Rabu, 23 Maret 2016

Abidin_PMI 6_mengindentifikasi bencana alam yang diakibatkan manusia_Tugas 3

Abidin PMI 6 

1113054000005


Mengindentifikasi Bencana Alam yang diakibatkan oleh Ulah Manusia

Pemanasan Global (Global Warming)

 

  "Panas banget ya hari ini!" Seringkah kita mendengar pernyataan tersebut terlontar dari orang-orang di sekitar kita ataupun dari diri kita sendiri? kita tidak salah, data-data yang ada memang menunjukkan planet bumi terus mengalami peningkatan suhu yang mengkhawatirkan dari tahun ke tahun. Selain makin panasnya cuaca di sekitar kita,  tentu juga menyadari makin banyaknya bencana alam dan fenomena-fenomena alam yang cenderung semakin tidak terkendali belakangan ini. Mulai dari banjir, puting beliung, semburan gas, hingga curah hujan yang tidak menentu dari tahun ke tahun. Sadarilah bahwa semua ini adalah tanda-tanda alam yang menunjukkan bahwa planet kita tercinta ini sedang mengalami proses kerusakan yang menuju pada kehancuran! Hal ini terkait langsung dengan isu global yang belakangan ini makin marak dibicarakan oleh masyarakat dunia yaitu Global Warming (Pemanasan Global).

Penelitian yang telah dilakukan para ahli selama beberapa dekade terakhir ini menunjukkan bahwa ternyata makin panasnya planet bumi terkait langsung dengan gas-gas rumah kaca yang dihasilkan oleh aktifitas manusia. Khusus untuk mengawasi sebab dan dampak yang dihasilkan oleh pemanasan global, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) membentuk sebuah kelompok peneliti yang disebut dengan International Panel on Climate Change (IPCC). Setiap beberapa tahun sekali, ribuan ahli dan peneliti-peneliti terbaik dunia yang tergabung dalam IPCC mengadakan pertemuan untuk mendiskusikan penemuan-penemuan terbaru yang berhubungan dengan pemanasan global, dan membuat kesimpulan dari laporan dan penemuan- penemuan baru yang berhasil dikumpulkan, kemudian membuat persetujuan untuk solusi dari masalah tersebut . Salah satu hal pertama yang mereka temukan adalah bahwa beberapa jenis gas rumah kaca bertanggung jawab langsung terhadap pemanasan yang kita alami, dan manusialah kontributor terbesar dari terciptanya gas-gas rumah kaca tersebut. Kebanyakan dari gas rumah kaca ini dihasilkan oleh peternakan, pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor, pabrik-pabrik modern, peternakan, serta pembangkit tenaga listrik.

Kontributor terbesar pemanasan global saat ini adalah Karbon Dioksida (CO2), metana (CH4) yang dihasilkan agrikultur dan peternakan (terutama dari sistem pencernaan hewan-hewan ternak), Nitrogen Oksida (NO) dari pupuk, dan gas-gas yang digunakan untuk kulkas dan pendingin ruangan (CFC). Rusaknya hutan-hutan yang seharusnya berfungsi sebagai penyimpan CO2 juga makin memperparah keadaan ini karena pohon-pohon yang mati akan melepaskan CO2 yang tersimpan di dalam jaringannya ke atmosfer. Setiap gas rumah kaca memiliki efek pemanasan global yang berbedabeda. Beberapa gas menghasilkan efek pemanasan lebih parah dari CO2. Sebagai contoh sebuah molekul metana menghasilkan efek pemanasan 23 kali dari molekul CO2. Molekul NO bahkan menghasilkan efek pemanasan sampai 300 kali dari molekul CO2. Gas-gas lain seperti chlorofluorocarbons (CFC) ada yang menghasilkan efek pemanasan hingga ribuan kali dari CO2. Tetapi untungnya pemakaian CFC telah dilarang di banyak negara karena CFC telah lama dituding sebagai penyebab rusaknya lapisan ozon.

Dalam laporan PBB (FAO) yang berjudul Livestock's Long Shadow: Enviromental Issues and Options (Dirilis bulan November 2006), PBB mencatat bahwa industri peternakan adalah penghasil emisi gas rumah kaca yang terbesar (18%), jumlah ini lebih banyak dari gabungan emisi gas rumah kaca seluruh transportasi di seluruh dunia (13%). Emisi gas rumah kaca industri peternakan meliputi 9 % karbon dioksida, 37% gas metana (efek pemanasannya 72 kali lebih kuat dari CO2), 65 % nitro oksida (efek pemanasan 296 kali lebih kuat dari CO2), serta 64% amonia penyebab hujan asam. Peternakan menyita 30% dari seluruh permukaan tanah kering di Bumi dan 33% dari area tanah yang subur dijadikan ladang untuk menanam pakan ternak. Peternakan juga penyebab dari 80% penggundulan Hutan Amazon.

Sedangkan laporan yang baru saja dirilis World Watch Institutmenyatakan bahwa peternakan bertanggung jawab atas sedikitnya 51 persen dari pemanasan global.

Penulisnya, Dr. Robert Goodland, mantan penasihat utama bidang lingkungan untuk Bank Dunia, dan staf riset Bank Dunia Jeff Anhang, membuatnya berdasarkan "Bayangan Panjang Peternakan", laporan yang diterbitkan pada tahun 2006 oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO). Mereka menghitung bidang yang sebelumnya  dan memperbarui hal lainnya, termasuk siklus hidup emisi produksi ikan yang diternakkan, CO2 dari pernapasan hewan, dan koreksi perhitungan sebenarnya yang menghasilkan lebih dari dua kali lipat jumlah hewan ternak yang dilaporkan di planet ini.

Emisi metana dari hewan ternak juga berperan sebesar 72 kali lebih dalam menyerap panas di atmosfer daripada CO2. Hal ini mewakili kenaikan yang lebih akurat dari perhitungan asli FAO dengan potensi pemanasan sebesar 23 kali. Meskipun demikian, para peneliti itu memberitahu bahwa perkiraan mereka adalah minimal, dan karena itu total emisi 51 persen masih konservatif.

 

Analisis

Dari sumber yang saya dapatkan di sebuah situs Internet, pemanasan global saat ini sangatlah sungguh terasa sekali dampaknya. Dari tahun ke tahun suhu permukaan bumi mengalami peningkatan suhu yang mengkhawatirkan. Peningkatan suhu ini sendiri terjadi akibat manusia yang tidak bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya sehingga bumi suhunya menjadi meningkat. Pemanasan global ini sendiri merupakan peningkatan suhu rata – rata permukaan bumi.

Banyak sekali penyebab pemanasan global. Diantaranya yaitu yang dilakukan oleh manusia yang setiap harinya melakukan kerusakan kerusakan alam yang ada di bumi. Makin panasnya bumi kita ini juga disebabkan langsung oleh gas gas rumah kaca yang dihasilkan oleh aktifitas manusia. Manusia ini sendiri merupakan contributor dari terciptanya gas – gas rumah kaca tersebut. Kebanyakan dari gas rumah kaca ini dihasilkan oleh pertenakan, pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor, pabrik pabrik modern, pertenakan dan masih banyak lagi.

Selain itu, Kontributor terbesar pemanasan global saat ini adalah Karbon Dioksida (CO2), metana (CH4) yang dihasilkan agrikultur dan peternakan (terutama dari sistem pencernaan hewan-hewan ternak), Nitrogen Oksida (NO) dari pupuk, dan gas-gas yang digunakan untuk kulkas dan pendingin ruangan (CFC). Rusaknya hutan-hutan yang seharusnya berfungsi sebagai penyimpan CO2 juga makin memperparah keadaan ini karena pohon-pohon yang mati akan melepaskan CO2 yang tersimpan di dalam jaringannya ke atmosfer.

Di zaman modern seperti saat ini, banyaknya kendaraan mobil dan motor serta kendaraan yang lainnya yang juga menyebabkan terjadinya pemanasan global. Setidaknya dalam setiap hari di DKI Jakarta hampir kurang lebih 10 juta unit kendaraan berlalu  lalang di jalan raya. Terutama untuk kendaraan sepeda motor yang setiap harinya bertambah di jalan – jalan raya ibukota. Ruang terbuka hijau yang semakin berkurang dari setiap tahunya juga membuat jakarta semakin panas. Pembangunan banyak dilakukan di mana – mana yang menjadikan pohon – pohon yang sudah besar dan bisa menyerap karbondioksida serta bisa menghasilkan oksigen kini sudah ditebang sampai habis rata dengan tanah dan aspal beton hanya karna untuk kepentingan pembangunan umat manusia dan tanpa menanamnya kembali pohon yang sudah ditebang tersebut.

Cerminan atau refeksi dari diri saya sendiri dari bencana alam pemanasan global ini sendiri yaitu dengan cara meminimalisir sekecil mungkin pengeluaran gas karbondioksida atau efek rumah kaca sehingga bisa sedikit mengurangi beban panas yang ditanggung oleh bumi ini. seperti halnya pergi ke suatau tempat menggunakan transportasi umum yang telah ada.

 

Sumber : http://www.pemanasanglobal.net/faq/apa-itu-pemanasan-global.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini