Rabu, 25 Maret 2015

Life History Bagian 1

Nama               : Nida Ulyanah
NIM                  : 1112052000020
Jurusan          ; Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI) 6



Objek penelitian saya kali ini adalah pada seorang pengusaha kerupuk singkong yang bernama lengkap Fajar Rahmat, berusia 45 tahun yang bertempat tinggal dikawasan Cengkareng Jakarta barat.

Ia telah menjadi tokoh inspiratif bagi setiap penyandang difable di Indonesia. Tentang ketekunan serta kerja kerasnya dalam mencari penghidupan. Terlahir tanpa kaki, fajar tak pernah lepas dari kata bersyukur. Dia tau setiap menusia hanya menjalankan jalan- Nya. Ia terlahir dari keluarga miskin dan untuk menghidupi keluarganya, kedua orangnya berjualan warung kecil- kecilan. Ia terlahir sebagai anak keenam dari sepuluh bersaudara.

Dan, ketika anda mungkin bertanya tentang keadaan jasmaninya, dia langsung menjawab "Alhamdulillah, sejak lahir saya sudah begini."

Ketika akan melahirkan fajar, ibunya pernah bermimpi bahwa ia akan melahirkan seorang anak yang cacat. Dia kala itu juga mendapatkan pasan, anak cacat itu akan membawa berkah untuk keluarga. "Alhamdulillah, tak lama setelah saya lahir, kata almarhum ibu, ayah saya langsung mendapatkan pekerjaan tetap, sehingga bisa membiayai pendidikan seluruh anak- anaknya hingga SMA," kata fajar ditemui di rumah sederhananya, di bilangan Cengkarng Jakarta barat.

fajar memang lahir dalam keadaan fisik yang tak sempurna. Namun, fajar selalu tawakal, maka Tuhan pun selalu memberinya yang terbaik. Ia memang tidak memiliki dua kaki hingga pangkal paha. Tubunya seperti separuh, namun semangat hidupnya tinggi. Dengan sebuah kursi roda, fajar bisa bergerak lincah bahkan bisa mengendarai sepeda motor. Sepeda motor yang telah dimodifikasi sehingga hanya memerlukan tangan. Dia memanfaatkan kendaraan itu untuk bisnisnya kini.

Meski sejak kecil keadaannya sudah begitu, fajar kecil tak pernah merepotkan orang tuanya. Ia selalu mencoba melakukan sagala hal sendiri. Dia bahkan tak mau dipapah atau pun digendong.

"Saya tak mau dikasihani orang, saya ingin sukses bukan karena orang kasihan pada saya, tetapi karena kerja keras saya." katanya tegas.

Ketika memasuki tahun 1995, fajar akhirnya bertemu jodohnya, seorang wanita bernama Nahroh yang juga penyandang difable. Meski keduanya sama- sama tak sempurna, ketiga anaknya yang lahir sehat dan normal. Belakangan anak kedua mereka meninggal karena kecelakaan. Meski didera banyak cobaan, hidup fajar sudah menyerahkan dirinya kepada Sang Pencipta.

Setelah bekerja bertahun- tahun di yayasan Swa Prasidya Purna, merasa tak mendapat materi yang berarti, fajar memilih keluar dari tempat kerjanya. Bermodal ijasah diploma, ia diterima bekerja sebagai di sebuah perusahaan sebagai staf personalia. Tapi belum lama bekerja, krisis 98 menghantam membuatnya harus siap berhenti bekerja. Maka dimulailah periode fajar hidup sebagai pengangguran baru. Tapi ia tak mau lama- lama menganggur.

Dia mulai mengikuti berbagai kursus ketrampilan yang diadakan oleh Pemda DKI untuk penyandang cacat. Salah satu kursus yang menjadi perhatiannya yaitu kursus membuat kerupuk dari singkong. "Dari belasan orang peserta, hanya satu- satunya orang yang masih bertahan membuat krupuk sampai sekarang. Yang lain, tumbang," ujar fajar.

Modalnya cuma satu juta rupiah itupun diberikan oleh Pemda DKI. Bersama istrinya, fajar memulai bisnis pertamanya yaitu membuat kerupuk singkong. Kala itu produk kerupuknya dibuat secara seadanya dari segi pengemasan terangnya. Tapi bukan tentang kualitas produknya. Fajar paham betul tentang hal tersebut. Ia serius bahkan memproduksi 100 bungkus kerupuk yang berukuran 2 ons masing- masing. Kerupuk yang dibuat murni dari singkong seberat 10 kilogram.

"Namanya juga pertama, kerupuk dagangan saya baru habis setelah sebulan lebih," kenang fajar. Proses pembuatan kerupuk singkong bisa dibilang lebih rumit dibanding pembuatan keripik singkong. Jika keripik singkong cukup mengiris singkong tipis- tipis lalu digoreng, kerupuk singkong lebih lama. Pertama kali, fajar mengupas kulit lalu memarutnya hingga lembut. Perutan itu kemudian diubah menjadi adonan dengan campuran sedikit bumbu dan tepung barulah dibentuk.

Adonan itu oleh fajar dibentuk memanjang seperti singkong utuh, kemudian dijemur di panas matahari. Setelah adonan itu sedikit liat barulah diangkat kemudian diiris. Irisan tipis itu tidak lantas digoreng masih ada satu tahapan lagi. fajar harus menjemur kembali kerupuk itu selama dua hari di panasnyaa matahari. Setelah itu, kerupuk telah siap untuk digoreng hingga matang. Kenapa begitu lama? Ini untuk membuat kerupuknya bisa bertahan lama dan lebih gurih tentunya.

Dari hanya 10 kilogram singkong, fajar sekarang mampu merubah menjadi 50 hingga 100 kilogram singkong menjadi kerupuk. Ia kini memiliki merek dagang sendiri untuk produknya. "Saya beri nama merek Cap GR, GR adalah singkatan dai Gurih, dan renyah". katanya sambil tersenyum. "Kalo nanti ada biaya, merek ini saya mau patentkan," tambahnya.

Semua pekerjaan dan proses pembuatan ia kerjakan sendiri dibantu sang istri. Setiap hari, tanpa kenal lelah, ia sendiri pergi untuk menawarkan langsung kerupuknya ke warung- warung dan koperasi- koperasi di kantor pemerintah. "Saya menggunakan sistem konsinyasi atau titip jual, harga dari saya empat ribu, terserah mereka menjualnya berapa, tapi bisanya mereka jual lima ribu rupiah." kata fajar.

Usaha yang telah ditekuni sejak 2000 ini, memang belum terlihat memberikan materi berarti. Fajar masih saja hidup di gedung bekas tempatnya bekerja dicengkareng, Jakarta barat. Rumahnya pun masih terdiri dari tiga petak yang disekat papan triplek termasuk di dalamnya ruang pembuatan kerupuk "Cap GR". Beruntung ada seorang pengusaha lokal yang melihat kegigihan fajar. Ia pun menyumbang sebuah sepeda motor agar  fajar bisa bekerja lebih maksimal.

"Namanya juga tidak punya kaki, saya sempat bingung juga, bagaimana mengendarainya?" Tak kehilangan, ia memodifikasi ulang motor tersebut agar tuas perseneling dapat dioperasikan hanya dengan tangan. Dengan bantuan tukang las, jadilah motornya mempunyai tuas besi di bagian perseneling dan rem. Tambahan lain seperti gerobak di sisi kanan, fungsinya untuk mengangkut muatan serta keseimbangan. Motor itu kini benar- benar membantu mobilitas produksinya.

Hingga saat ini, fajar masih terus mengembangkan pemasaran produknya. Setip hari ia terus sibuk pergi dari satu koperasi ke koperasi lain. Dia juga menyasara warung- warung hingga seluruh pelosok ibu kota, tentu dibantu sepeda motor uniknya. Bahkan kini, permintaan akan kerupuk Cap GR terus mengalir dari handphon fajar.

"Saya ingin sekali mendapat tambahan modal, atau minimal ada orang yang mau menjadi mitra usaha untuk mengembangkan bisnis ini. Saya punya mimpi suatu saat kerupuk saya ini dimakan sama orang luar negri." ujarnya.

fajar mengaku masih kesulitan memasok produknya ke pasar modern seperti supermarket atau hipermarket. Usahanya harus jadi perseroan, bahkan harus menyediakan deposit uang; ini sulit baginya kini. Tak mau menyerah, ia memiliki prinsip bahwa Indonesia membutuhkan setidaknya 20% wirausahawan untuk seluruh penduduk Indonesia. Dia tak mau menyarah menjadi pengusaha. Maski bisnisnya hanya menghasilkan untung kisaran 1- 2 juta per- tahun, fajar masih bersemangat untuk mengembangkan usahanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini