Senin, 08 Oktober 2012

Lukman Hakim_Jurnalistik 1A

TEORI MAX WEBER

 

Max Weber lahir di Efrut, jerman, 21 April 1864, berasal dari keluarga kelas menengah. Perbedaan penting antara kedua orang tuanya berpengaruh besar kepada orientasi intelektual dan psikologi Weber. Ayahnya seorang birokrat yang kedudukan politiknya relatif penting, berbeda dengan ibu Weber yang seorang Calvinis yang taat, wanita yang menjalani kehidupan prihatin (ascetic) tanpa kesenangan seperti  yang sangat menjadi dambaan suaminya.

 

Tindakan Sosial

Bagi Weber, sosiologi mula-mula adalah ilmu pengetahuan tentang tindakan sosial. Ia menolak determinisme seperti yang dikhotbahkan oleh Marx dan Durkheim yang mengurung manusia dalam sebuah jaring paksaan sosial yang tidak disadari, Weber menganggap bahwa paksaan dan determinisme itu bersifat relatif. Yang ada bukanlah hukum yang absolut, melainkan tendensi-tendensi yang selalu memungkinkan terjadinya suatu kebetulan dan pada keputusan individual. Ia yakin bahwa masyarakat adalah produk dari tindakan individu-individu yang berbuat dalam kerangka fungsi nilai, motif, dan kalkulasi rasional. Jadi menjelaskan tentang sosial berarti harus menyadari cara manusia mengorientasikan tindakannya. Langkah ini disebut dengan sosiologi"komprehensif". Weber berucap bahwa "Yang kita  maksudkan dengan sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami dengan cara melakukan interpretasi atas aktivitas sosial".

 

Teori Rasionalitas

Weber menyatakan bahwa tindakan social berkaitan dengan interaksi social, sesuatu tidak akan dikatakan tindakan social jika individu tersebut tidak mempunyai tujuan dalam melakukan tindakan tersebut. Weber menggunakan konsep Rasionalitas dalam klasifikasinya mengenai tipe-tipe tindakan social. Tindakan social menurut Weber pertimbangan sadar dan pilihan bahwa tindakan itu dinyatakan. Weber membagi Rasionalisme tindakan ke dalam 4 macam, yaitu:

 

1. Rasionalitas instrumental

    Tindakan ini dilakukan seseorang dengan memperhitungkan kesesuaian antara cara yang digunakan dengan tujuan yang akan dicapai. Misalnya karena sistem operasi komputer Wawan rusak Wawan lebih memilih membeli CD sistem operasi yang baru ketimbang membeli CD game yang Ia inginkan.

 

2. Rasionalitas yang berorientasi nilai

    Tindakan ini bersifat rasional dan memperhitungkan manfaatnya, tetapi tujuan yang hendak dicapai tidak terlalu dipentingkan oleh si pelaku. Pelaku hanya beranggapan bahwa yang paling penting tindakan itu termasuk kriteria baik dan benar menurut ukuran dan penilaian masyarakat di sekitarnya. Misalnya bermusyawarah untuk mendapatkan kesepakatan inti dari masalah yang sedang terjadi disuatu kampung.

 

3. Tindakan tradisional

    Tindakan ini merupakan tindakan yang tidak rasional. Seseorang melakukan tindakan hanya karena kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat tanpa menyadari alasannya atau membuat perencanaan terlebih dahulu mengenai tujuan dan cara yang digunakan. Misalnya upacara ngaben yang dilakukan masyarakat Bali yang menjadi tradisi.

 

4. Tindakan Afektif

    Tindakan ini sebagian besar dikuasai oleh perasaan atau emosi tanpa pertimbangan-pertimbangan akal budi. Seringkali tindakan ini dilakukan tanpa perencanaan matang tanpa kesadaran penuh. Jadi, dapat dikatakan sebagai reaksi spontan atas suatu peristiwa. Misalnya orang yang seorang ibu rumah tangga yang latah karena terkejut ketika jeblos diselokan.

Rasionalitas instrumental sangat menekankan tujuan tindakan dan alat yang dipergunakan dengan adanya pertimbangan dan pilihan yang sadar dalam melakukan tindakan social. Rasionalitas yang berorientasi nilai yang penting adalah bahwa alat-alat hanya merupakan pertimbangan dan perhitungan yang sadar, tujuan-tujuan sudah ada dalam hubungannya dengan nilai-nilai individu yang bersifat absolute atau nilai akhir baginya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini