Senin, 09 September 2013

Musfiah Saidah KPI 1A_Tugas1 Sosiologi_Definisi Sosiologi

Definisi Sosiologi Menurut Beberapa Ahli
(oleh : Musfiah Saidah, KPI 1A)
Pada umumnya, sosiologi berkonsentrasi bukan pada pemecahan masalah, tetapi kemunculan ilmu sosial ini dimaksudkan untuk membuat manusia sebagai makhluk rasional ikut aktif ambil bagian dalam gerakan sejarah, suatu gerakan yang diyakini memperlihatkan arah dan logika yang belum di ungkapkan oleh manusia sebelumnya. Dengan kata lain, sosiologi diharapkan akan menemukan kecenderungan historis dari penelaahan masyarakat modern dan memodifikasinya. Para pendiri disiplin ilmu ini setuju dengan pandangan diatas, walaupun mereka berbeda dalam menafsirkan definisi sosiologi. Berikut ini adalah definisi sosiologi menurut beberapa  ahli.

 
1.      August Comte ( 1798-1857)
Pada abad ke-19 August comte menulis beberapa buku yang berisikan pendekatan pendekatan umum untuk mempelajari masyarakat. Dia berpendapat bahwa ilmu pengetahuan mempunyai urutan tertentu berdasarkan logika, dan setiap penelitian dilakukan melalui tahap-tahap tertentu untuk kemudian mencapai tahap akhir yaitu tahap ilmiah.  Dia mempunyai anggapan saatnya telah tiba bahwa semua penelitian terhadap permasalahan kemasyarakatan dan gejala masyarakat memasuki tahap akhir yaitu tahap ilmiah.  Oleh sebab itu dia menyarankan agar semua penelitian terhadap masyarakat ditingkatkan menjadi ilmu tentang masyarakat yang berdiri sendiri. Nama yang diberikan tatkala itu ialah sosiologi yang membuat nya dikenal sebagai bapak sosiologi.
Sosiologi berasal dari kata latin socius yang berarti "kawan" dan kata yunani logos yang berarti "kata" atau "berbicara". Jadi sosiologi adalah suatu disiplin ilmu yang bersifat positif yaitu mempelajari gejala-gejala dalam  masyarakat yang didasarkan pada pemikiran yang bersifat ilmiah.
August Comte mempunyai anggapan bahwa sosiologi terdiri dari dua bagian pokok yaitu social statistic dan social dynamic. Sebagai social statistic sosiologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik anatara lembaga-lembaga kemasyarakatan. Sedangkan social dynamic meneropong bagaimana lembaga-lemabaga tersebut berkembang dan mengalami perkemabangan sepanjang masa.
2.      Emile Durkheim ( 1858- 1917 )
Sosiologi adalah ilmu mengenal masyarakat dengan meneliti lembaga lembaga dalam masyarakat dan proses proses sosial dengan menakankan penelitian perbandingan. Ia mengajukan sebuah model masyarakat yang di integrasikan, pertama melalui solidaritas mekanik dari segmen yang sama, kemudian melalui solidaritas organik dari kelas dan golongan yang berbeda beda, namun saling ketergantungan satu sama lain.
Emile Durkheim membagi sosiologi atas tujuh seleksi, yaitu :
a.      Sosiologi umum yang mencakup kepribadian individu dan kelompok manusia
b.      Sosiologi agama
c.       Sosiologi hukum dan moral yang mencakup organisasi politik, organisasi sosial, perkawinan dan keluarga
d.      Sosiologi tentang kejahatan
e.      Sosiologi ekonomi yang mencakup ukuran-ukuran penelitian dan kelompok kerja
f.        Demografi yang mencakup masyarakat perkotaan dan pedesaan
g.      Sosiologi estetika
3.       Max Waber ( 1864 – 1920 ) 
Sosiolgi adalah ilmu yang berusaha memberikan pengertian tetang aksi aksi sosial atau perilaku-perilaku manusia dengan menjelaskan sebab dan akibat aksi sosial itu terjadi. Max Weber menghadirkan moderenitas terutama dari sudut pandang rasionalisasi semua bidang kehidupan sosial, pikiran, dan kebudayaan. Dan semakin banyaknya tindakan yang dilakukan berdasarkan kalkulasi rencana serta mengabaikan tindakan irasional, maupun berdasarkan adat istiadat.
Dari uraian diatas, secara garis besar definisi sosiologi menurut waber ialah :
  •   sosiologi adalah sebuah ilmu.
  •   sosiologi memperhatikan bagaimana sesuatu dapat terjadi.
  • sosiologi memanfaatkan penafsiran pengertian dengan menggunakan rasio.
4.      Karl Marx ( 1818 – 1883 )
Menurut Marx yang menjadi dorongan perkembangan masyarakat adalah  jalan sejarah yaitu kekuatan  materia yang ada di dalam masyarakat . Marx terlampau menekankan faktor ekonomi sebagai satu-satunya faktor yang paling penting menggerakkan sejarah. Bahkan Marx memperkirakan, pada akhirnya muncul kontrol progresif terhadap alam di dalam emansipasi penuh dari masyarakat untuk menghindari kesengsaraan dan perselisihan (konflik) yang akan mengakhiri aliensi produk dari produsennya, serta mengakhiri transformasi produk-produk tersebut menjadi modal yang dipakai untuk memperbudak dan mengambil alih produsen, dan pada akhirnya akan terselesaikan semua bentuk eksploitasi. Selain itu, kehidupan individu dan masyarakat kita didasarkan pada asas ekonomi. Antara lain berarti bahwa institusi-instritusi politik, pendidikan, agama, ilmu pengetahuan, seni, keluarga, dan sebagainya, bergantung pada tersedianya sumber-sumber ekonomi.
Dari uraian tersebut dapat dikatakan jika teori sosiologi Karl Marx berorientasi pada materi. Karl marx tidak mengakui adanya kebebasan individu dan menganggap konflik antarkelas sosial menjadi intisari perubahan dan perkembangan masyarakat.
Referensi
1.      George Ritzer. Sociological Theory.
2.      Soejono Soekanto. Sosiologi suatu pengantar.
3.      Prof.Dr.H.S. Hamid Hasa, MA. Pengantar ilmu sosial.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini