Rabu, 18 September 2013

Bungawati_PMI 3_Tugas ke 2_ Stuktur Sosial dalam pandangan sosiologi.


SOSIOLOGI PERKOTAAN TUGAS KE-2
I.    Struktur Sosial Dalam Pandangan Sosiologi  Menurut : Emile Durkheim, Talcot Tparson, Niklas Luhmann, Anthony Giddens?
1. EMILE DURKHEIM
 Pertama kali Emile Durkheim memberikan mata kuliah ilmu social di universitas perancis. Durkheim berminat terhadap sosialisme di jadikan bukti bahwa ia menantang pemikiran yang menggapnya seorang konservatif, meski jenis pemikiran sosialismenya sangat berbeda dengan pemikiran Marx menamakan Merxisme sebagai "seperangkat hipotesis yang dapat dibantah dan ketinggalan zaman" (lukes, 1972:323). Menurut Durkheim sosialisme mencerminkan gerakan yang diarahkan pada pembaruan moral masyarakat melalui moralitas ilmiah dan ia tidak tertarik pada metode politik jangka pendek atau pada aspek ekonomi dari sosialisme.

Durkheim menekankan bahwa tugas sosiologi adalah mempelajari apa yang ia sebut sebagai fakta-fakta social. Dia membayangkan fakta social sebagai kekuatan (forces) dan struktur yang bersifat eksternal dan memaksa individu. Struktur yang berskala luas ini misalnya, hukum yang melembaga dan keyakinan moral bersama dan pengaruhnya terhadap individu menjadi sasaran studi banyak teoritisi sosiologi.
Menurut Durkheim sosialisme sangat berbedadari apa yang biasanya kita pikirkan sebagai sosialisme. Bagi Durkheim, sosialisme mencerminkan sebuah sistem dimana di dalamnya prinsip moral ditemukan melalui studi sosiologi ilmiah di tempat prinsip moral itu diterapkan.
2. TALCOTT PARSONS
Menurut Person, sepenting-pentingnya struktur lebih penting lagi sistem kultural bagi sistem social. Sebenarnya sistem kultural berada di puncak  sistem tindakan Parsons, dan pada tahun 1966 ia menyebut dirinya " determinis kultural ".
Sistem kultural. Persons membayangkan kultur sebagai kekuatan utama yang mengingat berbagai unsur dunia social. Menurut istilah sendiri, kultur adalah kekuataan utama  yang mengingat sistem tindakan. Kultur menengahi interaksi antara actor, menginteraksikan kepribadian dan menyatukan sistem social. Kultur mempunyai kapasitas khusus untuk menjadi komponen sistem yang lain. Namun sistem kultural tak semata-mata mennjadi bagian sistem yang lain; ia juga mempunyai eksistensi yang terpisah dalam bentuk pengetahuan, symbol-simbol dan gagasan-gagasan.
Persons mendefinisikan kultur meneurut hubungannya dengan sistem tindakan yang lain. Kultur dipandang sebagai sistem yang terpola, teratur, yang menjadi sasaran oriantasi actor, aspek-aspek sistem kepribadian yang sudah terinternalisasikan dan pola-pola yang sudah terlembagakan di dalam social (persons,1990). Karena sebagian besar bersifat subjektif dan simbolik, kultural dengan mudah di tularkan dari satu sistem kepribadian ke sistem yang lain. Walaupun persons ingin berbicara tentang aspek objektif kepribadian dalam karya-karya awalnya, ia makin lama makin meninggalkan perspektif itu.  Persons menyatakan bahwa proses diferensiasi menimbulkan sekumpulan masalah integrasi baru bagi bagi masyarakat. Ketika subsistem-subsistem berkembang biak, masyarakat berhadapan dengan masalah baru dalam mengoordinasi operasi unit-unit yang baru muncul.
Selanjutnya Persons menganalisis sederetan masyarakat khusus yang berada dalam evolusi dari tahan primitive menuju  masyarakat modern. Tipe-tipe structural dan menghubungkannya secara berurutan (persons, 1966:111). Ini adalah sebuah analisis perbandingan structural, bukan studi tentang proses perubahan social. Jadi, ketika ia seharusnya mengamati perubahan pun, ia tetap melakukan studi tentang struktur dan fungsi.
3. NIKLAS LUHMANN
  Nikhlas Luhmann mendefinisikan masyarakat sebagai semua yang mencangkup sistem sosial termasuk termasuk semua sistem kemasyarakatan lainnya (1997:78) Ia mengimplementasikan bahwa konsep masyarakat identik dengan konsep masyarakat dunia hanya akan ada satu konsep masyarakat.
Menurut Luhmann konsep autopoietic merujuk kepada diversitas sistem-sistem dari sel biologis sampai keseluruh masyarakat dunia.
Elemen dasar dari masyarakat adalah komunikasi, komunikasi dihasilkan oleh masyarakat. Dan apapun yang bukan komunikasi adalah bagian dari lingkungan. Ini mencangkup sistem biologis manusia dan bahkan sistem psikisnya. Yang dimaksud sistem psikis oleh Luhmann adalah kesadaran individu.
Sistem seperti sistem psikis dan sosial yang mengandalkan pada makna adalah tertutup, karena:
          (1) makna selalu mengacu kepada makna yang lain.
 (2) hanya makna yang dapat mengubah makna.
 (3) makna bisanya menghasilkan lebih banyak makna.
Elemen-elemen dari sistem makna psikis adalah representasi konseptual, elemen-elemen dari sistem makna sosial adalah komunikasi. Dalam sistem psikis makna dikaitkan dengan kesadaran sedangkan dalam sistem sosial makna dikatikan dengan komunikasi.
teori Luhmann, ide kemajuan menjadi tidak ada artinya. Ini membedakannya dari ide evalusioner univresal masyarakat moderen dari Parson (lihat hal 153-135). Mengasumsikan satu jalan pasti dari perkembangan kemasyarakatan adalah teologis dan mengakibatkan fakta bahwa ada variasi jalan untuk menghadapi masalah tertentu. Pada tingkat umum evolusi membuat kemustahilan menjadi lebih mungkin. Secara ketat dapat dikatakan bahwa evolusi bukanlah sebuah proses, tetapi seperangkat proses yang dapat dideskripsikan, sebagai pelaksanaan 3 fungsi: variasi, seleksi dan stabilitas karakteristik yang dapat direproduksi.
Menurut Luhmann ciri utama dari masyarakat moderen adalah meningkatnya proses diferensiasi sistem sebagai cara menghadapai kompleksitas lingkungannya (Resch, 2000). Diferensiasi adalah "replikasi, di dalam sistem, dan perbedaan antara sebuah sistem dan lingkungannya (1982:230).  Diferensiasi di dalam sistem adalah cara penanganan perubahan dalam lingkungan. Seperti yang sudah kita lihat, masing-masing harus menjaga batas-batasannya dan hubungannya dengan lingkungan. Jika tidak ia akan dikuasai oleh kompleksitas lingkungannya, ambruk dan berhenti eksis. Untuk bertahan hidup sistem harus mampu menghadapi variasi lingkungannya.
4. ANTHONY GIDDENS
Menurut Anthony  Giddens yakni mengenai konsep dualitas struktur. Dimana struktur bukan hanya menghambat melainkan juga memberdayakan sehingga actor individu ditentukan oleh sejumlah kekuatan sosial yang ada diluar diri mereka sebagai obyek individu.sedangkan struktur sosial tersebut memberdayakan subyek untuk bertindak. Bagi Giddens, identitas dikemukakan sebagai isu agensi (individu mengkonstruksi suatu proyeksi) dan sebagai determinasi sosial (proyeksi kita dikonstruksi secara sosial dan identitas sosial melekat pada kita).
Contohnya dengan menjadi seorang ibu dalam suatu masyarakat bisa berarti bahwa kita tidak dapat menjalankan kerja upahan, sehingga kita terhambat.
Namun struktur keibuan juga memungkinkan kita bertindak sebagai seorang ibu yang dekat dengan anak-anak, membentuk jaringan dengan ibu lain, dan sterusnya. Demikian pula halnya dengan bahasa, kita semua dikonstruksi dan dihambat oleh bahasa yang telah hadir mendahului kita, namun bahasa juga merupakan sarana dan media kesadaran diri dan kreativitas. Jadi kita hanya bisa mengatakan apa yang bisa dikatakan dalam bahasa, akan tetapi bahasa adalah media dimana kita dapat mengatakan apapun.
Cara hidup yang dimunculkan oleh modernitas telah membersihkan kita dari semua jenis tatanan social tradisional, dengan cara yang tidak pernah ada sebelumnya. Dalam hal ekstensionalitas maupun intensionalitasnya, tranformasi yang berlangsung didaam modernitas lebih menonjol ketimbang sebagian besar karakteristik perubahan periode sebelumnya.
secara konsisten telah dikemukakan oleh Giddens, yang merupakan tokoh kritikus Foucault yang paling lantang menghapus agen dari narasi sejarah. Giddens ini mengambil pandangan dari Garfinkel (1967) yang berpendapat bahwa tatanan sosial dibangun didalam dan melalui aktivitas sehari-hari dan memberikan penjelasan (dalam bahasa) tentang aktor atau anggota masyarakat yang ahli dan berpengalaman. Sumber daya yang diambil oleh sang aktor dan dibangun olehnya adalah karakter sosial, dan struktur sosial (atau pola aktivitas teratur) mendistribusikan sumber daya dan kompetensi secara tidak merata diantara para aktor. Teori strukturasi (Giddens, 1984) terpusat pada cara agen memproduksi dan mereproduksi struktur sosial melalui tindakan mereka sendiri. Aktivitas manusia yang teratur tidak diwujudkan oleh aktor individu semacam itu melainkan terus-menerus dicipta ulang oleh mereka melalui cara mereka mengekspresikan diri sebagai aktor. Jadi, didalam dan melalui aktivitas agen mereproduksi sejumlah kondisi yang memungkinkan aktivitas-aktivitas semacam itu.
II.  Struktur Masyarakat Perkotaan ?
 Karena adanya struktural dalam latar belakang kelahiran dengan mengasumsikan adanya kesamaan antara kehidupan organisme biologis dengan struktur sosial dan berpandangan tentang adanya keteraturan dan keseimbangan dalam masyarakat. Dimana struktur bukan hanya menghambat melainkan juga memberdayakan sehingga actor individu ditentukan oleh sejumlah kekuatan sosial yang ada diluar diri mereka sebagai obyek individu.sedangkan struktur sosial tersebut memberdayakan subyek untuk bertindak.
seperti sistem tindakan dan imperatif fungsional mengundang tuduhan bahwa ia menawarkan teori struktural yang tidak mampu menangani perubahan sosial. Hal ini dikarenakan, ia peka terhadap perubahan sosial, namun ia berpendapat bahwa meskipun studi perubahan diperlukan, tapi itu harus didahului dengan studi tentang struktur masyarakat perkotaan.
III. Masalah perkotaan dalam perspektif analisis struktural ?
struktural perspektif yang penting untuk semua sistem tindakan. Suatu fungsi adalah kumpulan kegiatan yang ditujukan pada pemenuhan kebutuhan tertentu atau kebutuhan sistem. Ada empat fungsi yang harus dimiliki oleh sebuah sistem agar mampu bertahan, yaitu :
a.       Adaptasi, sebuah sistem harus mampu menanggulangu situasi eksternal yang gawat. Sistem harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.
b.      Pencapaian, sebuah sistem harus mendefinisikan dan mencapai tujuan utamanya.
c.       Integrasi, sebuah sistem harus mengatur hubungan antar bagian yang menjadi komponennya. Sistem juga harus dapat mengelola hubungan antara ketiga fungsi penting lainnya.
d.      Pemeliharaan pola, sebuah sistem harus melengkapi, memelihara dan memperbaiki motivasi individual maupun pola-pola kultural yang menciptakan dan menopang motivasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini