Rabu, 25 Maret 2015

Life Story

NAMA            : HILYATI FIJRIYAH

NIM                : 1112052000035

JURUSAN      : BIMBINGAN DAN PENYULUHAN ISLAM/6

MATKUL       : METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF

 

LIVE HISTORY

Narasumber     : Ade Khairunnisa

Pekerjaan         : Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Fakultas           : Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Jurusan : Pendidikan Biologi

TTL                 : Serang, 11 Mei 1994

Asal                 : Jl. Kp. Karang Anyar Ds. Singamerta RT/RW 01/02 kec.Ciruas

            ADE KHAIRUNNISA sebagai narasumber yang saya wawancarai, tepat pada tanggal Sabtu, 21 Maret 2015 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Akrab disapa dengan panggilan Caca di kampus UIN Syarif Hidayatullah, bila di rumah dan di SMA dulu lebih dikenal dengan panggilan Ade. Saya lebih terbiasa panggil dengan Ade. Ade memulai pendidikan Sekolah Dasar Negri Periuk sambil mengikuti kegiatan pramuka di sekolahnya. Pada tahun 2006, ia lulus dari sekolah tersebut dengan nilai yang memuaskan. Setelah lulus Sekolah Dasar, ia langsung melanjutkan sekolah di pesantren karena tekad kuatnya dari sekolah dasar yang ingin ke pesantren dan didukung pula oleh orang tua, kakak-kakaknya pun sangat mendukung. Ia termasuk anak ke-tiga dari tiga bersaudara. Ayahnya bernama Sobari, Ibunya bernama Mia Sami'ah, kakak pertama bernama Kiki Nur Azkiya, kakak keduanya bernama Hani Andriani. Bisa dikatakan ia anak terakhir yang termasuk dalam karakter manja, tak mau mengalah. Ia melanjutkan sekolah di Pesantren Madrasatul Mu'allimin Al-Islamiyyah Assa'adah Pasir Manggu Pamarayan Cikeusal Serang Banten. Pesantren Modern Assa'adah adalah pesantren yang dinaungi oleh ustadz ustadzah baik alumni pesantren tersebut, alumni pesantren lain seperti Darussalam Gontor, guru dari luar pondok, yang mempelajari ilmu-ilmu agama, dan ilmu-ilmu sains, ada pelajaran sunnah yang mempelajari kitab-kitab kuning karena pada hakikatnya pesantren modern Assa'adah adalah berbasis pada kemodernannya saja. Seperti di sekolah umum biasanya, Pesantren modern Assa'adah terdapat kegiatan ekstrakulikuler yang bertujuan untuk mendalami keterampilan, kemampuan, bakat yang terpendam diantaranya adalah marching band, pasus, tata boga, jami'atul qura, tahfidz, kalighrafi, marawis, merpati putih, dan photografi. Ekstrakulikuler wajib di sana adalah pramuka dan muhadloroh. Jika ditinggalkan, maka akan mendapat sanksi. Macam-macam sanksi yang ada berupa hafalan surat-surat panjang, hafalan mata pelajaran agama maupun sains, dijemur, dibotak bagi laki-laki, pakai kerudung yang mencolok warnanya bagi perempuan, hingga drop out bagi kesalahan yang benar-benar fatal seperti menghukum santri berlebihan dengan kekerasan.

            Ia mengagumi sosok ustadzah yang luar biasa baik, penyayang, penasehat, santun bernama ustadzah Dina Rusdianti, karena beliau sangat tegas dalam berbiacara, bersikap, serta saat mengajar mata pelajaran Tafsir begitu jelas memberikan pemahaman kepada anak-anak didiknya disertai dengan kisah cerita saat menjelaskan. Ia sangat bahagia tinggal di pesantren karena lingkungan yang mendukung keyakinan beribadah pada Allah, menurutnya bahwa saat ia dekat dengan Allah hati sangat tentram, damai, tenang, bila jauh dari-Nya disitulah kesedihan, keresahan yang bertambah-tambah. Ia mengalami keberhasilan di pondok mendapatkan juara umum saat duduk di kelas 1 SMP dan predikat Mumtaz saat kelulusan, ia sangat bahagia dan menunjukan rasa bahagianya hanya dengan bersyukur kepada Allah YME.

            Pengalaman masa kesusahan, dialami saat ia dituduh memiliki pacar di pondok. Memang di pondok tidak boleh ada yang berpacaran, jika ada maka akan diberi hukuman walaupun hanya tulisan. Dijemurlah di bawah terik matahari di lapangan dekat GSG (Gedung Serba Guna) yang banyak dilalui santriwati, ustadzah dan para orang tua yang sedang menjenguk saat itu. Hanya bukti tulisan De-Ra yaitu nama panjang dari pacar Ade di luar pondok dan itupun bukan ia yang menulisnya. Ia sangat terpukul, tak terima hingga harus dijemur tetapi apalah daya jika tak menuruti kemauan kakak mudabbir OSPM (Organisasi Santri Pondok Modern). Akhirnya, ia menuruti apa kemauan kakak mudabbir disertai dengan hukuman menghafal surah Yasin, ia jalani dengan penuh keihklasan lahir bathin dan pada saat itulah setelah dua hari ia mampu menghafal surah tersebut.

            Ia memiliki angan-angan yang tinggi, di sekolah dasar dan SMP ingin sekali menjadi dokter, beralasan bahwa dokter itu mulia, pintar dan mampu menyembuhkan orang-orang sakit bisa sembuh kembali. Di SMA, ia bercita-cita ingin menjadi pramugari karena aura pramugari itu sangat ramah melayani orang-orang bepergian, pintar bahasa asing, dan selalu menampilkan yang terbaik walau kesannya seperti pelayan. Tanpa pramugari, semua orang-orang yang di pesawat tidak akan nyaman. Cita-cita di perkuliahan ini adalah ingin menjadi ilmuan (riset-riset), menurutnya tantangan baginya untuk menggali ilmu pengetahuan karena didapat secara langsung dari pengamatan dan hasilnya bisa menjadi berita, informasi untuk semua orang yang belum tahu.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini