Selasa, 19 Mei 2015

MITOS YANG ADA DI PESANTREN oleh Sofwatillah Amin

MITOS YANG ADA DI  SALAH SATU PESANTREN  YANG TERLETAK DI DESA CIMANGENTEUNG, RANGKASBITUNG, LEBAK, BANTEN

A.    Sebuah pengantar tentang mitos yang dianalisa
Mitos adalah sebuah cerita atau dongeng yang terjadi di masa lampau yang kemudian menjadi sebuah kepercayaan yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari, mitos biasanya bersumber dari leluhur atau orang-orang terdahulu yang terus menerus diceritakan ke generasi-generasi setelah mereka secara turun-temurun. Mitos kerap kali sulit dipahami maknanya dan diterima kebenarannya, karena kisah di dalamnya tidak masuk akal. Mitos juga  sangat sulit untuk dihilangkan, pasalnya mitos sudah menjadi salah satu World view ( Pandangan hidup ) yang sangat melekat pada pola pikir orang-orang Indonesia. Pada kesempatan kali ini, saya akan menceritakan dan menganalisis rasionalitas pada sebuah mitos yang terjadi di salah satu Pesantren yang ada di daerah Rangkasbitung, Lebak, Banten, yaitu Pondok Pesantren Al-Mizan.

Al-Mizan adalah lembaga pendidikan yang menggunakan sistem Boarding School       ( asrama ) atau yang biasa disebut dengan Pesantren. Al-Mizan berdiri pada tahun 1993, pada tahun tersebut  Al-Mizan menerima 60 santri pertamanya. Jumlah ini sangat mengejutkan, karena pada saat itu Al-Mizan belum mempunyai bangunan yang memadai untuk tinggal para santri, akhirnya santri angkatan pertama ditempatkan disebuah bangunan yang berdinding balok/papan triplek dan tanpa langit-langit layaknya gudang tempat penyimpanan barang-barang yang tidak terpakai. Keadaan itu terus berjalan sampai tahun ke 3 ( tiga ) dan tidak memiliki masalah. Pada tahun 1997 Al-Mizan mengalami kemajuan yang amat pesat, berawal dari perpindahan lokasi pesantren dari pusat kota ( alun-alun Rangkasbitung ) ke desa salah satu desa pinggiran kota, yaitu Desa Cimangenteung, Narimbang, Rangkasbitung. Pindahnya lokasi pesantren disebabkan oleh membludaknya santri baru pada tahun 1997. Tak disangka dan tak diduga ternyata tahun 1997 adalah tahun dimana Al-Mizan dikenal oleh masyarakat luas yang bukan hanya lokal saja, tetapi luar kota bahkan provinsi. Dari 60 santri pada tahun 1993 menjadi 350 santri pada tahun 1997.
Pesantren Al-Mizan menjadi sangat berwarna seiring dengan banyaknya para santriwan/i yang datang dari luar kota, daerah bahkan provinsi untuk menimba ilmu di sana. Ternyata banyaknya santri Al-Mizan tidak berbanding lurus dengan sarana dan pra-sarana yang ada. Permasalahan tersebut bermula saat para santriwan pada tahun 1998 mengeluh terkait fasilitas MCK/Kamar mandi yang menurut para santriwan terlalu sedikit. Para santri selalu mengantri panjang hanya untuk sekedar mengambil wudhu dan MCK, hal ini jelas menghambat kegiatan para santriwan, bahkan tidak jarang kedaan tersebut memaksa para santriwan untuk tidak mandi dan mengganti mandi dengan hanya mencuci muka dan sikat gigi saja. Tentu hal ini membuat keadaan Pesantren Al-Mizan menjadi kumuh dan beraroma tak sedap. Akhirnya melalui beberapa pertimbangan para pengurus Peantren memutuskan untuk membangun kamar mandi baru demi kenyamanan para santriwan Al-Mizan.
Lokasi yang jauh dari kermaian kota membuat pembangunan di Pesantren Al-Mizan menjadi susah-susah gampang. Gampang karena letak pesantren jauh dari kota dan memudahkan untuk menambah luas lokal pesantren dan susah karena pesantren terletak didekat hutan, jadi mau tidak mau dan suka tidak suka untuk menambah lokal pesantren pihak pengurus pesantren harus membangun di atas tanah yang sebelumnya adalah hutan belantara yang tentu saja sebelum pembangunannya sudah dikondisikan sesuai kebutuhan.  Lain halnya dengan beberapa bangunan sebelumnya yang dengan mudah dibangun di sekitar wilayah tersebut karena keadaan tanahnya yang datar,  pembangunan kamar mandi kali ini justru mengalami sedikit kesulitan, pasalnya lokal yang tersedia justru turun ke bawah dan dekat dengan sungai Cimangenteung. Hal itu tentu saja menjadi bahan pertimbangan para pengurus pesantren pada masa itu. Dengan beberapa kali pertemuan/rapat para pengurus pesantren akhirnya diputuskan untuk mebangun kamar mandi di lokal tersebut. Proses pembangunannya tidak begitu lama, karena dibantu oleh para santriwan dari penyusunan batu-bata hingga pemasangan genteng.
Para santri saat itu sangat bersemangan dalam pembangunan kamar mandi baru tersebut. Tak kenal sore atau malam, mereka bergotong royong sama-sama membangun kamar mandi yang diimpikan. Bagi para santri keberadaan kamar mandi ini sangat membantu aktivitas para santri dalam menjalankan peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh pesantren, terutama dalam hal ketepatan waktu. Untuk sampai ke kamar mandi bawah dibutuhkan beberpa anak tangga yang menjadi jembatan penghubung antara kamar mandi bawah dan dapur umum, karena kondisi tanah yang tidak merata.

Gambar di atas adalah keadaan kamar mandi bawah saat ini, dulu di depannya belum ditumbuhi oleh pohon-pohon jati dan masih bersih.
Peletakan batu pertama bangunan tersebut disaksikan oleh seluruh santri Al-Mizan. Sejak awal didirikannya bangunan tersebut para santri sudah merasa tidak nyaman karena lokasi bangunan yang dekat dengan sungai dan berada di dataran rendah. 3 bulan berlalu akhirnya bangunan kamar mandi tersebut selesai dibangun. Para santriwan menyambut gembira bangunan tersebut.
Pada tahun 2005 saya datang dengan status sebagai santri baru. Kedatangan saya di pesantren ini menjadi momentum bagi saya untuk memperbaiki diri dan mulai mengenal illahi. Seperti biasanya sebagai anak baru yang masih awam dan tidak mengerti apa-apa tentang proses pembelajaran di Pesantren saya mencoba memahami semua peraturan dan beradaptasi secepat mungkin semampu saya. Peraturan-peraturn di pesantren ini sangat ketat, para santri dilarang merokok, membawa peralatan elektronik, berhubungan lawan jenis, keluar lingkungan pesantren tanpa izin dan peraturan ketat lainnya yang tidak bisa saya sebutkan semuanya. Selang beberapa hari sontak saya kaget ternyata di pesantrenpun masih ada cerita-cerita mitos yang berkembang di masyarakat pesantren. Mitos itu adalah tentang kepercayaan bahwa salah satu bangunan yang ada di pesantren tersebut dihuni oleh makhluk gaib, yaitu setan gepeng. Bangunan itu tidak lain dan tidak bukan adalah bangunan kamar mandi yang perihal keberadaanya sedikit banyak sudah saya ceritakan di atas. Gedung/bangunan kamar mandi ini disebut dengan kamar mandi bawah, karena letak bangunannya yang secara geografis terletak di dataran yang jauh lebih rendah dibandingkan bangunan lain yang ada di Pesantren.
Mitos yang santer terdengar adalah para santri dilarang untuk pergi ke kamar mandi bawah jika waktu menunjukkan lebih dari pukul 22.00 WIB. Konon katanya jika ada yang berani kesana akan melihat penghuninya, yaitu setan gepeng. Setan itulah yang dipercaya sebagai penunggu bangunan tersebut. Setan itupula yang dipercayai sebagai asal muasal dan sabab musabab penyakit kulit yang banyak menyerang santri saat itu. setan itu dipanggil setan gepeng karena konon katanya dulu ketika pembangunan dapur umum yang berada tepat di depan bangunan kamar mandi bawah ada seorang buruh bangunan yang meninggal karena tertindih dan tergencet oleh alat berat yang berfungsi untuk meratakan gundukan tanah bangunan yang tidak rata, oleh sebab itu setan tersebut disebut  dengan setan gepeng.
Konon katanya bagi yang pergi ke kamar mandi bawah melebihi jam 22.00 WIB dan merasakan atau bahkan melihat hal yang aneh, maka siapa saja yang mengalaminya akan mengalami sakit yang aneh berupa gatal-gatal yang tidak mudah disembuhkan, meskipun sudah dibawa ke tenaga medis. Selidik punya selidik ternyata mitos ini berawal pada tahun 2000 ketika ada seorang santriwan yang bernama ''Anjani'', dia anak yang baik, sopan dan pintar. Suatu hari Anjani dijengguk oleh sanak keluarganya. Seperti halnya wali santri lainnya yang menjenguk anaknya di pesantren dengan membawakan berbagai macam makanan kesukaan anaknya, baik untuk dinikmati bersama saat menjenguk atau untuk bekal Anjani selama di pesantren. Menjadi hari yang sangat membahagiakan bagi siapa saja yang dijenguk oleh keluarganya untuk sekedar melepas rindu bahagia karena sudah lama tidak berkumpul dengan keluarga.
Hal itu dialami oleh Anjani. Dia dengan senang menyambut kedatangan orang tuanya. Setelah puas melepas segala rindu dan tawa yang ada akirnya selang beberapa jam keluarga Anjani pergi meninggalkan pesantren dan Anjani kembali kekamarnya dengan membawa semua makanan/bekal dari keluarganya. Sekembalinya ke asrama anjani langsung bercengkrama dengan teman-teman terbaiknya, mereka adalah isa, nandi dan arif, kemudian mereka membuat janji untuk memakan makanan bekal Anjani nanti malam setelah bel belajar berbunyi, karena di pesantren ini setelah Isya para santri diwajibkan keluar dari asramanya masing-masing untuk belajar sampai bel tanda selesai belajar berbunyi. Hal seperti ini lumrah dilakukan para santri agar teman-teman satu asrama, satu kelas atau bahkan kakak kelas tidak ikut menghabiskan makanan bawaan dari orang tua atau yang biasa disebut dengan nasi timbel.
Belpun berbunyi tanda waktu belajar para santri sudah habis. Saat itu Anjani dan ke 3 ( tiga ) teman lainnya bergegas menuju tempat sepi yang berada di belakang asrama putra yang tidak lain adalah dapur umum yang lokasinya tepat berada di depan bangunan kamar mandi bawah. Mereka pergi ke lokasi tersebut dengan cara diam-diam karena takut dimarahi oleh para pengurus kamar terutama takut jika semua temannya tahu kalau dia ingin memakan nasi timbelnya secara sembunyi-sembunyi. Sesampainya di sana mereka semua menikmati nasi timbel bawaan keluarga Anjani, setelah mereka menghabiskan makanan tersebut mereka bergegas kembali ke asrama, kecuali Anjani. Dia mendadak sakit perut dan memaksanya untuk buang air besar di kamar mandi bawah. Konon katanya saat Anjani buang hajat di kamar mandi bawah ia melihat anak kecil berlarian mengitari kamar mandi bawah, oleh sebab itu tanpa pikir panjang ia lari terbrit-birit kembali ke asrama dan lupa mengenakan celananya.
Keesokan harinya dia jatuh sakit panas dingin tak terbendung. Pada awalnya yang ia rasakan hanya panas dingin saja, tapi lambat laun kulitnya mulai mengelupas dan kering lalu gatal-gatal. Berhari-hari ia rasakan sakit itu dan tak kunjung sembuh, akhirnya pihak keluarga mendatangi pesantren dan bermaksud untuk memohon izin untuk membawa Anjani pulang ke rumah dengn alasan berobat ke rumah sakit demi kesehatannya. 2 minggu berlalu dan tak ada kabar apapun dari pihak keluarga Anjani. Minggu ke tiga barulah keluarga Anjani memberi kabar bahwa pihak keluarga memutuskan untuk memindahkan sekolah Anjani ke Sekolah Menengah Pertama di sekitar rumahnya. Sontak hal itu langsung menjadi Tranding topic di pesantren. Semua masyarakat pesantren membahasnya, dari santri, guru, sampai petugas kebersihanpun membicarakannya. Berhentinya Anjani karena sakit justru menjadi momok menakutkan bagi para santri yang ingin ke kamar mandi bawah setelah bel berbunyi. Dari cerita singkat inilah mitos setan gepeng penghuni kamar mandi bawah semakin menjadi-jadi. Jadi dari kejadian yang dialami oleh Anjani pada tahun 2000 silam adalah titik awal tersebarnya mitos penghuni kamar mandi bawah setan gepeng.


B.     Nara sumber
Ahmad Nurlaeli : Pengurus Organisasi Santri Al-Mizan 2007
Rifki Gustio Utama: Bagian Keamanan Organisasi Santri Al-Mizan 2007
Saeful Hidayat : Santri Al-Mizan Tahun 2011
Apep Hariri : Santri Al-Mizan Tahun 2011
C.    Analisis  rasional terhadap mitos
Mitos di atas tentu sangat meresahkan masyarakat pesantren terutama para santriwan. Setelah saya mengamati mitos berdasarkan kejadian tersebut, ternyata mitos tersebut sangat erat kaitannya dengan peraturan pesantren yang sangat ketat. Pasalnya semenjak kamar mandi bawah selesai dibangun para santri jauh lebih memilih kamar mandi bawah sebagai rujukan utama saat melakukan MCK. Kamar mandi dan bangunan-bangunan tempat wudhu lainnya mendadak sepi karena ada bangunan baru kamar mandi bawah. Kian hari kian ramai kamar mandi bawah, lain halnya dengan bangunan kamar mandi dan tempat wudhu yang lama. Tidak hanya diwaktu pagi atau sore saja, tetapi saat hari mulai gelappun para santriwan jauh lebih memilih kamar mandi bawah untuk melakukan kegiatan MCK nya.
Sekilas memang kejadian tersebut bisa dibilang wajar, tetapi pada saat yang bersamaan pihak keamanan pesantren mengontrol keadaan santri di semua penjuru pesantren, ternyata hal yang menyebabkan kamar mandi bawah selalu ramaipun terkuak. Saat bagian keamanan yang dimotori oleh Ustadz/dewan guru pesantren mengontrol kamar mandi bawah mereka justru tercengang dengan apa yang mereka temukan. disana Para ustadz bukan menemukan setan gepeng, melainkan sekelompok santriwan kelas akhir yang sedang terawa terbahak-bahak sambil menikmati berbatang-batang rokok. Hal itu jelas membuat para asatdiz/dewan guru marah besar. Mereka semua dipanggil ke kantor dewan guru untuk ditanyai perihal kelakuan nakal mereka. Setelah beberapa jam terus menerus ditanyai tentang kelakuan mereka akhirnya mereka mengakui dan berjanji tidak mengulangi kesalahan mereka lagi. Merekapun menceritakan kejadian yang sebenarnya, bahwa ada beberapa diantra mereka yang kabur dari pesantren dengan melewati pagar yang ada di belakang kamar mandi bawah tersebut. Jadi mitos yang dibangun selama ini adalah demi keamanan dan kestabilan peraturan pesantren karena bertolak dari kejadian di atas pada saat itu. Setan gepeng adalah tokoh fiktif yang menjadi korban kesalahpahaman pola pikir para masyarakat pesantren. Dibangunnya mitos setan gepeng agar pada waktu malam hari tidak ada lagi yang berkerumunan di kamar mandi bawah dan melakukan hal-hal yang dapat merusak peraturan dan citra pesantren. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini