Senin, 28 April 2014

Ade Fauzan & abdul_Tugas6_Observasi

Ade Fauzan (1113054000036)
Abdul Rahman (11130540000)
Profesi Di Bidang Pertanian Yang Tidak Lagi Menarik Bagi Kalangan Muda
A.    PENDAHULUAN
Di zaman sekarang minat generasi muda terhadap pertanian sangat rendah,karena citra pertanian di kalangan anak muda saat ini mulai merosot. Sementara pengetahuan tentang pertanian yang mereka miliki sangat minim. Dapat dibayangkan bagaimana buruknya wajah pertanian pada 50 – 100 tahun kedepan, jika tidak didukung oleh Sumberdaya manusia yang handal dan berdedikasi tinggi mencintai dunia pertanian.Generasi muda di desa beramai-ramai menjadi kaum urban, meninggalkan desa dan status petani. Anak-anak petani lebih memilih bekerja di kota yang menyebabkan kosongnya. Kantong-kantong dan sentra -sentra pertanian yang potensial dan berkurangnya generasi muda potensial di pedesaan.
 Ini disebabkan masih membudayanya pandangan petani sebagai pekerjaan kelas dua, di samping masih sempitnya kesadaran dan pemahaman akan potensi pertanian.
Indonesia memiliki potensi sangat besar di bidang pertanian ditinjau dari ketersediaan lahan, kesesuaian iklim, tenaga kerja (melimpah), komoditas beragam, dan kekayaan hayati. Indonesia memiliki lahan luas, yang dapat dikembangkan menjadi lahan pertanian berkelanjutan. Ini dimanfaatkan negara lain, seperti Malaysia, yang memperluas lahan pertaniannya di Pulau Sumatera dan Kalimantan, antara lain, untuk komoditas perkebunan. Karena iklim tropis, banyak jenis tanaman yang dapat dikembangkan di Indonesia .
 Ditambah lagi dengan daerah bergunung yang cocok untuk tanaman subtropis. Komoditas pertanian menjadi beragam, seperti perkebunan, pangan, rempah dan obat, energi nabati, hortikultura (sayur, buah, flora), serta serat alam. Indonesia juga pernah menjadi salah satu pemasok utama dunia, antara lain, komoditas kelapa sawit, kakao, teh, kopi, karet alam, dan rempah – rempah. Sayangnya potensi itu kini tidak lagi optimal untuk dikembangkan oleh genarsi muda.Seiring dengan perkembangan dan perubahan jaman,berubah pula orientasi masyarakat untuk mempertahankan hidupnya, bukti berkurangnya minat para generasi muda untuk mewarisi keahlian orang tuanya untuk bertani, dengan memilih merantau kekota.
 
B.     PERTANYAAN PENELITIAN
Dalam penilitian ini, ada beberapa pertanyaan yang menjadi kajian utama dalam tim penulis, diantara lain adalah:
1.      Kenapa para pemuda lebih memilih mencari pekerjaan di kota dibanding mengelola desanya sendiri ?
2.      Apa penyebab para pemuda memilih merantau ke kota?
3.      Bagaimana upaya penanggulangan dalam mengarahkan pemuda desa agar menarik bekerja sebagai petani ?
 
C.     METODELOGI
Dalam penelitian ini, tim penulis mengamati langsung ke daerah Rangkas Bitung yang didalamnya terdapat banyak penduduk muda yang minim sekali berada di daerah tersebut, dikarenakan hamper sebagian penduduk pemuda berkiprah ke kota untuk mencari pekerjaan yang lebih layak.
 
D.    HASIL PENGAMATAN DALAM NARASI
Banyak pula kalangan muda yang lebih memilih bekerja di luar negeri meski sebagai TKI/TKW yakni menjadi buruh perkebunan maupun pembantu rumah tangga karena usaha pertanian yang mereka geluti tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan dasar untuk kehidupan keluarganya.
Banyak faktor yang menyebabkan pertanian tidak lagi menarik bagi kalangan muda antara lain karena luasan lahan yang semakin menyempit akibat fragmentasi lahan yang harus  diwariskan, fluktuasi harga komoditi pertanian yang tidak terkendali akibat serbuan masuknya impor dari luar seperti Cina, tidak menentunya iklim akibat pemanasan global dan perubahan iklim, terbatasnya infrastruktur untuk mengakses pasar, terbatasnya layanan informasi dan inovasi teknologi yang dapat diakses petani karena masih jauhnya jarak antara para peneliti, akademisi dengan petani sebagai praktisi dan produser,terbatasnya tingkat pendidikan para petani, kecenderungan petani menjual komoditi sebagai bahan mentah (raw material) tanpa prosesing lebih lanjut sehingga tidak memperoleh nilai tambah dan harga tetap saja murah, keberpihakan kebijakan pemerintah yang kurang memproteksi kehidupan para petani dll.
Terkait dengan kepemilikan lahan, kita dapat menyaksikan secara pelan namun pasti, kaum pemodal pengusaha perkebunan  dan pertambangan  secara halus namun sistemik terus menggusur lahan yang dimiliki secara individual maupun komunal dan seringkali terjadi bentrokan yang berujung korban petani mati sia sia  untuk mempertahankan hak kepemilikan lahan yang sering diklaim sepihak oleh perusahaan besar yang didukung oknum aparat keamanan karena mereka mampu membayar sedang rakyat sebagai pemilik sah lahan terus digusur dengan paksa dan penuh intimidasi yang melanggar HAM dan kadang pemerintah yang seharusnya berpihak pada rakyat yang dilayaninya justru berbalik dengan kekuasaan yang ada menerbitkan HGU maupun sertifikat atas nama pemilik modal yakni perusahaan perkebunan multinasional maupun nasional.
Sayangnya kondisi dimana kalangan muda tidak lagi tertarik menjadi petani hanya dianggap angin lalu dan hanya dianggap persoalan kecil yang tak perlu ditangani secara khusus karena kebijakan pemerintah sekarang dalam memenuhi pangan nasional lebih mengarah pada  mengimpor kebutuhan pangan mulai dari beras, daging sapi, bawang merah-putih, buah buahan, garam, kedelai dst untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Padahal kita tahu, di negara maju-pun para petaninya diproteksi dan disubsidi untuk menjaga kedaulatan pangannya. Sangatlah berbahaya kondisi kedaulatan pangan kita, selain digerogoti oleh virus kebijakan impor, kalangan mudanya juga sudah meninggalkan pertanian (dalam arti luas) sehingga jika tidak sejak awal dicarikan jalan keluar maka ketahanan nasional kita juga akan ikut rapuh.

B. Pertanyaan Penelitian
Dalam penelitian ini, ada beberapa pertanyaan yang menjadi kajian utama tim penulis, diantaranya adalah:
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini