Rabu, 19 Desember 2012

laporan5_wita eka sucita_kpi1d

Nama          : Wita Eka Sucita
NIM  :1112051000126
Kelas :KPI 1D
Pondok Pesantren Darunnajah
a.       Latar belakang
Pondok pesantren Darunnajah berdiri pada periode cikal bakal tahun 1942- 1960 pada tahu berikut berdirilah sekolah madrasah al islamiyah di ddaerah Palmerah, dan berlanjut pada pembentukan yayasan kesejahteraan masyarakat islam dengan tujuan diatas  tanah tersebut didirikan pondok pesantren.
Pada periode rintisan Darunnajah mulai mengembangkan jenjang pendidikannya dengan mendirikan Madrasah Tsanawiyah dan Taman Kanak-Kanak islam seiring dengan perkembangan tersebut muncullah ide untuk memindahkan Darunnajah dari daerah palmerah petukangan ke tanah wakaf di daerah ulujami dan pada periode ini pembangunan-pembangunan lain mulai di kembangkan antara lain masjid dan penerapan kehidupan seperti sunah- sunah-Nya.
Penyesuaian aktifitas santri dengan waktu shalat, peningkatan mutu pendidikan, penentuan pendidikan lembaga al-qur'an, lembaga bahasa arab dan bahasa inggris, lembaga dakwah dan pengembangan masyarakat serta yang terakhir adalah diadakannya program beasiswa di Darunnajah.
Pada periode pengembangan Darunnajah kini mulai melebarkan misi dan cita-citanya dengan memperluas cabang kebeberapa daerah yang hingga kini mencapai 38 pesantren di beberapa daerah di Indonesia.
Perjalanan sejarah Pondok pesantren Darunnajah yang cukup lama ingin menuntut kesempurnaan menjadi suatu lembaga yang menjadi lebih baik yang di tandainya dengan tanda tangan tanah wakaf oleh K.H Abdul Manaf Mukhayyar maka dimulailah priode dewan nazir. Keorganisasian pondok pesantren Darunnajah kini diperkuat oleh struktur yayasan Darunnajh secara menyeluruh. Pesantren dari mulai tingkat regional, nasional, hingga internasional. Serta diperkuat dengan sistem manajemen yang solid. Serta pertemuan rutin yang terbagi atas pertemuan rutin 19 mingguan, laporan yayasan, dan rapat 6 bulan rapat dewan nazir.
b.      Pertanyaan pokok
·         Bagaimana sosok seorang K.H Abdul Manaf Muhayyar?
·         Sebesar apa rintangan yang beliau hadapi ketika membangun pondok pesantren tersebut?
·         Bagaimana sistem keorganisasian yang ada di pondok pesantern tersebut?
c.       Metode penelitian
Metode yang saya gunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif.  Metode ini sangat akurat dalam mengambil data-datanya karena dilakukan langsung kelapangan melalui tekhnik wawancara dengan narasumber.
Lokasi :  Kediaman Iskandan Zulkarnaen S.Ag
(Alumni Santri Pondok Pesantren Darunnajah)
Waktu  : Selasa, 18 Desember 2012
 
d.      Gambaran tokoh
K.H Abdul Manaf Muhayyar adalah seorang Kiayi besar yang mendirikan pondok pesantren Darunnajah beliau memiliki beberapa guru besar yang mengajarkannya sehingga menjadi seorang yang sukses hingga menjadi seperti ini. Diantara gurunya saat itu adalah Kiayi Zakaria dari Lampung dan Kiayi Siddiq dari Bendungan Hilir. Setelah lama menimba ilmu dan pengalaman, beliau akhirnya terinspirasi untuk merintis atau membangun sebuah madrasah. Pada mulanya beliau membangun madrasah di kawasan Palmerah yaitu diatas tanah seluas 500M2, namun setelah berjalan satu tahun lamanya madrasah ini di gusur pemerintah.
Hal itu tak menjadikannya putus asa dalam berjuang, melainkan semakin mengobarkan semangat dalam hatinya. Bahkan setelah penggusuran beliau menjual sebagian harta benda serta perhiasan istrinya untuk membeli lahan tanah seluas 7ha yang berlokasi di kawasan Ulujami – Tangerang (yang kini menjadi Darunnajah).
Bersamaan dengan itu, dipersiapkan kader yang dimulai dari anak-anaknya sendiri, dimulai dari Saifuddin Arif di kirim ke gontor. Perjuangan tidak berhenti sampai disini, seorang  pemuda alumni Pondok Modern Gontor asal Cirebon yaitu yang sekarang dikenal dengan KH. Mahrus Amin. Seterusnya beliau tinggal bersama Kyai Manaf untuk kemudian bersama-sama berjuang merintis pesantren Darunnajah. Pada awal mulanya Darunnajah hanya memiliki sebuah surau kecil dan dihuni oleh 3 orang santri. Tahun berikutnya bertambah menjadi 9 orang santri, makin lama santripun semakin banyak hingga akhirnya dibangunlah 3 unit gedung madrasah atas bantuan dari Gubernur DKI saat itu (Ali Sadikin).
Dalam merintis pesantren tidak sedikit rintangan dan cobaan yang harus dihadapinya. Termasuk diantaranya ialah menghadapi orang-orang yang tidak senang dengan kehadiran pesantren Darunnajah. Bahkan beliau bersama K.H.Mahrus Amin sempat pula diusir dari daerah Ulujami. Semua itu tidak membuat Kyai Manaf pesimis dengan cita-cita luhurnya untuk terus mengembangkan pesantren. Karena dia yakin betul bahwa jika kita berjuang di jalan Allah maka Allah pun akan selalu menolong kita.
Diantara langkah-langkah strategis yang dilakukannya dalam merintis pesantren yaitu berkonsultasi dengan tokoh-tokoh masyarakat, pemerintah setempat, dan memohon restu serta do'a dari para Kyai.
e.       Analisis
Menutut dari analisis data yang saya dapatkan dari narasumber tentang K.H  Abdul Manaf Muhayyar beliau itu memiliki sikap sebesar apapun rintangan yang kita hadapi akan terasa mudah untuk diselesaikan jika kita mempunyai tekad bulat dan mampu beristiqamah.
Wujud komitmen dan konsistensi mutlak dibutuhkan dalam perjuangan, hal inilah yang mengantarkan Abdul Manaf kecil menuju pintu kesuksesannya sebagaimana dulu yang beliau pernah cita-citakan yaitu untuk membangun pesantren.
Darunnajah merupakan monumen keberhasilannya dalam berjuang. Siapa pernah membayangkan Darunnajah yang dulunya hanya madrasah kecil bisa mencetak ribuan kader ummat Islam yang tersebar hampir diseluruh Nusantara. Bahkan kini sudah banyak berdiri pesantren-pesantren cabangnya sebagai upaya pengembangan Pendidikan ummat Islam.
Sampai sebelum akhir hayatnya beliau selalu menanamkan kepada para guru dan santri Darunnajah untuk selalu istiqamah dalam hidup terutamanya dalam shalat berjama'ah. Bahkan KH.Mahrus Amin (pimpinan pesantren) pernah berkata, bahwa kemajuan dan perkembangan Darunnajah berawal dari shalat berjama'ahnya.
Daftar pustaka
Narasumber : Iskandar Zulkarnaen S.Ag
(Alumni Pondok Pesantren Darunnajah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini