Senin, 28 April 2014

Rizky Arif Santoso dan Vikron Fahreza_Tugas Sosiologi Pedesaan ke-6_Hubungan Kekerabatan Pendatang dari Desa ke Kota

SOSIOLOGI  PEDESAAN

 

Oleh :

RIZKY ARIF SANTOSO

VIKRON FAHREZA

 

 

Dosen Pembimbing :Tantan Hermansyah,

 

JURUSAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

2014

 

 

KATA PENGANTAR

 

Pertama-tama marilah kitapanjatkan puja dan puji syukur ataskehadirat Allah SWT berkatrahmatdanhidayah-Nya dapattercurahkankepadakitayang lemahini, sholawatsertasalam tak lupasayapanjatkankepadajunjunganNabibesarkitaNabi Muhammad SAW dankeluarganya, sahabatnya, besertapengikutnyasampaiakhirzamanaminyarobalalamin.

Berkatanugerahdanramat-Nya,alhamdulillah kamidapatmenyelesaikantugasini yang merupakansalahsatutugasdarimatakuliah"Sosiologi Pedesaan" tepatwaktu. Kami selaku penulis,menyadaribahwadalampenulisanmakalah yang kami buatinimasihterdapat kekurangan.Olehkarenaitu,kamisangatmengharapkankritikdan saran yang sifatnyamembangun demi kesempurnaanmakalahini.

Kami selaku penulis makalah ini,menyampaikanbanyakterimakasihatas saran dan kritiknyadalampenyusunanmakalahini.Semogamakalahinidapatmemberikanmanfaatbagikamikhususnyadankepadaparapembacaumumnya.

 

 

Jakarta, 23 April 2014

 

Rizky Arif Santoso& Vikron Fahreza

 

 

 

 

Xi

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

1.      Pendahuluan...................................................................................................

2.      Pertanyaan Penelitian.....................................................................................

3.      Metodologi Penelitian....................................................................................

4.      Hasil Penelitian...............................................................................................

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Xii

A.      PENDAHULUAN

 

Urbanisasi merupakan perpindahan masyarakat  dari  desa ke kota. Jakarta merupakan kota impian para imigran. Banyak masyarakat desa yang hijrah ke kota Jakarta karena mereka yakin dengan hijrah akan merubah nasib mereka sebelumnya. Tema yang kami ambil berjudul  " Hubungan Kekerabatan Pendatang dari Desa ke Kota ". Alasan kami mengambil tema ini karena ingin mengetahui seberapa besar hubungan kekerabatan atau kedekatan antara pendatang dengan warga asli Jakarta. Sebab, kita mengetahui bahwa warga Jakarta itu dominannya bersifat tertutup dan individualis sedangkan warga pendatang (desa) itu dominannya bersifat terbuka dan lebih kekeluargaan.

 

B.      PERTANYAAN PENELITIAN

 

1.       Maaf sebelumnya, siapa nama ibu??

2.       Berapa umur ibu saat ini??

3.       Ibu memiiki anak berapa?? Berapa umur anak ibu saat ini??

4.       Sudah sekolah semua bu anaknya?? Kelas berapa aja bu anak-anaknya??

5.       Sebelumnya ibu tinggal di mana??

6.       Mulai tahun berapa ibu tinggal dan menetap di Jakarta??

7.       Ibu menetap di Jakartasendiri atau bersama saudara?? Tinggal di mana saudara ibu sekarang??

8.       Apakah ibu masih menjalin hubungan dengan saudara kerabat ibu disana??

9.       Menurut ibu, biaya hidup di Jakarta dibandingkan dengan biaya hidup di Ngawi lebih nyaman mana bu??

10.   Bagaimana hidup di Jakarta menurut ibu dan bagaimana dengan warga masyarakat Jakarta??

11.   Apa pengalaman menarik yang pernah ibu dapat selama tinggaldi Jakarta??

12.   Apa alasan ibu memilih tinggal dan menetap di Jakarta??

 

C.      METODOLOGI

 

Metodologi yang kami gunakan dalam penelitian yang bertema "Hubungan Kekerabatan Pendatang dari Desa ke Kota" ialah metode wawancara (interview) dan berinteraksi. Dengan wawancara, kami sebagai peneliti memperoleh informasi sebanyak-banyaknya dan sepuas-puasnya. Dan melalui  interaksi, kita bisa lebih akrab dan terasa dekat dengan narasumber.

 

 

 

 

D.      HASIL PENELITIAN

Kami mencoba melakukan pendekatan dengan cara interview kepada salah seorang penjual makanan yaitu ibu lia, ibu dengan dua orang anak ini tinggal bersama suami dengan dua orang anaknya. Mereka semua merupakan asli dari ngawi jawa timur dan mulai merantau kejakarta pada tahun 1998, pada mulanya beliau hanya sebagai pelayan warung nasi tetapi setelah itu ibu lia memulai untuk membuka sendiri warung nasi, dia mulai membuka warung nasi sekitar tahun 2007 dan hingga kini ia masih terus menjalani usaha tersebut, dari hasil membuka warung nasi, ibu lia bisa menyekolahkan kedua anaknya dan dapat menyewa sebuah rumah sebagai tempat tinggal.

Dari penuturan beliau kami dapat mengetahui beberapa hal yang penting diantaranya seputar pendapatan beliau, lebih susah mencari uang di Jakarta atau di ngawi,  hubungan beliau dengan anggota keluarga yang juga ada dijakarta, seputar pengalaman hidup beliau selama di jakarta, biaya hidup di ngawi dan di Jakarta lebih mahal yang mana, tujuan beliau pertama kali ketika datang ke jakarta, hubungan beliau dengan sesama pendatang di Jakarta, perbedaan budaya antara di ngawi dan di Jakarta dan pertanyaan yang terakhir adalah lebih enak tinggal di ngawi atau di Jakarta.

Dari beberapa pertanyaan yang kami ajukan kepada ibu lia, kami memulai nya dengan pertanyaan tujuan beliau pertama kali ketika datang kejakarta, lalu beliau menjawab dia dan keluarga memang sudah mempunyai tekad yang bulat untuk mengadu nasib di ibu kota Jakarta, namun belum mengetahui betul apa yang akan di lakukan di Jakarta, setelah beberapa bulan menjadi pelayan warung nasi barulah ibu lia terfikir untuk membuka warung nasi sendiri pada tahun 2004 hingga sekarang ini. Lalu memasuki pertanyaan kedua kami memulai menanyakan seputar kehidupan pribadi beliau yaitu tepatnya pengalaman beliau selama hidup di Jakarta, menurut ibu lia selama dia Jakarta dan berprofesi sebagai pedagang nasi pengalaman yang di dapat hanyalah ketika beliau melayani pembeli dengan beragam watak dan sifat yang berbeda-beda,  lanjut ke pertanyaan selanjutnya kami menanyakan kepada beliau lebih susah mencari uang di ngawi atau di Jakarta, beliau menjawab dengan santai bahwa mencari uang di Jakarta dan di ngawi itu sebenarnya sama saja akan tetapi yang membedakan adalah mencari uang di Jakarta itu sedikit lebih cepat ketimbang di ngawi asalkan ada usaha yang keras, kami bertanya juga kepada beliau seputar hubungan beliau dengan anggota keluarga yang sama-sama merantau di Jakarta lalu ibu lia menjawab hubungan dia dengan keluarga yang sama-sama berasal dari ngawi sangatlah harmonis hingga sekarang mereka pun masih saling bersilaturrahim antara satu sama lain, lalu beranjak ke pertanyaan selanjutnya yaitu lebih mahal biaya hidup di ngawi atau di Jakarta lalu jawaban beliau adalah sebenarnya biaya hidup antara di ngawi dan di Jakarta itu sama saja akan tetapi yang membedakan adalah mencari uang di ngawi agak sulit ketimbang di Jakarta, lalu kami tak lupa menanyakan hubungan beliau dengan sesama perantau di Jakarta meskipun berbeda asal kota kelahiran lalu beliau menjawab hubungan antara sesama pendatang itu relatif harmonis karena sama-sama rindu akan kampung halaman, lalu tak lupa kami menanyakan seputar budaya antara di Jakarta dengan di ngawi lalu ibu lia menjawab bahwa budaya antara di ngawi dengan di Jakarta sangat berbeda jauh, beliau mengatakan bahwa orang Jakarta lebih materialistis ketimbang orang-orang di ngawi. Dan untuk pertanyaan penutup kami menanyakan kepada ibu lia lebih enak tinggal di Jakarta atau di ngawi lalu beliau menjawab sebenarnya tinggal di ngawi dan di Jakarta itu sama saja akan tetapi untuk mencari uang lebih enak di Jakarta karena lebih mudah ketimbang di ngawi asalkan mau berusaha denga keras.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini