Rabu, 18 September 2013

Indah Kurniawati_PMI 3_Tugas 2_STRUKTUR SOSIAL DALAM PANDANGAN PARA AHLI SOSIOLOGI

NAMA: INDAH KURNIAWATI
NIM: 1112054000028
SOSIOLOGI PERKOTAAN TUGAS KE-2
Struktur dan analisis masalah sosial dalam pandangan sosiologi
perkotaan menurut para ahli sosiologi diantaranya sebagai berikut:
I. Email Durkheim
Menurut Email Durkheim Solidaritas social merupakan istilah yang erat
hubungannya dengan integrasi sosial dan kelompak sosial. Singkatnya
solidaritas menunjuk pada suatu keadaan hubungan antar individu atau
kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang
dianut bersama yang diperkuat oleh pangalaman emosional bersama.

Durkheim melihat dasar integrasi sosial yang sedang mengalami
perubahan ke satu bentuk yang baru, dari solidaritas mekanik ke yang
organik. Bentuk solidaritas organik yang baru ini yang benar-benar
disadarkan pada saling ketergantungan antara "bagian-bagian" yang
terspesialisasi, dapat merupakan satu sumber yang lebih menyeluruh,
lebih mampu dan lebih dalam untuk integrasi sosial daripada bentuk
integrasi mekanik yang lama yang didasarkan terutama pada kesamaan
dalam kepercayaan dan nilai.
Kesadaran kolektif yang mendasari solidaritas mekanik paling kuat
perkembangannya dalam masyrakat primitif yang sederhana. Pembagian
kerja dalam masyarakat seperti ini masih rendah, tergantung pada usia
dan jenis kelamin. Lama kelamaan pembagian kerja pada msyarakt
primitif ini mulai berkembang dan terspesialisasi. Analisis Durkheim
mengenai meningkatnya pembagian kerja dan kompleksitas juga dapat
dilihat sebagai model linier.
Berbeda dengan masyarakat barat mereka berkecenderungan terdapat
semakin bertambahnya spesialisasi dan kompleksitas dalam pembagian
kerja. Kecenderungan ini memeiliki dampak penting. Yang pertama adala,
dia merombak kesadaran kolektif yang memungkinkan berkembangnya
individualitas. Ddampak kedua , dia meni ngkatkan solidaritas organik
yang diddasrkan pada saling ketergantungan fungsional.
Dikotomi antara bentuk struktur sosial pramodern dan yang modern tidak
hanya dikenal dalam analisa Durkheim. Mungkin sangat mirip dengan
distingsi Tonnies yang terkenal itu antara masyarakat gemeischaft dan
masyarakat gesellschaft.
Peralihan dari solidaritas mekanik ke yang orgnik tidak selalu
merupakan proses yang lancar dan penuh keseimbangan tanpa
ketegangan-ketegangan. Karena ikatan social primordial yang lama dalam
bidang agama, kekerabatan, dan komunitas dirusak oleh meningkatnya
pembagian kerja, mungkin ada ikatan-ikatan social lain yang tidak
berhasil menggantikannya.
1) Sumber-sumber Ketegangan dalam Masyarakat Organik yang Komplek.
Dalam masyarakat dengan pembagian kerja yang sangat berkembang serta
pola-pola saling ketergantungan yang kompleks, integrasi mungkin
dirusakkan oleh koordinasi yang tidak memadai lagi antara orang-orang
yang memiliki spesialisasi yang tinggi yang kegiatan-kegiatannya tidak
dapat dihubungkan menjadi satu.
Suatu ancaman yang lebih penting lagi terhadap solidaritas
organik,berkembang dari heterogenitas dan individualitas yang semakin
besar
yang berhubungan dengan pembagian kerja yang tinggi. Dengan
heterogenitas yang tinggi, ikatan bersama yang mempersatukan berbagai
anggota masyarakat menjadi kendor. Individu mulai mengindentifikasikan
dirinya dengan kelompok yang terbatas yang terdapat dalam masyarakat
seperti kelompok pekerjaan.
Dengan melihat adanya nilai yang tinggi dalam solidaritas kelompok
pekerjaan, melalui kelompok-kelompok itulah individu dapat dihubungkan
dengan keteraturan yang lebih besar. Namun, jika solidaritas yang kuat
digabungkan dengan melemahnya identifikasi dengan masyarakat yang
lebih luas,maka kemungkinan konflik itu ada karena kelompok-kelompok
itu mengejar keuntungannya sendiri dengan merugikan kesejahteraan
masyarakat secara keseluruhan.
2) Integrasi Sosial dan angka bunuh diri
Durkheim sangat terkenal dengan studinya tentang kecenderungan orang
untuk melakukan bunuh diri. Dalam bukunya yang kedua, 'Suicide'
dikemukakannya dengan jelas, hubungan antara pengaruh integrasi sosial
terhadap kecenderungan unutk melakukan bunuh diri. Dalam hal ini
Durkheim dengan tegas menolak anggapan-anggapan lama tentang penyebab
bunuh diri yang disebabkan oleh penyakit kejiiwaan sebagaimana teori
psikologi mengatakannya.
Dia juga menolak anggapan Gabriel Tarde, seorang sarjana Perancis yang
mengatakan bahawa bunuh diri adalah akibat imitasi. Dia juga menolak
teori ras tentang kecenderungan orang melakukan bunuh diri, dan ia
juga menolak teori yang menyatakan bahwa orang bunuh diri karena
kemiskinan. Selanjutnya Durkheim menambahkan bahwa jika diselidiki,
sebenarnya ada pola yang lebih teratur daripada sebab-sebab serta
penjelasan yang diberikan oleh teori terdahulu mengenai bunuh diri.
Berdasarkan data-data yang dikumpulkan dari banyak negara, dimana
ternyata terdapat di negara-negara tertentu yang memiliki angaka bunuh
diri yang tidak berbeda dari waktu ke waktu akan tetapi berbeda dari
satu negara dibandingkan dengan negara lain. Kalau demikian halnya,
bunuh diri haruslah bersumber dari keadaan masyarakat yang
bersangkutan.
Dengan demikian, menurut Durkheim peristiwa-peristiwa bunuh diri
sebenarnya merupakan kenyataan-kenyataan sosial tersendiri yang karena
itu dapat dijadikan sarana penelitian dengan menghubungkannya terhadap
struktur sosial dan derajat integrasi sosial dari suatu kehidupan
masyarakat. Untuk membuktikan teori ini, Durkheim memusatkan
perhatiannya
kepada 3 macam kesatuan sosial yang pokok di dalam masyarakat, yaitu
kesatuan agama, keluarga, dan kesatuan politik.
a. Bunuh Diri di Dalam Kesatuan Agama
Durkheim menunjukkan data yang membuktikan bahwa angka laju bunuh diri
adalah berbeda diantara penganut agama Protestan dengan penganut agama
Katolik dan penganut agama Katolik ortodox.
Jadi jelas di sini, Durkheim ingin menekankan bahwa bunuh diri tidak
berhubungan dengan ajaran-ajaran agama, tetapi lebih berhubungan
dengan derajat integrasi dari pengikut-pengikut suatu ajaran agama
sebagai faktor sosial. Sehingga faktor bunuh diri itu, sebenarnya
harus dilihat dari sudut kehidupan komunitas atau masyarakat.
b. Bunuh Diri di Dalam Kesatuan Keluarga
Durkheim menolak anggapan bahwa bunuh diri lebih banyak dilakukan oleh
orang-orang yang sudah berkeluarga, dibandingkan dengan mereka yang
belum berkeluarga atau tidak kawin.
Durkheim membuat satu penelitian untuk membandingkan angka laju bunuh
diri antara orang-orang yang tidak kawin dan usia 16 tahun ke atas.
Dari hasil penelitiannya diperoleh angka sebagai berikut.
1. Sejumlah 173 orang dari tiap satu juta penduduk tedapat orang-orang
yang tidak kawin yang melakukan bunuh diri
2. Sejumlah 154.5 orang dari tiap satu juta penduduk dari orang-orang
yang sudah kawin yang melakukan bunuh diri
Dari bukti-bukti ini, Durkheim menunjukkan bahwa angka laju bunuh diri
lebih banyak terdapat pada orang-orang yang tidak kawin dibandingkan
mereka yang sudah kawin. Hal ini disebabkan, jika Malthus menganjurkan
pembatasan kelahiran unutk mengurangi jumlah penduduk, sebaliknya
Durkheim mengatakan bahwa semakin kecil jumlah anggota dari suatu
keluarga maka akan semakin kecil pula keinginan unutk terus hidup.
Kesatuan sosial yang semakin besar akan semakin mengikat orang kepada
kegiatan-kegiatan sosial diantara anggota kesatuan tersebut. Demikian
juga dalam hal ini, kesatuan keluarga yang lebih besar umumnya akan
lebih terintegrasi. Dalam hal ini, Durkheim menggunakan istilah
kepadatan keluarga.
c. Bunuh Diri dalam Kesatuan Politik
Durkheim juga mengungkapkan beberapa data yang mengungkapkan bahwa
kecenderungan yang berbeda dalam tingkat bunuh diri antara golongan
militer dibandingkan dengan golongan sipil. Durkeim mengungkapkan,
dalam keadaan damai golongan militer umumnya lebih besar
kecencerungannya unutk melakukan bunuh diri dibandingkan dengan
golongan masyarakat sipil. Sedangkan dalam situasi perang justru lebih
sedikit melakukan bunuh diri bila dibanding dengan golongan sipil.
Sebabnya menurut Durkheim adalah ketika situasi perang golongan
militer lebih terintegrasi dengan baik, dibanding dalam keadaan damai.
Sebaliknya, dalam situasi damai, integrasi masyarakat lebih kuat
sehinga cenderung lebih rendah angka bunuh dirinya, sedangkan dalam
situasi perang golongan masyarakat sipil mengalami penurunan dalam
derajat integrasinya sehingga kecenderungan bunuh dirinya semakin
besar.
Untuk membuktikan hal ini, Durkheim menggunakan dua momen di Perancis
tahun 1848 dimana sedang terjadi pemberontakan di Perancis. Dia
mengumpulkan data-data tentang bunuh diri dalam dua momen politikitu
dan membandingkannya dengan data-data bunuh diri yang tercatat pada
tahun-tahun sebelum peristiwa tersebut. Angka-angka yang diperoleh
adalah sebagai berikut.
• Tahun 1848, angka bunuh diri adalah sejumlah: 1904
• Tahun 1830, angka bunuh diri adalah sejumlah: 1756
• Tahun 1829, angka bunuh diri adalah sejumlah: 3647
• Tahun 1847, angka bunuh diri adalah sejumlah: 3307
Terlihat dari data bahwa angka bunuh diri ternyata lebih kecil pada
masa revolusi/ pergolakan politik dibandingkan dengan masa tidak
terjadi pergolakan politik. Demikianlah dengan keseluruhan uraian ini
apa yang ingin dikemukakan Durkheim sebenarnya adalah bagaimana
besarnya pengaruh faktor-faktor sosial terhadap kehidupan individu.
Faktor sosial yang disebut dengan Conscious Collective itu yang
menjadi semacam jiwa kelompok yang mengikat individu-individu ke dalam
derajat integrsi sehingga ia menolak jalan pikiran psikologistik di
dalam mempengaruhi kehidupan individu.
3) Hubungan antara Orientasi Agama dan Struktur Sosial
Pengalaman agama dan ide tentang yang suci adalah produk kehidupan
kolekif, kepercayaan dan ritus agama juga memperkuat ikatan-ikatan
social di mana kehidupan kolektif itu bersandar. Dengan kata lain,
hubungan antara agama dan masyarakat memperlihatkan saling
ketergantungan yang sangat erat. Menurut Durkheim,
kepercayaan-kepercayaan totemik (atau tipe-tipe kepercayaan agama
lainnya) memperlihatkan kenyataan masyarakat itu sendiri dalam bentuk
simbolis. Ritus totemik mempersatukan individu dalam kegiatan bersama
dalam satu tujuan bersama dan memperkuat kepercayaan, perasaan dan
komitmen moral yang merupakan dasar struktur social. Jadi ide tentang
yang suci itu diperkuat, karena anggota-onggota kelompok itu berulang
kali mengalami kenyataan kelompok itu sendiri. Kenyaan ini
dimanifestasikan dalam perasaan-perasaan bersama serta kegiatan
bersama yang berhubunganngan dengan pelaksaan ritus agama yang
berulang-ulang atau penegasan kembali mengenai kepercayaan mereka yang
sama tentang yang suci.
4) Agama dalam Masyarakat modern
Analisa Durkheim tentang perasaan gembira emosional yang bertalian
dengan upacara ritus kolektif mungkin agak tidak pada tempatnya untuk
masyarakat masa kini. Dimana,banyak para pemimpin agama bersifat
kritis terhadap pelayanan-pelayanan ibadah yang memperlihatkan bentuk
ritualisme belaka tanpa mengandung makna atau membangkitkan emosi.
Durkheim mengakui bahwa bentuk agama tradisional pada masa hidupnya
tidak memperlihatkan kegairahan hidup yang merupakan sifat agama orang
Arunta di Australia. Dia merasa bahwa kurangnya gairah hidup dalam
bentuk agama di masa hidupnya karena rendahnya tingkat solidaritas
dalam masyarakat, meskipun demikian dia percaya ini akan berubah
karena jenis-jenis pengalaman kolektif yang baru melahirkan
bentuk-bentuk solidaritas yang baru, dan yang dapat memperkuatnya.
5) Asal-usul bentuk pengetahuan dalam masyarakat
Menjelang akhir buku The elementary forms, Durkheim memperluas pokok
pikiran utamanya dengan mengemukakan bahwa tidak hanya pemikiran agama
melainkan juga pengetahuan pada umumnya berlandaskan pada dan
mencerminkan dasar social.Misalnya, semua pengetahuan tergantung pada
bahasa untuk dapat diteruskan ke generasi berikutnya,dan bahasa adalah
produk social, bukan ciptaan individu. Pada tingkat yang lebih dalam
Durkheim mengemukakan bahwa kategori-kategori berfikir yang dasar
muncul dari kehidupan social dan mencerminkan struktur social. Suatu
pemikiran agama dan ilmiah ditentukan oleh kondisi dan mencerminnkan
tipe struktur social dimana pemikiran-pemikiran itu muncul.
II. Talcot Tparson
Perubahan Sosial Talcott Parson mengatakan seperti halnya teoretisi
neoevolusi lainnya, menunjukkan adanya perkembangan masyarakat
tradisional. Menurut Parsons, masyarakat akan berkembang melalui tiga
tingkatan utama yaitu primitif, intermediate, dan modern. Dari tiga
tahapan ini, oleh Parsons dikembangkan lagi ke dalam sub klasifikasi
evolusi sosial sehingga menjadi lima tingkatan yaitu primitif,
advanced primitif and arcchaic, historic intermediate, seedbed
societies, dan modern societies.
Parsons meyakini bahwa perkembangan masyarakat berkaitan dengan
perkembangan keempat unsur subsistem utama yaitu kultural
(pendidikan), kehakiman (integrasi), pemerintahan (pencapain tujuan),
dan ekonomi (adaptasi).
Tolak ukur yang digunakan Parsons untuk mendeteksi dan sekaligus
membedakan tingkatan perubahan masyarakat(5 tingkatan) adalah
artikulasi pengembangan fungsi integrasinya. Puncak perkembangan
terpenting terhadap fungsi integrasi ini adalah ditemukan bahasa
tulisan dan kunci terhadap sambungan proses evolusi sosial. Penemuan
simbol komunikasi bahasa menandai fase transisi dari masyarakat
primitif ke tingkat intermediate. Sedangkan penemuan hukum formal
menandai fase transisi dari intermediate ke masyarakat maju
(advanced).
Talcott Parsons melahirkan teori fungsional tentang perubahan. Seperti
para pendahulunya, Parsons juga menganalogikan perubahan sosial pada
masyarakat seperti halnya pertumbuhan pada mahkluk hidup. Komponen
utama pemikiran Parsons adalah adanya proses diferensiasi. Parsons
berasumsi bahwa setiap masyarakat tersusun dari sekumpulan subsistem
yang berbeda berdasarkan strukturnya maupun berdasarkan makna
fungsionalnya bagi masyarakat yang lebih luas. Ketika masyarakat
berubah, umumnya masyarakat tersebut akan tumbuh dengan kemampuan yang
lebih baik untuk menanggulangi permasalahan hidupnya. Dapat dikatakan
Parsons termasuk dalam golongan yang memandang optimis sebuah proses
perubahan.
Bahasan tentang struktural fungsional Parsons akan diawali dengan
empat fungsi yang penting untuk semua sistem tindakan. Suatu fungsi
adalah kumpulan kegiatan yang ditujukan pada pemenuhan kebutuhan
tertentu atau kebutuhan sistem. Parsons menyampaikan empat fungsi yang
harus dimiliki oleh sebuah sistem agar mampu bertahan, yaitu :
a. Adaptasi, sebuah sistem harus mampu menanggulangu situasi eksternal
yang gawat. Sistem harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.
b. Pencapaian, sebuah sistem harus mendefinisikan dan mencapai tujuan utamanya.
c. Integrasi, sebuah sistem harus mengatur hubungan antar bagian yang
menjadi komponennya. Sistem juga harus dapat mengelola hubungan antara
ketiga fungsi penting lainnya.
d. Pemeliharaan pola, sebuah sistem harus melengkapi, memelihara dan
memperbaiki motivasi individual maupun pola-pola kultural yang
menciptakan dan menopang motivasi.
Keempat fungsi tersebut dikenal dengan sebutan AGIL yaitu Adaptasi
(A[adaptation]), pencapaian tujuan (G[goal attainment]), integrasi
(I[integration]), dan latensi atau pemeliharaan pola (L[latency]).
Talcott Parsons adalah seorang sosiolog kontemporer dari Amerika yang
menggunakan pendekatan fungsional dalam melihat masyarakat, baik yang
menyangkut fungsi dan prosesnya. Pendekatannya selain diwarnai oleh
adanya keteraturan masyarakat yang ada di Amerika juga dipengaruhi
oleh pemikiran Auguste Comte, Emile Durkheim, Vilfredo Pareto dan Max
Weber. Hal tersebut di ataslah yang menyebabkan Teori Fungsionalisme
Talcott Parsons bersifat kompleks.
Teori Fungsionalisme Struktural mempunyai latar belakang kelahiran
dengan mengasumsikan adanya kesamaan antara kehidupan organisme
biologis dengan struktur sosial dan berpandangan tentang adanya
keteraturan dan keseimbangan dalam masyarakat.
Berdasarkan karya-karya Parsons, seperti empat sistem tindakan dan
imperatif fungsional mengundang tuduhan bahwa ia menawarkan teori
struktural yang tidak mampu menangani perubahan sosial. Hal ini
dikarenakan, ia peka terhadap perubahan sosial, namun ia berpendapat
bahwa meskipun studi perubahan diperlukan, tapi itu harus didahului
dengan studi tentang struktur.
III. Niklas Luhmann
"hanya kompleksitaslah yang dapat mereduksi kompleksitas (Luhmann1995:26)
Sistem-sistem Autopoietic menurut Luhmann konsep autopoietic merujuk
kepada diversitas sistem-sistem dari sel biologis sampai keseluruh
masyarakat dunia.
Empat karakteristik isitem autopoietic:
a. Sebuah sistem autopoietic menghasilkan elemen-elemen dasar yang
menyusun sistem itu sendiri.
b. Sistem-sistem autopoietic mengorganisasikan diri (self-organizing)
dalam dua cara- mereka mengorganisasikan batasan-batasannya sendiri,
dan mengorganisasikan struktur internya.
c. Sistem autopoietic adalah self referential (Esposito, 1996).
d. Sebuah sistem autopoietic adalah sistem tertutup. Meskipun sistem
autopoietic adalah tertutup dan tak ada koneksi langsung dengan
lingkungannya, lingkungan harus diizinkan untuk menganggu representasi
dalamnya. Tanpa gangguan-gangguan seperti itu, sistem akan dihancurkan
oleh kekuatan lingkungan yang akan meliputinya.
Sistem sosial yang tertutup adalah berbeda dari individu yang muncul
sebagai bagian darinya. Dalam sistem seperti itu, individu adalah
bagian dari lingkungan (Luhmann)
1) Masyarakat dan sistem-sistem psikis
Masyarakat adalah sistem autopoietic (Luhmann). Elemen dasar dari
masyarakat adalah komunikasi, komunikasi dihasilkan oleh masyarakat.
Dan apapun yang bukan komunikasi adalah bagian dari lingkungan. Ini
mencangkup sistem biologis manusia dan bahkan sistem psikisnya. Yang
dimaksud sistem psikis oleh Luhmann adalah kesadaran individu.
Sistem seperti sistem psikis dan sosial yang mengandalkan pada makna
adalah tertutup, karena (1) makna selalu mengacu kepada makna yang
lain, (2) hanya makna yang dapat mengubah makna, (3) makna bisanya
menghasilkan lebih banyak makna. Elemen-elemen dari sistem makna
psikis adalah representasi konseptual, elemen-elemen dari sistem makna
sosial adalah komunikasi. Dalam sistem psikis makna dikaitkan dengan
kesadaran sedangkan dalam sistem sosial makna dikatikan dengan
komunikasi.
Kontingensi ganda (double contingency) mengacu pada fakta bahwa setiap
komunikasi harus mempertimbangkan cara komunikasi itu diterima
(Luhmann). Seleksi yang dilakukan dalam satu komunikasi dibatasi oleh
seleksi yang dilakukan dalam komunikasi sebelumnya, dan komunikasi
sekarang juga membatasi komunikasi masa depan. Ini adalah cara lain
dimana ketidak mungkinan oleh sistem sosial. Kebutuhan untuk mengatasi
kontingensi ganda dan memungkinkan komunikasi yang tak mungkin inilah
yang mengatur evolusi dari sistem sosial.
2) Evolusi sistem sosial
Evolusi secara sederhana adalah sebuah proses trial and error. Evolusi
bukan teleologis. Hasilnya tidak diatur oleh tujuan yang ditetapkan
sebelumnya. Salah satu implikasinya adalah bahwa, dalam teori Luhmann,
ide kemajuan menjadi tidak ada artinya. Ini membedakannya dari ide
evalusioner univresal masyarakat moderen dari Parson (lihat hal
153-135). Mengasumsikan satu jalan pasti dari perkembangan
kemasyarakatan adalah teologis dan mengakibatkan fakta bahwa ada
variasi jalan untuk menghadapi masalah tertentu. Pada tingkat umum
evolusi membuat kemustahilan menjadi lebih mungkin. Secara ketat dapat
dikatakan bahwa evolusi bukanlah sebuah proses, tetapi seperangkat
proses yang dapat dideskripsikan, sebagai pelaksanaan 3 fungsi:
variasi, seleksi dan stabilitas karakteristik yang dapat direproduksi.
Variasi adalah proses trial and error. Seleksi atas solusi tertentu
bukan berarti yang dipilih adalah solusi yang "terbaik". Stabilitas
ini biasanya menyangkut jenis diferensiasi baru yang memerlukan
penyesuaian dari semua bagian sistem kepada solusi baru.
3) Diferensiasi
Dari sudut pandang teori sistem, Luhmann ciri utama dari masyarakat
moderen adalah meningkatnya proses diferensiasi sistem sebagai cara
menghadapai kompleksitas lingkungannya (Resch, 2000). Diferensiasi
adalah "replikasi, di dalam sistem, dan perbedaan antara sebuah sistem
dan lingkungannya (1982:230). Diferensiasi di dalam sistem adalah
cara penanganan perubahan dalam lingkungan. Seperti yang sudah kita
lihat, masing-masing harus menjaga batas-batasannya dan hubungannya
dengan lingkungan. Jika tidak ia akan dikuasai oleh kompleksitas
lingkungannya, ambruk dan berhenti eksis. Untuk bertahan hidup sistem
harus mampu menghadapi variasi lingkungannya.
Proses diferensiasi ini berarti meningkatkan kompleksitas sistem,
karena setiap subsistem dapat membuat hubungan yang berbeda-beda
dengan sistem lainnya. Ia menghasilkan lebih banyak variasi didalam
sistem untuk merespon variasi dilingkungan. Lebih banyak variasi yang
dihasilkan oleh diferensiasi bukan hanya akan menghasilkan respon yang
lebih baik terhadap lingkungan, tetapi ia juga mempercepat evolusi.
Evolusi merupakan proses seleksi dari variasi.
Segmentary differentiation. Diferensiasi segmentasi ini membagi
bagian-bagian dari sistem berdasarkan kebutuhan untuk memenuhi
fungsi-fungsi yang identik secara terus menerus. Diferensiasi
stratifikasi. Diferensiasi stratifikasi ini adalah diferensiasi
vertikal berdasakan urutan atau status dalam sistem yang dibayangkan
sebagai hierarki.
Diferensiasi pusat pinggiran. Tipe ke 3 diferensiasi, antara pusat
(center) dan pinggiran (perriphery) adalah kaitan antara diferensiasi
segmen dengan stratifikasi (Luhmann, 1997:663:678). Diferensiasi
sistem fungsional adalah bentuk diferensiasi paling kompleksdan bentuk
yang mendominasi masyarakat moderen. Setiap fungsi di dalam sistem
dianggap berasal dari unit tertentu. Diferensiasi fungsional lebih
flexibel dari diferensiasi stratifikasi.
Bentuk diferensiasi yang lebih kompleks tidak mengesampingkan bentuk
yang kurang kompleks, dan dalam kenyataannya mereka mungkin memerlukan
bentuk yang kurang kompleks. Sebuah kode (code) adalah satu cara untuk
membedakan elemen elemen sistem dari elemen-elemen yang tidak termasuk
sistem. Sebuah kode adalah bahasa dasar dari sistem fungsional.
Kode-kode ini adalah misalnya kebenaran (versus ketidakbenaran). Untuk
sistem sains, pembayaran (versus nonpembayaran) untuk sistem ekonomi,
dan legal (versus ilegal) untuk sistem hukum. Setiap komunikasi yang
menggunakan sistem tertentu adalah bagian dari sistem yang referensi
kodenya dipakai. Dalam teori sistem Luhmann, tidak ada sistem yang
menggunak dan memahami kode sistem lainnya.
Problem diferensiasi fungsional menyebabkan setidaknya satu problem
sentral untuk masyarakat moderen. Problem-problem seperti ini umumnya
diakibatkan oleh diferensiasi fungsional. Diferensiasi fungsiona
memerlukan pembuangan problem dari level masyarakat ke level
subsistem. Luhman menginvestigasi hubungan problemik antara
diferensiasi fungsional masyarakat moderen dengan usahanya utuk
mengatasi problem ekologi (1986/1989).
4) Sosiologi pengetahuan Luhmann
Teori sistem Luhmann mendefinisikan masyarakat sebagai semua yang
mencangkup sistem sosial termasuk termasuk semua sistem kemasyarakatan
lainnya (1997:78) Ia mengimplementasikan bahwa konsep masyarakat
identik dengan konsep masyarakat dunia hanya akan ada satu konsep
masyarakat.
IV. Anthony Giddens
Kasus yang mendukung konsepsi subyek sebagai agen aktif dan mengetahui
banyak hal secara konsisten telah dikemukakan oleh Giddens, yang
merupakan tokoh kritikus Foucault yang paling lantang menghapus agen
dari narasi sejarah. Giddens ini mengambil pandangan dari Garfinkel
(1967) yang berpendapat bahwa tatanan sosial dibangun didalam dan
melalui aktivitas sehari-hari dan memberikan penjelasan (dalam bahasa)
tentang aktor atau anggota masyarakat yang ahli dan berpengalaman.
Sumber daya yang diambil oleh sang aktor dan dibangun olehnya adalah
karakter sosial, dan struktur sosial (atau pola aktivitas teratur)
mendistribusikan sumber daya dan kompetensi secara tidak merata
diantara para aktor. Teori strukturasi (Giddens, 1984) terpusat pada
cara agen memproduksi dan mereproduksi struktur sosial melalui
tindakan mereka sendiri. Aktivitas manusia yang teratur tidak
diwujudkan oleh aktor individu semacam itu melainkan terus-menerus
dicipta ulang oleh mereka melalui cara mereka mengekspresikan diri
sebagai aktor. Jadi, didalam dan melalui aktivitas agen mereproduksi
sejumlah kondisi yang memungkinkan aktivitas-aktivitas semacam itu.
Dalam konteks ini Giddens (1984) mendiskusikan mengenai buku Willis
(1977) yakni Learning to Labour, dimana buku ini mengisahkan "anak
muda" adalah agen aktif dan banyak tahu melawan bentuk – bentuk
kekuasaanya yang berbasis sekolah berdasarkan atas afilasi dan
harapan mereka. Melalui aktivitas perlawanan mereka tidak sengaja
memproduksi dan mereproduksi.posisi kelas subordinat mereka dalam
proses kerja. Dalam hal ini, Giddens berusaha menunjukkan bagaimana
orang bisa menjadi agen aktif dan banyak tahu serta dia bisa saja
dibangun oleh dan mereproduksi struktur sosial, misalnya kelas, gender
dan etnisitas.
Tiga sumber dominan dinamisme modernitas telah dibedakan,
masing-masing terkait satu sama lain antara lain :
a. Terpisahnya ruang dan waktu
Hal ini merupakan kondisi penjarakan ruang dan waktu pada cakupan yang
tiada batas, serta menyediakan sarana zonasi temporal dan spasial yang
tepat.
b. Perkembangan mekanisme pemisahan
Ini berarti "melepaskan" aktivitas social dari konteks lokalnya,
reorganisasi relasi social pada rentang ruang dan waktu yang begitu
lebar.
c. Pemakaian pengetahuan secara refleksif
Produksi pengetahuan sistematis tentang kehidupan social menjadi
sesuatu yang menyatu dengan reproduksi sistem, menggerakan kehidupan
social semakin jauh dari kemapanan tradisi.
Secara bersamaan, ketiga ciri institusi modern ini membantu
menjelaskan mengapa kehidupan di dunia modern serasa seperti terbang
dengan pesawat pencari nafkah (satu gambaran yang akan saya uraikan
lebih terperinci lagi pada bagian selanjutnya) ketimbang berada dalam
mobil yang dikemudikan dan dikendalikan dengan baik. Pemakaian
pengetahuan secara refleksif, yang secara instrinsik menyuntikan
energi Namur juga tidak stabil, semakin meluas dengan memasukkan
rentang ruang dan waktu yang begitu lebar. Mekanisme pemisah
menyediakan sarana perluasan dengan melepaskan relasi social dari
"ciri khasnya" pada kawasan yang spesifik. Mekanisme pemisah bisa
direpresentasikan sebagai berikut :
1. Alat tukar simbolis (symbolic token) dan sistem ahli melibatkan
kepercayaan (trust), sebagai sesuatu yang berbeda dengan keyakinan
(confidence) yang didasarkan atas pengetahuan induktif yang lemah.
2. Relasi antara kepercayaan dengan pemisahan (disembedding) tetap
abstrae disini. Kita nanti harus meneliti bagaimana kepercayaan,
resiko, keamanan, dan bahaya berartikulasi dalam kondisi modernitas.
Kita juga harus mempertimbangkan situasi dimana kepercayaan berakhir
dan bagaimana situasi ketiadaan kepercayaan bisa dipahami dengan baik.
3. Pengetahuan (yang biasanya harus dipahami di sini sebagai "klaim
atas pengetahuan") yang secara refleksif berlaku pada aktivitas social
disaring oleh empat factor.
4. Kekuasaan diferencial. Beberapa individu atau kelompok lebih mampu
menggunakan pengetahuan tertentu ketimbang yang lain.
5. Peran nilai. Nilai dan pengetahuan empiris dihubungkan dalam satu
jeringan pengaruh timbal balik.
6. Dampak dari konsekuensi yang tidak dikehendaki. Pengetahuan
tentang kehidupan social mentransendesikan kehendak mereka yang
menerapkannya untuk tujuan transformatif.
7. Beredarnya pengetahuan sosial dalam hermeneutika ganda.
Pengetahuan secara reflektif berlaku bagi sejumlah kondisi reproduksi
sistem yang secara instrinsik mengubah kondisi yang secara kondisional
diacunya. Selanjutnya kita akan melacak berbagai implikasi dari ciri
refleksivitas ini bagi lingkungan kepercayaan dan resiko yang
ditemukan dalam dunia sosial kontemporer.
Hal yang penting dalam teori strukturasi Giddens yakni mengenai konsep
dualitas struktur. Dimana struktur bukan hanya menghambat melainkan
juga memberdayakan sehingga actor individu ditentukan oleh sejumlah
kekuatan sosial yang ada diluar diri mereka sebagai obyek
individu.sedangkan struktur sosial tersebut memberdayakan subyek untuk
bertindak. Bagi Giddens, identitas dikemukakan sebagai isu agensi
(individu mengkonstruksi suatu proyeksi) dan sebagai determinasi
sosial (proyeksi kita dikonstruksi secara sosial dan identitas sosial
melekat pada kita). Contoh, yang dimaksud dengan menjadi seorang ibu
dalam suatu masyarakat bisa berarti bahwa kita tidak dapat menjalankan
kerja upahan, sehingga kita terhambat. Namun, struktur keibuan juga
memungkinkan kita bertindak sebagai seorang ibu yang dekat dengan
anak-anak, membentuk jaringan dengan ibu lain, dan sterusnya. Demikian
pula halnya dengan bahasa, kita semua dikonstruksi dan dihambat oleh
bahasa yang telah hadir mendahului kita, namun bahasa juga merupakan
sarana dan media kesadaran diri dan kreativitas. Jadi kita hanya bisa
mengatakan apa yang bisa dikatakan dalam bahasa, akan tetapi bahasa
adalah media dimana kita dapat mengatakan apapun.
Cara hidup yang dimunculkan oleh modernitas telah membersihkan kita
dari semua jenis tatanan social tradisional, dengan cara yang tidak
pernah ada sebelumnya. Dalam hal ekstensionalitas maupun
intensionalitasnya, tranformasi yang berlangsung didaam modernitas
lebih menonjol ketimbang sebagian besar karakteristik perubahan
periode sebelumnya.
Pengaruh jjangka panjang evolusionisme social adalah salah satu alasan
mengapa karakter diskontinu modeernitas sering kali tidak di apresiasi
sepenuhnya. Hal ini yang menyebabkan bagaimana mengidentifikasi
diskontinuitas yang memisahkan intitusi social modern dari tatanan
social tradisional melalui beberapa aspek yaitu :
1. Tingkat kecepatan perubahan yang digerakkan oleh era modernitas (
peradaban tradisional mungkin lebih dinamis daripada sistem pramodern
lain, namun kecepatan perubahan dalam kondisi modernitas benar – benar
ekstrem ).
2. Cakupan perubahan ( ketika wilayah yang berbeda didunia ini
terseret pada interkoneksi satu sama lain, gelombang transformasi
social secara tidak langsung akan merembet juga ).
3. Sifat intrisik institusi modern ( beberapa bentuk social modern
tidak ditemukan dalam sejarah misalnya sistem politik Negara – bangsa,
ketergantungan seluruh sistemproduksi terhadap sumber – sumber
kekuasaan yang tidak kentara serta komodifikasi produk dan kerja
upahan yang terjadi secara menyeluruh.


Lingkungan Kepercayaan dan Resiko Pada Budaya Pramodern dan Modern
Pra Modern
Konteks umum : dominannya arti penting kepercayaan lokal Modern
Konteks umum : relasi kepercayaan yang tertanam pada sistem abstrak
yang dilepaskan
LINGKUNGAN KEPERCAYAAN
1. hubungan kekerabatan sebagai satu perangkat pengatur bagi
stabilisasi ikatan sosial di sepanjang ruang dan waktu.
2. komunitas lokal sebagai tempat yang menyediakan suatu milieu yang bersahabat
3. kosmologi religius sebagai bentuk kepercayaan dan praktek ritual
yang menyediakan interpretasi providential atas kehidupan manusia dan
alam.
4. tradisi sebagai sarana untuk mengaitkan massa kini dengan massa
depan, berorientasi kepada masa lalu dan waktu yang dapat
berulang. 1. relasi personal persahabatan atau intimasi seksual
sebagai sarana untuk menstabilkan ikatan sosial.
2. sistem abstrak sebagai sarana untuk menstabilkan hubungan di
sepanjang ruang-waktu yang tidak terbatas.
3. berorientasi ke masa depan, pemikiran kontrafaktual sebagai bentuk
keterkaitan masa lalu dan masa kini.
LINGKUNGAN RISIKO
1. ancaman dan bahaya muncul dari alam seperti terjadinya penyakit
menular, tidak menentunya iklim, banjir dan bencana alam lainny.
2. ancaman kekerasan manusia berupa tentara pengacau, bandit, perampok.
3. resiko hilangnya berkah religius. 1. ancaman dan bahaya berasal
dari refleksivitas modernitas.
2. acaman kekerasan manusia dalam industrialisasi perang.
3. kekejaman dari personal yang muncul dari reflexivitas modernitas
yang diterapkan pada diri sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini