Rabu, 14 November 2012

Institusi sosial_Rizky Ananda_JNRL1B_laporan1

Judul Penelitian:
Antusiasme Anak Muda terhadap Pelestarian Budaya Lewat Tari Tradisional
Peneliti:
Nama : Rizky Ananda
NIM :  1112051100031
 
I.                   Latar Belakang
Dalam era globalisasi sekarang banyak informasi masuk tanpa bisa dicegah atau sangat sulit untuk disaring apalagi dengan beratambah dan berkembangnya teknologi sekarang ini memfasilitasi anak muda untuk mancari dan menggali informasi dengan bebas dan tanpa batas. Banyak kebudayaan luar yang masuk dan mempengaruhi anak muda sekarang, dari mulai gaya hidup, tekhnologi, sampai adat istiadat mereka. Hal ini menyebabkan adanya perbandingan kebudayaan diantara budaya tradisional dan budaya luar.
            Kurangnya pembibingan dan sosialisasi dari orang tua tentang budaya Indonesia kepada anak muda dapat menyebabkan kurangnya kesadaran terhadap pelestarian budaya Indonesia. Kebudayaan Indonesia saat ini mengalami krisis identitas, karena kurangnya kesadaran masyarakat untuk melestarikan budaya tradisional. Sehingga ada negara lain yang dengan bebas mengakui kebudayaan Indonesia menjadi miliknya. Kurangnya minat dan kesadaran kalangan anak muda dalam melestarikan budaya asli Indonesia menjadi penyebab utama krisis budaya di Indonesia. Selain itu, dukungan pemerintah terhadap pelestarian budaya saat ini terlihat kurang serius. Dari mulai tarian, alat musik, nyanyian, pakaian, serta adat istiadat asli Indonesia terlihat kurang popular.
            Melalui sanggar tari, kini banyak muda yang mulai tertarik dan melestarikan budaya Indonesia. Salah satunya melalui Asteryospaners yang merupakan sanggar tari yang secara khusus mempelajari dan melestarikan budaya papua. Diharapkan semakin banyaknya sanggar tari tradisional yang mampu mengangkat antusiasme anak muda terhadap pelestarian budaya tradisional Indonesia.
 
II.                Pertanyaan Pokok Penelitian
 
1.      Bagaimana antusiasme anak muda terhadap tari tradisional?
 
2.      Bagaimana pengaruh tari tradisional terhadap pelestarian budaya Indonesia?
 
III.             Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitaif. Metode kualitatif adalah metode  yang dilakukan dengan cara mengambil data secara langsung, dimana peneliti sebagai instrument. Metode ini dilakukan dengan dasar mencari data-data yang kuat lalu dilakukan wawancara terhadap narasumber.
 
Lokasi: kampus Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (cafe cangkir)
Waktu: 13 November 2012, pukul 14.00 WIB
 
 
IV.             Subyek/Obyek Penelitian
 
Titto Nugroho Pramono (7 Mei 1991) seorang pemuda yang bertempat tinggal di Jalan Permai Barat VI D1/4. Merupakan seorang mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidatullah jurusan Sistem Informasi fakultas Sains dan Tekhnologi semester7. Ia merupakan seorang anggota sekaligus pendiri dari asteryospaners yaitu group tari atau sanggar tari yospan. Disela-sela kesibukannya ia masih sering menyempatkan dirinya untuk berlatih, membimbing dan tampil dalam setiap pertunjukan yospan. Ia menempati posisi penari sekaligus pemain tifa. Dengan setia dan tekun ia melatih dan membimbing juniornya supaya mahir dan handal dalam penampilan yospan.
 
Asteryospaners adalah sanggar tari daerah khususnya tari papua yang bernama tari yospan, tari yospan meupakan tarian muda mudi papua yang menggambarkan tarian kebahagiaan dan rasa kebersamaan muda mudi. Asal mula berdirinya asteryospaners berawal dari program Dewan Kesenian Jakarta yaitu Apresiasi Seni Pertunjukan. Pada saat itu tahun 2007 Dewan Kesenian Jakarta memilih SMA Negeri 90 sebagai salah satu pesertanya. ASP (Apresiasi Seni Pertunjukan) ini merupakan program kebudayaan khususnya bidang tari tradisional, dan dengan penuh rasa syukur SMA Negeri 90 mendapat kesempatan mempelajari tari yospan asal papua. Namun tidak lama dari saat itu masih di tahun 2007 secara resmi ekskul yospan 90 berdiri sendiri menjadi sanngar tari daerah Asteryospaners.
 
V.                Analisis
Setelah melakukan penelitian,  dapat dilihat bahwa minimnya antusiasme anak muda terhadap tari daerah. Mereka lebih cenderung mengikuti arus globalisasi yang terlihat lebih simple dan tidak kolot. Anggapan anak muda saat ini bahwa adat tradidional masih kolot dan memiliki aturan yang berbelit menyebabkan mereka terlihat mengabaikan dan terkesan tidak peduli terhadap budaya tradisional Indonesia termasuk tari daerah. Apalagi budaya papua yang notabene menurut mereka aneh dan terbelakang sudah pasti mereka tidak tertarik untuk terjun langsung mengikuti kegiatan yang bersifat tradisional.
Melihat dari minimnya antusiasme dan minat anak muda sekarang terhadap pelestarian budaya menyebabkan keperihatinan yang mendalam dikalangan beberapa anak muda yang masih mencintai budaya Indonesia. Mereka tergerak untuk membuat suatu organisasi yang melestarikan budaya lewat tari tradisional khusus Papua yang bernama Asteryospaners, yang berisikan serangkaian kegiatan tradisional yang terdiri dari menari menyanyi dan memainkan alat musik tradisional asal papua.
Mereka tanpa malu dan tanpa gengsi tetap melestarikan budaya bangsa, dengan cara tampil dari satu tempat ke tempat lain. Disetiap langkah mereka  dalam rangka pelestarian budaya mereka sering mengalami berbagai hambatan salah atunya adalah minimnya anak muda penerus dan banyaknya cemooh dan ejekan dari berbagai pihak yang memadang remeh. Selain ejekan dan cemooh ada juga satu kendala besar dalam perkembangan tari tradisional dalam hal ini khususnya Asteryospaners adalah minim atau kurangnya media dalam penyaluran kegiatan Asteryospaners. Namun itru semua menjadikan Asteryospaners semakin solid dan komit dalam melakukan pelestarian budaya. Itu semua sesuai dengan visi Asteryospaners yaitu melestarikan budaya bangsa dan juga denaagn misi mereka yaitu mengajak kaum muda mudi Indonesia mencintai budaya bangsa lewat tari tradisional dalam hal ini tari yospan.
Salah satu hal yang membuat membuat Asteryospaners menarik adalah keuikannya. Salah satu daya tarik nya adalah adalah bahasa dalam setiapa nyanyiannya yang unik dan bermakna dalam, juga dari kostum yang sederhana namun tetap menarik juga adanya body painting dalam setiap penampilan anggota yospan ketika pentas. Dalam setiap penampilan tarian yospan para penari leakukan gerakan yang Dilakukan dengan gerakan yang enerjik dengan kostum dan lagu yang unik. Dalam setiap penampilannya yospan tidak hanya menampilkan tarian tapi juga nyanyian dan permainan alat musik secara langsung. Alat  musik yang selalu mengiringi penampilan yospan adalah tifa, gitar, ukulele, fu, dan bas betot. Alat musik khas papua adalah tifa, Fu, dan Bas betot. Tifa merupakan alat musik pukul semacam gendang asal papua, terbuat dari kayu dan kulit biawak. Terdapat banyak ukiran dan hiasan dalam tifa. Fu merupakan alat musik tiup yang terbuat dari kerang besar. Bas betot merupakan alat musik khas papua yang berbentuk seperti gitar namun hanya memiliki 2(dua) senar, dengan ukuran yang jauh lebih besar dari gitar kebanyakan.
Namun setelah mengambil sempel acak dalam penelitian ini, dapat diketahui bahwa bukan berarti anak muda yang tidak terlibat langsung dalam kegiatan pelestarian budaya--dalam hal ini khususnya tari tradisional—tidak prihatin terhadap kemunduran budaya tradisioanal Indonesia ini. Mereka memang tidak begitu mengerti tentang bagaimana tradisi itu berlangsung tapi setidaknya mereka masih memiliki rasa memiliki dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap pelestarian budaya Indonesia. Mereka tetap melakukan pelestarian budaya tradisional Indonesia hanya saja dengan cara yang berbeda.
Dengan dilakukannya penelitian ini diharapkan munculnya kesadaran rasa saying serta rasa memiliki dalam diri anak muda  terhadap budaya tradisional Indonesia khususnya dalam hal ini tari tradisional. Juga diharapkan adanya dukungan lebih dari pemerintah dalam mensosialisasikan budaya tradisional, sehingga diharapkan bertambahnya media dalam penyaluran kegiatan tari tradisional.
 
 
 
DAFTAR PUSTAKA :
Narasumber : Titto Nugruho Pramono
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini