Rabu, 02 Desember 2015

Tugas Soskot_Dwi Aryurini_PMI 3_Aliran Teori Weberian

Tindakan Sosial (Teori Max Weber) Jamaah Majelis Taklim An-Najah yang Telah Melaksanakan Ibadah Haji di Masjid An-Najah

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang

            Ada banyak motivasi dari orang-orang yang ingin menunaikan ibadah haji, tetapi tidak sedikit pula motivasi ibadah haji hanya ingin menunjukkan pada anggota masyarakat lain bahwa dirinya mampu beribadah haji dan mendapat gelar atau sebutan Haji atau Hajjah, agar berada di posisi atas dalam lapisan masyarakat serta dihormati oleh masyarakat. Apabila dibandingkan dengan jaman dahulu orang yang akan pergi haji terlebih dahulu dia memperbaiki tingkah perilakunya dengan masyarakat, tingkat ibadahnya dan semua yang berorientasi pada kemaslahatan sosial.

            Ibadah Haji sangat erat kaitannya dengan habluminallah dan habluminannas sebagai satu kesatuan dari kesadaran religius yang tinggi. Dengan artian, manusia melaksanakan ibadah haji benar-benar dapat menghayati perannya sebagai abdillah (dalam dimensi vertikal) dan sebagai khalifah (dalam dimensi horizontal). Oleh karena itu, sering kali ibadah haji sebagai kegiatan untuk merubah diri, dari yang sebelumnya pribadi yang belum baik, setelah melaksanakan ibadah haji menjadi seorang pribadi yang jauh lebih baik.

            Jamaah haji yang telah kembali ke tanah air diharapkan mengamalkan pesan moral yang diperoleh ketika berhaji dengan merefleksikannya dalam keseharian dan di lingkunagan sekitarnya. Seorang haji harus mampu menjadi role model bagi masyarakat (panutan di dalam masyarakat) untuk menciptakan kemajuan dalam masyarakat yang dirahmati Allah SWT. Demikianlah harapan yang diminta kepada para calon haji agar menjadi haji yang mabrur, sehingga Allah mengganjarnya dengan surga. Haji Mabrur, tiada balasannya kecuali Surga.

            Namun dalam realitasnya, tidak semua orang yang telah melaksanakan ibadah haji dapat mengamalkan pesan moral yang diperoleh pada saat berhaji dengan merefleksikannya dalam keseharian dan di lingkungan sekitarnya. Beberapa masyarakat yang telah melaksanakan ibadah haji, dalam jangka waktu 1 sampai 2 bulan masih terlihat baik dalam mengamalkan pesan moral yang didapat ketika berhaji. Namun seiring berjalannya waktu, beberapa orang yang telah berhaji ini tidak merefleksikan hikmah yang di peroleh  selama haji dalam keseharian dan di lingkungan sekitarnya. Berdasar realitas tersebut menarik untuk mengetahui lebih dalam mengenai bagaimana tindakan sosial ibu-ibu pengajian yang telah berhaji di Majelis Taklim An-Najah.

Pertanyaan Penelitian

Bagaimana tindakan sosial ibu-ibu pengajian yang telah melaksanakan ibadah haji di Majelis Taklim An-Najah baik yang tercermin melalui perilaku sosial dan perilaku keagamaannya?

Metode dan Prosedur Penelitian

Tipe Penelitian

            Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Tipe penelitian kualitatif menurut Bogdan dan Taylor, penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Moleong, 2007: 4). Jadi dalam penelitian ini akan menyajikan gambaran secara lengkap mengenai setting sosial dan hubungan-hubungan yang terdapat dalam penelitian. Metode kualitatif adalah metode yang mengutamakan bahan-bahan yang sukar diukur dengan angka-angka atau dengan ukuran-ukuran lain yang (matematis), meskipun bahan-bahan nyata terdapat dalam masyarakat.

Lokasi Penelitian

            Penelitian ini dilakukan di Masjid An-Najah di Jalan Perikanan, Pancoran Mas, Kota Depok. Waktu penelitian dimulai dari tanggal 26 November 2015 s/d 29 November 2015.

Teknik Pengumpulan Data

            Teknik pengambilan informan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode purposive, yaitu dengan cara memilih informan dengan pertimbangan tertentu berdasarkan tujuan penelitian. Alasan menggunakan metode purposive dikarenakan peneliti dalam memilih informan harus mengetahui dan beranggapan subyek yang akan diteliti dapat memberikan informasi yang diinginkan sesuai dengan permasalahan penelitian. Dalam melakukan analisis data menggunakan metode ini, pertama kali yang dilakukan adalah men-transkrip-kan data yang telah terkumpul. Pengumpulan data tersebut merupakan hasil dari observasi mendalam dan wawancara yang berdasarkan pada penyesuaian data yang diperlukan. Setelah dikumpulkan data menjadi satu, data yang diperoleh kemudian dianalisis dan disusun dalam laporan penelitian.

TINJAUAN TEORITIS

            Bagi Weber sosiologi mula-mula adalah ilmu pengetahuan tentang tindakan sosial. Ia menolak determinisme seperti yang dikhotbahkan oleh Marx dan Durkheim yang mengurung manusia dalam sebuah jaring paksaan sosial yang tidak disadari. Weber menganggap bahwa paksaan dan determinisme itu bersifat relatif. Yang ada bukanlah hukum yang absolut melainkan tendensi-tendensi yang selalu memungkinkan terjadinya suatu kebetulan dan pada keputusan individual. Ia yakin bahwa masyarakat adalah produk dari tindakan individu-individu yang berbuat dalam kerangka fungsi nilai, motif dan kalkulasi rasional. Jadi menjelaskan tentang sosial berarti harus menyadari cara manusia mengorientasikan tindakannya. Langkah ini disebut dengan sosiologi "komprehensif". "Yang kita maksudkan dengan sosiologi, ucap Weber, adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami dengan cara melakukan interpretasi atas aktivitas sosial."

            Pendekatan yang dominan tentang tindakan sosial dalam sosiologi Jerman meletakkan model marginalis tentang tindakan rasional di dalam sebuah konsep yang lebih umum tentang tindakan. Karya Weber dimulai dari pemaknaan individual dan subjektif tentang tindakan individu. Penekanannya pada kebutuhan untuk memperlihatkan bahwa struktur sosial dan perubahan sejarah harus dilihat sebagai pola-pola kompleks dari tindakan yang saling terjalin telah membuatnya digambarkan sebagai seorang 'individualis metodologis'. Entitas sosial seperti misalnya pasar, masjid, negara, dan kelas memiliki sebuah realitas hanya sebagai rangkaian dari tindakan individu; tugas dari analisis sosiologis adalah untuk menghasilkan penjelasan tentang fenomena sosial dalam sudut pandang tindakan yang menghasilkan fenomena tersebut.

            Menurut Weber, konsep fundamental dari sosiologi dibangun di seputar model-model tentang tindakan individu yang bermakna yang diistilahkan sebagai 'tipe-tipe ideal' (1904; lihat juga Simmel 1892). Dalam ensiklopedia sosiologi yang tak terselesaikan ketika dia sedang mengerjakannya pada saat kematiannya (1920a; lihat juga 1914), dia menyusun sebuah ikhtisar tentang konsep-konsep sosiologi yang berakar pada pandangan tentang tindakan sosial ini. Bentuk tindakan paling mudah yang dapat dipahami adalah bentuk tindakan rasional instrumental yang dianalisis dalam ilmu ekonomi marginalis, dan Weber memperluas penerapan dari model-model ini dari ekonomi modern dan tindakan yang secara ekonomi relevan hingga mencakup tindakan hukum dan politik. Bentuk paling penting dari tindakan yang diakui di samping tipe rasional adalah tipe 'tradisional' atau kebiasaan yang melandasi praktik adati dan banyak tindakan sehari-hari yang bersifat rutin.

            Sosiologi merupakan suatu ilmu yang hadir secara bersamaan untuk memahami makna subjektif manusia yang diatributkan pada tindakan-tindakannya dan sebab-sebab objektif serta konsekuensi dari tindakannya perlu diingat bahwa makna juga merupakan suatu komponen kausal dari suatu tindakan. Berikut empat tipe tindakan sosial yang ada dalam pembahasan Weberian:

1.      Zweckrationales Handeln (Tindakan Rasional)

Zweckrationales Handeln atau tindakan yang bertujuan rasional yaitu tindakan sosial yang menyandarkan diri pada pertimbangan-pertimbangan manusia yang rasional ketika menanggapi lingkungan eksternalnya (juga ketika menanggapi orang-orang lain di luar dirinya dalam rangka usahanya untuk memenuhi kebutuhan hidup).

2.      Wertrational Handeln (Tindakan Berorientasi Nilai)

Wertrational Handeln yaitu suatu tindakan sosial yang menyandarkan diri pada nilai-nilai absolut tertentu. Pertimbangan rasional mengenai kegunaan ekonomis tidak berlaku. Dalam tipe ini sang aktor memiliki suatu komitmen untuk menanggulangi tujuan akhir atau nilai-nilai, yang ia pergunakan tanpa mempertimbangkan ongkos yang harus dibayar karena hal tersebut merupakan suatu tujuan yang satu-satunya harus di capai.

3.      Affectual Action (Tindakan Afektif)

Affectual Action yaitu suatu tindakan sosial yang timbul karena dorongan atau motivasi yang sifatnya emosinal. Tipe afektual ini juga merupakan suatu sumbangan yang penting dalam memahami jenis dan kompleksitas manusia. Dalam memahami afektual ini, sebagaimana yang ada dalam rasional, maka empati intuisi simpatik itu diperlukan. Empati seperti ini tidaklah terlalu sulit, jika kita sendiri lebih tanggap terhadap reaksi-reaksi emosional, misalnya sifat kepedulian, marah, ambisi, iri, cemburu, antusias, cinta, kebanggaan, dendam, kesetiaan, kebaktian dan sejenisnya.

4.      Tradisional Action (Tindakan Tradisional)

Tradisional Action atau tindakan tradisional yaitu tindakan non-rasional, yaitu suatu tindakan sosial yang didorong dan berorientasi kepada tradisi masa lampau. Tradisi di dalam pengertian ini adalah suatu kebiasaan bertindak yang berkembang di masa lampau. (Zeitlin, Irving M, 1995: 253).

HASIL OBSERVASI LAPANGAN

            Dalam memahami sosio budaya maka diperlukan beberapa metode khusus dalam rangka memahami berbagai motif dan arti atau makna tindakan manusia. Weber menunjukkan bahwa keterlibatan dengan kausal (hukum sebab dan akibat) dan generalisasi merupakan suatu hal yang umum dalam semua ilmu, maka demikian pula hal ini harus dijadikan fokus utama dalam ilmu sosial. Tindakan sosial bagi Weber adalah suatu tindakan individu sepanjang tindakan itu mempunyai makna atau arti subjektif bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain (Weber dalam Ritzer 1975). Subjektif itu merujuk kepada makna dari aktor-aktor itu sendiri yang memberikan atribut pada tindakan mereka. Berikut empat tipe tindakan sosial yang ada dalam pembahasan Weber:

            Zweck Rational (tindakan rasional) yaitu tindakan sosial yang menyandarkan diri pada pertimbangan-pertimbangan manusia yang rasional ketika menanggapi lingkungan eksternalnya (juga ketika menanggapi orang-orang lain di luar dirinya dalam rangka usahanya untuk memenuhi kebutuhan hidup). Dalam hal ini, masyarakat yang memutuskan untuk melaksanakan ibadah haji karena memiliki alasan tersendiri. Dalam penelitian ini ibu-ibu Majelis Taklim An-Najah yang telah berhaji melaksanakan ibadah haji karena atas dasar keinginan diri sendiri.

            Dengan adanya hal ini, menunjukkan bahwa ibu-ibu pengajian tersebut telah mempertimbangkan kerugian dan keuntungan apa yang diperoleh setelah melaksanakan ibadah haji. Sebagai contoh, setelah melaksanakan ibadah haji secara tidak langsung masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya akan memberikan gelar tersendiri bagi orang yang telah berhaji. Gelar tersebut umumnya terlihat dari masyarakat yang memanggil orang yang telah berhaji tersebut dengan panggilan Abah, Umi, atau "Kaji" (Pa Haji dan Bu Haji). Hal tersebut terjadi pula pada lingkungan anggota jamaah Majelis Taklim An-Najah. Di mana ibu-ibu Majelis Taklim An-Najah akan mendapat panggilan bu haji (hajjah) setelah melaksanakan ibadah haji.

            Selain itu, tindakan rasional merupakan tindakan yang telah dipertimbangkan sebelumnya oleh individu. Dalam hal ini jamaah Majelis Taklim An-Najah yang telah berhaji telah mempertimbangkan hal-hal yang berkaitan dengan ketentuan haji. Sebagai contoh, haji diwajibkan bagi umat muslim yang "mampu". "Mampu" dalam konteks ini yaitu tidak hanya mampu dalam segi ekonomi, tetapi juga harus mampu baik dari segi fisik, ilmu pengetahuan dan mampu melaksanakan ibadah haji dari awal sampai akhir dengan baik.

            Hal ini juga dilakukan oleh jamaah Majelis Taklim An-Najah yang telah berhaji di mana mereka mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan haji, mulai dari "kemampuan" baik dari kemampuan ekonomi, fisik dan ilmu agama sebelum melaksanakan ibadah haji. Namun dari keempat informan tersebut, tidak semua informan mempersiapkan hal tersebut dengan baik. Hal ini terbukti dari jawaban informan yang mengatakan hanya mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan haji dengan sebisanya, tidak benar-benar menyiapkan secara maksimal apa yang seharusnya sudah menjadi salah satu syarat dari haji yaitu "kemampuan" yang wajib dipersiapkan seorang calon haji.

            Wert Rational (Tindakan Berorientasi Nilai) yaitu suatu tindakan sosial yang menyandarkan diri pada nilai-nilai absolut tertentu. Pertimbangan rasional mengenai kegunaan ekonomis tidak berlaku. Dalam hal ini, jamaah Majelis Taklim An-Najah yang memutuskan untuk melaksanakan ibadah haji karena ingin mencapai tujuan yang diinginkan. Tujuannya melaksanakan ibadah haji dengan sungguh-sungguh karena Allah SWT dan akan mendapat apa yang telah Allah SWT janjikan yaitu masuk surga, tanpa memikirkan mengeluarkan "ongkos" untuk mencapai tujuan tersebut serta tidak mengharapkan akan mendapat panggilan tertentu dari anggota masyarakat lain dan ingin dihormati oleh manusia lainnya dengan adanya gelar tersebut.

            Berdasarkan temuan data yang ada, jamaah Majelis Taklim An-Najah yang memutuskan untuk melaksanakan ibadah haji, karena ingin melaksanakan rukun islam yang kelima. Selain itu, ada beberapa jamaah Majelis Taklim An-Najah yang telah berhaji memaknai ibadah haji tidak hanya sebagai suatu ibadah yang syarat akan nilai agama, tetapi juga sebagai ibadah yang memiliki nilai sosial bagi yang melaksanakannya. Dari segi nilai sosial, jamaah di Majelis Taklim An-Najah yang telah melaksanakan ibadah haji akan mendapat gelar "Haji" dari anggota jamaah Majelis Taklim lainnya dan dianggap memiliki ilmu keagamaan lebih dibanding jamaah yang belum menunaikan ibadah haji sehingga menempati status tersendiri di dalam lingkungan keanggotaan jamaah Majelis Taklim An-Najah. Seperti dalam kegiatan pengajian ibu-ibu Majelis Taklim An-Najah yang telah berhaji sering mendapatkan kesempatan berceramah untuk saling berbagi ilmu keagamaan lebih kepada sesama anggotanya di Majelis Taklim An-Najah dan menyanyikan lagu-lagu sholawatan. Dan dalam mengadakan event maupun acara biasanya ibu-ibu Majelis Taklim yang sudah berhaji yang paling sering mempunyai hajat atau yang mengambil andil bagian sebagai ketua dalam pelaksanaan suatu kegiatannya, baik di bidang sosial maupun di bidang keagamaan.

            Dengan adanya hal tersebut jamaah Majelis Taklim An-Najah yang telah berhaji melaksanakan ibadah haji untuk beribadah namun juga karena alasan dan tujuan lain dalam melaksanakan ibadah haji tersebut, ibadah haji yang dilakukan harus memiliki tujuan yang murni dan berlandaskan agama kerohanian yaitu beribadah karena Allah SWT dan memahami betul apa makna yang sebenarnya dari seorang muslim dalam melaksanakan ibadah haji. Dilihat dari kemampuannya, ibu-ibu Majelis Taklim An-Najah yang telah menunaikan ibadah haji dalam kegiatan pengajiannya dalam membaca Al-Qur'an dan penguasaan teknik melagamkan lagu-lagu sholawatan sudah sangat baik dibandingkan yang lain karena terlihat sekali bahwa jamaah Majelis Taklim disini selalu mendalami dengan giat ilmu keagamaan dan kerohaniannya. Walaupun dilihat dari segi kemampuan mengajinya sudah sangat baik namun ibu-ibu Majelis Taklim An-Najah yang telah menunaikan ibadah haji selalu hadir tepat waktu, aktif di keanggotaannya dan tidak pernah absent sekalipun.

            Affectual Action (tindakan afektif) yaitu suatu tindakan sosial yang timbul karena dorongan atau motivasi yang sifatnya emosional. Dalam hal  ini, jamaah Majelis Taklim An-Najah yang memutuskan untuk melaksanakan ibadah haji karena ibadah haji merupakan salah satu ungkapan cinta masyarakat tersebut kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.  Berdasarkan temuan data yang ada, jamaah Majelis Taklim An-Najah yang telah berhaji mengatakan bahwa melaksanakan ibadah haji juga merupakan ungkapan rasa sayang kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. 

            Traditional Action (Tindakan Tradisional) yaitu suatu tindakan sosial yang didorong dan berorientasi kepada tradisi masa lampau. Dalam hal ini, jamaah Majelis Taklim yang memutuskan untuk melaksanakan ibadah haji karena di dalam keluarga anggota jamaah Majelis Taklim tersebut ada kebiasaan untuk melaksanakan ibadah haji. Dan kebiasaan tersebut sudah ada dari keturunan sebelumnya yang kemudian diteruskan pada keturunan berikutnya. Berdasarkan data yang ada menunjukkan bahwa didalam keluarga anggota jamaah Majelis Taklim yang telah berhaji terdapat ajaran dari orangtua agar dapat melaksanakan ibadah haji dengan berbagai upaya yang dapat dilakukan. Bahkan ada salah satu informan yaitu ibu Roro Sugemi yang mengatakan bahwa orang tuanya mewajibkan setiap anaknya agar dapat melaksanakan ibadah haji dan sudah dipersiapkan biaya masing-masing bagi anak-anaknya untuk beribadah haji.

            Selain karena kebiasaan yang ada di dalam keluarga, tradisi dalam hal ini juga dapat berupa kegiatan yang dilakukan individu karena kebiasaan masyarakat pada umumnya atau kebiasaan yang sejak dulu telah dilakukan sebagai contoh mengadakan tasyakuran sebelum dan sesudah beribadah haji. Hal ini sama seperti yang dilakukan oleh jamaah Majelis Taklim An- Najah yang telah berhaji.

            Ketiga informan di atas yaitu RS, DW dan M menjawab mengadakan tasyakuran sebelum dan sesudah berhaji. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mendoakan semoga lancar dalam beribadah dan sebagai ungkapan rasa syukur karena telah berhaji ataupun karena mengikuti kebiasaan tersebut yang dilakukan oleh orang-orang yang sudah melaksanakan ibadah haji. Dengan demikian, dapat kita ketahui bahwa tradisi atau kebiasaan yang ada di dalam keluarga maupun yang ada di dalam masyarakat sedikit banyak mempengaruhi tindakan yang dilakukan oleh jamaah Majelis Taklim An- Najah yang telah berhaji.

KESIMPULAN

Ibadah haji dipahami sebagai ibadah yang syarat akan nilai, baik yang bernilai agama dan sosial. Dari nilai agama, karena ingin melaksanakan rukun Islam yang ke lima yaitu menunaikan ibadah haji. Dari nilai sosial, dengan ibadah haji dapat memberi status tersendiri di dalam masyarakat dengan mendapat gelar "Haji" dari masyarakat sekitar. Adapun motif jamaah Majelis Taklim An-Najah untuk melaksanakan ibadah haji karena dipengaruhi adanya tradisi di dalam keluarga masing-masing anggota Majelis Taklim An-Najah, di mana di dalam keluarga terdapat ajaran dari orang tua kepada anak-anaknya agar dapat melaksanakan ibadah haji. Hal tersebut terbukti dengan jamaah Majelis Taklim An-Najah melakukan berbagai upaya agar dapat berhaji dengan cara menabung, bekerja keras ataupun menjual beberapa harta benda yang ada.

Selain itu, jamaah Majelis Taklim An-Najah yang telah berhaji melakukan tasyakuran sebelum dan setelah beribadah haji sebagai ungkapan rasa syukur karena telah menunaikan Rukun Islam yang kelima. Tasyukuran tersebut dilaksanakan karena dipengaruhi latar belakang sosial dan kebudayaan atau adat istiadat tradisional dari kampung halaman mereka masing-masing pada saat menunaikan ibadah haji. Perilaku keagamaan jamaah Majelis Taklim An-Najah yang telah berhaji menunjukkan bahwa jamaah Majelis Taklim An-Najah masih tetap berusaha mancari ilmu keagamaan di jalan Allah SWT dan melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim dengan cara melaksanakan ibadah dan amalan-amalan yang telah di perintahkan oleh Allah SWT.

DAFTAR PUSTAKA

George Ritzer & Douglas J. Goodman. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.

Scott, John. 2012. Teori Sosial: Masalah-Masalah Pokok dalam Sosisologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Riyanto, Geger. 2009. Peter L Berger: Perspektif Metateori. Jakarta: LP3ES Indonesia.

Poloma, Margaret. 2004. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Penerjemah. 2002. Max Weber. Yogyakarta: IRCiSoD.

Philippe Cabin & Jean Francois Dortier. 2009. Sosiologi: Sejarah dan Berbagai Pemikirannya. Bantul: Kreasi Wacana.

Nurhayati, Cucu. 2013. Sosiologi Perkotaan. Tangerang: UIN Jakarta Press

Internet :

www.google.com.Syariah.Uin-Malang.Ac.Id/.../Citra-Sosial-Haji-Di-KalanganMasyarakat. Diakses pada hari Jumat. tgl 27 November 2015. Pkl 15.00 WIB

http://www.journal.unair.ac.id/filerPDF/kmntsf5d25e1212full. Diakses pada hari Sabtu. Tgl 28 November 2015. Pkl 08.00

www.google.com.Lib.Uin-Malang.Ac.Id/Thesis/Fullchapter/04210036-AFahrurrozi.Ps. Diakses pada hari Minggu. Tgl 29 November 2015. Pkl 19.00

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini