Senin, 10 Maret 2014

ALFIAN BAYU PRASETIO_Tugas1 Dinamika Desa dalam Tinjauan


Dinamika Desa dalam Tinjauan Sejarah dan kebijakan Pembangunan   di Indonesia masyarakat yang masih bertaraf tradisional, perubahan sosial yang terjadi bias jadi menimbulkan problema yang berkepanjangan hingga masyarakat tersebut dapat mennyesuaikan dengan perubahan yang terjadi. Misalnya ketika diterapkannya revolusi hijau di pedesaan Jawa pada tahun 70-an, yang meliputi pemilihan bibit unggul untuk menggantikan bibit lokal, penggunaan pupuk dan pestisida, serta berbagai peralatan modern dalam bidang pertanian lainnya (traktor, hulerdansabit) banyak sekali kekacauan social dalam masyarakat. 

 Jika sebelumnya masyarakat desa dapat "dipersatukan" dengan system bawon (setiap petani boleh ikut serta dalam pemanenan dan mendapat upah sesuai dengan ikatan padi yang diperolehnya), namun kini mereka tidak bias lagi karena pemiliknya telahmenebaskan sawahnyapada orang lain. Demikian pula dengan penggilingan padi, jika dahulu dikerjakan beramai-ramai oleh ibu-ibu dengan cara menumbuk dalam lumping kayu yang panjang, kini telah digantikan oleh mesin-mesin cerdas yang cukup dikerjakan oleh satu orang priasaja. Perubahan dalam kelembagaan juga harus dilakukan untuk menyesuaikan dengan perubahan teknologi yang digunakan. Perubahan social semacam ini tentunya sangat problematic bagi warga desa karena secara kelembagaan mereka belum siap, dan perubahan yang terjadi acapkali dipaksakan dari luar.Begitu juga kita bias melihat contoh nyata dalam masyarakat Papua ketika masa orde baru, Ibu Tien Soeharto melalui yayasannya merubah kebiasaan masyarakat Papua yang menggunakan koteka dan rumbai-rumbai dengan pakaian kain tanpa mengajarkan filosofi berpakaian kain. Masyarakat Papua hanya diajarkan cara menggunakan pakaian kain tanpa mengajarkan berapa lama pakaian tersebut sehat untuk dipakai, bagaimana cara membersihkan dan bagaimana caranya untuk memperoleh yang barujika yang lama rusak. Ketidak mengertian masyarakat Papua akan pakaian kain menyebabkan pada masa berikutnya banyak di antara mereka yang mengalami sakit kulit parah. Perubahan-perubahan yang dipaksakan dari luar acap kali terjadi pada masyarakat yang memiliki tingkat lebih "rendah" dibandingkan masyarakat lainnya.Perubahan tersebut barang kali tidak dikehendaki namun harus terjadi. Masyarakat desa di Jawa barang kali tidak menghendaki penerapan teknologi maju di bidang pertanian, namun sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang membutuhkan ketersediaan beras dalam jumlah yang cukup, mau tidak mau, suka tidak suka perubahan itu harus dijalani.
Sekalipun mengalami dampak sosial yang problematik, masyarakat diharapkan pada suatu waktu akan dapat menemukan keseimbangan, yang dalam bahasa Parson disebut dengan homeostatic equilibrium, maksudnya jika satu bagian berubah maka bagian lain akan menyesuaikan sehingga tercipta keseimbangan baru. Teorifungsionalisme Parsons ini dianggap konservatif karena beranggapan masyarakat selalu berada pada situasi yang harmonis, stabil, seimbang, dan bersifat mapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini