Minggu, 16 September 2012

Teori Fungsionalisme Menurut Emile Durkheim

Nama   : A. Munsorif
Kelas   : PMI 3
Teori Fungsionalisme Menurut Emile Durkheim
A.    Biografi Emile Durkheim
Emile Durkheim lahir pada tahun 1858 di Vogezen dalam keluarga Yahudi. Ia mula-mula hendak menjadi rabbi, kemudian karena pengaruh seorang guru wanita Katolik ia cenderung ke  arah bentuk mistik katolisime, tetapi akhirnya ia menjadi penganut agnostisisme.[i]
            Durkheim memiliki kepribadian yang kuat, bahkan otoriter dengan kecenderungan tertentu kea rah dogmatism. Ia hidup sederhana berkerja keras. Ia tidak begitu suka terjun ke dalam kehidupan sosial santai, tetapi ikut serta secara intensif  dalam diskusi-diskusi tentang masalah-masalah sosial politik zamanya.
         
   Durkheim  adalah seorang ahli sosiologi yang sangat luas bidang perhatianya. Ia menulis tentang metode-metode sosiologi, tentang pengetahuan dan sosiologi agama, tentang pembagian kerja dan bunuh diri, tentang pendidikan dan moral, dan tentang sosialisme. Hubungan dengan masalah-masalah sosial selalu tampak dalam karyanya.
            Selain sebagai ilmuwan, dia juga merupakan penulis yang produktif. Banyak buku yang dikarangnya. Karya utamanya ialah, antara lain, The Division of Labor in Society (1968),  karya pertamanya yang berbentuk disertasi doctor; Rules of sociological Method (1965), Moral Education (1973) dan The Elementary Forms of the Religious Life (1966).[ii]
B.     Teori Fungsionalisme Emile Durkheim
Ide pokok analisis (teori) Fungsionalis ialah bahwa masyarakat merupakan suatu kesatuan utuh masyarakat terdiri atas yang berhubungan yang saling kerja sama. Teori ini berakar pada asal-usul sosiologi. August Comte dan Herbert Spencer memandang masyarakat sebagai sejenis organism hidup. Mereka menulis " sebagaimana seseorang atau seekor hewan  memiliki organ yang berfungsi bersama, masyarkat pun demikian halnya." Dan masyarakat jika ingin berfungsi secara lancer, maka, laksana suatu organism, berbagai bagianya harus bekerja sama secara harmonis.
Tapi di sini akan mengerucutkan teori fungsionalisme secara khusus menurut Emile Durkheim. Dia juga berpandangan bahwa masyarakat terdiri atas banyak bagian, yang masing-masingnya mempunyai fungsi tersendiri. Jika semua bagian masyarakat menjalankan fungsinya, maka masyarakat berada dalam keadaaan "normal". Sebaliknya, jika bagian - bagian masyarakat tidak menjalankan fungsinya, masyarakat berada dalam keadaan "abnormal" atau " patologis."[iii]
Durkheim tidaklah asing di dunia sosiologi, dia merupakan tokoh sosiologi klasik yang secara rinci membahas konsep fungsi dan menggunakanya  dalam analisis terhadap berbagai pokok pembahsanya. Misalnya, dalam bukunya The Division of Labor in Society, selain membahas secara rinci konsep fungsi ia pun membahas fungsi pembagian kerja dalam masyarakat. Apa fungsi kerja dalam masyarakat?.
Untuk itu ia pertama-tama mencoba mengetahui apakah fungsi pembagian kerja itu. Menurut kacamata dia, fungsi itu adalah peningkatan solidaritas. Antara kawan-kawan dan di dalam keluarga-keluarga ketidaksamaan menciptakan suatu ikatan, justru karena individu-individu melakukan berbagai kegiatan, maka mereka akan tergantung satu sama lain dan karenanya terikat satu sama lain. Karena ketertiban, keselarasan, dan solidaritas merupakan keperluan-keperluan umum atau syarat-syarat hidup yang merupakan yang merupakan keharusan bagi organism sosial, maka hipotesa bahwa pembagian kerja adalah syarat hidup bagi masyarakat modern dapat dibenarkan. Kalau ini benar maka ini merupakan pula kewajiban moral, karena ketertiban, keselarasan, dan solidaritas adalah kualitas-kualitas sosial.[iv]
C.     Kesimpulan
Fungsionalisme menurut Emile Durkheim dapat disimpulkan bahwasanya masyarakat terdiri dari beberapa bagian yang saling berhubungan satu sama lain. Maka organ-organ tersebut mempunyai fungsi tersendiri terhadap kinerja yang akan mereka lakukan. Dengan adanya fungsi tersebut maka akan terbentuklah masyarakat yang "normal" tidak "patologis."


[i] L. Laeyendecker, Tata, Perubahan, dan Ketimpangan Suatu Pengantar Sejarah Sosiologi, (PT Gramedia, Jakarta 1983) . 280
[ii]  Lihat Pengantar Sosiologi karangan Prof Kamanto Sunarto hlm 5.
[iii] James M Henslin, Sosiologi dengan Pendekatan Membumi edisi 6 (Erlangga, Jakarta). Hlm 16.
[iv] Laeyendecker, Tata, Perubahan, dan Ketimpangan Suatu Pengantar Sejarah Sosiologi, (PT Gramedia, Jakarta 1983) . 290

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini