Selasa, 22 September 2015

AHMAD RIZAL_KOTA BANDUNG TEORI KONSTRUKTIF_TUGAS 3

NAMA           : AHMAD RIZAL

NIM                : 11140540000012

PRODI           : PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM 3

 

1.      Bagaimana sebuah kota di bangun?

 

Terbentuknya sebuah kota yang berada di suatu negara biasanya bervariasi, tetapi memiliki inti yang sama. Terbentuknya kota juga bisa dikatakan dengan diawali sebuah tempat pertemuan antara penduduk sebuah desa dengan penduduk di sekitar desa itu baik untuk transaksi keperluan hidup, tempat pengumpulan barang, atau tukar menukar barang. Lama-kelamaan ada yang bermukim di sekitar tempat itu dan kemudian pemukiman itu menjadi semakin besar. Berdatangan pula penduduk dari daerah sekitar ke tempat itu yang kemudian membentuk sebuah kota atau bahkan menjadi kota besar. Perubahan ini kemudian membentuk beberapa aspek untuk kehidupan kota yang lain dengan suatu perencanaan pada lahan kosong dimana lahan kosong ini dibangun dengan tujuan tertentu seperti untuk membangun kota industri, kota sebagai pusat pemerintahan, atau kota dagang. Kota merupakan hasil peradaban manusia dimana peradaban ini mengalami sejarah pertumbuhan, perkembangan kemudian menjadi kota besar kemudian kota ini yang menunjukkan pula dinamika masyarakat/manusia. Sebagai gambaran, di Indonesia dahulu pernah terdapat kerajaan seperti Kerajaan Majapahit serta Kerajaan Sriwijaya, kerajaan ini dahulunya memiliki pusat pemerintahan yang sekaligus sebagai kota/kota besar. Setelah masa kejayaan itu berangsur surut, memudar atau bahkan ada yang secara tiba-tiba hancur atau runtuh oleh peristiwa sejarah seperti perang atau bencana alam sehingga menyebabkan suatu kota yang terbentuk dari masa kerajaan itu menjadi hilang.

Kota dapat terbentuk sejak terjadinya kerumunan tempat tinggal manusia yang relatif padat pada suatu kawasan tertentu dibanding dengan kawasan disekitarnya. Kawasan yang disebut kota penduduknya bukan bermata pencaharian yang berkaitan langsung dengan alam, melainkan di bidang pemerintahan, industri, dan jasa sehingga lebih menunjukkan bahwa kota terbentuk melalui suatu proses. Tipe kota terbagi atas kota kuno, kota pra-industri, kota industri, kota modern, kota post-modern, kota global, dan kosmopolitan. Kota Kuno merupakan pengertian kota yang paling sederhana. Di kota kuno ini didapati pada gua-gua, di lembah-lembah atau tempat berlindung, beberapa jalur tepi sungai yang letaknya strategis dimana menjadi cikal bakal terbentuknya kota. Ciri utama kota ini adalah mata pencaharian penduduknya non-agraris dan penduduknya memiliki pekerjaan dan kebutuhan yang relatif heterogen. Di kawasan kota kuno ini juga dapat ditemui prasarana dan sarana umum serta beberapa pusat pemerintahan yang hidup dengan nilai-nilai tertentu. Pada kota kuno ini, kotanya mulai terbentuk pada tahap pastoral/tahap menetap. Tahap-tahap perkembangan manusia sendiri dimulai dari hunting and fishing, pastoral, agricultural, handicraft, dan industrial[1].

Kota Praindustri merupakan kota yang lebih berkembang dari kota kuno dimana kota ini telah memiliki ciri seperti tahap agricultural yang menonjol sehingga penduduk mulai mengenal teknik bertanam yang baik. Perpindahan penduduk juga mulai terlihat, kebutuhan dikota semakin beragam dengan berdatangannya kelompok masyarakat ke kota maka pemukiman dikota semakin menonjol serta pembangunan fisik dan prasarana kota pada kota ini menjadi lebih teratur dan meluas. Pola perkotaan di kota pra-industri memiliki gejala yang biasa ditemui 4 pusat kegiatan seperti pusat pemerintahan, ruang publik (tempat masyarakat berinteraksi), tempat beribadah, pasar tradisional (tempat distribusi barang dari desa ke kota atau sebaliknya), dan tempat pemenuhan barang-barang kebutuhan sehari-hari bagi masyarakat desa dan kota. Keempat pusat kegiatan ini letaknya relatif berdekatan dan itu merupakan kegiatan pokok dari suatu kota praindustri. Pada masa ini status seseorang didasarkan pada keturunan/ascribed status, seseorang yang dilahirkan dari kelompok bangsawan, serta merta ia memiliki status sebagai bangsawan. Dikarenakan status dan strata sangat kuat dipertahankan oleh masing-masing kelompok strata maka pola pemukiman masyarakat kota pra-industri ini cenderung berkelompok-kelompok (pengelompokan berdasarkan status, etnis/suku bangsa, dan ragam pekerjaan).

Kota Industri merupakan kota yang lebih berkembang dari kota pra-industri. Kelahiran dunia industri di kota ini memerlukan banyak tenaga kerja baik tenaga terampil tingkat atas, menengah, maupun kasar. Teknologi mulai berkembang dan pusat-pusat industri yang bertebaran di kota, sehingga lebih menunjukkan adanya surplus kapital pada masyakarat dan mereka memiliki kemampuan dalam pengumpulan modal untuk mendirikan suatu industri. Kota industri lahir karena masyarakat kota memiliki surplus tertentu dimana surplus ini tidak hanya surplus kapital tetapi juga teknologi, sumber daya manusia, dan manusia. Pola pemukiman di kota industri ini tidak memiliki keteraturan sehingga menyebabkan penataan kota berjalan lambat. Pada kota ini kegiatan industri sangat menonjol, sistem kemasyarakatan agraris berubah menjadi industris. Sistem ekonomi natural berganti menjadi kapital dan pada masa perubahan yang drastis ini menyebabkan kota mengalami kekacauan fisik dan manajemen.

Kota modern terbentuk setelah adanya masa industrialisasi pada abad 17. Adanya pengaruh ini menyebabkan munculnya semangat revolusi industri dan menumbangkan kekuasaan raja yang absolut. Kemenangan rakyat/penduduk atas raja ini menandai perhatian teknologi dan ilmu pengetahuan untuk kepentingan rakyat banyak. Sistem pemerintahan pada masa ini berubah dari sistem kekuasaan absolut ke bentuk baru yang lebih berpihak pada rakyat seperti sistem demokrasi, sistem pemerintahan republik, atau federal. Pada kota ini, sisi negatif pada masa kota industri diatasi dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan etika. Kota Post-Modern modernisasinya lebih berkembang lebih lanjut dimana teknologi dan ilmu pengetahuan diartikan kembali. Masyarakat lebih menghargai nilai pluraritas, munculnya ide-ide baru, teknologi dan ilmu pengetahuan berkembang lebih canggih, beragam, dan digunakan untuk kegiatan seolah diluar pikiran masyarakat awam sebelumnya. Kota post-modern memiliki tingkat globalisasi yang tinggi, interaksi dan kerja sama yang saling menguntungkan dapat terjadi dengan kota yang lain dan kota post-modern ini diisi dengan era informasi, jasa, dan pelayanan. Kebutuhan hidup dipenuhi secara teknologis dan komputerisasi yang canggih.

Kota Global bisa dikatakan merupakan suatu kota dimana masyarakatnya memiliki kebiasaan untuk melakukan relasi dengan kota lain antarnegara. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat di dunia berakibat semakin pesatnya perkembangan teknologi dan penemuan-penemuan dalam berbagai bidang dan skala yang diperkenalkan pada dunia. Kota global memiliki kekuatan politik, menduduki posisi nasional dan internasional, perdagangan dunia, dan organisasi perusahaan tingkat dunia. Aktivitas tertentu mewarnai kota di bidang sosial dan ekonomi yang menunjukkan status sebagai pusat-pusat aktivitas yang profesional dan potensi kota yang satu sering berdampak pada kota yang lain diantara dua negara atau lebih. Ciri kota global yaitu sebagian masyarakatnya dalam pemenuhan kebutuhan tidak selalu berorientasi pada kotanya sendiri. Masyarakat ini juga harus siap menerima kedatangan orang asing dengan segala potensi yang dimiliki kota itu, jadi interaksi yang bersifat timbal balik dibutuhkan untuk mencapai status sebagai kota global.

Kota Kosmopolitan merupakan kota yang masyakaratnya memiliki pandangan alam secara utuh menyeluruh. Kota kosmopolitan terbentuk dengan prasyarat tertentu, yaitu penduduknya mampu menghargai dan menghormati keanekaragaman alam beserta isinya. Masyarakat kosmopolitan akan menjaga secara seimbang antara keperntingan dirinya dengan kepentingan msyarakat. Ada kecenderungan masyarakat kosmopolitan merupakan kelompok bangsawan baru, dimana kelompok ini memiliki tujuan hidup yang mapan serta menjaga citra. Gejala kosmopolitan tampak pada dominasi individu-individu penduduk kota yang memiliki tingkat kesejahteraan yang tinggi dan pemilikan industri berskala besar. Teknologi di era ini berkembang lebih jauh dan kota ini adalah kota dengan kebutuhan desain yang bersifat neo-universal (modernisme yang disentuh dengan seni modern). Budaya dan seni lokal yang bersifat agraris-religius di masa ini akan ditinggalkan apabila tidak disertai inovasi atau dijaga keasliannya. Kosmopolitan sendiri merupakan akomodasi peradaban dari post-modernisme yang tumbuh secara linier, liar, dan tak terkendali. Kota ini merupakan kota masa depan yang masih merupakan impian, dimana kota berusaha ditata secara sempurna. Namun, pada awalnya kota ini masih dihantui dengan masalah kesenjangan sosial ekonomi antar negara satu dengan yang lain, antara kota satu dengan yang lain.

Kota juga mampu dikatakan sebagai suatu tempat pertemuan yang berorientasi keluar. Sebelum kota menjadi tempat pemukiman yang tetap, awalnya sebagai suatu tempat orang pulang-balik untuk berjumpa secara teratur sehingga memiliki kemudian menimbulkan daya tarik para penghuni yang ada diluar kota untuk mengadakan kontrak, memberi dorongan untuk kegiatan rohaniah dan perdagangan, serta kegiatan lain yang memiliki dinamika yang berbeda dengan keadaan di desa. Kota juga sebagai pusat pemerintahan pada umumnya banyak dijumpai pada zaman sebelum revolusi industri. Kebanyakan kota ini merupakan kota lama bekas kerajaan yang mampu bertahan sebagai ibukota sampai pada zaman modern, kemudian pada zaman modern, kota menjadi pusat industri, produksi, dan jasa. Pada dasarnya kota terbentuk karena diikuti dengan kepadatan penduduknya. Penyebab kepadatan penduduk terjadi karena ada aktivitas tertentu yang menyebabkan orang-orang berdatangan. Kota dapat dipandang sebagai suatu gaya hidup, kota juga memungkinkan penduduknya berkontak dengan orang asing, mengalami aneka perubahan yang pesat, dan perubahan mobilitas sosial. Kota sendiri baru akan muncul ketika terdapat suatu kelebihan yang berada di daerah pedalaman, tetapi terbentuknya menjadi sebuah kota yang "baru" haruslah mengalami perkembangan teknologi untuk menghasilkan sarana transportasi. Setelah kota baru itu berdiri, barulah kota itu mampu memberikan jasanya kepada wilayah yang lain.

 

Misalnya Berdirinya kota Bandung

Berdirinya Kota Bandung diawali dengan pembentukan Kabupaten Bandung pada abad ke-17 Masehi. Dari awal terbentuknya hingga tahun 1681, Kabupaten Bandung dipimpin oleh Tumenggung Wiraangunangun.  Pada awalnya, ibukota Kabupaten Bandung berada Krapyak, kini bernama Dayeuhkolot (Kota Tua), kira-kira 11 kilometer ke arah Selatan dari pusat kota Bandung sekarang. Antara tahun 1794-1829, Kabupaten Bandung dipimpin oleh R.A Wiranatakusumah II yang dijuluki "Dalem Kaum I". Di masa itu, kekuasaan di Nusantara beralih dari Kompeni ke Pemerintahan Hindia Belanda dibawah pimpinan gubernur jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811).

Sebuah proyek besar dibuat oleh Daendels untuk menunjang kelancaran tugasnya di Pulau Jawa. Daendels membangun Jalan Raya Pos (Groote Postweg) sepanjang kurang lebih 1000 km dari Anyer di ujung barat Jawa Barat hingga ke Panarukan di ujung timur Jawa timur. Pembangunan jalan raya itu dilakukan oleh rakyat pribumi di bawah pimpinan bupati daerah masing-masing.

Di daerah Bandung dan Priangan, Jalan Raya pos mulai dibangun pada pertengahan tahun 1808 dengan memperbaiki dan memperlebar jalan yang telah ada. Di daerah Bandung sekarang, jalan raya itu adalah Jalan Jenderal Sudirman – Jalan Asia Afrika – Jalan A. Yani hingga berlanjut ke Sumedang dan seterusnya. Untuk kelancaran pembangunan jalan raya, dan agar pejabat pemerintah kolonial mudah mendatangi kantor bupati, Daendels kemudian meminta Bupati Bandung dan Bupati Parakanmuncang untuk memindahkan ibukota kabupaten, masing-masing ke daerah Cikapundung dan Andawadak (Tanjungsari), mendekati Jalan Raya Pos.

Daendels tidak mengetahui, bahwa sebelum ia melakukan permintaan itu, bupati Bandung sudah merencanakan untuk memindahkan ibukota Kabupaten Bandung, bahkan telah menemukan tempat yang cukup baik dan strategis bagi pusat pemerintahan. Tempat yang dipilih adalah lahan kosong berupa hutan yang terletak di tepi barat Sungai Cikapundung dan berdekatan dengan Jalan Raya Pos yang sedang dibangun (pusat kota Bandung sekarang). Alasan pemindahan ibukota itu dikarenakan Krapyak tidak strategis sebagai ibukota pemerintahan karena terletak di sisi selatan daerah Bandung dan sering dilanda banjir bila musim hujan tiba.

Pada era 1808-1809, bupati beserta sejumlah rakyatnya mulai pindah dari Krapyak mendekati lahan bakal ibukota baru. Mula-mula bupati tinggal di Cikalintu (daerah Cipaganti), kemudian pindah ke Balubur Hilir, selanjutnya pindah lagi ke Kampung Bogor (Kebon Kawung, pada lahan Gedung Pakuan sekarang).  Tidak ada informasi yang menyebutkan secara pasti berapa lama Kota Bandung dibangun. Akan tetapi, kota itu dibangun bukan atas prakarsa Daendels, melainkan atas prakarsa Bupati Bandung. Bahkan, pembangunan kota Bandung langsung dipimpin oleh bupati. Dengan kata lain, Bupati R. A. Wiranatakusumah II adalah pendiri (the founding father) kota Bandung. Kota Bandung diresmikan sebagai ibukota baru Kabupaten Bandung dengan surat keputusan tanggal 25 September 1810.

2.      Mengapa kota tsb penting saat ini?

Sillicon Valley adalah julukan untuk suatu daerah di kawasan California, Amerika Serikat. Pada postingan sebelumnya Maxmanroe juga sudah membahas tentang tema Silicon Valley. Daerah yang dulunya hanya padang luas tersebut banyak dijuluki sebagai tanah lahirnya teknologi karena menjadi tempat berkembanganya sejumlah perusahaan teknologi dunia seperti IBM, Apple Computer, Adobe dan masih banyak lagi. Nama Sillicon Valley sendiri dicetuskan oleh Ralph Vaerst karena terinspirasi oleh beragam perangkat teknologi yang sering menggunakan bahan silikon.

Sebagai masyarakat Indonesia, kita tampaknya harus berbangga hati karena ternyata kita juga memiliki "Sillicon Valley" ala Indonesia. Bandung adalah "Sillicon Valley"-nya Indonesia karena memiliki sejumlah keunggulan teknologi yang belum dimiliki daerah-daerah lainnya.

Apa saja alasan yang membuat Bandung cocok disebut sebagai Sillicon Valley Indonesia?

Sarana Pendidikan yang Mendukung Pengembangan Teknologi

Menyebut Bandung memang rasanya tak lepas dari kebesaran nama ITB. ITB (Institut Teknologi Bandung) adalah salah satu universitas teknologi terbesar di Indonesia yang telah melahirkan banyak SDM yang kompeten di bidang teknologi. Dengan jumlah penduduk mencapai 8 juta jiwa, tak heran bila jumlah penduduknya terus bertambah karena banyak sekali pelajar dari berbagai daerah yang menetap di Bandung untuk menuntut ilmu di ITB. Adanya fasilitas dan wadah pendidikan di ITB membuat kota Bandung juga kaya akan para pengembang IT yang berasal dari kalangan generasi muda.

Kota yang Ramah Startup

Bandung adalah kota yang sangat ramah dengan perkembangan #startup baru. Walikota Bandung, Ridwan Kamil yang lulusan dari University of California dan sempat berkecimpung sebagai pebisnis bidang konsultan desain sangat paham betul akan hal itu. Oleh sebab itu, Ridwan ingin mulai membantu perkembangan beragam startup baru di Bandung dengan membuat regulasi yang meringankan pihak pendiri dan pengembang startup.

Ridwan bahkan pernah mengembangkan gedung perkantoran gratis dan pajak bisnis yang rendah bagi startup baru yang tengah berkembang. Tak heran jika berbagai startup IT Indonesia seperti Agate Studio, Happiness Digital, dan Tinker Games mampu mengawali dan mengembangkan kreatifitasnya di Bandung.

 Pemkot Bandung Memberi Support Pada Perkembangan Teknologi

Walaupun baru mengawali pemerintahan pada periode September 2013, Ridwan Kamil selaku walikota Bandung sudah mulai menjalin kerjasama dengan berbagai pihak untuk mulai menyusun integrasi kebutuhan teknologi kota secara online. Bahkan terhitung hingga September 2014, setidaknya sudah terdapat 5.000 titik hotspot gratis yang bisa digunakan oleh masyarakat Bandung.

Sistem "#Google pelayanan publik Bandung" dan e-kelurahan juga sedang dikembangkan untuk mencapai birokrasi yang lebih sistematis dan mampu meminimalkan maraknya tindak kecurangan di setiap tingkat pemerintahan kota Bandung.

Siapkan Lahan dan Sumber Daya untuk Menjadi Sillicon Valley

Ridwan Kamil pernah menyatakan bahwa negara maju seperti Singapura mulai mengembangkan sisi IT dengan mengandalkan kemampuan SDM tanpa didukung wilayah yang maksimal. Oleh sebab itu kota Bandung mulai berbenah diri untuk mempersiapkan wilayah dan ketersediaan SDM menuju predikatkota pusat #teknologi di Indonesia.

Bandung bahkan telah menyiapkan lahan seluas 800 hektar di daerah Gedebage untuk membangun proyek Teknopolis, kawasan kota Bandung berbasis teknologi. Hingga Oktober 2014, proyek Teknopolis masih berupaya mencari investor untuk mewujudkan proyek teknologi besar ini.

 Cuaca yang Asyik dan Jenis Makanan yang Beragam

Tak heran bila Bandung dijuluki sebagai Paris van Java. Banyak sekali hal-hal menyenangkan yang bisa diperoleh di kota Bandung, selain kecanggihan teknologinya. Bandung dilengkapi denga kekayaan kuliner yang selalu inovatif dan melimpahnya sejumlah produk fashion di berbagai butik dan factory outlet. Cuaca yang dingin karena letaknya dikelilingi area pegunungan juga membuat Bandung menjadi tujuan wisata yang tepat.

Semua kelebihan tersebut berhasil membawa Bandung menjadi kota yang paling sering dikunjungi di Indonesia. Hal ini tentu juga membawa pengaruh positif bagi perkembangan dunai teknologi di kota Bandung. Ridwan Kamil juga menjadi salah satu pengguna #Twitter yang aktif mempopulerkan kota Bandung sebagai destinasi wisata dan teknologi yang menarik.

Tentu alangkah baiknya jika kota-kota lain di Indonesia dapat mencontoh upaya Bandung dalam mengedepankan sisi teknologi. Karena perkembangan teknologi yang merata di setiap daerah menjadi kunci kesuksesan pembangunan di suatu negara.

3.      Apa yang membuat kota tsb bertahan?

1. Adanya hubungan intern dari berbagai macam kegiatan hubungan internal sangat menentukan dinamika sebuah kota. Ada keterkaitan antara satu sektor dengan sektor lainnya sehingga apabila ada satu sektor yang tumbuh akan mendorong pertumbuhan sektor lainnya, karena saling terkait. Dengan demikian kehidupan kota menciptakan sinergi untuk saling mendukung terciptanya pertumbuhan.

2. Adanya unsur pengganda (multiplier effect) keberadaan sektor-sektor yang saling terkait dan saling mendukung akan menciptakan efek pengganda. Maknanya bila ada permintaan satu sektor dari luar wilayah, peningkatan produksi sektor tersebut akan berpengaruh pada peningkatan sektor lain. Peningkatan ini akan terjadi beberapa kali putaran pertumbuhan sehingga total kenaikan produksi dapat beberapa kali lipat dibandingkan dengan kenaikan permintaan di luar untuk sektor tersebut. Unsur efek pengganda memiliki peran yang signifikan terhadap pertumbuhan kota belakangnya. Hal ini terjadi karena peningkatan berbagai sektor di kota pusat pertumbuhan akan membutuhkan berbagai pasokan baik tenaga kerja maupun bahan baku dari kota belakangnya.

3. Adanya konsentrasi geografis konsentrasi geografis dari berbagai sektor atau fasilitas, selain bisa menciptakan efisiensi di antara sektor-sektor yang saling membutuhkan, juga meningkatkan daya tarik (attraciveness) dari kota tersebut. Orang yang datang ke kota tersebut bisa mendapatkan berbagai kebutuhan pada lokasi yang berdekatan. Jadi kebutuhan dapat diperoleh dengan lebih hemat waktu, biaya, dan tenaga. Hal ini membuat kota tersebut menarik untuk dikunjungi dan karena volume transaksi yang makin meningkat akan menciptakan economic of scale sehingga tercipta efisiensi lebih lanjut.

4. Bersifat mendorong pertumbuhan daerah belakangnya sepanjang terdapat hubungan yang harmonis di antara kota sebagai pusat pertumbuhan dengan kota belakangnya maka pertumbuhan kota pusat akan mendorong pertumbuhan kota belakangnya. Kota membutuhkan bahan baku dari wilayah belakangnya dan menyediakan berbagai fasilitas atau kebutuhan wilayah belakangnya untuk dapat mengembangkan diri.

Kota Bandung, bertahan tentu karena kerja sama dari pemerintah dan warga bandung yang ikut berperan dalam pembangunan kota bandung. Kota bandung di nobatkan meraih penghargaan Indonesia Attractiveness Award TEMPO-Frontier 2015 sebagai Kota Terbaik dari segi infrastruktur dan pariwisata. Hal ini disampaikan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil melalui akun twitter pribadinya @ridwankamil.

"Warga BDG (Bandung), malam ini Bandung terpilih sebagai Kota Terbaik untuk infrastruktur dan pariwisata, dari survei Tempo-Frontier," tuit pria yang akrab disapa Kang Emil itu.
Emil mengatakan penghargaan ini bukan tujuan utama dalam membangun Kota Bandung. Menurutnya masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk menjadikan Kota Bandung lebih baik lagi ."Award ini itu bukanlah tujuan, tapi bisa menjadi ukuran agar bisa berupaya lebih baik. PR Kota Bandung masih bertumpuk. Mari bekerja bersama," lanjutnya.
Selain itu, Kota Bandung juga meraih penghargaan kategori Overall Attractiveness Index di urutan keempat. "Untuk overall attractiveness index, Bandung di urutan ke 4. Mari warga Bandung kita bekerja lebih keras dan cerdas. Bersama," pungkasnya.

4.      Bagaimana pemimpin kota mengelola kota?

Menata kota besar dengan jumlah penduduk yang padat tentu bukan pekerjaan mudah. Harus ada rasa percaya. Pemerintah harus percaya, jika mempercantik dan membangun taman kota, warga akan ikut menjaganya. Percaya bahwa warga tidak akan membuang sampah sembarangan jika pemerintah menyiapkan sarana dan sistem persampahan yang baik.
 Warga harus percaya kepada pemerintah bahwa pajak yang selama ini dibayarkan tidak akan dikorupsi, tetapi digunakan untuk membangun fasilitas umum yang nyaman dan aman. Pengusaha bergairah berinvestasi karena mereka percaya mengurus izin mudah dan bebas pungli.
            Kita harus perbaiki semuanya melalui membangun kembali trust. Pembangunan dan pengelolaan kota tak akan berarti apa-apa kalau tak ada trust. Tumbuh suburnya trust di tengah masyarakat dimulai dari niat (intention) dan integritas (integrity) pemimpinnya. Para kepala daerah harus memberikan jaminan rasa kepercayaan, dengan membuktikan satunya kata dengan perbuatan. Kepemimpinan yang paling dipercaya rakyat adalah keteladanan. Dalam buku best seller versi New York Times dan Wall Street Journal, Stephen MR Covey memperkenalkan suatu model, yaitu model Lima Gelombang Kepercayaan, yang menggambarkan bagaimana trust atau kepercayaan bekerja dalam kehidupan kota, yaitu percaya pada diri sendiri (self trust), relationship trust (dipercaya orang lain atau relasi-relasi kita), baru organizational trust, market trust, dan social trust.
            Kita harus percaya pada kemampuan kita sebagai warga kota untuk ikut andil dalam perbaikan kota. Semua komponen kota harus saling percaya dan bergerak bersama-sama untuk mengelola seluruh potensi demi masa depan kota. Pemerintah daerah sebagai lembaga pengelola negara harus bisa dipercaya rakyat dengan menjalankan tugasnya sesuai dengan aturan dan tata perundangan berlaku. Mengembalikan kepercayaan pasar domestik untuk menguatkan fondasi ekonomi rakyat dan kepercayaan di semua elemen sosial yang ada.

Bandung, sekarang dipimpin Ridwan Kamil (biasa disapa Kang Emil-pen). Sosok anak muda nasionalis-religius, yang sejak memimpin pertama kali sudah menyihir perhatian media dan masyarakat Indonesia. Kemenangan politiknya dibarengi konsep pembangunan tata kota yang dinamis dan humanis. Dengan bermodalkan pengetahuan arsitekturnya, Kang Emil berusaha mengelola kota Bandung dengan kompetensi keilmuannya. Tak heran, masyarakat Bandung menerima dengan baik adanya pembangunan taman yang modern, kegiatan internasional yang membumi dan pembangunan MRT yang dijalankan untuk mengurangi kemacetan. Ya, sungguh di balik segala kebijakannya, Kang Emil berusaha membaca kebutuhan warganya. Salah satu kebutuhan mendesak, bagaimana mengatasi kemacetan akibat maraknya pemakaian kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Tak berhenti di tata kota, lelaki yang diusung Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra sehingga mampu menang dalam Pilwakot Bandung ini juga komunikatif. Melalui media sosial, dirinya banyak bertukar pikiran dengan warganya demi kemajuan Kota Bandung. Kritikan dan saran warga menjadi sebuah masukan berharga untuk pemimpin partisipatoris ini. Sebab membangun kota bukan hanya fisiknya, tetapi membangun pula manusianya. Jadilah Bandung menjadi Paris Van Java yang produktif dan inovatif sehingga layak menjadi salah satu model pengelolaan tata kota modern di Indonesia. Ketika akhirnya Kang Emil mendapatkan "gelar" walikota terbaik, ini menjadi bukti penghargaan dunia internasional atas kerja nyatanya selama ini.

Daftar Pustaka :

Sanderson, Stephen K., 1993, Sosiologi Makro, Rajawali Press Jakarta.

https://www.maxmanroe.com/mengapa-bandung-cocok-dinobatkan-sbg-sillicon-valley-nya-indonesia.html

http://jabar.metrotvnews.com/read/2015/06/13/404247/kota-bandung-raih-penghargaan-kota-terbaik-infrastruktur-dan-pariwisata

http://bandungtraveler.com/sejarah-berdirinya-kota-bandung/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini