Rabu, 02 Desember 2015

tugas observasi, m.iqbal fauzan JNR 1B, Nida arafat KPI 1A

A.    PENDAHULUAN

Dari sebagian banyaknya teori sosiologi yang ada, yang menarik untuk dibahas yaitu tentang pemikiran Karl Marx yang melahirkan aliran Marxisme. Marxsisme yaitu sebuah pemahaman tentang tratifikasi social atau kelas-kelas social. Dalam teorinya Karl Marx terbagi menjadi dua golongan yaitu kaum Bouguisy dan kaum ploretan yang akan dibahas selanjutnya.

Oleh karena itu, untuk menguji kebenaran tentang teori Marxisme ini kami akan mengadakan observasi lapangan ke sebuah perusahaan saham yang bernama PT Lisan Finance Indo terletak di daerah karet di Jakarta Selatan. Objek yang menjadi narasumber kami adalah seorang karyawan Staf Telemarketing dan OB (Office Boy). Kami melakukan observasi menggunakan metode kualitatif. Dengan menanyakan narasumber tentang keadaan yang berlangsung selama berkerja di perusahaan tersebut.

Kemudian setelah mewawancarai narasumber dari perusahaan tersebut, kami menyimpulkan dari fakta yang didapat dengan teori Karl Marx. Setelah itu dapat disimpulkan dari kedua objek tersebut. Dari sini kami berharap agar hasil observasi ini dapat bermanfaat bagi semua khalayak. Terutama kepada para mahasiswa yang sedang mendalami di bidang sosiologi.

 

B.     TINJAUAN TEORITIK

Marxisme adalah sebuah paham yang berdasar pada pandangan-pandangan Karl Marx. Marx menyusun sebuah teori besar yang berkaitan dengan sistem ekonomi, sistem sosial, dan sistem politik. Pengikut teori ini disebut sebagai Marxis. Marxisme mencakup materialisme dialektis dan materialisme historis serta penerapannya pada kehidupan sosial.

Dalam bukunya The Communist Manifesto yang ditulisnya bersama Priedrich Engelse, Marx berpendangan bahwa sejarah masyarakat manusia merupakan sejarah perjuangan kelas. Menurut karl marx perkembangan bagian kerja dalam kapitalisme menumbuhkan dua kelas yang berbeda: kelas yang terdiri atas orang yang menguasai alat produksi yang dinamakannya kaum bourgeoisy yang ,mengekploitasi kelas yang terdiri atas orang yang tidak memiliki alat produksi yaitu kaum proletar.

Menurut Karl Marx pada suatu saat kaum proletan akan menyadari kepentingan bersama mereka sehingga bersatu dan memberontak, dan dalam konflik yang kemudian berlangsung-langsung yang oleh Karl Marx dinamakan perjuangan kelas-kelas kaum bourgeoisy akan dikalahkan. Karl Marx mengatakan bahwa kaum proletan kemudian akan mendirikan suatu masyarakat tanpa kelas. Mesklipun ramalan Karl Marx tidak pernah terwujud namun pemikiran Karl Marx mengenai stratifikasi social dan konflik tetap berpengaruh terhadap pemikiran sejumlah besar ahli sosiologi. Sebagaimana halnya dengan para tokoh sosiologi lainnya. Maka, sebagaimana yang telah kita lihat, pemikiran Karl Marx pun diarahkan pada perubahan social besar yang melanda eropa barat sebagai dampak perkembangan pembagian kerja, khusus dan terkait dengan kapitalisme.

Pandangan Karl Marx ini dikecam oleh banyak ilmuan social kritik utama ditujukan pada digunakannya hanya satu dimensi yaitu, dimensi ekonomi, untuk menetapkan stratifikasi social; banyak ilmuan yang berpendapat bahwa disamping dimensi ekonomi dijumpai pula dimensi lain untuk membeda-bedakan anggota masyarakat. Kritik lain ialah bahwa dalam kenyataan masyarakat industry mengenai lebih dari dua kelas. Selain itu, berbeda dengan ramalan Marx, perjuangan kelas tidak terjadi dimasyarakat industry maju di eropa barat dan amerika melainkan justru dimasyarakat sedang berkembang di afrika, asia, dan amerika latin dan tidak di pelopori oleh kaum buruh di perkotaan melainkan oleh kaum geriliya di pedesaan.

Banyak ilmuan yang mengkritik mengenai masyarakat tanpa kelas, karena hingga kini lebih dari seratus tahun semenjak Marx meninggal, masyarakat demikian belum pernah terwujud meskipun sejak awal kini telah muncul banyak Negara yang ideologinya didasarkan pada ajaran Marx

 

C.     HASIL OBSERVASI LAPANGAN

1.      Kasus

Observasi lapangan PT Lisan Finance Indo yang berlokasi di daerah Karet Jakarta Selatan. Adapun jam kerjannya dimulai setiap senin sampai jum'at dari jam 7.00 sampai jam 17.00 seperti waktu jam kantor seperti biasanya. Perusahaan ini sebagai penaruh saham bagi nasabah yang ingin menaruh saham.

Kami mewawancarai salah satu karyawan PT Lisan Finance Indo yang bernama Ricky sebagai staf telemarketing. Dalam pekerjaannya dia bertugas untuk mencari nasabah yang ingin menaruh saham di perusahaan tersebut. Namun, dia tidak diberikan gaji apabila tidak mendapatkan nasabah. Tetapi diberikan iming-iming dan janji oleh atasannya apabila dapat memenuhi target yang ditentukan oleh atasannya. Maupun berupa uang tunai atau pun lain-lain yang menggiurkan.

Ketika sudah mencapai target yang ditentukan dia tidak mendapatkannya yang sesuai dengan yang di janjikan atasannya dengan berbagai alasan. Sempat dia ingin keluar dari pekerjaannya, tetapi dengan mudah atasannya menahan dengan memberikan fasilitas-fasilitas berupa disediakan tempat tinggal dan transportasi dan lain-lain. Para karyawan pun tidak diberi tahukan tentang perhitungan gaji yang didapat jika mendapatkan nasabah. Yang hanya dia ketahui hanya perhitungan poin jika mendapat nasabah. Semakin banyak poin semakin besar pula gaji yang didapat. Tetapi poin ini masih belum jelas perhitungan dari setiap nasabah yang didapat.

Dari permasalahan tadi banyak dari karyawan perusahaan tersebut yang mengundurkan diri setelah merasa dirugikan. Dan juga akibat dari penekanan atasan dalam kinerja karyawannya, banyak karyawan yang menjadi malas-malasan dalam kinerja mereka. Contohnya OB yang mulai pulang sebelum waktu yang telah ditentukan. Padahal pekerjaannya masih belum beres.

2.      Hasil Analisis

Stratifikasi timbul karena dalam masyarakat berkembang pembagian kerja yang memungkinkan perbedaan kekayaan, kekuasaan, dan prestise. Kekayaan, keuasaan, dan prestise tersebut jumlahnya sangat terbatas sehingga sejumlah besar anggota masyarakat bersaing bahkan terlibat dalam konflik untuk memilikinya. Anggota masyarakat yang tidak memiliki kekuasaan, atau prestise berusaha memperolehnya, sedangkan anggota masyarakat yang tidak memilikinya berusaha untuk mempertahankannya dan bahkan memperluasnya. Pandangan seperti ini yang dikenal sebagai penjelasan konflik antara lain bersumber pada pemikiran Marx yang hanya menitik beratkan pada dimensi ekonomi dan weber yang membedakan antara dimensi kekuasaan, ekonomi, dan prestise.

Sebagaimana yang dikatakan Marx, kehacuran feodalisme serta lahir dan berkembangnya kapitalisme dan industry modern telah mengakibatkan terpecahnya masyarakat menjadi dua kelas yang saling bermusuhan yaitu bourguisy dan proletan. Martx meramalkan bahwa suatu saat buruh bersatu dan melalui suatu perjuangan kelas akan berhasil merebut alat produksi dari kaum bourguisy kemudian mendirikan suatu masyarakat tanpa kelas.

Dalam kasus yang telah di paparkan diatas dapat dikaitkan dengan teori Marx bahwa adanya perbedaan kelas antara atasan dan bawahannya. Sebagai pemilik alat atau pemilik perusahaan bertindak dengan semaunya. Seperti hanya menekankan kepada karyawannya untuk mendapatkan target nasabah penaruh saham. Namun gaji yang didapat tidak sebanding dengan yang diharapkan. Bahkan tidak mendapatkan gaji tetap.

Selain itu pemilik perusahaan yang berkuasa atas perusahaannya tidak memberitahukan perhitungan gaji yang didapat apabila sudah mendapatkan nasabah. Namun hanya diberikan system pion yang tidak dijelaskan rincian pendapatan dari poin yang didapatnya. Kemudian jika berkerja dengan baik dan melebihi dari target yang didapat, dijanjikan dengan iming-iming yang menggiurkan karyawannya agar dapat lebih berkerja lebih keras lagi. Namun tidak dari seorang pun dari karyawan perusahaan tersebut mendapatkan iming-iming yang dijanjikan oleh atasannya.

Dalam teori yang dijelaskan oleh Marx bahwa kaum buruh akan bersatu untuk menguasi apa yang dimiliki kaum bouguisy dan menghapuskan kelas sosial. Namun dari kasus yang telah dipaparkan bahwa kaum bouguisy (Pemilik Usaha/atasan) mencegah untuk  tidak ada pemberontakan dari kaum karyawan dengan memberikan fasilitas yang terbatas. Namun, para karyawan tidak tertarik dengan adanya pemberian fasilitas ini. Sehingga mereka lebih ingin menuntut untuk mendapatkan hak mereka untuk mendapatkan gaji yang setimpal. Bukan untuk menguasai atau memiliki perusahaan tersebut dan menghapuskan kelas-kelas social.

Menurut Karl Marx, hal paling mendasar yang harus dilakukan manusia agar dapat terus hidup adalah mendapatkan sarana untuk tetap bertahan hidup. Apapun yang bisa menghasilkan pangan, sandang, dan papan bagi mereka, serta untuk memenuhi kebutuhan dasar. Tidak ada yang bisa menghindar dari tugas memproduksi hal-hal itu. Namun, ketika cara-cara produksi berkembang dari tahap primitif, segera muncul kebutuhan agar tiap individu dapat melakukan spesialisasi, karena menemukan bahwa mereka akan lebih makmur dengan cara itu. Lalu, orang menjadi bergantung satu dengan yang lain. Produksi sarana hidup kini menjadi aktivitas sosial, bukan lagi aktivitas individu.

Oleh karenannya, dari beberapa karyawan ada yang sampai saat ini bertahan diperusahaan tersebut dengan landasan ekonomi mereka. Sehingga mau tidak mau dengan berat hati mereka yang bertahan harus menahan kesabaran dengan kondisi perusahaan yang seperti itu. Disamping itu kaum bourguisy memanfaatkan kondisi tersebut agar mencari keuntungan yang besar. Sebagai pemilik usaha mereka mampu untuk melakukan segala sesuatu agar dapat tercapainya tujuan perusahaan tersebut.

 

D.    KESIMPULAN

Dari hasil observasi kami, dapat ditarik kesimpulan bahwa teori yang dikemukakan oleh Karl Marx tentang Marxisme atau stratifikasi social khususnya dalam perekonomian bahwa pendapatnya tentang stratifikasi social ini sangat erat dalam kehidupan sehari-hari. Namun tidak semua kaum proletan bersatu untuk mendapatkan kekuasaan yang dimiliki kaum Bourguisy dan menghilangkan kelas social.

Namun, dalam observasi kami bahwa karyawan tidak bisa bersatu untuk mendirikan masyarakat tanpa kelas. Melainkan memikirkan kepentingan diri sendiri dan menuntut haknya sebagai pengelola perusahaan. Jadi masyarakat tanpa kelas dapat dihilangkan jika antara kaum baouguisy dan kaum proletan dapat berkerja sama satu sama lain.

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini