Selasa, 29 Desember 2015

TUGAS UAS SOSIOLOGI "BURUH-BURUH TEMPORER PERKOTAAN" Mutia Drajat (11150510000073) KPI 1B, Ifna Maulida (11150510000144) JURNALISTIK 1A, Nur Fauziyah (11150510000200) JURNALISTIK 1B

LAPORAN HASIL PENELITIAN

PENGANTAR SOSIOLOGI

BURUH-BURUH TEMPORER PERKOTAAN

 

Di Susun Oleh :

Mutia Drajat  ( 11150510000073 ) KPI 1B

Ifna Maulida ( 11150510000144 ) JURNALISTIK 

     Nur Fauziyah (11150510000200) JURNALISTIK 1B

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. MENGAPA GEJALA SOSIAL INI PENTING UNTUK DITULIS / DITELITI

Dalam penelitian kali ini kami memilih untuk melakukan penelitian pada buruh-buruh temporer perkotaan, tenaga kerja berada dalam bentuk pekerja yang hidup yang memerlukkan sejumlah kebutuhan hidup untuk dirinya dan juga untuk keluarganya, yang menjamin kesinambungan tenaga kerja bahkan sesudah kematiannya. Karenanya, waktu-waktu kerja yang diperlukan untuk memproduksi kebutuhan-kebutuhan hidup ini mewakili nilai tenaga kerja. Sang kapitalis membayarnya secara mingguan dan dengan begitu membeli penggunaan satu minggu kerja dan pekerja itu. Sang kapitalis sekarang menetapkan pekerjaan para pekerja itu.

Dalam suatu waktu tertentu sang pekerja akan menyerahkan waktu dan tenaganya senilai upah yang dibayar satu minggu itu. Andaikan bahwa upah mingguan dan sang pekerja itu mewakili tiga hari kerja, misalnya dia mulai bekerja pada hari senin pada hari rabu petang dia telah menggantikan nilai lebih bagi sang kapitalis, nilai penuh dan upah yang dibayar itu. Apakah pada hari rabu itu si buruh itu berhenti bekerja, tidak, karena sang kapitalis sudah membayar buruh itu bekerja dalam satu minggu. Berarti dalam hal ini sang kapitalis mendapat nilai lebih dan luar tiga hari kerja itu. Dalam hal ini sang kapitalis sudah mendapatkan sumber nilai-lebih, yakni sumber laba, sumber akumulasi modal yang terus bertambah. Disisi lain sang buruh, atau boleh dikata dilihat dan segi aspek ekonomi sang buruh tidak dirugikan karena sudah melakukan perjanjian dengan sang bos, yakni kaum kapitalis itu. Sebab mereka sudah dibayar dengan upah untuk satu minggu atau satu bulan dengan perhitungan pertambahan nilai upah itu. Tapi bila kita lihat menurut sisi sosial sang buruh ini memang dirugikan karena sang kapitalis menjadikan buruh itu sebagai mesin pencetak uang bagi dirinya (kaum kapitalis), tapi walaupun begitu sang buruh sama seorang manusia yang mempunyai hak yang sama untuk diperhitungkan dari segi waktu tenaga.

Dari ini semua dapat disimpulkan bahwa studi tentang hubungan-hubungan antara dan diantara orang, kelompok, institusi,atau lingkungan yang lebih luas dinamakan dengan penelitian sosial. Penelitian social merupakan suatu tipe penelitian yang dilakukan oleh ilmuan social untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang berbagai aspek social sehingga kita dapat memahaminya. Penelitian dapat digambarkan sebagai upaya yang sistematis dan terorganisasi untuk menyelidiki sebuah masalah spesifik yang memerlukan sebuah solusi.


B. Landasan Teori Sosiologi

Pada penelitian yang kami teliti ini, kami menggunakan landasan teori Karl Marx. Karl Marx mengemukakan pendapatnya tentang Manusia, bahwa manusia baginya adalah seseorang yang tidak berarti apa-apa. Dalam artian Manusia dikaitkan dengan masyarakat. Masyarakat harus berkembang, serta perkembangan masyarakat itu di sebut sebagai sejarah. Menurutnya yang menjadi dorongan perkembangan masyarakat yang menjadi dorongan jalan sejarah yaitu kekuatan materia yang ada di dalam masyarakat itu. Konsep ini memperjelas bahwa Marx ini sangat membedakan antara manusia dengan binatang. Perbedaan ini terletak pada cara atau dalam usaha untuk mencapai keperluan hidupnya. Sedangkan manusia itu sendiri dalam mencapai keperluan hidupnya harus mencari dan menggunakan alat.

Asumsi dasar pemikiran Karl Marx adalah bahwa kepentingan manusia adalah untuk memperhatikan materi. Pandangan yang agak "ekstrem determinase" sosial atas tingkah laku individu, bahwa manusia pada hakekatnya mengejar kepentingannya sendiri Marx percaya bahwa manusia memiliki potensi untuk menjadi egois atau tidak egois bergantung dari sifat hubungan-hubungan tempat ia lahir atau dimana ia berada(!) menurut Marx kehidupan individu masyarakat kita didasarkan pada asas ekonomi. Anrata lain berarti bahwa institusi-institusi pollitik, pendidikan, agama, ilmu pengetahuan, seni, keluarga, dan lain sebagainya, bergantung pada tersedianya sumber-sumber ekonomi hal ini berarti juga bahwa institusi-institusi ini tidak dapat berkembang dangan tuntutan-tuntutan sistem ekonomi.

Berikut adalah beberapa pemikiran sosiologi kritis dari Karl Marx:

1.     Menurut Marx kehidupan modern dapat dirujuk ke sumber materialnya yang riil (misalnya, struktur kapitalisme)

2.     Marx benar-benar meletakkan dialektiknya dalam landasan material

3.     Dengan gagasannya Marx menciptakan filsafatnya sendiri yaitu filsafat materialisme dialektika, yang menekankan pada hubungan dialetika dengan kehidupan material

4.     Teori nilai tenaga kerja dalam teori ini menegaskan bahwa keuntungan tenaga kerja kurang dari yang selayaknya mereka terima, karena mereka menerima upah kurang dari nilai barang yang sebenarnya mereka hasilkan dalam suatu periode bekerja,

5.     Nilai surplus, system kapitalis tumbuh melalui tingkatan eksploitasi terhadap tenaga kerja yang terus menerus meningkat (dan karena itu jumlah nilai surplus pun terus meningkat) dan dengan menginvestasi keuntungan untuk mengembangkan system

6.     Marx lebih dekat sebagai ekonomi ketimbang sosiolog, yang diperhatikan yakni penindasan system kapitalis yang dilahirkan oleh revolusi industry

7.     Perhatian Marx tertuju pada perubahan bersifat revolusi yang sangat bertentangan dengan tokoh-tokoh konservatif yang menginginkan reformasi dan perubahan secara tertib,

8.     Konservatif sangat dipengaruhi oleh gagasan Immanue Kant. Mereka berpikir linier, menurut hukum sebab akibat, antara lain dapat membiasakan kita membayangkan pengaruh  timbal balik terus menerus dari kekuatan sosial.

9.     Pemikiran dealetitika akan mampu mengkongseptualisasikan ulang contoh-contoh yang dikemukakan diatas sebagai keadaan saling mempengaruhi secara terus-menerus antara gagasan dan politik,

10.  Secara garis besar Marx menawarkan sebuah teori tentang masyarakat kabitalis berdasarkan citranya mengenai sifat dasar manusia.

11.  Pada dasarnya manusia produktif, artinya untuk mempertahankan hidup manusia menghasilkan makana, pakaian, peralatan,jasa dan lain-lain.

Menurut Karl Marx hakekat kenyataan sosial adalah konflik konflik adalah satu kenyataan sosial yang bisa ditemukan di mana-mana. Bagi Marx, konflik sosial adalah pertentangan antara segmen-segmen masyarakat untuk merebutkan asset-aset yang bernilai. Jenis dari konflik individu, konflik antara kelompok, dan bahkan konflik antar bangsa. Tetapi bentuk konflik yang paling menonjol menurut Marx adalah konflik yang disebabkan oleh cara produksi barang-barang material.

Menurut Karl Marx dalam proses produksi barang-barang material, ada dua kelompok yang terlibat. Pertama adalah kelompok kapitalis. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai modal (capital) dan menguasai sarana-sarana produksi. Kekhasan kelompok ini ialah bahwa jumlah mereka sedikit dan mereka menjual hasil-hasil produksi dengan harga-harga yang jauh lebih besar dari pada biaya produksi sehingga mereka mendapat keuntungan besar-besarnya. Kedua adalah kaum ploretariat atau kelompok pekerja yang jumlahnya lebih dari banyaknya kelompok pertama. Mereka ini menyerahkan tenaganya untuk menjalankan alat-alat produksi dan sebagai imbalannya mereka mendapatkan upah dan bukannya barang yang mereka hasilkan.

Menurut Marx revolusi sebagai jalan keluar satu-satunya cara yang ditempuh untuk keluar dari system kapitalis yang tidak adil itu ialah dengan melakukan revolusi. Tetapi revolusi itu bisa terjadi kalau ada dua hal. Pertama, kaum proletarian harus menyadari diri sebagai orang-orang yang tertindas. Kesadaran menjadi sangat penting untuk menciptakan perubahan (konsientasi). Kedua, mereka harus mengelompokan diri dalam suatu wadah yakni organisasi buruh (ia sendiri pernah bergabung dengan organisasi buruh). Secara individual,buruh sulit memperjuangkan perbaikan nasibnya. Tetapi lewat organisasi mereka bisa memperjuangkan tuntutannya. Marx menyadari betapa sulitnya memperoleh tingkat kesadaran yang diinginkannya. Tetapi pada suatu waktu, dengan penyebaran informasi yang terus-menerus (propaganda), mereka akan menyadari bahwa merekalah yang menentukan masa depan mereka sendiri.


C.    Metode Penelitian

Metode yang kami gunakan dalam penelitian kali ini yaitu:

1.     Observasi

2.     Wawancara

Kami menggunakan metode ini agar mendapatkan hasil penelitian dari narasumber kami yang benar dan alat-alat yang digunakan dalam wawancara ini yaitu: Pertanyaan, Daftar Pertanyaan.

Jenis sumber data :

Data primer : data yang diperoleh dari Narasumber langsung dengan mengajukan pertanyaan secara tertulis untuk mendapatkan jawaban diperlukan peneliti.

 

 

 

BAB II

GAMBARAN LOKASI


Kami meneliti 3 buruh yang berbeda-beda lokasi yang terletak diantaranya :


Narasumber I


Berlokasi di Jl. Tn Limun no. 14A RT 04/08

Wawancara pada narasumber I ini dilakukan pada hari Jum'at 25 Desember 2015 pada pukul 08.00-selesai dan bertepatan dikosan khusus perempuan yang bernama "Assalam" didepan UIN Ciputat


Narasumber II


Berlokasi di Jl. Delman Elok VI rt 004/011 Keb. Lama utara Jakarta Selatan.

Wawancara pada narasumber II ini dilakukan pada hari Jum'at 25 Desember 2015 pukul 14.00 – selesai, yaitu teh acem bertempat tinggal di delman elok, Narsum II kami tinggal disebuah rumah yang memiliki dua kamar, satu kamar mandi, dapur, dan ruang tamu yang dijadikam sebagai tempat bekerja untuk membuka jahitannya itu.


Narasumber III


Berlokasi di Pasar Serpong

Wawancara dilakukan pada hari Minggu, 20 Desember 2015 pukul 13.00 WIB. Pasar ini berada di lantai dua. Narasumber yang diwawancarai ini bekerja di toko baju anak-anak yang bernama 'BUNDA' yang besebelahan dengan toko baju anak dan baju dewasa lainnya.

 

 

 

 

 

                                                   BAB III

                                           HASIL ANALISIS

Buruh, pekerja, worker, laborer, tenaga kerja atau karyawan pada dasarnya adalah manusia yang menggunakan tenaga dan kemampuannya untuk mendapatkan balasan berupa pendapatan baik berupa uang maupun bentuk lainya kepada Pemberi Kerja atau pengusaha atau majikan.

Buruh adalah mereka yang berkerja pada usaha perorangan dan di berikan imbalan kerja secara harian maupun borongan sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak, baik lisan maupun tertulis, yang biasanya imbalan kerja tersebut diberikan secara harian.

Pada dasarnya, buruh, Pekerja, Tenaga Kerja maupun karyawan adalah sama. Namun dalam kultur Indonesia, "Buruh" berkonotasi sebagai pekerja rendahan, hina, kasaran dan sebagainya. sedangkan pekerja, Tenaga kerja dan Karyawan adalah sebutan untuk buruh yang lebih tinggi, dan diberikan cenderung kepada buruh yang tidak memakai otot tapi otak dalam melakukan kerja. akan tetapi pada intinya sebenarnya keempat kata ini sama mempunyai arti satu yaitu Pekerja. Hal ini terutama merujuk pada Undang-undang Ketenagakerjaan, yang berlaku umum untuk seluruh pekerja maupun pengusaha di Indonesia.

Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. (Undang Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan Bab I Pasal 1 ayat 2).

Tenaga kerja merupakan modal utama serta pelaksanaan dari pembangunan masyarakat pancasila. Tujuan terpenting dari pembangunan masyarakat tersebut adalah kesejahteraan rakyat termasuk tenaga kerja. Tenaga kerja sebagai pelaksana pembangunan harus di jamin haknya, diatur kewajibannya dan dikembangkan daya gunanya. Dalam peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor: PER-04/MEN/1994 pengertian tenaga kerja adalah setiap orang yang bekerja pada perusahaan yang belum wajib mengikuti program jaminan social tenaga kerja karena adanya pentahapan kepesertaan.

Beberapa pengertian Tenaga Kerja/ Buruh menurut para ahli, yaitu :

1.     EENG AHMAN & EPI INDRIANI bahwa Tenaga kerja adalah seluruh jumlah penduduk yang dianggap dapat bekerja dan sanggup bekerja jika ada permintaan kerja.

2.     ALAM. S bahwa Tenaga kerja adalah penduduk yang berusia 15 tahun keatas untuk negara-negara berkembang seperti Indonesia. Sedangkan di negara-negara maju, tenaga kerja adalah penduduk yang berumur antara 15 hingga 64 tahun.

 

Buruh, Pekerja, Tenaga Kerja atau Karyawan pada dasarnya adalah manusia yang menggunakan tenaga dan kemampuannya untuk mendapatkan balasan berupa pendapatan baik berupa uang maupun bentuk lainya kepada Pemberi Kerja atau Pengusaha atau majikan.

 

Buruh dibagi atas 2 klasifikasi besar, yaitu:

  1. Buruh profesional - biasa disebut buruh kerah putih, menggunakan tenaga otak dalam bekerja,
  2. Buruh kasar - biasa disebut buruh kerah biru, menggunakan tenaga otot dalam bekerja.

Menurut www.artikata.com buruh adalah orang yg bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah; pekerja. Secara teori, dalam kontek kepentingan, didalam suatu perusahaan terdapat 2 (dua) kelompok yaitu, kelompok pemilik modal (owner) dan kelompok buruh, yaitu orang-orang yang diperintah dan dipekerjanan yang berfungsi sebagai salah satu komponen dalam proses produksi. Dalam teori Karl Marx tentangnilai lebih, disebutkan bahwa kelompok yang memiliki dan menikmati nilai lebih disebutsebagai majikan dan kelompok yang terlibat dalam proses penciptaan nilai lebih itudisebut Buruh.


Narasumber pertama




Bobi Triansyah saputra lahir di Rangkas 11 mei 1995, anak ketiga dari lima besaudara sebelum ia menjadi buruh, ia pernah belajar sampai kelas 2 SMA ia lebih memilih menjadi buruh. Ia merantau ke Jakarta bekerja  sebagai buruh asisten rumah tangga di daerah ciputat tanggerang selatan di Jalan Tn Limun assalam, dia mendapatkan info dari temen pondoknya. mulai kerja waktu itu di pondok di daerah Caringin temen yang menawarkan pekerjaan disuatu tempat kos-kosan wanita. Dia menerima ajakan teman tersebut sebulumnya juga pernah ditelepon oleh pihak kosan. Lalu ia menawarkan pekerjaan untuk membersihkan seperti hanya pekerjaan ibu rumah tangga meliputi: dari membuang sampah, nyapu, ngepel, masak air dan membersihkan kamar mandi (tiap seminggu sekali atau tiap keadaaan kotor) dan WC. Ia mengerjakan pekerjaaan tersebut dari jam 07:00 – 11:30 WIB baru bisa istirahat lalu dilanjut dari jam 13:00- 16:00 WIB yang dilakukan setiap harinya. Kemudian ia mulai berangkat dari rumah hari rabu pagi sampai sore.

Awal mulai merantau di Jakarta tahun 2009 dengan bekerja asisten rumah tangga ia merasa masih belum merasa betah tapi lama-kelamaan ia jadi terbiasa dengan kegiatan yang dijalankannya tersebut. Awal digaji 300 ribu perbulan tanpa uang makan serta tidak ada hari untuk pulang kerumah kecuali lebaran idul fitri itu juga di rumah cuman 3 hari  tapi mendapatkan fasilitas tinggal bersama bosnya dan tiap tahun gajinya naik 100 ribu, ia mengerjakan sendiri tanpa temen terkadang dapat bantuan bersih-bersih sama bosnya. Ia memilih profesi ini karena butuh pekerjaaan, disisi lain ia mempunyai pekerjaan sampingan yaitu sebagai guru ngaji untuk anak-anak tahun 2009 ia mengajar selama 2 bulan dari mulai jam 16:00-17:00 WIB dikarenakan ia ingin mencari pengalaman baru dengan tarif 500 ribu perbulan. Ia juga berhenti mengajar karena mendapat teguran dari bosnya biar fokus sama pekerjaan sebagai asisten rumah tangga

Di tahun 2010 ia menemukan hal yang baru, temen baru sampai mulai dewasa mempunyai temen yang ada di assalam. Tahun 2011 ia  pernah berhenti bekerja lalu tahun 2012 ia mendapatkan masalah karna ada kesalahan dari bos, rebut dengan bos kesalahan yang kurang  mengerti ada kecurangan diantaranya merusak apa misalnya memecakan piring yang disalahkan aku, apa karna aku deket sama anak kos dan aku mulai memutuskan untuk berhenti tapi bukan karena di pecat melainkan  mengundurkan sendiri karna ia tidak sanggup lagi. Sanpai  tahun 2013 ia mondok di suka bumi selama 3 bulan. Dipanggil lagi karna yang punya kosan masih membutuhkan tenaga ia, ia kembali lagi tapi tidak lama sekitar tiga bulan mengundurkan diri karna masalah dengan bosnya lagi dikarenakan gaji yang diberikan tiga bulan sekali dan yang paling lama sampai enam bulan baru dikasih gaji tetapi ia tidak pernah meminta untuk dinaikan gajinya. Setelah mengundurkan diri yang ke dua ia menenangkan dirinya di pesantren gunung santri disitu selama 2 bulan ia merasa kesulitan tidak punya uang. Terpaksa ia menghubungi bosnya lagi dan  langsung menerima mungkin karena bos juga masih membutuhkan , lalu menerima ia kembali lagi sampai tahun 2014 aku berhenti lagi dan aku kembali lagi sampai sekarang ini sudah 3 bulan lah di sini aku merasakan ada yang karena cewe, bos tidak suka kalau ia deket sama anak kosan, suatu ketika ia merasa kewalahan mengerjakan tugasnya sendirian dengan berat hati ia pernah meminta untuk menambahkan asistem rumah tangga tetapi mintanya tidak dikabulkan oleh bosnya. ia merasa berjuang sendiri  setelah gaji dinaikkan pekerjaannya semakin banyak.

Selama ini ia terus jalani rutinitas kesehariannya  sebagai tantangan untuk menuju masa depan meskipun ia  bekerja sebagai buruh ini ia merasa nyaman meskipun banyak orang memandangnya dari sebelah mata sebagai orang kecil tapi ia mengerjakan itu semua dengan tulus walaupun orang berpendapat pekerjaanya kaya gini kaya gitu gak ok Katanya dilihat sok keren, sok ganteng tapi ia menjalaninya dengan penuh dengan kesabaran. Tahun 2015 ia menerima gaji satu juta dan sebagai buruh selama hampir lima tahun hambatan yang pernah dialami saat ia bekerja diperlakukan semena-mena seperti ia pernah disuruh untuk beli bubur buat bosnya pada saat itu dalam keadaaan hujan yang sangat lebat ia pun menolak karena akan menjalankan ibadah sholat jadi ia tidak menuruti permintaan bosnya seperti biasanya. Ia berpikir ingin pindah kerja ini tetapi belum mendapatkan pekerjaan baru sehingga ia tetap melanjutkan pekerjaan sebagai asisten rumah tangga. Selama kurang lebih 5 tahun bekerja sebagai buruh ia sudah sanggup membeli dua motor satu sepeda tapi kedua motornya tidak boleh di bawa ke assalam kecuali sepedanya.

Tanggapan bos

Kosan assalam di pegang oleh ka eem, dulunya sebelum didirikan kosan assalam ini di sebelah kiri danau dan sebelah kanan rawah. Lalu dibuatlah kosan assalam  pada tahun 1985. Menyediakan 50 kamar dengan fasilitas kasur, ranjang, lemari, air minum. Dia mendirikan bisnis kos-kosan memang cukup menjanjikan, terlebih di keramaian kota serta di kota pelajar dan industry karena sudah banyak merasakan bahwa penghasilannya terus mengalir dari usaha kos-kosan tersebut. Selain penghasilannya terus mengalir setiap bulannya, sebagai usaha jangka panjang pemilik kos-kosan bisa menikmati keuntungan dari terus naiknya nilai tanah, beliau mengelolah tidak begitu rumit karena beliau juga memberikan peraturan kepada mahasiswa untuk menaati peraturan atau himbauan yang sudah dibuat seperti:

1.   Ucapan salam saat keluar dan masuk kotsan.

2.   Ciptakan suasana kekeluargaan dengan senyum dan tegur sapa.

3.    Tutup dan kunci lemari saat meninggalkan kamar.

4.     Simpan barang-barang beharga anda dan pastikan aman.

5.     Tidak menggunakan barang temen tanpa seizing yang punya.

6.     Kurangi volume TV, tape, atau radio anda.

7.     Tidak memakai sandal atau sepatu luar ke dalam ruangan.

8.     Biasakan membuang sampah pada tempatnya.

9.     Bila menemukan sesuatu hubungi sesuatu ke ka em

Dilanjutkan dengan pengumuman

1.     Tidak diperbolehkan memakai alas kaki di sepanjang lorong dan tangga di kotsan assalam (ketahuan wajib ngepel ulang).

2.     Bila anda menyapu, pakailah serokan untuk mengambil sampahnya.

3.     Dilarang membawa temen ke kamar.

4.     Tamu putri atau keluarga perempuan yang memutuskan tempat menginap dikenakan biaya rp 15.000. permalam atau orang.

Mengenai tanggapan buruh yang dipekerjakannya, awalnya dia mengelola kosan tersebut dengan tenaga sendiri dengan berjalannya waktu beliau merasa kewalahan mengurusi kosan yang di geluti tersebut, pada tahun 2009 beliau mulai mempekerjakan seorang buruh asistent rumah tanggga yang bernama Bobi Triansyah Saputra , awalnya beliau bekerja sama-sama akan tetapi seiring waktu pekerjaan tersebut dilimpahkan kepada asistentnya itu. Semenjak datangnya bobi dia merasakan keringanan untuk mengnelola kosan tersebut, mengenai seorang buruh itu beliau kosan ada yang menjaganya kalo semisalnya beliau pergi-pergi, mudah diatur, bisa diajak kerja sama, dan lain sebagainya.

Tanggapan mahasiswa yang menetapkan dirinya ngekos dilingkungan tersebut, yamg bernama Luluil'Aula mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta fakultas Adab dan Humaniora semester 7 jurusan ilmu perpustakaan. Dia juga salah seorang yang merantau dari brebes ia berpendapat, bahwa ia merasakan kenyamanan karna disedikan berbagai fasilitas seperti halnya: lemari, kasur ranjang, kamar mandi yang disedikan diluar kamar, air minum dan air panas, serta disediakan jasa pembikinan mie instan, jika ingin buat mie instan kita menyediakan uang 2000 itu pake mie sendiri, jika pake mie yang sudah disediakan oleh ka eem harganya 4000 terkadang dikasih dengan tambahan sayur, yang akan dibikini oleh buruh tersebut, bisa diantar di kamarnya juga.  Hingga ia bertahan di assalam, ia juga setiap tahunnya ganti kamar yang biasanya terisi, ada yang 2 orang, 3 orang, 4 orang hingga sampai ada yang 6 orang. Tanggapan untuk buruh tersebut bobi itu langsung tanggap dengan situasinya jika beranda-beranda ada sampah berserakan ia membersikahnya, jika ada yang minta bikin mie ia juga membikinnya, "awal aku ketemu si buruh tersebut aku merasakan sedikit tidak nyaman karena di lingkungannya itu cewe , akan tetapi lama kelamaan aku bisa merasakan kebiasaan itu karnena si buruh tersebut tidak bertindak yang aneh-aneh." Kata Luluil.


Narasumber kedua

Pada kesempatan kali ini saya mendapat kesempatan untuk mewawancarai seorang penjahit, penjahit merupakan tenaga kerja yang memiliki keahlian dalam bidang tertentu yang didapat melalui pengalaman kerja, atau juga bisa didapat dari les khusus untuk menjahit ini. keahlian khusus ini tidak memerlukan pendidikan karena yang dibutuhkan adalah latihan dan melakukanya berulang-ulang sampai bisa dan menguasai pekerjaan tersebut.

Pada kali ini saya dapat mewawancarai seorang penjahit, beliau bernama Acem. Dan biasa dipanggil Teh Acem , teh acem ini seorang penjahit yang sudah mulai mahir menjahit sejak 2005, pada awalnya teteh ini tinggal di Majalengka, Jawa barat. Teteh pindah ke Jakarta karena mengikuti ibu dan bapaknya yang pindah, karena saudara-saudara dari ibu dan bapaknya yang rata-rata sudah mulai pindah kejakarta yang ingin memulai 'hidup baru, pengalaman baru'. Waktu awal sampai di Jakarta teteh dan sekeluarga tinggal di daerah Ulujami.

Teteh sudah memulai menguasai jahit-menjahit ini karena didekat rumahnya dibuka tempat khusus untuk les menjahit bagi perempuan. Dan ditempat itu diajarkan cara mengukur untuk membuat baju, cara yang benar dan baik untuk menjahit maupun cara untuk memulai bekerja sebagai penjahit ditempat orang lain.

Dengan antusias yang tinggi teteh meminta izin kepada ibunya untuk mengikuti les menjahit, dan diberi izin oleh ibunya. Tempat les menjahit tersebut dipungut biaya sebesar Rp. 150.000/bulan. Selang beberapa bulan kemudian beliau sudah dapat menguasi keahlian jahit-menjahit ini, dan beliau mencoba untuk bekerja ditempat teteh les ini. Karena ditempat les ini selain tempat untuk belajar menjahit juga dibuka untuk butik baju yang menerima pesanan atau jahitan orang lain. Karena pemiliknya bilang kalau 'lulusan' dari tempat les saya udah mahir dan belum tau mau digunakan untuk apa keahliannya itu, mending kerja disini dulu sampai mereka tahu mau digunakan untuk apa, dari pada disia-siain begitu saja.

Pada pertengahan tahun 2007 teh acem mencoba untuk menjahit baju orang lain, yang awalnya hanya sekedar menjahit baju sobek, kecilin baju atau lainnya dirumahnya sendiri yang bertepan di Ulujami. Teh acem bilang kalau baju pertama yang dibuat teteh yaitu baju atasan yang dibuatkan khusus untuk ibunya. Karena beliau bilang kalau buat untuk orang lain dulu takut pada tidak suka dengan jahitannya itu, makanya teteh mencoba untuk membuat baju ibunya, karena teteh bilang kalau buat baju ibunya teteh tau seperti apa model atau yang disukai ibunya.

Teh acem ini juga sudah mengalami bekerja disana-sini. Entah awalnya Cuma hanya menjadi pembantu di tukang jahit-jahit , atau pernah juga jadi asisten penjahit atau banyak lagi pengalamannya. Teteh juga pernah merasakan mendapat upah yang sangat kecil yaitu sebesar Rp. 100.000 tapi teteh senang karena itu hasil usahanya sendiri untuk mendapat selembar uang tersebut.

Dan sekarang Teh acem tinggal di Tn. Kusir lebih tepatnya di Jl. Delman elok VI, teh acem sekarang tinggal bersama suaminya yang seorang penjahit juga. "saya mencoba untuk nekat membuka tempat jahit dirumah saya sendiri, dengan awal modal yang berasal dari gaji saya dan istri saya peroleh dari kerja jahit sana-sini. Dan Alhamdulillah sekarang sudah banyak yang tahu tentang tempat jahit saya disini." Kata suami teh acem.

Saat ini teteh memiliki mesin jahit dua dan sudah sangat dikenal didaerah rumahnya. Dan sekarang juga sudah banyak yang mempercayai teteh ini sebagai tukang jahit langganannya. Pada saat saya mewawancarai, saya mendapatkan teteh sedang mengukur baju buat pelanggannya ini dan saya bertanya kepada pelanggannya kenapa memilih teh acem ini sebagai penjahitnya dan ibu itu pun menjawab karena ibu itu sudah percaya kepada teh acem dan hasil jahitannya juga memuaskan sesuai dengan yang diinginkan "acem ini juga sudah tahu ukuran baju saya semana, karena badan saya yang gendut ini (ketawa) jadi kalau saya ingin membuat baju, atau seragam dari mana gitu pasti saya langsung minta jahitin acem ini. karena tidak usah diukur lagi tinggal ngasih bahannya dan modelnya seperti apa saja dan pasti jadi dalam beberapa hari, ya sesuai keperluan saya kapan baju ini akan dipakai" Kata ibu yana.

Dan sebenarnya saya sendiri juga pelanggan dari teh acem ini, karena selain dekat rumah juga sudah biasa menjahit di teteh karena hasil jahitan teh acem ini bagus, dan tidak merugikan rapih pula hasilnya, jadi tidak usah jauh-jauh cari penjahit untuk membuat baju atau mengecilkan seragam sekolah saya dulu atau hanya sekedar untuk memasang kancing baju atau almet saya. Bukan hanya saya saja yang jadi langganan teteh tapi keluarga juga menjadi langganan teteh karena dari ayah, ibu, dan adik saya juga sudah cocok atau pas kalau minta tolong bikin baju atau hanya menjahit yang sobek-sobek.

Teh acem ini sudah banyak mempunyai pelanggan ditempat barunya bukan hanya saudara atau tetangganya saja tetapi juga sudah ada yang rela jauh-jauh datang untuk membuat baju di teh acem, walau baju yang dibuatnya tidak sebagus desainer-desainer diluar sana tapi sudah terbukti kalau buatan teteh ini juga bisa memuaskan pelanggannya.

Ketika saya bertanya kepada tetangga sekitarnya juga mereka bilang kalau mereka juga bisa dikatakan beruntung karena memiliki tetangga yang seorang penjahit, jadi mereka juga tidak usah repot jauh-jauh untuk ketukang jahit. Apa tanggapan teteh ketika mempunyai tetangga yang seorang penjahit ini? "ya saya merasa senang karena memiliki tetangga seorang penjahit, soalnya juga kalau sama penjahit yang suka ngiter itu tidak bisa membuat baju palingan hanya memasang kancing atau pendekin celana doang. Kalaupun mau buat baju pasti harus cari sana-sini untuk mencarinya kan, tapi ini tinggal jalan beberapa langkaah langsung sampai dan bisa buat baju tinggal kasih bahan, perlunya kapan dan jadi deh dibuatin." Kata teh anis.

Diakhir wawancara teteh bilang kalau awal diajak merantau teteh tidak mau atau ragu karena takut tidak mempunyai teman atau akan jadi apa kalau di Jakarta. Tapi seiringnya waktu teteh jadi bisa beradaptasi di Jakarta begitu juga keluarganya. Karena juga sudah ada beberapa saudaranya yang tinggal di Jakarta.


Narasumber ketiga


Lia Agustiani adalah salah satu buruh dari sekian banyak buruh yang mengadu nasib di Serpong. Merantau dari Bandung, saat ini Lia bekerja di pasar tradisional Sepong sebagai pelayan toko baju anak- anak, "Bunda". Pekerjaan yang ia lakoni sebelum menjadi buruh adalah membantu membuat kue rumahan, yang dijual dari rumah ke rumah. Penghasilan yang tidak menentu dan kurang menjamin, maka akhirnya Lia mengadu nasib di Sepong. Perantauannya ia mulai pada tahun 2013. Kini ia tinggal bersama suaminya di Serpong.

Menjadi buruh adalah pilihan Lia. Selain menambah penghasilan keluarga, Lia mencari pengalaman dan kesibukan sebagai ibu rumah tangga. 2 tahun bekerja sebagai buruh, upah kerja yang diperoleh Lia perbulan adalah Rp 1.200.000. Dari hasil jerih payahnya bekerja, Lia tetap membagi hasil dengan keluarganya di kampung dengan prosentase sekitar 50%, dan 50 % lagi untuk memenuhi kehidupan bersama keluarga kecilnya di Serpong.

Dalam setiap harinya, 12 jam Lia menghabiskan waktu untuk melayani pembeli di toko. Tepatnya, jam operasional Lia bekerja adalah mulai dari pukul 6.30 WIB hingga pukul 18.00 WIB.  Pekerjaan yang cukup menyita waktu, membuat ia merasa sedikit kelelahan. Ditambah karena toko tempat ia bekerja merupakan tempat yang ramai pembeli. Yang dikerjakannya adalah melipat baju anak dan melayani pembeli. Tidak ada waktu bagi Lia bersantai ria kecuali ketika jam 12 siang, yang digunakan untuk istirahat, sholat dan makan. Hambatan lainnya adalah ketika suami atau mertua Lia sakit. Jika hal demikian terjadi, maka Lia izin tidak kerja untuk mengurusinya. Meski demikian, Lia tidak mudah mengeluh dan semangat menjalani pekerjaannya.

Pemilik toko tempat Lia bekerja adalah Bapak Azwar, seorang rantauan yang berasal dari Sumatra Barat (Padang) yang sebelumnya adalah pedagang di Jakarta, yang kemudian pada 10 tahun yang lalu memutuskan untuk pindah ke Serpong dan memulai lagi dari awal usaha dagang bajunya. Bermunculannya toko- toko baru sehingga persaingan semakin ketat, berdirinya mall- mall di Jakarta yang dekat dengan wilayah pasar adalah alasan Bapak Azwar pindah berdagang ke Serpong. Serpong yang masih pasar rakyat dan jauh dari mall, begitulah tutur Bapak Azwar.

10 tahun mengadu nasib di Serpong, Pak Azwar telah memiliki 2 pelayan toko yang membantunya bekerja di toko. Salah satu dari pelayan toko tersebut adalah Lia Augustiani. Pria yang berencana menambah 2 pelayan toko ini mengatakan bahwa Lia adalah sosok yang ramah dan hangat. Dalam kinerja bekerja, ia menilai bahwa Lia memiliki kinerja kerja yang sangat bagus, professional, rajin, pintar melayani pembeli dan ramah terhadap pembeli. Tentunya dengan kinerja yang bagus tersebut, akan memudahkan Pak Azwar menjalani usahanya.

Mengamati toko "Bunda" memang tak sepi dari pembeli. Pembeli datang dan pergi silih berganti membeli keperluan untuk bayi. Salah satu pembeli sekaligus pelanggan toko ini Ibu Iyus. Telah berlangganan selama 10 tahun, Ibu Iyus merasa tak pernah dikecewakan dengan produk maupun pelayanan toko. Barang- barang yang dijual bagus, kualitas baik, harga yang terjangkau dan ditambah dengan pelayanan dari pelayan toko sangat ramah membuat Ibu Iyus nyaman dan menjadi pelanggan toko. Ibu Iyus mengatakan bahwa ia sangat puas akan pelayanan dari Lia. Ramah, hangat dan bersahabat yang dirasakan Ibu Iyus ketika dilayani Lia.

 

(Lia Agustiani mengenakan kerudung krem. Sedang yang mengenakan baju hitam dan abu- abu adalah pembeli.)        

 

Berdasarkan wawancara dan pengamatan bagaimana Lia Agustiani bekerja, menjadi buruh memang tidaklah mudah. Buruh pelayan toko seperti Lia, harus mengerahkan segala energi yang ia punya untuk bekerja, melayani pembeli dengan ramah walau sebenarnya letih tak dapat dihindari. Maka untuk bertahan hidup dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik, kita harus berusaha, bekerja keras dan pantang menyerah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Kesimpulan dari hasil wawancara kelompok kami yaitu kami sengaja memilih untuk mewawancarai beberapa buruh yang berbeda, kami mengambil dari golongan buruh yang terlatih, dan tidak terlatih. Karena menurut kami buruh itu tidak hanya sebagai kuli bangunan saja, buruh, pekerja, worker, laborer, tenaga kerja atau karyawan pada dasarnya adalah manusia yang menggunakan tenaga dan kemampuannya untuk mendapatkan balasan berupa pendapatan baik berupa uang maupun bentuk lainnya kepada Pemberi Kerja atau pengusaha atau majikan.

Buruh adalah mereka yang berkerja pada usaha perorangan dan di berikan imbalan kerja secara harian maupun borongan sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak, baik lisan maupun tertulis, yang biasanya imbalan kerja tersebut diberikan secara harian.

Pada dasarnya, buruh, Pekerja, Tenaga Kerja maupun karyawan adalah sama. Namun dalam kultur Indonesia, "Buruh" berkonotasi sebagai pekerja rendahan, hina, kasaran dan sebagainya. sedangkan pekerja, Tenaga kerja dan Karyawan adalah sebutan untuk buruh yang lebih tinggi, dan diberikan cenderung kepada buruh yang tidak memakai otot tapi otak dalam melakukan kerja. akan tetapi pada intinya sebenarnya keempat kata ini sama mempunyai arti satu yaitu Pekerja. Hal ini terutama merujuk pada Undang-undang Ketenagakerjaan, yang berlaku umum untuk seluruh pekerja maupun pengusaha di Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Raho, Bernard. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher

Adang, A Yesmil. 2013. Sosiologi Untuk Universitas. Bandung: Rafika Aditama

https://www.google.co.id/#q=pengertian+buruh

                                                                           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini