Rabu, 25 September 2013

Ayu Triana PMI3_Tugas3_Konsumtivisme Menurut Max Weber dan Peter L. Berger


Konsumtivisme menurut Max Weber dan Peter L. Berger
Kesederhanaan muncul ketika kita serius untuk mengasihi Tuhan dan kasih itu selalu murah hati, sabar dan tidak cemburu. Kasih itu sendiri menimbulkan konsekuensi kesederhanaan karena dibandingkan untuk memegahkan diri, Ia lebih terpanggil untuk bermurah kepada orang lain dibandingkan kemewahan dan gaya hidup yang konsumtif. Memenuhi kebutuhan pribadi adalah sesuatu yang seharusnya dilakukan tetapi memenuhi keinginan pribadi jelas berbeda. keinginan pribadi bisa sangat merusak pada saat kita tidak lagi bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan sehingga merelakan diri kita terjerumus dalam nafsu-nafsu sesaat. Oleh karena itu, wajarlah saya katakan gaya hidup konsumtif ini adalah ciri dari masyarakat yang individualis dan membutakan mereka dalam memenuhi kebutuhan sesama.
      
          Konsumtivisme  lahir dari pemikiran pementingan diri sendiri dan dipengaruhi oleh materialism jadi ditekankan disini bahwa orang yang konsumtif tidak mengenal Tuhan. Tuhan yang turun ke dalam dunia dalam wujud manusia memberikan kita teladan kesederhanaan dalam gaya hidup-Nya. Tuhan yang begitu mulia lahir di kandang domba dan semasa hidup-Nya mau berkorban untuk manusia ciptaan-Nya sendiri. Kasih-Nya yang begitu besar lah yang menggerakkan-Nya untuk turun "derajat" menjadi manusia dan turut dalam penderitaannya. Siapakah kita merasa berhak untuk menjalani kemewahan, status sosial semu dan gaya hidup berlebihan? Sementara di dalam dunia ini ada 10,000 orang meninggal karena kelaparan tiap hari dan ada 800 juta orang hidup dalam kemiskinan. Kalau Tuhan saja mau turut dalam penderitaan, siapakah kita yang berhak mempertahankan gaya hidup konsumtif dan materialistis?
                Gaya hidup sederhana lah yang seharusnya kita teladani dari Tuhan Yesus, Juru Selamat kita. Dalam taraf tertentu gaya hidup sederhana menyatakan bahwa kita tidak terlena terhadap kehendak pribadi yang menjatuhkan kita dan kita sudah lahir baru dan semakin serupa dengan Tuhan Yesus. Orang yang biasa dengan hidup sederhana berani berkata cukup untuk dirinya sendiri sehingga dia mampu untuk melihat dan membantu sekitarnya yang membutuhkan bantuan
                Untuk anda yang sampai sejauh ini masih menyatakan ada kebaikan dalam konsumtivisme dan materialisme, Paulus mengatakan dalam 1 Timotius 1 6:7 "Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar."
Max Weber
Pemikiran Max Weber dalam The Protestan Ethic and The Spirit of Capitalism berangkat dari satu pertanyaan dasar: Kenapa kapitalisme lahir dan berkembang di Barat dan bukan di wilayah lain di dunia? Dalam karyanya yang terkemuka tersebut, Weber memaparkan bagaimana agama Protestan mendorong lahir dan berkembangnya kapitalisme. Namun, harus dipahami bahwa pengaruh agama Protestan hanya satu bagian saja dari keseluruhan pemikiran Weber yang menjelaskan kenapa kapitalisme lahir dan berkembang di barat. Agama hanyalah satu faktor, disamping faktor lain yang juga penting yakni rasionalisasi intitusi.
Randall Collins dalam tulisannya Weber's Last Theory of Capitalism menyebut bahwa teori Weber tentang kapitalisme merupakan teori yang paling memukau dibanding teori-teori lain yang menjelaskan kapitalisme (Sociology of Economic Life: 87). Anthony Giddens dalam pengantar untuk edisi Inggris The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism mengatakan pemikiran Weber dalam buku tersebut adalah salah satu sumbangan terbesar dalam ilmu sosial modern.
Weber mendefinisikan kapitalisme sebagai upaya manusia untuk mendapatkan keuntungan melakukan kegiatan-kegiatan usaha yang dikelola secara pribadi. Meski demikian, kegiatan usaha yang dimaksud bukanlah sekedar perdagangan dan pertukaran barang yang sudah ada sejak dahulu di masyarakat manapun. Menurut Weber, kapitalisme harus mengandung aspek kunci, yakni rasionalisasi. Sistem kapitalisme yang rasional menurut Weber adalah sistem yang menggunakan penghitungan akuntansi, yaitu sistem yang menghitung pengeluaran dan pemasukan dengan  sistem penghitungan berdasarkan tata pembukuan modern (Sociology of Economic Life: 92 – 93).
Kapitalisme yang rasional harus mengandung beberapa komponen. Pertama adalam sistem penghitungan pengeluaran dan pemasukan berdasarkan pembukuan yang modern. Kedua, tenaga kerja yang bebas dan bisa berpindah dari satu tempat kerja ke tempat kerja lainnya. Ketiga adalah adanya pengakuan pada hak milik pribadi. Keempat, pasar perdagangan tidak dibatasi oleh aturan-aturan yang tidak rasional. Dan terakhir adalah adanya hukum yang mengikat anggota masyarakat. Weber juga memasukkan teknologi sebagai komponen kapitalisme. Sebab hanya dengan teknologi produksi skala besar bisa dihasilkan. (hal: 93-94).
Menurut Weber, ada kondisi-kondisi sosial tertentu dalam masyarakat yang menentukan lahirnya sistem kapitalisme yang rasional. Pertama, adanya pergerakan bebas dari tenaga kerja, lahan, dan barang. Syarat kedua, adanya sistem kepemilikan, hukum, dan keuangan yang mendukung terciptanya pasar yang luas. Syarat-syarat ini yang kemudian menjadi jawaban kenapa kapitalisme bisa lahir dan berkembang di barat, tapi tidak di wilayah lainnya. Sebelum mencapai kesimpulan tersebut, Weber meneliti sistem masyarakat di China dan India. Weber membandingkan antara sistem masyarakat yang satu dengan yang lainnya.
Di China, rasionalisasi terhambat oleh ikatan kesukuan dan sistem klan yang feodal dan patriarkal. Selain itu, sistem  kekaisaran yang mendasarkan pemerintahan pada nilai-nilai dan keyakinan tradisional juga menghalangi terciptanya kondisi yang menjadi syarat kapitalisme yang rasional. Di India, rasionaliasi dihambat oleh sistem kasta. Pembedaan masyarakat dalam kasta-kasta mmenjadi dasar sistem pemerintahan dan ekonomi di India. Randall Collins menggambarkan konsep kapitalisme Weber ini dalam sebuah skema yang disebut The Weberian Causal Chain (hal: 92). Collins memetakan tiga kelompok kondisi masyarakat untuk bisa menciptakan komponen-komponen kapitalisme. Tiga kelompok itu disebut dengan ultimate conditions, background conditions, dan  intermediate conditions.
Ultimate conditions adalah faktor-faktor dasar, antara lain tenaga administrasi yang mampu baca tulis, alat komunikasi dan transportasi yang mendukung, adanya tulisan dan catatan, dan sumber persenjataan dan militer yang terpusat. Faktor-faktor ini akan melahirkan negara dengan sistem birokrasi yang merupakan background conditions. Faktor dasar berikutnya adalah institusi agama, yang terdiri dari Yunani Kuno, Yahudi,  Kristen, dan aliran-aliran reformasi. Institusi-institusi agama ini menyumbang terbentuknya tenaga administrasi yang memiliki kemampuan baca tulis dan konsep kewarganegaraan yang diadopsi oleh negara-negara barat dan sistem etika yang seragam dalam hubungan ekonomi. Sistem negara birokrasi dan sistem kewarganegaraan melahirkan sistem hukum yang pasti dan megikat. Keseluruhan inilah yang membentuk komponen-komponen kapitalisme.
Pengaruh Agama Protestan
Komponen-komponen kapitalisme rasional diperkuat oleh semangat etika yang ada dalam agama Protestan khususnya aliran Calvinisme atau Puritanisme. Untuk menjelaskan pengaruh Protestan, Weber terlebih dahulu menjelaskan asal-usul lahirnya Protestan dari agama Katolik. Menurut nilai-nilai Katolik, semua kegiatan di dunia adalah untuk kepentingan agama. Pembaharuan nilai-nilai Katolik dalam Protestan mengubah pandangan tersebut. Agama Protestan muncul dengan konsep yang oleh Weber disebut The Calling, yang berarti ajaran bahwa kewajiban moral paling tinggi dari seorang manusia adalah untuk melaksanakan tugasnya dalam kehidupan sehari-hari. Ajaran ini sangat berlawanan dengan ajaran Katolik inti kegiatan kesehariannya adalah beribadah. Konsep-konsep seperti dosa turunan, penebusan dosa yang harus dilakukan seumur hidup tidak dikenal dalam Protestan (The Protestan Ethic and the Spirit of Capitalism: 39).
Konsep kedua dari ajaran Protestan adalah Predestination,yaitu hanya sebagian orang yang akan dipilih untuk diselamatkan dari siksaan. Pemilihan ini telah ditentukan sebelumnya oleh Tuhan. Dengan demikian, umat Protestan tidak tahu apakah mereka akan dipilih atau tidak. Kembali lagi ke konsep The Calling bahwa moral tertinggi manusia adalah melaksanakan tugasnya dalam kehidupan sehari-hari, maka satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan adalah melaksanakan tugas dalam kehidupan sehari-hari itu dengan sebaik-baiknya. Keberhasilan dalam melaksanakan hanya dapat diukur oleh tingkat kemakmuran mereka. Tingkat kemakmuran ini juga menunjukkan apakah mereka diberkati oleh Tuhan dan apakah mereka akan dipilih untuk lepas dari siksaan (The Protestan Ethic and The Spirit of Capitalism: 56-65).
Kedua konsep ini membuat penganut Protestan hidup sederhana dan menginvestasikan uang mereka lagi ke dalam usaha mereka dan menjauhi hidup foya-foya. Etika Protestan inilah yang menjadi cikal bakal kelahiran dan perkembangan sistem kapitalisme. Kombinasi antara rasionalisasi institusi dan etika Protestan inilah yang menghasilkan sistem kapitalisme rasional yang kita kenal sekarang. Dua fenomena ini merupakan karakteristik yang khusus ada di Barat, bukan di wilayah-wilayah lain. Inilah jawaban kenapa sistem kapitalisme hanya lahir dan berkembang di Barat.
Peter L. Berger
Teori Konstruksi Sosial, Posisinya dalam Peta Teori Sosiologi
Posisi Teori Berger
Perspektif Berger tak dapat dilepaskan dari situasi sosiologi Amerika era 1960-an. Saat itu, dominasi fungsionalisme berangsur menurun, seiring mulai ditanggalkannya oleh sosiolog muda. Sosiolog muda beralih ke perspektif konflik (kritis) dan humanisme. Karena itu, gagasan Berger yang lebih humanis (Weber dan Schutz) akan mudah diterima, dan di sisi lain mengambil fungsionalisme (Durkheim) dan konflik (dialektika Marx). Berger mengambil sikap berbeda dengan sosiolog lain dalam menyikapi 'perang' antar aliran dalam sosiologi. Berger cenderung tidak melibatkan dalam pertentangan antar paradigma, namun mencari benang merah, atau mencari titik temu gagasan Marx, Durkheim dan Weber. Benang merah itu bertemu pada; historisitas. Selain itu, benang merah itu yang kemudian menjadikan Berger menekuni makna (Schutz) yang menghasilkan watak ganda masyarakat; masyarakat sebagai kenyataan subyektif (Weber) dan masyarakat sebagai kenyataan obyektif (Durkheim), yang terus berdialektika (Marx). Lalu, dimana posisi teori Berger? Masuk dalam positif, humanis, atau kritis?
Dalam bab kesimpulan di bukunya; Konstruksi Sosial atas Kenyataan: sebuah Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan, Berger secara tegas mengatakan bahwa sosiologi merupakan suatu disiplin yang humanistik. Hal ini senada dengan Poloma yang menempatkan teori konstruksi sosial Berger dalam corak interpretatif atau humanis. Hanya saja, pengambilan Berger terhadap paradigma fakta sosial Durkheim menjadi kontroversi ke-humanis-annya. Pengambilan itu pula yang membuat Douglas dan Johnson menggolongkan Berger sebagai Durkheimian: Usaha Berger dan Luckmann merumuskan teori konstruksi sosial atas realitas, pada pokoknya merupakan usaha untuk memberi justifikasi gagasan Durkheim berdasarkan pada pandangan fenomenologi (Hanneman Samuel, 1993: 42). Selain itu, walaupun Berger mengklaim bahwa pendekatannya adalah non-positivistik, ia mengakui jasa positivisme, terutama dalam mendefinisikan kembali aturan penyelidikan empiris bagi ilmu-ilmu sosial (Berger dan Luckmann, 1990: 268).
Upaya yang paling aman (lebih tepat) dalam menggolongkan sosiolog tertentu, rupanya adalah dengan menempatkan sosiolog dalam posisinya sendiri. Dengan mendasari dari pemikiran interaksionisme simbolik, bahwa setiap orang adalah spesifik dan unik. Demikian halnya sosiolog, sebagai seorang manusia, tentu memiliki pemikiran yang unik dan spesifik. Namun hal ini bukan menempatkan sosiolog terpisah dan tidak tercampuri oleh sosiolog lain. Karena itu yang lebih tepat dilakukan adalah dengan mencari jaringan pemikiran (teori) antar sosiolog, bukan menggolong-golongkan. Dalam kasus Berger, maka pemikiran sosiolog sebelumnya yang kentara mempengaruhi teorinya adalah (sebagaimana disinggung di atas): Max Weber, Emile Durkheim, Karl Marx, dan Schutz, serta George Herbert Mead. Pengaruh Weber nampak pada penjelasannya akan makna subyektif yang tak bisa diacuhkan ketika mengkaji gejala yang manusiawi. Tentang dialektika (individu adalah produk masyarakat, masyarakat adalah produk manusia) Berger rupanya meminjam gagasan Marx. Sedang masyarakat sebagai realitas obyektif –yang mempunyai kekuatan memaksa, sekaligus sebagai fakta sosial, adalah sumbangan Durkheim. Schutz rupanya lebih mewarnai dari tokoh lainnya, terutama tentang makna dalam kehidupan sehari-hari (common sense). Secara umum, dalam masalah internalisasi, termasuk tentang 'I' and 'me' dan significant others, Mead menjadi rujukan Berger
Referensi                               :
1.       Collins, Randall. Weber's Last Theory of Capitalism dalam The Sociology of Economic Life. Oxford: Westview Press. 1992
2.       Giddens, Anthony. Sociology. Cambridge: Polity Press. 1996
3.       Ritzer, George.  Sociological Theory. New York: Yhe McGraw-Hill Companies.1996
4.       Weber, Max. The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism. London: Routledge Classics. 1992
5.       Islahudin.wordpress.com/2010/02/10/konsumtivisme
Newbluprent.wordpress.com/2008/01/11/teori-konstruksi-sosial-peter-L-Berger

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini