalam periode ini menurut Peper, dalam periode ini menurut Peper, reit perkembangan penduduk tahunan Jawa berkisar antara 0,5 hingga 1,0 persen. Peper merupakan orang pertama yang berani mengemukakan reit perkembangan penduduk tahunan serendah itu untuk periode di atas.
Alasan-alasan terpenting yang umumnya dikemukakan untuk menerangkan perkembangan penduduk cepat di Jawa berkisar pada :
1.      Terjadinya perbaikan tingkat hidup dari penduduk pribumi
2.      Meluasnya pelayanan kesehatan ; kongkritnya adalah introduksi vaksinasi cacar ; dan
3.      Perwujudan ketertiban dan perdamaian oleh pemerintah Belanda
Perkembangan penduduk dihubungkan dengan meningkatnya pengaruh sistem pemerintah kolonial Belanda terhadap berbagai lapangan kehidupan. Ungkapan-ungkapan seperti ekspansi statis dan kemiskinan berbagi patut pula disebut dalam rangka memahami perkembangan penduduk di Jawa. Perkembangan penduduk dan angkatan kerja yang luar biasa sebagai reaksi terhadap Western know how dibarengi oleh perluasan sistem pertanian ke daerah-daerah yang belum diusahakan.
D.    Penduduk Indonesia di Abad ke-20
Dalam zaman sebelum Indonesia merdeka pengumpulan data jumlah penduduk yang lebih seksama mencakup seluruh wilayah Indonesia dilaksanakan untuk pertama kali pada tahun 1920 yang dikenal sebagai sensus penduduk 1920. Jumlah penduduk Indonesia pada waktu itu diperkirakan sebanyak 49,3 juta, dan dan Jawa 35,0 juta. Reit perkembangan penduudk tahunan Jawa antara 1905-1920 mungkin lebih tinggi dari 1,0 persen, dan antara 1920-1930 mungkin sekitar 1,76 persen. Sesudah itu telah berlangsung lima kali pengumpulan data penduduk melalui sensus yaitu satu kali sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1930, dan empat kali setelah Indonesia merdeka masing-masing pada tahun 1961,1971,1980, dan 1990. Data jumlah penduduk dari keempat sumber ini cukup dapat dipercaya.
Dalam masa 60 tahun terakhir antara 1930-1990 jumlah penduduk Indonesia hampir menjadi tiga kali lipat. Secara keseluruhan bagi Indonesia, reit perkembangan penduduk untuk sebelumnya 1,5 persen pertahun dalam periode 1930-1961, meningkat menjadi 2,1 persen pertahun dalam periode 1961-1971, dan meningkat lagi menjadi 2,3 persen pertahun. Suatu percepatan perkembangan penduduk telah terjadi di Indonesia dalam jangka waktu 5 dekade terakhir hingga tahun 1980.
Namun pada periode 1980-1990 reit perkembangan penduduk Indonesia secara keseluruhan telah menurun menjadi sekitar 2,0 persen pertahun. Reit perkembangan penduduk tahunan yang sedang berlangsung dewasa ini lebih rendah di Jawa dibandingkan dengan di kebanyakan pulau-pulau lain di luar Jawa. Pulau Sumatera yang telah berpenduduk sekitar 50,7 persen dari penduduk wilayah luar jawa pada tahun 1990, masih menunjukkan reit perkembangan penduduk yang sangat tinggi yaitu 2,7 persen pertahun pada periode 1980-1990.
DAFTAR PUSTAKA
Rusli,Said.1995.Pengantar Ilmu Kependudukan.Jakarta:LP3ES

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini