Senin, 16 September 2013

nur asiah aisyah zaldi KPI 1C_tugas2_suicide dan the rule of sosiological metode

Emile Durkheim

 

v Suicide (bunuh diri)

Durkheim memilih studi bunuh diri karena persoalan ini relatif merupakan fenomena konkret dan spesifik dimana tersedia data yang bagus secara komperatif. Akan tetapi, alasan utama Durkheim  untuk melakukan studi bunuh diri ini adalah untuk menunjukkan kekuatan disiplin sosiologi. Bunuh diri secara umum merupakan salah satu tindakan pribadi dan personal. Durkheim percaya bahwa jika dia bisa memperlihatkan bahwa sosiologi mampu berperan dalam menjelaskan tindakan yang kelihatannya bersifat individualistis seperti bunuh diri ini, maka dengan mudah ia akan memperluas ranah sosiologi kepada fenomena-fenomena lain yang terbuka bagi analisis sosiologi.

Disini ia mendemonstrasikan pengaruh integrasi sosial terhadap kecendrungan individu untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Karena sosiologi tidak bisa melakukan eksperimen di dalam laboratorium, maka ia mempergunakan berbagai variasi situasi sosial untuk melakukan perbandingan. Durkheim berpegang pada metode variasi yang terjadi pada waktu yang sama (korelasi-korelasi) dengan membangun rangkaian-rangkaian mulai dari peristiwa yang harus terseleksi. Ia memisahkan sejumlah variable berupa umur,  seks, situasi sipil, keanggotaannya pada suatu agama dan tingkat pendidikan yang dibandingkannya dengan angka kematian.

Metode statistik dan koperatif 

            Jika pada zamannya Durkheim yang memiliki satu alat statistic dasar yang bahkan bisa dibilang masih 'kasar' serta satu aritmatika sederhana, namun dari hasil karyanya muncul serangkain perbandingan yang cukup membuat kita kagum. Maka dengan membangun hubungan antara angka bunuh diri dalam dua kategori, kita bisa memunculkan jarak dengan mengalkulasi "koefisien perlindungan (preservasi)" atau "keparahan (aggravation)". Contoh : di sebuah propinsi angka bunuh diri orang yang sudah menikah dari usia 20 hingga 25 tahun adalah 95 banding seribu penduduk; sementara yang dilakukan oleh para duda pada usia yang sama sebanyak 153. Maka hubungan 153/95 memberi sebuah koefisien preservasi sebesar 1,61 sedangkan untuk perempuan pada kategori yang sama koefisiennya sebesar 1,46. Dengan mengkonfrontasikan koefisien-koefisien yang berbeda ini muncul suatu keteraturan yang menunjukan bahwa  pada usia manapun dan di daerah tempat tinggal manapun (baik di Paris atau di propinsi-propinsi) status menduda memang lebih memperparah angka bunuh diri dari laki-laki dibanding status menjanda perempuan.

Proses sosialisasi

            Setelah membantah teori-teori yang menganggap bunuh diri disebabkan oleh kegilaan, ras dan hereditas. Durkheim lalu mengembangkan teori sosialisasinya dengan membuat suatu tipologi.

Empat jenis bunuh diri

            Teori bunuh diri Durkheim bisa dilihat lebih jelas jika kita mencermati hubungan jenis-jenis bunuh diri dengan dua fakta sosial utamanya : integrasi dan regulasi. Integrasi merujuk pada kuat tidaknya keterkaitan dengan masyarakat. Regulasi merujuk pada tingkat paksaan eksternal dirasakan individu. Menurut Durkheim, dua arus sosial tersebut adalah variable yang saling berkaitan dan angka bunuh diri meningkat ketika salah satu arus menurun dan yang lain meningkat. Oleh karena itulah ada empat jenis bunuh diri, yaitu :

1.      Bunuh diri egoistis

Tingginya angka bunuh diri egoistis dapat ditemukan dalam masyarakat atau kelompok dimana individu tidak berinteraksi dengan baik dalam unit sosial yang luas. Lemahnya integrasi ini melahirkan perasaan bahwa individu bukan bagian dari masyarakat dan masyarakat bukan pula bagian dari individu. Durkheim percaya bahwa bagian paling baik dari manusia yaitu moralitas nilai, dan tujuan kita berasal dari masyarakat. Sebuah masyarakat yang padu akan membri kita semua ini, dan dukungan moral umum bagi kita agar kuat melalui keterpurukan dan kekecewaan kecil sehari-hari. Tanpa ini, besar kemungkinan kita akan bunuh diri ketika mengalami frustasi yang paling kecil sekalipun.

Lemahnya integrasi sosial melahirkan arus sosial yang khas, dan arus tersebut melahirkan perbedaan angka bunuh diri. Misalnya, Durkheim berbicara tentang disitegrasi masyarakat yang melahirkan "arus depresi dan kekecewaan" (1897/1951:214). Situasi politik didominasi oleh perasaaan kesia-siaan, moralitas dilihat sebagai pilihan individu, dan pandangan hidup masyarakat luar menekan ketidakbermaknaan hidup. Sebaliknya, kelompok yang memiliki integrasi kuat akan mencegah terjadinya bunuh diri.   

Sebuah studi komparatif yang teliti terhadap angka bunuh diri menurut agama yang dianut oleh pelakunya berbagai Negara Eropa (Jerman, Inggris, Denmark, Perancis, Italia dsb… ) member hasil berikut ini : ternyata lebih banyak penganut Protestan yang bunuh diri ketimbang penganut Katholik, dan kaum Yahudi paling sedikit melakukan bunuh diri. "Superioritas Protestanisme dari sudut pandang bunuh diri disebabkan karena integritas Gereja Kristen Protestan lebih lemah disbanding Gereja Katolik". Sedangkan sesudah meneliti tingkat pendidikan ia menyimpulkan bahwa "jika dalam lingkungan yang berpendidikan kecenderungan untuk melakukan bunuh diri itu lebih parah,maka tingkat keparahan itu sangat terkait dengan (…) melemahnya kepercayaan-kepercayaan tradisional dan karena situasi individualisme maral yang diakibatkan karenanya".

Sedangkan jika menganut keluarga ternyata "masyarakat domestik sebagaimana sebuah masyarakat religius menjadi kekuatan preservatif terhadap upaya bunuh diri. Perlindungan (pengamanan) ini kian sempurna jika keluarga itu lebih padat". Dengan cara demikian masyarakat politik justru lebih baik melakukan perlindungannya karena lebih kuat cara pembentukannya. Agama, keluarga dan masyarakat politik sama-sama merupakan kelompok sosial yang mendefinisikan identitas si individu. Ketika ia melemah atau terputus, individu akan kehilangan tempat bernaung dan mundur kearah dirinya sendiri, yaitu kepada egonya. Dari sinilah asalnya istilah yang agak sesuai dengan istilah yang dipakai biasanya yaitu "bunuh diri egoistis".

2.      Bunuh diri altruistis

Tipe bunuh diri kedua yang dibahas Durkheim adalah bunuh diri altruistis. Kalau bunuh diri egoitis terjadi ketika integrasi sosial melemah, bunuh diri altruistis terjadi ketika "integrasi sosial yang kuat" (Durkheim, 1897/1951:217). Secara harfiah, dapat dikatakan individu terpaksa melakukan bunuh diri.

Salah satu contoh paling tepat untuk bunuh diri altruistis adalah bunuh diri missal dari pengikut Pendeta Jim Jones di Jonestown, Guyana, pada tahun 1978. Mereka memperoleh racun secara sembunyi-sembunyi lalu menenggaknya kemudian diikuti oleh anak-anak mereka. Mereka dengan terang-terangan melakukan bunuh diri karena memiliki integrasi yang sangat erat dalam sebuah kelompok sebagai pengikut fanatik dari jones.

Menurut Durkheim, penjelasan yang sama juga dapat dipakai dalam kasus seseorang yang mencari mati syahid (Durkheim, 1897/1951: 225). Seperti yang dilakukan oleh teroris pada peristiwa 11 September 2001. Secara umum, orang melakukan bunuh diri altruistis karena mereka merasa itu adalah tugas mereka. Durhkeim berpendapat bahwa bahwa secara khusus, bunuh diri altruistis ini mungkin terjadi dalam militer yang memiliki tingkat integrasi begitu begitu kuat, bahwa seorang individu akan merasa telah membawa aib bagi kesatuannya meski hanya karena kesalahan sepele.

Kalau tingginya angka bunuh diri egoistis ditentukan oleh "kelelahan yang tidak dapat disembuhkan dan depresi yang menyedihkan," maka bunuh diri altruistis makin banyak terjadi jika "makin banyak harapan yang tersedia, karena dia bergantung pada keyakinan akan adanya sesuatu yang indah setelah hidup didunia ini" (Durkheim, 1897/1951: 225). Ketika integrasi mengendur, seseorang akan melakukan bunuh diri karena tidak tidak ada lagi kebaikan yang dapat dipakai untuk meneruskan kehidupan. Sebaliknya, ketika integrasi menguat, mereka melakukan bunuh diri justru demi kebaikan yang lebih besar.

3.      Bunuh diri anomik

Bentuk bunuh diri ketiga adalah bunuh diri anomik, yang terjadi ketika kekuatan regulasi masyarakat terganggu. Gangguan itu mungkin akan membuat individu merasa tidak puas karena lemahnya control terhadap nafsu mereka, yang akan bebas berkeliaran dalam ras yang tidak pernah puas terhadap kesenangan. Angka bunuh diri anomik bisa meningkat terlepas dari apakah gangguan itu positif (misal, peningkatan ekonomi) atau negatif (penurunan ekonomi). Kedua macam gangguan ini membuat kolektivitas masyarakat tidak mampu melancarkan otoritasnya terhadap individu untuk sementara waktu. Perubahan-perubahan semacam ini menempatkan orang dalam situasi dimana norma lama tidak lagi berlaku sementara norma baru belum lagi dikembangkan. Periode gangguan ini melepaskan arus anomi, rasa ketercerabutan dari akar dan rasa kehilangan norma-norma mengikat dan arus ini cenderung mempertinggi angka bunuh diri anomik. Kasus ini relatif mudah ditemui dalam suasana depresi ekonomi. Pabrik yang tutup karena depresi ekonimi menyebabkan para pekerjanya kehilangan pekerjaan, sehingga mereka lepas dari pengaruh regulatif yang selama ini mereka rasakan baik dari perusahaan maupun pekerjaan. Karena terputus dari struktur ini atau struktur-struktur lainnya (seperti; keluarga, agama dan negara) bisa membuat seorang individu amat rentan dengan pengaruh arus anomi.

Yang lebih sulit dibayangkan adalah dampak booming ekonomi. Dalam kasus ini Durkheim berpendapat bahwa kesuksesan yang tiba-tiba mendorong individu menjauh dari struktur tradisional tempat mereka sebelumnya melekatkan diri. Kesuksesan yang sekonyong-konyong ini bisa mendorong individu meninggalkan pekerjaannya, berpindah ke komunitas lain, menemukan pasangan dan lain sebagainya. Semua perubahan tersebut mengacaukan pengaruh regulative dari pengaruh struktur yang masih eksis dan membuat individu mudah diserang oleh arus sosial anomik. Dalam kondisi ini, tindakannya orang lepas dari regulasi dan bahkan mimpi merekapun tidak bisa dicegah. Orang yang sedang berada dalam situasi booming ekonomi seakan memiliki masa depan tanpa batas dan "kenyataan terlihat tidak bernilai dibanding dengan mimpi dan imajinasi yang menggelisahkan" (Durkheim, 1897/1951:256).

Peningkatan angka bunuh diri anomik selama periode deregulasi kehidupan sosial, sesuai dengan pandangan Durkheim tentang pengaruh merusak dari nafsu individu ketika bebas dari kekangan eksternal.Seseorang yang telah bebas akan menjadi budak nafsu mereka, akibatnya, dalam pandangan Durkheim, memasuki wilayah tindakan destruktif yang tiada batas, termasuk membunuh diri sendiri.

4.      Bunuh diri fatalistis

Persoalan yang tidak terlalu banyak dibahas Durkheim adalah tipe bunuh diri keempat yaitu bunuh diri fatalistis. Dia hanya membahasnya dalam salah satu catatan kaki dalam suicide (Besnard, 1993). Kalau bunuh diri anomik terjadi dalam situasi dimana regulasi melemah, maka bunuh diri fatalistis justru terjadi ketika regulasi meningkat. Durkheim (1897/1951: 276) menggambarkan seseorang yang melakukan bunuh diri fatalistis seperti "seseorang yang masa depannya telah tertutup dan nafsu yang tertahan oleh disiplin yang menindas". Contoh klasik dari bunuh diri ini adalah budak yang menghabisi hidupnya karena putus asa karena regulasi yang menekan setiap tindakannya. Regulasi tekanan yang terlalu banyak akan melepaskan arus kesedihan, yang pada gilirannya menyebabkan peningkatan angka bunuh diri fatalistis.

Durkheim berpendapat bahwa arus sosial dapat memengaruhi angka bunuh diri. Bunuh diri individual dilandasi oleh arus egoisme, altruisme, anomik, dan fatalisme ini. Bagi Durkheim, hal ini membuktikan bahwa arus-arus tersebut lebih dari sekedar kumpulan arus-arus individual, akan tetapi paksaan sui generis, karena menguasai keputusan individu. Tanpa asumsi ini, angka bunuh diri dalam suatu masyarakat tidak akan bisa dijelaskan.

Kemiskinan moral suatu masyarakat

Durkheim menghubungkan hasil-hasil yang diperolehnya dengan konsep moral masyarakat. Jika "agama, keluarga dan negara bisa menjadi pencegah bunuh diri jenis 'egoistis' maka sebaliknya. Bahwa "bunuh diri pada masa sekarang memang merupakan indikasi adanya kemiskinan moral".

Angka bunuh diri dan reformasi sosial

            Durkheim mengakhiri studinya tentang bunuh diri dengan sebuah pembuktian apakah reformasi bisa diandalkan untuk mencegah bunuh diri. Usaha-usaha yang selama ini dilakukan untuk mencegah bunuh diri gagal karena ia dilihat sebagai problem individu. Bagi Durkheim, usaha langsung untuk meyakinkan individu agar tidak melakukan bunuh diri ternyata sia-sia, karena penyebab riilnya sudah umum dimasyarakat.

            Durkheim mengakui bahwa ada beberapa jenis bunuh diri itu yang nomal, akan tetapi ia berpendapat bahwa masyarakat modern telah melihat meningkatnya patologi dalam bunuh diriegoistis dan bunuh diri anomik. Disini posisi pendapat Durkheim bisa dilacak ke dalam The Division of Labor, di mana ia berpendapat bahwa anomi budaya modern berkaitan dengan cara abnormal dimana pekerjaan dipisah sehingga lebih mendorong terjadinya isolasi dari pada kesalingtergantungan. Yyang dibutuhkan adalah cara untuk melindungi kelebihan-kelebihan modernitas tanpa mempertinggi angka bunuh diri, menyeimbangkan arus-arus sosial ini. Dalam masyarakat kita Durkheim percaya bahwa arus tersebut tidak seimbang.  Ringkasnya, regulasi sosial dan integrasi menurun, mendorong terciptanya situasi abnormal dimana angka bunuh diri anomik dan egoistis mengalami peningkatan tajam.

 

v Peraturan Metode Sosiologi ( The Rule of Sosiological Metode )

            Setidak-tidaknya kita bisa menyatakan ada lima aturan fundamental dalam metode Durkheim, yaitu :

1.      Mendefinisikan objek yang dikaji secara objektif.

Disini yang menjadi sasaran adalah sebuah peristiwa sosial yang bisa diamati di luar kesadaran individu. Definisi tidak boleh mengandung prasangka terlepas dari apapun yang kira-kira akan menjadi kesimpulan studi. Contohnya, sebagai mahasiswa jurusan pendidikan, Durkheim berminat pada tujuan yang definitif:

"Pendidikan adalah tindakan yang dilaksanakan oleh generasi-generasi dewasa kepada generasi yang belum dewasa dalam kehidupan sosial. Pendidikan bertujuan untuk membangkitkan dan mengembangkan sejumlah kondisi fisik, intelektual dan moral pada anak seperti yang dituntut masyarakat politik terhadap si anak dalam keseluruhan dan mileu sosial yang diperuntukkannya".

2.      Memilih satu atau beberapa criteria yang objektif

Dengan demikian dalam buku pertamanya (De la division du travail social atau pembagian kerja secara sosial) Durkheim mempelajari berbagai bentuk solidaritas sosial yang berbeda-beda dari sudut hukum. Begitu pula ia berusaha mencari penyebab tindakan bunuh diri dengan mempergunakan angka kematian akibat bunuh diri. Namun masih harus lebih banyak diperhatikan tentang criteria-kriteria dalam mengajukan analisis tersebut.

3.      Menjelaskan kenormalan patologi

Ada beberapa situasi yang bersifat kebetulan dan sementara yang bisa mengacaukan keteraturan peristiwa. Jadi kita harus bisa membedakan situasi-situasi normal yang menjadi dasar kesimpulan-kesimpulan teoritis. Dapat kita bandingkan pemikiran dengan metode idealtipikal dari Max Weber. Yang riil selalu terlihat orisinil dalam kompleksitasnya, namun bisa pula kita mencari struktur dari cirri khas yang menonjol ini.

4.      Menjelaskan masalah sosial secara "sosial"

Sebuah peristiwa sosial tidak hanya bisa dijelaskan lewat keinginan individual yang sadar, namun juga melalui peritiwa atau tindakan sosial sebelumnya. Setiap tindakan kolektif mempunyai satu signifikansi dalam sebuah sistem interaksi dan sejarah. Inilah yang disebut metode fungsionalisme.

5.      Mempergunakan metode komparatif secara sistematis.

Inilah semua hal yang telah kita singgung di atas. Hanya komparativisme terhadap ruang dan waktu yang memungkinkan hal ini berakhir dengan suatu demonstrasi sosiologis.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini