Rabu, 02 Desember 2015

Tugas soskot_Hasyim asy'ari_Teori Max Wabber_PMI 3

Nama : Hasyim Asy'ari
NIM : 11140540000021
Prodi : Pngembangan Masyarakat Islam (PMI)

Pendahuluan
Teori Webber adalah Teori Verstehen dimana teori ini adalah metode pengumpulan data yang berhubungan dengan tindakan sosial individu. Teori ini sesuai dengan konsep tindakan sosial. Menurut Weber, hidup manusia dan segala tindak-tanduknya sesungguhnya ditandai suatu upaya pencarian makna, baik disadari maupun tidak. tindakan, didefinisikan oleh Weber, sebagai semua tingkah-laku manusia sepanjang yang (melakukannya berdasarkan) makna subjektif yang diletakkannya pada tindakan tersebut.
Tindakan sosial adalah tindakan individu sepanjang tindakan itu mempunyai makna arti subjektif dirinya dan diarahkan pada tindakan orang lain. Tindakan sosial itu dapat berupa tindakan yang nyata-nyata diarahkan kepada orang lain, juga dapat berupadengan yang merupakan tindakan perulangan sengaja sebagai akibat dari pengaruh situasi yang menurutnya menguntungkan.
Dalam kaitan ini, weber mengusulkan lima hal pokok yang mesti dikaji dalam melakukan studi tentang tindakan sosiale Tiap tindakan manusia yang menurut pelaku mempunyai makna yang subjektif dan bermanfaat. (2) Tindakan nyata bersifat membatin dengan maksud tertentu dari pelaku, (3) Tindakan yang berkaitan dengan pengaruh positif (menurut pelaku) dengan situasi dan kondisi tertentu. Tindakan tersebut diarahkan kepada orang lain dan bukan pada barang mati. (5) itu dilakukan dengan memerhatikan tindakan orang lain dan terarah kepada orang lain tersebut.
Istilah penelitian yang saya pakai adalah penelitian kualitatif. menurut Kirk dan Miller, mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan manusia dalam kawasannya sendiri yang berhubungan dengan orag-orang tersebut dalam bahasanya dan peralihannya.
Dan secara umum penelitin kualitatif yakni, prosedur penelitian yang bertujuan meneliti suatu masalah dengan cara merumuskan permasalahn lalu meneliti dengan cara mendalam yaitu pengamatan, pencatatan, wawancara dan terlibat dalam proses penelitian guna menemukan penjelasan berupa pola-pola, deskripsi dan menyusun indikator.
Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive atau snowball, teknik pengumpulan dengan trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif atau kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.
Metode Kualitatif digunakan apabila :
Bila masalah penelitian belum jelas
Untuk memahami makna dibalik data yang tampak.
Untuk memahami interaksi sosial.
Memahami perasaan orang.
Untuk mengembangkan teori.
Untuk memastikan kebenaran data.
Meneliti sejarah perkembangan.

Tinjauan teoristis
Karl Marx merupakan sosok filsuf dan teoretikus yang samgat terkemuka pada abat ke-19.sebagaian besar hasil pemikirannya begitu berpengaruh terhadap pemikiran ahli abad berikutnya. Idiologi peruangan politiknya yang disebut Marxisme, masuk dalam  gerakan buruh sejak akhir abad ke-19 dan pada abad ke-20 menjadi dasar dari kebanyakan gerakan pembebasan. Istilah Marxisme adalah sebutan bagi pembakuan ajaran resmi Karl Marx, terutama yang disebarkan oleh temannya yang bernama Mancis Karl Kautsky (1854.1958). Tidak diragukan lagi bahwa mahakarya hasil pemikiran Marı telah menjadi stimulus bagi perkembangan sosiologi ekonomi, filsafat, sikap kritis, politik, dan budaya. Kehadiran teori-teorinya tidak pernah dirasakan sebagai suatu pemikiran intelektual, tetapi sebagai usaha Maru untuk memperbaiki kondisi kehidupan umat manusia keluar dari penindasan dan kesewenang-wenangan.
Kehadiran teori Marx dilatar belakangi oleh konteks sosial yang represif di Prusia yakni sebuah negara yang menguasai sebagian besar Jerman Utara, dan merupakan salah satu dari puluhan Negara yang berdaulat di tanah Jerman pada waktu itu. Negara tersebut telah menghapus semua kebebasan yang diperuangkan oleh rakyat dalam perang melawan Napoleon Bonaparte.
Teori Marxisme adalah campuran asumsi dari berbagai perspektif utama dalam ilmu Hubungan Internasional seperti realisme dan liberalisme namun cukup berbeda dalam beberapa sisi dan bahkan mungkin bertolak belakang. Sebagai contoh, menurut penganut paham liberalisme ekonomi, mereka memandang perekonomian sebagai positive sum game atau keuntungan bagi semua. Namun menurut penganut paham Marxisme, perekonomian sebagai zero sum adalah tempat eksploitasi manusia dan perbedaan kelas dimana para kapitalis 'memanfaatkan' para pekerja demi meraih keuntungan maksimal bagi kaum mereka sendiri (Jackson & Sørensen, 1999). Begitu halnya dengan kaum merkantilis yang menganggap ekonomi sebagai alat politik, kaum Marxisme menempatkan ekonomi yang pertama dan politik yang kedua. Meskipun Karl Marx dan penganut Marxisme memandang perekonomian kapitalis yang dikuasai oleh kaum borjuis yang mengeksploitasi kaum proletar adalah sesuatu hal yang harus ditentang, namun Marx memandang pertumbuhan kapitalisme sebagai sebuah kemajuan (Jackson & Sørensen, 1999). Kemajuan ini menurut Marx, yang kemudian disebut sebagai pandangan materialisme, dalam artian: 1) kapitalisme menghancurkan sistem produksi sebelumnya, seperti feodalisme, yang bahkan lebih eksploitatif daripada kapitalisme dalam hubungannya antara kaum borjuis dan proletar; 2) kapitalisme membuka jalan bagi proses revolusi sosial yang akan menguntungkan kaum proletar (Jackson & Sørensen, 1999).
Teori Marx sebenarnya banyak dipengaruhi oleh tiga aliran pemikiran, yaitu: (1) filsafat klasik Jerman; (2) sosialisme Perancis; dan (3) ekonomi Inggris. Ketika pertama kali Marx berada di Berlin, ia begitu tertarik dengan filsafat sosialnya Hegel Ini kemudian terbukti dari pemikiran Marx yang mengarah kepada paham Hegelian yang meliputi: (1) pengetahuan absolut; (2) filsafat sejarah dan Negara sebagai gerak ke arah rasionalitas dan kebebasan yang semakin besar, dan (3) dialektikanya Marx sebagai hasil inspirasi pemikiran Hegel dalam berfilsafat (meskipun pada perkembangan selanjutnya ia juga dipengaruhi oleh pemikiran filsafatnya Feurbach).
Teori Neo-Marxisme muncul sebagai akibat banyaknya pemikiran Marxisme yang terkadang dihiraukan atau bahkan disalahartikan oleh sebagian besar generasi penganut Marxisme. Para pemikir neo-marxisme berusaha memperbaiki teori-teori yang berkembang dalam paham Marxisme dan menyusun teori mereka sendiri berdasarkan pemikiran Karl Marx (Hobden & Jones, 2001). Sebagian penganut teori ini tidak setuju dengan pendekatan atau teori sistem imternasional dan paham realisme dalam memahami studi Hubungan Internasional.
Neo-marxisme percaya bahwa kapitalisme yang dilakukan oleh negara penjajah ke negara jajahan dipandang sebagai suatu kemajuan. Namun pandangan Marxisme yang melihat imperialisme sebagai titik tertinggi atau tahap akhir kapitalisme, berbeda dengan neo-marxisme yang menganggap bahwa imperialisme adalah awal dari kapitalisme. Neo-Marxisme percaya bahwa kolonialisme membawa kemajuan dalam bidang layanan kesehatan yang lebih baik, pendidikan yang lebih baik, dan akses yang lebih besar untuk mendapatkan barang. Salah satu pemikir Neo-Marxisme, Justin Rosenberg, menggunakan ide Marx untuk mengkritisi teori hubungan internasional dari sudut pandang realis dan mengembangkan pendekatan atau pemikiran alternatif untuk memahami perubahan dalam sejarah politik dunia.
Hasil observasi lapangan
Kota sebagai perjuangan dan cerminan menurut waber adalah dimana individu berjuang dan menjadi cerminan lingkungan sosial masyarakat. Teori Webber adalah Teori Verstehen dimana teori ini adalah metode pengumpulan data yang berhubungan dengan tindakan sosial individu. Teori Webber yang terkenal sampai saat ini adalah Teori Verstehen dimana teori ini adalah metode pengumpulan data yang berhubungan dengan tindakan sosial individu. Bagi Webber, sosiologi adalah bertujuan untuk memberikan penjelasan tentang Tindakan Individu atau menghubungkan mengapa sampai orang bertindak demikian dan untuk apa dia bertindak seperti itu. Dalam penelitian ini saya mengambil sempel tentang perjuangan dan cerminan tentang kehidupan Marbot Masjid Nurul Falah di jalan karyawan raya, komplek pertamina, pondok ranji, ciputat timur, tangerang selatan.
Marbot Masjid yang saya wawanarai itu namanya Jalaluddin Muhammad Akbar dan nama paggilannya adalah Alang. pasti kita bingung kenapa dia dipanggil Alang sedangkan nama aslinya itu Jalaluddin Muhammad Akbar. Alang menjelaskan kenapa dia dipanggil alang ? karena dalam kata "Alang" dalam bahasa  ini adalah Anak Lanang (Anak laki-laki). Umur Alang (anak lanang) adalah 20 tahun. Anak Lanang (Anak laki-laki) menjadi marbot ini dikaenakan dia diajak oleh temannya untuk melakukan yang baik. Karena Anak Lanang (Anak laki-laki) juga memiliki bakat untuk memperjuangkan masjid dan menjadi cerminan Masjid Nurul Falah di jalan karyawan raya, komplek pertamina, pondok ranji, ciputat timur, tangerang selatan ini.
Menurut Alang (Anak lanang) Menjadi Marbot Masjid di zaman sekarang, terlebih di kota besar, bukanlah sebuah pilihan yang bergengsi. Apalagi kalau masjidnya dikelola oleh masyarakat, yang otomatis pemasukannya sangat bergantung pada kotak infaq mingguan. Dan bagaimana kalau masjidnya bukan masjid jami' (masjid yang biasa dipakai sholat Jum'at)? Maka Marbot seringkali antara ada dan tiada.
Alang tidak bergengsi karena di antara pekerjaannya adalah bersih-bersih: menyapu, mengepel, buang sampah, merapikan ini dan itu, sampai menjadi pesuruh untuk pengurus masjid yang secara struktural lebih tinggi dari padanya. Selain itu Alang juga sebagai penanggung jawab segala ritual ibadah di masjid seperti adzan lima waktu, menjadi imam cadangan, dan juga khatib cadangan. Belum lagi tugas tugas teknis lainnnya seperti bertanggungjawab atas kebersihan dan kerapian masjid. Tugas Marbot ini sungguh begitu berat karena harus stand by 24 jam mengurusi segala kegiatan di masjid.
Masjid merupakan basis pembinaan umat dan pusat seluruh aktifitas umat Islam. Pada saat itu, masjid merupakan satu-satunya pusat atau pranata sosial tunggal untuk membicarakan dan menyelesaikan berbagai masalah. Hal ini dapat diartikan bahwa segala macam kegiatan hendaknya berangkat dari masjid. Berangkat dari masjid kita akan membangun suatu komunitas masyarakat yang berdasarkan pada nilai-nilai taqwa kepada Allah SWT.
Masjid bagi umat Islam bukan hanya sebagai tempat beribadah kepada Allah, beri'tikaf, berdzikir dan memperbanyak amalan-amalan ibadah lainnya, melainkan sebagai sentral kegiatan seluruh umat Islam yang memiliki asal usul, nilai dan sejarah tersendiri. Masjid mempunyai nilai yang tinggi dan suci, sebagai pusat kebudayaan dan tempat menumbuhkan sebuah peradaban Islam yang tidak bisa disamakan dengan bangunan pencakar langit lainnya yang ada diatas bumi ini. Masjid adalah sarana untuk menyebarluaskan taqwa sehingga seluruh lapisan masyarakat akan memperoleh ketenangan, kesejukan, kebahagiaan, dan sejenisnya, bukan sebaliknya, masjid sebagai sarana amuk masa dan kebrutalan lainnya. Dengan demikian, kewajiban kita adalah mengembalikan peran masjid sebagaimana mestinya dan menjadikan semua aktivitas sebagai kesatuan dari upaya gerakan memakmurkan masjid.
Oleh karena itu, untuk menghidupkan kembali peran dan fungsi masjid seperti sedia kala, ada satu hal yang perlu diubah yaitu opini masyarakat luas yang mengatakan bahwa masjid hanyalah untuk tempat melaksanakan shalat fardhu.
Peranan masjid sangat penting dalam membentuk peradaban umat sekaligus pusat seluruh aktivitas. Mungkinkah kita mampu mengembalikan peranan dan fungsi masjid yang mulia itu sebagaimana awalnya ? apa-apa saja yang dapat kita upayakan untuk memakmurkan masjid kita, seiring perkembangan zaman dan era globalisasi serta banyaknya lembaga pranata sosial ?
Kita diperintahkan untuk memakmurkan masjid. Masjid yang makmur dapat juga diartikan sebagai masjid yang berhasil tumbuh menjadi sentral dinamika umat, sehingga masjid kita tidak hanya megah bangunannya, dan hanya ramai pada waktu shalat jum'at dan bulan ramadhan. Karena masjid selain sebagai tempat ibadah juga mempunyai fungsi sosial yakni sebagai sentral kegiatan seluruh umat Islam, antara lain :
Sebagai sarana peningkatan pendidikan umat Islam.
Pendidikan dan keimanan umat Islam dapat ditingkatkan melalui kegiatan belajar Al Qur'an, belajar bahasa arab, memahami kandungan Al Qur'an dan hadits, serta ilmu-ilmu lain yang sesuai dengan ajaran syari'at Islam. Dan kegiatn-kegiatan tersebut dapat diselenggarakan dalam bentuk kursus, TPA, MDA, pelatihan, kajian-kajian, majelis ta'lim dan lain-alin.
Sebagai sarana peningkatan peran sosial umat.
Keberadaan masjid dapat dijadikan sebagai lembaga pendorong umat Islam untuk berkompetisi dalam berbagai bidang kehidupan apalagi disaat perekonomian masyarakat terpuruk dan kurang menguntungkan. Dalam beberapa penelitian yang membuktikan bahwa salah satu daya tarik masjid adalah adanya kantin dan mini market ataupun toko buku dan lain-lain, seperti contohnya dapat dilihat beberapa masjid yang berada di kota seperti bandung, jakarta, pekanbaru dan kota-kota lainnya. Oleh karena itu, pengurus masjid semestinya mampu menangkap secara baik dan menjadikannya sebagai peluang pengembangan bisnis Islam.
Sebagai sarana peningkatan politik umat.
Melalui pelaksanaan shalat jamaah di masjid setiap hari akan memberikan kesadaran terhadap jamaah bahwa manusia sama dihadapan Tuhan. Dan ini akan membuat mereka semakin merasakan betapa perlunya kita menjalin kesatuan dan persatuan antar sesama karena Allah SWT semata.
Sebagai sarana peningkatan peran remaja masjid.
Para remaja dapat disalurkan dan diarahkan pada jalan yang benar dan bermanfaat melalui peningkatan fungsi peran remaja masjid. Dengan demikian mereka dapat terhindar dari dampak negatif globaklisasi seperti kenakalan remaja, pengedaran dan penggunaan obat-obat terlarang dan lain-lain.
Sebagai sarana meningkatkan syi'ar agama Islam.
Syi'ar Islam dapat ditingkatkan dengan cara "menjum'atkan masjid" setiap hari. Faktanya, jumlah masjid di negeri kita semakin banyak namun jumlah jamaahnya berkurang.
Seiring dengan tugas mulia yang dilakukan oleh Alang (anak lanang) ini sebagai marbot masjid, maka insyaallah dalam seiring dengan manfaat yang dilakukan setiap hari itu menjadi celengan untuk menjadikan amal yang selalu mengalir dengan lancar sampai kelak di akhir hayat nanti.
Penutup
Kesimpulan
Marbot Masjid yang saya wawanarai itu namanya Jalaluddin Muhammad Akbar dan nama paggilannya adalah Alang. pasti kita bingung kenapa dia dipanggil Alang sedangkan nama aslinya itu Jalaluddin Muhammad Akbar. Alang menjelaskan kenapa dia dipanggil alang ? karena dalam kata "Alang" dalam bahasa  ini adalah Anak Lanang (Anak laki-laki). Umur Alang (anak lanang) adalah 20 tahun. Anak Lanang (Anak laki-laki) menjadi marbot ini dikaenakan dia diajak oleh temannya untuk melakukan yang baik. Karena Anak Lanang (Anak laki-laki) juga memiliki bakat untuk memperjuangkan masjid dan menjadi cerminan Masjid Nurul Falah di jalan karyawan raya, komplek pertamina, pondok ranji, ciputat timur, tangerang selatan ini.
Menurut Alang (Anak lanang) Menjadi Marbot Masjid di zaman sekarang, terlebih di kota besar, bukanlah sebuah pilihan yang bergengsi. Apalagi kalau masjidnya dikelola oleh masyarakat, yang otomatis pemasukannya sangat bergantung pada kotak infaq mingguan. Dan bagaimana kalau masjidnya bukan masjid jami' (masjid yang biasa dipakai sholat Jum'at)? Maka Marbot seringkali antara ada dan tiada.
Alang tidak bergengsi karena di antara pekerjaannya adalah bersih-bersih: menyapu, mengepel, buang sampah, merapikan ini dan itu, sampai menjadi pesuruh untuk pengurus masjid yang secara struktural lebih tinggi dari padanya. Selain itu Alang juga sebagai penanggung jawab segala ritual ibadah di masjid seperti adzan lima waktu, menjadi imam cadangan, dan juga khatib cadangan. Belum lagi tugas tugas teknis lainnnya seperti bertanggungjawab atas kebersihan dan kerapian masjid. Tugas Marbot ini sungguh begitu berat karena harus stand by 24 jam mengurusi segala kegiatan di masjid.

Daftar pustaka
Nurdin M. Amin dan Abrori Ahmad, Mengerti sosiologi, Jakarta: UIN Jakarta Press.
Wirawan, Teori-teori sosial dalam tiga paridigma, Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Bungin M. Burhan, Penelitian Kualitatif, Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini