Senin, 16 September 2013

nur asiah aisyah zaldi KPI 1C_tugas2_suicide dan the rule of sosiological metode

Emile Durkheim

 

v Suicide (bunuh diri)

Durkheim memilih studi bunuh diri karena persoalan ini relatif merupakan fenomena konkret dan spesifik dimana tersedia data yang bagus secara komperatif. Akan tetapi, alasan utama Durkheim  untuk melakukan studi bunuh diri ini adalah untuk menunjukkan kekuatan disiplin sosiologi. Bunuh diri secara umum merupakan salah satu tindakan pribadi dan personal. Durkheim percaya bahwa jika dia bisa memperlihatkan bahwa sosiologi mampu berperan dalam menjelaskan tindakan yang kelihatannya bersifat individualistis seperti bunuh diri ini, maka dengan mudah ia akan memperluas ranah sosiologi kepada fenomena-fenomena lain yang terbuka bagi analisis sosiologi.

Disini ia mendemonstrasikan pengaruh integrasi sosial terhadap kecendrungan individu untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Karena sosiologi tidak bisa melakukan eksperimen di dalam laboratorium, maka ia mempergunakan berbagai variasi situasi sosial untuk melakukan perbandingan. Durkheim berpegang pada metode variasi yang terjadi pada waktu yang sama (korelasi-korelasi) dengan membangun rangkaian-rangkaian mulai dari peristiwa yang harus terseleksi. Ia memisahkan sejumlah variable berupa umur,  seks, situasi sipil, keanggotaannya pada suatu agama dan tingkat pendidikan yang dibandingkannya dengan angka kematian.

Metode statistik dan koperatif 

            Jika pada zamannya Durkheim yang memiliki satu alat statistic dasar yang bahkan bisa dibilang masih 'kasar' serta satu aritmatika sederhana, namun dari hasil karyanya muncul serangkain perbandingan yang cukup membuat kita kagum. Maka dengan membangun hubungan antara angka bunuh diri dalam dua kategori, kita bisa memunculkan jarak dengan mengalkulasi "koefisien perlindungan (preservasi)" atau "keparahan (aggravation)". Contoh : di sebuah propinsi angka bunuh diri orang yang sudah menikah dari usia 20 hingga 25 tahun adalah 95 banding seribu penduduk; sementara yang dilakukan oleh para duda pada usia yang sama sebanyak 153. Maka hubungan 153/95 memberi sebuah koefisien preservasi sebesar 1,61 sedangkan untuk perempuan pada kategori yang sama koefisiennya sebesar 1,46. Dengan mengkonfrontasikan koefisien-koefisien yang berbeda ini muncul suatu keteraturan yang menunjukan bahwa  pada usia manapun dan di daerah tempat tinggal manapun (baik di Paris atau di propinsi-propinsi) status menduda memang lebih memperparah angka bunuh diri dari laki-laki dibanding status menjanda perempuan.

Proses sosialisasi

            Setelah membantah teori-teori yang menganggap bunuh diri disebabkan oleh kegilaan, ras dan hereditas. Durkheim lalu mengembangkan teori sosialisasinya dengan membuat suatu tipologi.

Empat jenis bunuh diri

            Teori bunuh diri Durkheim bisa dilihat lebih jelas jika kita mencermati hubungan jenis-jenis bunuh diri dengan dua fakta sosial utamanya : integrasi dan regulasi. Integrasi merujuk pada kuat tidaknya keterkaitan dengan masyarakat. Regulasi merujuk pada tingkat paksaan eksternal dirasakan individu. Menurut Durkheim, dua arus sosial tersebut adalah variable yang saling berkaitan dan angka bunuh diri meningkat ketika salah satu arus menurun dan yang lain meningkat. Oleh karena itulah ada empat jenis bunuh diri, yaitu :

1.      Bunuh diri egoistis

Tingginya angka bunuh diri egoistis dapat ditemukan dalam masyarakat atau kelompok dimana individu tidak berinteraksi dengan baik dalam unit sosial yang luas. Lemahnya integrasi ini melahirkan perasaan bahwa individu bukan bagian dari masyarakat dan masyarakat bukan pula bagian dari individu. Durkheim percaya bahwa bagian paling baik dari manusia yaitu moralitas nilai, dan tujuan kita berasal dari masyarakat. Sebuah masyarakat yang padu akan membri kita semua ini, dan dukungan moral umum bagi kita agar kuat melalui keterpurukan dan kekecewaan kecil sehari-hari. Tanpa ini, besar kemungkinan kita akan bunuh diri ketika mengalami frustasi yang paling kecil sekalipun.

Lemahnya integrasi sosial melahirkan arus sosial yang khas, dan arus tersebut melahirkan perbedaan angka bunuh diri. Misalnya, Durkheim berbicara tentang disitegrasi masyarakat yang melahirkan "arus depresi dan kekecewaan" (1897/1951:214). Situasi politik didominasi oleh perasaaan kesia-siaan, moralitas dilihat sebagai pilihan individu, dan pandangan hidup masyarakat luar menekan ketidakbermaknaan hidup. Sebaliknya, kelompok yang memiliki integrasi kuat akan mencegah terjadinya bunuh diri.   

Sebuah studi komparatif yang teliti terhadap angka bunuh diri menurut agama yang dianut oleh pelakunya berbagai Negara Eropa (Jerman, Inggris, Denmark, Perancis, Italia dsb… ) member hasil berikut ini : ternyata lebih banyak penganut Protestan yang bunuh diri ketimbang penganut Katholik, dan kaum Yahudi paling sedikit melakukan bunuh diri. "Superioritas Protestanisme dari sudut pandang bunuh diri disebabkan karena integritas Gereja Kristen Protestan lebih lemah disbanding Gereja Katolik". Sedangkan sesudah meneliti tingkat pendidikan ia menyimpulkan bahwa "jika dalam lingkungan yang berpendidikan kecenderungan untuk melakukan bunuh diri itu lebih parah,maka tingkat keparahan itu sangat terkait dengan (…) melemahnya kepercayaan-kepercayaan tradisional dan karena situasi individualisme maral yang diakibatkan karenanya".

Sedangkan jika menganut keluarga ternyata "masyarakat domestik sebagaimana sebuah masyarakat religius menjadi kekuatan preservatif terhadap upaya bunuh diri. Perlindungan (pengamanan) ini kian sempurna jika keluarga itu lebih padat". Dengan cara demikian masyarakat politik justru lebih baik melakukan perlindungannya karena lebih kuat cara pembentukannya. Agama, keluarga dan masyarakat politik sama-sama merupakan kelompok sosial yang mendefinisikan identitas si individu. Ketika ia melemah atau terputus, individu akan kehilangan tempat bernaung dan mundur kearah dirinya sendiri, yaitu kepada egonya. Dari sinilah asalnya istilah yang agak sesuai dengan istilah yang dipakai biasanya yaitu "bunuh diri egoistis".

2.      Bunuh diri altruistis

Tipe bunuh diri kedua yang dibahas Durkheim adalah bunuh diri altruistis. Kalau bunuh diri egoitis terjadi ketika integrasi sosial melemah, bunuh diri altruistis terjadi ketika "integrasi sosial yang kuat" (Durkheim, 1897/1951:217). Secara harfiah, dapat dikatakan individu terpaksa melakukan bunuh diri.

Salah satu contoh paling tepat untuk bunuh diri altruistis adalah bunuh diri missal dari pengikut Pendeta Jim Jones di Jonestown, Guyana, pada tahun 1978. Mereka memperoleh racun secara sembunyi-sembunyi lalu menenggaknya kemudian diikuti oleh anak-anak mereka. Mereka dengan terang-terangan melakukan bunuh diri karena memiliki integrasi yang sangat erat dalam sebuah kelompok sebagai pengikut fanatik dari jones.

Menurut Durkheim, penjelasan yang sama juga dapat dipakai dalam kasus seseorang yang mencari mati syahid (Durkheim, 1897/1951: 225). Seperti yang dilakukan oleh teroris pada peristiwa 11 September 2001. Secara umum, orang melakukan bunuh diri altruistis karena mereka merasa itu adalah tugas mereka. Durhkeim berpendapat bahwa bahwa secara khusus, bunuh diri altruistis ini mungkin terjadi dalam militer yang memiliki tingkat integrasi begitu begitu kuat, bahwa seorang individu akan merasa telah membawa aib bagi kesatuannya meski hanya karena kesalahan sepele.

Kalau tingginya angka bunuh diri egoistis ditentukan oleh "kelelahan yang tidak dapat disembuhkan dan depresi yang menyedihkan," maka bunuh diri altruistis makin banyak terjadi jika "makin banyak harapan yang tersedia, karena dia bergantung pada keyakinan akan adanya sesuatu yang indah setelah hidup didunia ini" (Durkheim, 1897/1951: 225). Ketika integrasi mengendur, seseorang akan melakukan bunuh diri karena tidak tidak ada lagi kebaikan yang dapat dipakai untuk meneruskan kehidupan. Sebaliknya, ketika integrasi menguat, mereka melakukan bunuh diri justru demi kebaikan yang lebih besar.

3.      Bunuh diri anomik

Bentuk bunuh diri ketiga adalah bunuh diri anomik, yang terjadi ketika kekuatan regulasi masyarakat terganggu. Gangguan itu mungkin akan membuat individu merasa tidak puas karena lemahnya control terhadap nafsu mereka, yang akan bebas berkeliaran dalam ras yang tidak pernah puas terhadap kesenangan. Angka bunuh diri anomik bisa meningkat terlepas dari apakah gangguan itu positif (misal, peningkatan ekonomi) atau negatif (penurunan ekonomi). Kedua macam gangguan ini membuat kolektivitas masyarakat tidak mampu melancarkan otoritasnya terhadap individu untuk sementara waktu. Perubahan-perubahan semacam ini menempatkan orang dalam situasi dimana norma lama tidak lagi berlaku sementara norma baru belum lagi dikembangkan. Periode gangguan ini melepaskan arus anomi, rasa ketercerabutan dari akar dan rasa kehilangan norma-norma mengikat dan arus ini cenderung mempertinggi angka bunuh diri anomik. Kasus ini relatif mudah ditemui dalam suasana depresi ekonomi. Pabrik yang tutup karena depresi ekonimi menyebabkan para pekerjanya kehilangan pekerjaan, sehingga mereka lepas dari pengaruh regulatif yang selama ini mereka rasakan baik dari perusahaan maupun pekerjaan. Karena terputus dari struktur ini atau struktur-struktur lainnya (seperti; keluarga, agama dan negara) bisa membuat seorang individu amat rentan dengan pengaruh arus anomi.

Yang lebih sulit dibayangkan adalah dampak booming ekonomi. Dalam kasus ini Durkheim berpendapat bahwa kesuksesan yang tiba-tiba mendorong individu menjauh dari struktur tradisional tempat mereka sebelumnya melekatkan diri. Kesuksesan yang sekonyong-konyong ini bisa mendorong individu meninggalkan pekerjaannya, berpindah ke komunitas lain, menemukan pasangan dan lain sebagainya. Semua perubahan tersebut mengacaukan pengaruh regulative dari pengaruh struktur yang masih eksis dan membuat individu mudah diserang oleh arus sosial anomik. Dalam kondisi ini, tindakannya orang lepas dari regulasi dan bahkan mimpi merekapun tidak bisa dicegah. Orang yang sedang berada dalam situasi booming ekonomi seakan memiliki masa depan tanpa batas dan "kenyataan terlihat tidak bernilai dibanding dengan mimpi dan imajinasi yang menggelisahkan" (Durkheim, 1897/1951:256).

Peningkatan angka bunuh diri anomik selama periode deregulasi kehidupan sosial, sesuai dengan pandangan Durkheim tentang pengaruh merusak dari nafsu individu ketika bebas dari kekangan eksternal.Seseorang yang telah bebas akan menjadi budak nafsu mereka, akibatnya, dalam pandangan Durkheim, memasuki wilayah tindakan destruktif yang tiada batas, termasuk membunuh diri sendiri.

4.      Bunuh diri fatalistis

Persoalan yang tidak terlalu banyak dibahas Durkheim adalah tipe bunuh diri keempat yaitu bunuh diri fatalistis. Dia hanya membahasnya dalam salah satu catatan kaki dalam suicide (Besnard, 1993). Kalau bunuh diri anomik terjadi dalam situasi dimana regulasi melemah, maka bunuh diri fatalistis justru terjadi ketika regulasi meningkat. Durkheim (1897/1951: 276) menggambarkan seseorang yang melakukan bunuh diri fatalistis seperti "seseorang yang masa depannya telah tertutup dan nafsu yang tertahan oleh disiplin yang menindas". Contoh klasik dari bunuh diri ini adalah budak yang menghabisi hidupnya karena putus asa karena regulasi yang menekan setiap tindakannya. Regulasi tekanan yang terlalu banyak akan melepaskan arus kesedihan, yang pada gilirannya menyebabkan peningkatan angka bunuh diri fatalistis.

Durkheim berpendapat bahwa arus sosial dapat memengaruhi angka bunuh diri. Bunuh diri individual dilandasi oleh arus egoisme, altruisme, anomik, dan fatalisme ini. Bagi Durkheim, hal ini membuktikan bahwa arus-arus tersebut lebih dari sekedar kumpulan arus-arus individual, akan tetapi paksaan sui generis, karena menguasai keputusan individu. Tanpa asumsi ini, angka bunuh diri dalam suatu masyarakat tidak akan bisa dijelaskan.

Kemiskinan moral suatu masyarakat

Durkheim menghubungkan hasil-hasil yang diperolehnya dengan konsep moral masyarakat. Jika "agama, keluarga dan negara bisa menjadi pencegah bunuh diri jenis 'egoistis' maka sebaliknya. Bahwa "bunuh diri pada masa sekarang memang merupakan indikasi adanya kemiskinan moral".

Angka bunuh diri dan reformasi sosial

            Durkheim mengakhiri studinya tentang bunuh diri dengan sebuah pembuktian apakah reformasi bisa diandalkan untuk mencegah bunuh diri. Usaha-usaha yang selama ini dilakukan untuk mencegah bunuh diri gagal karena ia dilihat sebagai problem individu. Bagi Durkheim, usaha langsung untuk meyakinkan individu agar tidak melakukan bunuh diri ternyata sia-sia, karena penyebab riilnya sudah umum dimasyarakat.

            Durkheim mengakui bahwa ada beberapa jenis bunuh diri itu yang nomal, akan tetapi ia berpendapat bahwa masyarakat modern telah melihat meningkatnya patologi dalam bunuh diriegoistis dan bunuh diri anomik. Disini posisi pendapat Durkheim bisa dilacak ke dalam The Division of Labor, di mana ia berpendapat bahwa anomi budaya modern berkaitan dengan cara abnormal dimana pekerjaan dipisah sehingga lebih mendorong terjadinya isolasi dari pada kesalingtergantungan. Yyang dibutuhkan adalah cara untuk melindungi kelebihan-kelebihan modernitas tanpa mempertinggi angka bunuh diri, menyeimbangkan arus-arus sosial ini. Dalam masyarakat kita Durkheim percaya bahwa arus tersebut tidak seimbang.  Ringkasnya, regulasi sosial dan integrasi menurun, mendorong terciptanya situasi abnormal dimana angka bunuh diri anomik dan egoistis mengalami peningkatan tajam.

 

v Peraturan Metode Sosiologi ( The Rule of Sosiological Metode )

            Setidak-tidaknya kita bisa menyatakan ada lima aturan fundamental dalam metode Durkheim, yaitu :

1.      Mendefinisikan objek yang dikaji secara objektif.

Disini yang menjadi sasaran adalah sebuah peristiwa sosial yang bisa diamati di luar kesadaran individu. Definisi tidak boleh mengandung prasangka terlepas dari apapun yang kira-kira akan menjadi kesimpulan studi. Contohnya, sebagai mahasiswa jurusan pendidikan, Durkheim berminat pada tujuan yang definitif:

"Pendidikan adalah tindakan yang dilaksanakan oleh generasi-generasi dewasa kepada generasi yang belum dewasa dalam kehidupan sosial. Pendidikan bertujuan untuk membangkitkan dan mengembangkan sejumlah kondisi fisik, intelektual dan moral pada anak seperti yang dituntut masyarakat politik terhadap si anak dalam keseluruhan dan mileu sosial yang diperuntukkannya".

2.      Memilih satu atau beberapa criteria yang objektif

Dengan demikian dalam buku pertamanya (De la division du travail social atau pembagian kerja secara sosial) Durkheim mempelajari berbagai bentuk solidaritas sosial yang berbeda-beda dari sudut hukum. Begitu pula ia berusaha mencari penyebab tindakan bunuh diri dengan mempergunakan angka kematian akibat bunuh diri. Namun masih harus lebih banyak diperhatikan tentang criteria-kriteria dalam mengajukan analisis tersebut.

3.      Menjelaskan kenormalan patologi

Ada beberapa situasi yang bersifat kebetulan dan sementara yang bisa mengacaukan keteraturan peristiwa. Jadi kita harus bisa membedakan situasi-situasi normal yang menjadi dasar kesimpulan-kesimpulan teoritis. Dapat kita bandingkan pemikiran dengan metode idealtipikal dari Max Weber. Yang riil selalu terlihat orisinil dalam kompleksitasnya, namun bisa pula kita mencari struktur dari cirri khas yang menonjol ini.

4.      Menjelaskan masalah sosial secara "sosial"

Sebuah peristiwa sosial tidak hanya bisa dijelaskan lewat keinginan individual yang sadar, namun juga melalui peritiwa atau tindakan sosial sebelumnya. Setiap tindakan kolektif mempunyai satu signifikansi dalam sebuah sistem interaksi dan sejarah. Inilah yang disebut metode fungsionalisme.

5.      Mempergunakan metode komparatif secara sistematis.

Inilah semua hal yang telah kita singgung di atas. Hanya komparativisme terhadap ruang dan waktu yang memungkinkan hal ini berakhir dengan suatu demonstrasi sosiologis.


hadisaputrabeanekpi1b_tugas2_teoriemiledurkheim

EMILE DURKHEIM (1858-1917)
Fakta sosial
            Untuk memisahkan sosiologi dari filsafat dan memberinya kejelasan serta identitas tersendiri, Durkheim menyatakan bahwa pokok bahasan sosiologi haruslah berupa studi atas fakta sosial.Secara singkat, fakta sosial terdiri dari struktur sosial, norma budaya, dan nilai yang berada di luar dan memaksa aktor.
Hal yang penting dalam pemisahan sosiologi dari filsafat adalah ide bahwa fakta sosial dianggap sebagai 'sesuatu'.yang dipelajari secara empiris, Artinya, bahwa fakta sosial mesti dipelajari dengan perolehan data dari luar pikiran kita melalui observasi dan eksperimen.
Fakta sosial adalah seluruh cara bertindak, baku maupun tidak, yang dapat berlaku pada diri individu sebagai sebuah paksaan eksternal; atau bisa juga dikatakan bahwa fakta sosial adalah seluruh cara bertindak yang umum dipakai suatu masyarakat, dan pada saat yang sama keberadaannya terlepas dari manifestasi-manifestasi individual.
Kutipan ini menjelaskan bahwa Durkheim memberikan dua definisi untuk fakta sosial. Agar sosiologi bisa dibedakan dari psikologi. Pertama, fakta sosial pengalaman sebagai sebuah paksaan eksternal dan bukannya dorongan internal. kedua, fakta sosial umum meliputi seluruh masyarakat dan tidak terikat pada individu partikular apapun.Durkheim menyebut fakta sosial dengan istilah latin 'sui generis'(unik).
Fakta sosial material dan Nonmaterial
            Durkheim membedakan dua tipe ranah fakta sosial-material dan Nonmaterial. Fakta sosial material, seperti gaya arsitektur, bentuk teknologi, hukum perundang-undangan, relatif mudah untuk dipahami karena keduanya dapat diamati secara langsung. Fakta sosial Nonmaterial ekspresi kekuatan moral fakta sosial material yang lebih besar dan kuat yang sama-sama berada diluar individu dan memaksa mereka. Kekuatan moral inilah yang disebut dengan fakta sosial Nonmaterial.
Jenisjenis fakta sosial Nonmaterial
            Moralitas. Perspektif Durkheim tentang moralitas terdiri dari dua aspek. Pertama, Durkheim yakin bahwa moralitas adalah fakta sosial dengan kata lain, moralitas bisa dipelajari secara empiris. Kedua, Durkheim dianggap sebagai sosiolog moralitas karena studinya didorong oleh kepeduliannya pada 'kesehatan' moral masyrakat modern.
            Kesadaran kolektif. Perkembangan ide Durkheim salah satunya kesadaran kolektif, Durkheim mendefinisikan kesadarn kolektif sebagai berikut ini:
Seluruh kepercayaan dan perasaan bersama orang kebanyakan dalam sebuah masyarakat akan membentuk suatu system yang tetap yang punya kehidupan sendiri, kita boleh menyebutnya dengan kesadaran kolektif atau kesadaran umum. Dengan demikian dia tidak sama dengan kesadaran particular, kendati, hanya bisa disadari lewat kesadaran-kesadaran particular.
            Representasi kolektif. Karena Durkheim tidak puas dengan gagasan kesadaran kolektif oleh karenanya ia lebih memilih konsep yang lebih spesifik yaitu representasi kolektif. Contoh representasi kolektif adalah simbol agama, mitos, legenda populer. Semua tersebut itu adalah cara-cara dimana masyarakat merefleksikan dirinya.
            Arus sosial.  Sebagian besar fakta sosial yang dirujuk Durkheim sering kali diasosiasikan dengan organisasi sosial. Akan tetapi, dia menjelaskan bahwa fakta sosial tidak menghadirkan diri dalam bentuk yang jelas. Durkheim menyebutnya dengan arus sosial. Dia mencontohkan dengan luapan semangat, amarah, dan rasa kasihan.
Bunuh diri
            Telah dijelaskan bahwa studi Durkheim tentang bunuh diri adalah contoh paradigmatis dari bagaimana seharusnya sosiolog menghubungkan teori dan penelitian.
            Durkheim memilih studi bunuh diri karena persoalan ini relatif merupakan fenomena konkret dan spesifik dimana tersedia data yang bagus secara komparatif. Alasan utama Durkheim melakukan studi bunuh diri adalah merupakan salah satu tindakan pribadi dan personal.
            Durkheim menawarkan dua cara yang saling berhubungan untuk mengevakuasi angka bunuh diri. Cara pertama adalah dengan membandingan suatu tipe masyarakat atau kelompok dengan tipe yang lain. Cara kedua yaitu melihat perubahan angka bunuh diri dalam sebuah kelompok dalam suatu rentang waktu.
            Durkheim memulai suicide dengan menguji dan menolak serangkaian pendapat alternative tentang penyebab bunuh diri. Diantaranya adalah psikopatologi individu, alkoholisme, ras, keturunan, dan iklim. Namun yang penting adalah metode empirisnya dalam menyisihkan faktor-faktor yang berada diluar dan tidak relevan agar bisa mendapatkan sesuatu yang dianggap sebagai penyebab utama bunuh diri.
            Durkheim menyimpulkan bahwa faktor terpenting dalam perbedaan angka bunuh diri akan ditemukan dalam perbedaan level fakta sosial.
 
Empat jenis bunuh diri
Bunuh diri egoistis.tingginya angka bunuh diri egoistis dapat ditemukan dalam masyarakat atau kelompok dimana individu tidak berinteraksi dengan baik dalam unit sosial yang luas. Ini terjadi ketika integrasi sosial melemah.
Bunuh diri altruistis. Jika bunuh diri egoistis terjadi ketika integrasi sosial melemah, bunuh diri altruistis terjadi ketika integrasi sosial sangat kuat. Secara harfiah, dapat dikatakan individu terpaksa melakukan bunuh diri.
Bunuh diri anomik. Hal ini terjadi ketika kekuatan regulasi masyarakat terganggu. Gangguan itu mungkin akan membuat individu merasa tidak puas karena lemahnya control terhadap nafsu mereka.
Bunuh diri fatalistis. Hal ini terjadi ketika regulasi meningkat. Bunuh diri fatalistis sama halnya dengan "seseorang yang masa depannya telah tertutup dan nafsu yang tertahan oleh disiplin yang menindas".
 
 
 
 
 
 
 

haikalfawwazkpi1b_tugas2_teoriemiledurkheim

TEORI Emile Durkheim (1858-1917)
1.       Fakta sosial
Durkheim telah membukukan isi pikirannya dalam karyanya yang berjudul 'The Rules of Sociological Method' (1895/1982). Buku yang memisahkan antara sosiologi dan filsafat yang berdasarkan studi dan fakta sosial.
Fakta sosial terdiri dari struktur sosial, norma budaya, dan nilai yang berada di luar dan memaksa aktor. Contohnya Mahasiswa, dipaksa oleh struktur sosial seperti birokrasi Universitas, serta oleh norma dsan nilai masyarakat Indonesia, yang mendapat tempat sangat penting dalam pendidikan akademis. Fakta sosial yang sama memaksa seseorang dalam seluruh area kehidupan sosial.
Fakta sosial adalah seluruh cara bertindak, baku maupun tidak, yang dapat berlaku pada diri individu sebagai sebuah paksaan eksternal; atau bisa juga dikatakan bahwa fakta sosial adalah seluruh cara bertindak yang umum dipakai suatu masyarakat, dan pada saat yang sama keberadaannya terlepas dari manifestasi-manifestasi individual.
Dari kutipan di atas ia menjelaskan bahwa fakta sosial sebagai sebuah paksaan eksternal bukan internal, dan umumnya fakta sosial meliputi seluruh masyarakat bukan individu partikular.
a.       Fakta sosial Material dan Nonmaterial
Durkheim membedakan dua tipe fakta sosial, yaitu material dan nonmaterial. Fakta sosial material, seperti gaya arsitektur, bentuk teknologi, dan hukum perundang-undangan. Fakta sosial material tersebut sering kali mengekspresikan kekuatan moral yang lebih besar dan kuat yang bersama-sama berada di luar individu dan bersifat memaksa. Kekuatan moral inilah yang disebuat fakta sosial nonmaterial.
Durkheim mengatakan bahwa fakta sosial nonmaterial memang memiliki batasan tertentu, ia berada dalam pikiran individu. Tetapi, apabila individu berinteraksi dengan sempurna, maka interaksi itu akan "mematuhi hukumnya sendiri". Individu sebagai satu jenis lapisan bagi fakta sosial nonmaterial, namun bentuk dan isi partikularnya ditentukan oleh interaksi dan bukan individu.
b.      Jenis-jenis Fakta sosial Nonmaterial
·         Moralitas
Perspektif Durkheim tentang moralitas terdiri dari dua aspek. Pertama, Durkheim yakin bahwa moralitas adalah fakta sosial.dengan kata lain, moralitas bisa dipelajari secara empiris.karena ia berada di luarindividu, ia memaksa individu, dan bisa dijelaskan dengan faktafakta sosial lain. Kedua, Durkheim dianggap sebagai sosiolog moralitas karena studinya didorong oleh kepeduliannya kepada 'kesehatan' moral masyarakat modern.dikarenakan masyarakat telah menjadi, atau tengah terancam bahaya, tidak bermoral.
·         Kesadaran kolektif
Kesadaran kolektif adalah seluruh kepercayaan dan perasaan bersama orang kebanyakan dalam sebuah masyarakat akan membentuk suatu sistem yang tetap yang memiliki kehidupan sendiri. Dengan demikian, dia tidak sama dengan kesadaran partikular.
·         Representasi kolektif
Dalam bahasa Perancis kata representation, secara harfiah berarti "gagasan". Sedangkan Durkheim menggunakan istilah ini untuk mengacu konsep kolektif maupun daya sosial yang memaksa individu. Contohnya adalah simbol agama, mitos, dan legenda popular. Semua itu adalah cara-cara masayarakat mempresntasikan dirinya. Semuanya mempresentasikan kepercayaan, norma, dan nilai kolektif, dan mendorong kita menyesuaikan diri dengan klaim kolektif.
·         Arus sosial
Sebagaian fakta sosial yang dirujuk Durkheim sering diasosiasikan dengan organisasi sosial. Tetapi, ia menjelaskan bahwa fakta sosial tidak menghadirkan bentuk yang jelas, dan ia menyebutnya dengan arus sosial.
2.      Bunuh diri
Dalam karyanya yang lain dalam buku yang berjudul 'Suicide'. Ia memlihi studi bunuh diri karena persoalan ini relative merupakan fenomena konkret dan spesifik dimana tersedia data yang bagus secara komparatif akan tetapi, alasan utama Durkheim untuk melakukan studi bunuh diri ini adalah dari salah satu tindakan pribadi dan personal.
Terdapat empat alasan orang bunuh diri menurut Emile Durkheim, yaitu:
a. Karena alasan agama
Dalam penelitiannya, Durkheim mengungkapkan perbedaaan angka bunuh diri dalam penganut ajaran Katolik dan Protestan. Penganut agama Protestan cenderung lebih besar angka bunuh dirinya dibandingkan dengan penganut agama Katolik. Perbedaan ini dikarenakan adanya perbedaan kebebasan yang diberiakn oleh kedua agama tersebut kepada penganutnya. Penganut agama Protestan memperoleh kebebasan yang jauh lebih besar untuk mencari sendiri hakekat ajaran-ajaran kitab suci, sedangkan pada agama Katolik tafsir agama ditentukan oleh pemuka Gereja. Akibatnya kepercayaan bersama dari penganut Protestan berkurang sehingga menimbulkan keadaan dimana penganut agama Protestan tidak lagi menganut ajaran/tafsir yang sama. Integrasi yang rendah inilah yang menjadi penyebab laju bunuh diri dari penganut ajaran ini lebih besar daripada penganut ajaran agama Katolik.
b. Karena alasan keluarga
Semakin kecil jumlah anggota dari suatu keluarga, maka akan semakin kecil pula keinginan untuk terus hidup. Kesatuan social yang semakin besar, semakin besar mengikat orang-orang kepada kegiatan social di antara anggota-anggota kesatuan tersebut. Kesatuan keluarga yang lebih besar biasanya lebih akan terintegrasi.
c. Karena alasan politik
Durkheim disini mengungkapkan perbedaan angka bunuh diri antara masyarakat militer dengan masyarakat sipil. Dalam keadaan damaiangka bunuh diri pada masyarakat militer cenderung lebih besar daipada masyarakat sipil. Dan sebaliknya, dalam situasi perang masyarakat militer angka bunuh dirinya rendah. Didalam situasi perang masyarakat militer lebih terintegrasi dengan baik dengan disipilin yang keras dibandingkan saat keadaan damai di dalam situasi ini golongan militer cenderung disiplinnya menurun sehingga integrasinya menjadi lemah.

Sedangkan jenis-jenis bunuh diri menurutnya yaitu:
a. Bunuh diri Egoistis
Adalah suatu tindak bunuh diri yang dilakukan seseorang karena merasa kepentingannya sendiri lebih besar daripada kepentingan kesatuan sosialnya. Seseorang yang tidak mampu memenuhi peranan yang diharapkan 
(role expectation) di dalam role performance (perananan dalam kehidupan sehari-hari), maka orang tersebut akan frustasi dan melakukan bunuh diri.
b. Bunuh diri Anomis
Bunuh diri yang terjadi ketika kekuatan regulasi masyarakat terganggu dimana terjadi ketidakjelasan norma-norma yang mengatur cara berpikir, bertindak dan merasa para anggota masyarakat, gangguan itu mungkin membuat individu merasa tidak puas karena lemahnya control terhadap nafsu mereka, yang akan bebas berkeliaran dalam ras yang tidak akan pernah puas terhadap kesenangan. Menurut Durkheim, suatu keadaan anomik dapat dilihat dari indikator ekonomi maupun domestik. Analisa statistik Durkheim memperlihatkan bahwa krisis ekonomi membuat orang kehilangan arah. Dalam keadaan seperti ini, ungkap Durkheim mereka harus beradaptasi dengan kondisi yang menimpa mereka, kondisi yang sangat menyiksa; mereka membayangkan penderitaan karena serba berkekurangan bahkan sebelum mereka mencoba kehidupan ini. Pertumbuhan kemakmuran yang mendadak dalam masyarakat juga memiliki dampak serupa terhadap peningkatan angka bunuh diri dalam masyarakat. Pertumbuhan ekonomi yang mendadak membuat tatanan moral runtuh, sementara tatanan moral yang baru belum berkembang untuk menggantikan tatanan moral sebelumnya. Misalnya seseorang karena diberhentikan dari pekerjaannya kemudian memutuskan untuk bunuh diri.
c. Bunuh diri Altruistis
Orang melakukan bunuh diri karena merasa dirinya sebagai beban dalam masyarakat. Contohnya adalah seorang istri yang melakukan bunuh diri yang telah ditinggal mati oleh suaminya. Serta juga bunuh diri yang dilakukan oleh orang Jepang "hara kiri", yaitu bunuh diri yang dilakukan oleh anggota militer demi membela negaranya.
d. Bunuh diri Fatalisme
Adalah bunuh diri yang dilakukan karena rasa putus asa. Tidak ada lagi semangat untuk melanjutkan hidup, misalnya karena perbudakan.
 
Sumber:  Referensi: teori sosiologi klasik dan modern (George Ritzer dan Douglas J. Goodman)

Syarifah Zahrina Firda KPI I B_Tugas2_Teori Emile Durkheim

Teori Emile Durkheim
A. Suicide ( Bunuh Diri )
Durkheim memilih studi bunuh diri karena persoalan ini relatif merupakan fenomena konkret dan spesifik dimana tersedia data yang bagus secara komparatif. Alasan utama Durkheim melakukan studi bunuh diri ialah menjadikan salah satu tindakan pribadi dan personal. Ia tertarik menejelaskan perbedaan angka bunuh diri yaitu ia tertarik kenapa suatu kelompok memiliki angka bunuh diri lebih tinggi dibanding kelompok lain.
Durkheim menawarkan 2 cara untuk mengatasai angka bunuh diri :
1.  

DelshaAmandaPohanKPI1B_Tugas2_TeoriDurkheim

TEORI EMILE DURKHEIM

    Sebelum kita masuk dalam 2 karya emile durkheim ini ada baiknya kita mengetahui bagaimana mulanya teori-teori tersebut muncul.Karya-karya Durkheim menjadi kekuatan dominan dalam perkembangan sosiologi secara umum dan teori-teori sosiologinya. Karya-karya Durkheim dipengaruhi oleh kekacauan dan faktor lainnya seperti pristiwa pemogokan industri, kehancuran kelas berkuasa, perselisihan antara gereja dan negara serta lahirnya politik anti-semitisme (sikap permusuhan seperti penganiyayaan agama, kelompok ras, dari kebencian antar individu sampai lembaga ) yang terjadi di Prancis pada masa Durkheim. Apalagi Durkheim membenci kekacauan sosial dan mengkhawatirkannya.

ida_KPI 1A_Tugas 2_Emile durkheim 1

A.  Biografi Emile Durkheim
Emile Durkheim lahir pada tanggal 15 April 1858 di Epinal, Prancis. Ia sangat tertarik pada sosiologi ilmiah tetapi waktu itu belum ada bidang study sosiologi, sehingga pada tahun 1882-1887 ia mengajar filsafat di sejumlah sekolah di Paris. Beberapa tahun kemudian, Durkheim mendapatkan jabatan di jurusan universitas Bordeaux tepatnya pada tahun 1887. Disinilah Durkheim pertama kali memberiakan kuliah ilmu social di univesitas Prancis.

Kholifah kpi 1/A_tugas 2 sosiologi_Emile Durkheim

EMILE DHURKHEIM
A.  Biografi Emile Durkheim
Emile Durkheim lahir di Epinal, Prancis, pada  15 april 1858. Dhurkheim berasal dari keturanan pemdeta Yahudi dan ia ingin belajar untuk menjadi seorang pendeta. Namun ketika ia berusia sepuluh tahun, ia menolak untuk menjadi pendeta karena ia merasa kecewa terhadap pendidikan agama yang ia anggap bersifat akademis dan bukan bersifat teologis. Tetapi Dhurkheim juga merasa kecewa terhadap pendidikan umum lainnya dan banyak memberi perhatian pada masalah kesusastraan  dan estetika. Pada umur 21 tahun, Durkheim masuk perguruan tinggi Ecole Normale Superieure dan dimasa itulah ia memiliki perhatian yang sangat besar terhadap ilmu pengetahuan.   

Aida_KPI1A_Tugas2_Emile Durkheim


ABOUT EMILE DURKHEIM
Ketika ditanya mengenai apa yang ingin diajarkannya, selain pedagogi, maka tanpa ragu-ragu Durkheim menjawab bahwa ia ingin "memberi kuliah umum tentang ilmu social". Selanjutnya ia mengatakan bahwa ia bermaksud untuk mengambil (masalah) solidaritas social sebagai tema pokok dari kuliah itu.
Emile Durkheim, yang dilahirkan pada tahun 1858 (15 April di Louraine), pada waktu itu baru berumur 29 tahun. Tetapi anak pendeta Yahudi (rabbi) ini sampai dengan akhir hayatnya tak pernah melepaskan perhatiannya dari masalah pokok ini. Bagaimana mungkin solidaritas social selalu bisa dibina? Dasar dan unsur apa yang telah dan pernah membina solidaritas social itu?

Papat Kalima Pancer/ Opat Sehat Lima Sampurna

Rupa-rupa tafsiran nu kungsi kabaca teh. Saheulaanan mah, keur batur ngopi sore. Tah aya tafsiran Yacob Sumardjo.
===

"Salawe Nagara"
Oleh Jakob Sumardjo

DALAM pantun Panggung Karaton, Prabu Siliwangi menyerahkan peta kepada putranya, Raden Wangi, agar mencari negara yang "berpulau tiga puluh tiga dan berbengawan 65" untuk dijadikan kerajaannya. Ungkapan semacam itu juga dikenal di Tangtu Baduy, yaitu "nagara satelung puluh teulu, bagawan sawidak lima, pancer salawe nagara."


Dira Rohmatun, KPI 1C_Tugas2_ Teori E.Durkheim

DURKHEIM

Rule of Sociology Methode

Setidaknya-tidaknya kita bisa menyatakan ada lima peraturan fundamental dalam metode Durkheim,  yaitu :
1.       Mendefinisikan Objek Yang Dikaji Secara Objektif
Disini yang menjadi sasaran adalah sebuah peristiwa sosial yang bisa diamati diluar kesadaran individu. Definisi tidak boleh mengandung prasangka terlepas dari apapun yang kira-kira akan menjadi kesimpulan studi. Contohnya : sebagai mahasiswa jurusan pendidikan Durkheim berminat pada tujuan definitive :

R.Dirgantria.A KPI 1A_Tugas 2 Sosiologi_Sosiologi Emile Durkheim

SOSIOLOGI EMILE DURKHEIM

BIOGRAFI DURKHEIM :
LAHIR pada tahun 1858 di Epinal dari sebuah keluarga tua Yahudi yang berasal dari Alsace, Emile Durkheim sebenarnya diarahkan untuk menjadi rabbi sebagaimana ayah dan kakeknya. Emile kemudian dikirim ke sekolah rabbi dan mempelajari bahasa yahudi. Ia segera beralih dari jurusan agama dan berhasil menyelesaikan studi pendidikan umum. Pada tahun 1879 ia memasuki semacam sekolah tingkat atas yang kemudian menjadi sebuah lingkungan intelektual yang sangat dinamis.
Sebagai seorang filsuf yang temperamental (lulus dengan ijazah guru pada tahun 1882) Durkheim tidak terlalu lama kemudian mengorientasikan diri pada permasalahn moral dan ingin memberi sebuah dasar ilmiah yang mula-mula dicarinya dalam psikologi, dan kemudian dalam sosiologi.

Minggu, 15 September 2013

Chika KPI1A_Tugas2sosiologi_Emile Durkheim

EMILE DURKHEIM

1.       Biografi Emile Durkheim
                David Emile Durkheim atau lebih dikenal Emile Durkeim (1858-1917) lahir di Epinal, Prancis pada 15 April 1858. Ayahnya seorang pendeta Yahudi dan dia pun pernah belajar untuk menjadi pendeta, namun cita-citanya itu gagal, dia memutuskan untuk tidak menjadi seorang pendeta ketika ia berumur 10 tahun.  Tampaknya Durkheim disaat itu mengalami kekecewaan terhadap pendidikan agama. Bukan hanya itu, ia pun kecewa terhadap pendidikan pada umumnya. Sejak itu kajian keagamaannya lebih bernuansa akademis ketimbang teologis (Mestrovic, 1988). Pada umur 21 tahun Durkheim masuk diperguruan tinggi Ecole Normale Superieure.
             

NITA LISTIANAH KPI/1C_Tugas 2_Teori Emile Durkheim


TEORI DURKHEIM

A.   Latar Belakang

Emile Durkheim lahir di Epinal provinsi alorraine, perancis timur pada tanggal 15 April 1858. Dia termasuk dalam tokoh Sosiologi yang memperbaiki metode berpikir Sosiologis yang tidak hanya berdasarkan pemikiran-pemikiran logika filosofis tetapi Sosiologi akan menjadi suatu ilmu pengetahuan yang benar apabila mengangkat gejala social sebagai fakta-fakta yang dapat diobservasi.

nurapzafidah 1/b_tugas2_teori emile durkheim


Teori Emile Durkheim
Fakta sosial
        Fakta sosial adalah seluruh cara bertindak, buku maupun tidak, yang dapat berlaku pada diri individual sebagai sebuah paksaan eksternal ; atau bisa juga dikatakan bahwa sosial adalah seluruh cara bertindak yang umum dipakai suatu masyarakat, dan pada saat yang sama keberadaannya terlepas dari manifestasi-manifestasi individual. Dalam buku The Rules of Sociological Method, Durkeim membedakan dua jenis fakta sosial yaitu:

Syahrul_KPI 1C_Tugas 2_Sosiologi Emile Durkheim

Dalam buku Rules of Sociological Method (1895), Durkheim menawarkan definisinya mengenai sosiologi. Menurut Durkheim, bidang yang harus dipelajari sosiologi adalah fakta sosial, yaitu fakta yang berisikan cara bertindak, berpikir dan merasakan yang mengendalikan individu tersebut. Untuk berpikir dan merasakan yang mengendalikan individu tersebut. Untuk memperjelas definisi ini, Durkheim mengemukakan bahwa fakta sosial adalah cara bertindak yang telah baku ataupun tidak, yang dapat melakukan pemaksaan dari luar  terhadap individu.


AizzahAl-RahmahKpi1B_tugas2_emiledurkheim

EMILE DURKHEIM
*Fakta Sosial
Dalam bukunya The Rules of Sociological Method (1895/1982), Durkheim menyatakan bahwa tugas utama sosiologi adalah mengkaji apa yang disebut dengan Fakta Sosial.
"Fakta Sosial adalah seluruh cara bertindak, baku maupun tidak, yang berlaku pada diri individu sebagai sebuah paksaan eksternal, atau bisa juga dikatakan bahwa fakta sosial adalah seluruh cara bertindak yang umum dipakai suatu masyarakat, dan pada saat yang sama keberadaannya terlepas dari manifestasi-manifestasi individual."

Yumaretsa Ridwan S KPI 1A_Tugas2 Sosiologi_Emile Durkheim

EMILE DURKHEIM
BIOGRAFI
Emile Durkheim, lahir 15 April di Epinal tahun 1858, anak dari seorang Rabbi (Pendeta Yahudi). Daerah tersebut lebih dikenal dengan kota kecil, Lorraine, dan termasuk keluarga besar Yahudi Perancis.
Dalam studinya, Emile Durkheim mula-mula belajar teologi, karena Ia berkeinginan menjadi seorang Pendeta Yahudi (rabbi), karena pengaruh seorang guru wanita Katolik, Ia cenderung ke arah mistik Katolisme, tetapi akhirnya Ia menjadi penganut agnotisisme.

Tubagus Zhiya KPI 1A_Tugas 2 Sosiologi-Emile Durkheim



Emile Durkheim
Emile durkheim dilahirkan dekat strasbourg pada tahun 1858 di Epinal dari sebuah keluarga tua yahudi yang berasal dari alsace, durkheim sebenarnya diarahka untuk menjadi rabbi sebagaimana ayah dan kakeknya. Durkheim kemudian dikirim ke sekolah rabbi dan mempelajari bahasa yahudi.

Amatullah Aliyah KPI 1A _Tugas 2 sosiologi _Emile Durkheim

EMILE DURKHEIM
1.      BIOGRAFI EMILE DURKHEIM
Emile Durkheim lahir di Epinal, Perancis, 15 April 1858. Ia keturunan pendeta yahudidan ia sendiri belajar untuk jadi pendeta. Tetapi, ketika berumur 10 tahun ia menolak menjadi pendeta. Sejak itu perhatiannya terhadap agama lebih bersifat akademisketimbang teologis ( mestrovic, 1988). Karena ia merasa kecewa terhadap pendidikan agama dan pendidikan umumnya yang banyak memberikan perhatian pada  masalah kesusastraan  dan estetika. Ia juga mendalami metodologi ilmiah dan prinsip moral yang diperlukan untuk menuntun kehidupan sosial.

Syifafauziah KPI 1/B_Tugas2_Teori Emile Durkheim


FAKTA SOSIAL

"Fakta social adalah seluruh cara bertindak baku maupun tidak, yang dapat berlaku pada diri individu sebagai sebuah paksaan eksternal, atau bisa juga dikatakan bahwa fakta social adalah seluruh cara bertindak yang umum dipakai suatu masyarakat, dan pada saat yang sama keberadaannya terlepas dari manifestasi-manifestasi individual."

Cari Blog Ini