Selasa, 29 Desember 2015

TUGAS UAS Jurnalistik & KPI SEMESTER 1

TUGAS UAS SEMESTER 1

Nama : Suci Nurhaliza Hermawati (11150510000016)–Jurnalistik 1/A

              Fatia Nurul Ismi (11150510000046) – KPI 1/A

              Aisyah Yuliyanti (11150510000055) - KI 1/B

             

 

TEORI KARL MARX – SEKOLAH ELIT DAN NON ELIT

 

I.                   PENDAHULUAN

 

A.    Mengapa gejala sosial penting ditulis/diteliti?

Penelitian adalah usaha memperoleh fakta atau prinsip dengan cara mengumpulkan dan menganalisis data (informasi) yang dilaksanakan dengan jelas, teliti, sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan.

Penelitian merupakan salah satu cara yang dilakukan individu atau kelompok untuk mencari informasi, ilmu pengetahuan baru, menguji teori yang sudah ada dengan menggunakan metode ilmiah.

Penelitian muncul berawal dari adanya suatu masalah yang timbul di lapangan maupun sesuatu yang masih menjadi pertanyaan bagi peneliti dan masyarakat. Setiap penelitian sosial yang dilakukan sangat besar manfaatnya bagi kehidupan masyarakat. Melakukan penelitian pada intinya adalah untuk mencari jalan keluar suatu masalah secara ilmiah. Selain mampu memecahkan masalah-masalah sosial, penelitian mampu menemukan ilmu pengetahuan baru yang mampu meningkatkan kemajuan bangsa. 

Gejala sosial penting diteliti sebab dengan penelitian kita dapat mengidentifikasi suatu masalah secara sistematik. Peneliti maupun masyarakat luar dapat menerapkan hasil penelitian tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kita juga dapat mengetahui sistem kerja objek-objek yang menjadi bahan penelitian.

Hasil dari sebuah peneitian juga dapat membantu menemukan kebijakan-kebijakan untuk menyelesaikan suatu masalah dalam program-program yang sedang dicanangkan sehingga dapat meningkatkan kinerja pelaksana program tersebut. Dengan melakukan penelitian sosial kita juga dapat memberikan sumbangan pemikiran agar hasil penelitian mampu mendorong perubahan yang progresif. Hasil penelitian juga sangat bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan objek penelitian.

 

B.     Landasan Teori – Karl Marx

 

Menurut Marx masyarakat menggunakan Negara dan hukum untuk mendominasi kelas proletar. Konflik atar kelas sosial terjadi melalui proses produksi sebagai salah satu kegiatan ekonomi dimana dalam proses produksi sebagai salah satu kegiatan ekonomi dimana dalam produksi terjadi kegiaan pengeksplotasian terhadap kelompok proletar oleh kelompok borjuis. Perubahan sosial justru membawa dampak yang buruk bagi nasib kaum buruh(proletar) karena perubahan sosial yang berdampak pada semakin banyaknya umlah penduduk. Pertambahan jumlah penduduk akan menyulitkan kehidupan kelompok proletar karena tuntutan akan lapangan pekerjaan semakin tinggi sementara jumlah lapangan kerja yang tersedia tidak bertambah.

Semakin memburuknya kaum proletar dan semakin timpngnya kesenjagan ekonomi, maka gejala ini mendorong jaum proletar untuk melakukan perlawanan dalam bentuk revolusi sosial dengan tujuan menghapus kelas-kelas sosial yang dianggap sebagai biang ketidakadilan. Dalam teori Marx disebutkan bahwa keadilan sosial akan tercapai jika kehidupan masyarkat tanpa kelas dapat diwujudkan

Dalam masyarakat kita terdapat struktur-struktur yang kurang cukup diuraikan garis-garisnya yang jelas untuk dapat disebut kelompok. Akan tetapi meskipun demikian menunjukan beberapa aspek kelompok. Kita menyebutnya pengelompokan, diantaranya yang palin menonjol adalah golongan dan kelas. Suatu masyarakat menunjukan suatu struktur-golongan jika terdiri dari suatu penumpukan vertical dri kelompok sosial yag tidak aka sama nilainya, saling membedakan diri dengan prestise sosial yang berbeda-beda, suatu gaya hidup yang berbeda-beda dan suatu pembagian hak yang tidak sama. suatu struktur kelas terdapat dalam suatu masyarakat yang terutama terdiri dari kelompok-kelompok yang pada suatu system pemilikan yang pada pokonya individual, secara sosial tidak sama nilainya, oleh karena mereka pada pasaran kerja dan pasaran barang, dimana mereka memiliki kepentingan yang bertentangan, menempati posisi-pasaran yang berbeda-beda kekuatanya. 

Selain dalam masalah perekonomian, konflik antar kelas yang dikemukakan oleh Karl Marx dapat dilihat juga dalam dunia pendidikan. Contoh nyatanya adalah banyaknya didirikan sekolah-sekolah elit ditengah-tengah masyarakat. Persaingan antar  kelas sosial pun terjadi. Masyarakat tentu akan lebih memilih sekolah-sekolah yang mempunyai kualitas yang lebih baik dan fasilitas yang lebih menunjang meskipun harus membayar mahal. Namun tentu saja sekolah tersebut hanya dapat dinikmati oleh anak-anak yang berasal dari keluarga kaya atau borjuis. Sementara anak-anak yang berasal dari keluarga miskin atau ploretar tidak dapat menikmatinya. Sehingga hal ini menimbulkan kesenjangan sosial yang sangat nyata di dalam masyarakat.

 

C.    Metode Penelitian

Metode penelitian yang kami gunakan berupa penelitian lapangan (field research) yang dilakukan dengan mengambil sumber data di lapangan. Kami meneliti berbagai macam perbedaan antara tingkatan kelas dari mulai sekolah elit sampai non-elit.

Penelitian ini dilakukan di Jakarta Internasioal Multicurtural School (JIMS), SMA-SMK Triguna Utama dan   . Selain meneliti gejala sosial yang ada di sekolah tersebut, kami juga mewawancari beberapa narasumber diantaranya para guru dan siswa-siswi sekolah tersebut.

 

II.               GAMBARAN LOKASI

 

a.      SMA Al-Hasyimiyyah

SMA AL-Hasyimiyyah adalah sebuah sekolah yayasan yang pendirinya bernama Bani Hasyim. Tingkatan belajar yang ada disekolah ini dimulai dari Taman Kanak-kanak, SMP, Pesatren (bagi yang ingin mukim) dan SMA. SMA ini berlokasi di Kota Tangerang. Menurut pengakuan masyarakat sekitar, SMA ini bisa dikatakan SMA non-elit, dikarenakan bangunannya yang kumuh, akses jalan yang susah dijangkau, minimnya peminat setiap tahun dan biasanya yang bersekolah disini adalah orang tua yang penghasilanya dibawah rata-rata.

 

b. SMA Triguna Utama

 

SMA Triguna Utama berlokasi di Jl. Ir. H. Juanda KM. 2 Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Berawal dari  berdirinya Yayasan Pembangunan Madrasah Islam dan Ikhsan yang menyelenggarakan pendidikan sekolah Madrasah tingkat SD, SMP, STM dan SMA. Kemudian berkembang dengan spesialisasi masing-masing menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN, sekarang UIN), Madrasah Pembangunan dan SMP-SMA-SMK Triguna.

Pada tahun 1986, SMK-SMA berubah nama mejadi Triguna Jaya karena berada di bawah naungan Yayasan Perguruan Triguna Jaya. Pada tahun 2000, Yayasan Triguna Jaya meutuskan untuk tidak menyelenggarakan pendidikan tingkat SMP. Kemudian pada tahun 2002, Yayasan berubah nama menjadi Yayasan Perguruan Triguna Utama sehingga SMA-SMK pun berubah nama menjadi SMA-SMK Triguna Utama.

 

 

c. Jakarta Internasional Multicurtural School

 

JIMS berlokasi di Jl. Pisangan Raya No 99, Cirendeu, Ciputat Timur. Terletak di 1,5 hektar lahan di lingkungan yang aman dan hijau yang menawarkan fasilitas yang sangat baik.

Sekolah ini didirikan pada tahun 1995 dengan nama Jakarta International Montessori School. Kemudian pada tahun 2007 diambil alih oleh PT.Daya Multibudaya dan nama sekolah diubah menjadi Jakarta Internasional Multicurtural School (JIMS).

JIMS adalah sebuah sekolah International Baccalaureate (IB) dan juga terdaftar di Cambridge International Centre (CIC) dengan University of Cambridge International Examinations (CIE). Siswa JIMS berasal dari berbagai bangsa. Sekolah ini menggunakan kurikulum Cambridge yang membantu siswa-siswinya untuk mengembangkan kesadaran multikultural dan apresiasi yang memperkaya studi mereka.

Sekolah ini mempunyai motto "Expanding Horizons, Valuing Diversity and Connecting Minds" yang berlaku untuk siswa, guru dan seluruh staf sekolah. Tenaga pengajar di Jakarta Internasional Multicurtural School (JIMS) merupakan guru-guru serta praktisi yang sangat berpengalaman dari Asia, Eropa dan Amerika.

 

 

 

III.            ANALISIS HASIL

 

Pendidikan telah menjadi pusat perhatian kepentingan-kepentingan kuat yang bersaingan. Banyak orangtua yang sangat menginginkan anaknya mendapat suatu pendidikan yang baik, yaitu pendidikan yang memungkinkan mereka mendapat kualifikasi tinggi dan pekerjaan yang berupah tinggi.

Sistem-sistem pendidikan juga dipersalahkan telah menambah ketimpangan-ketimpangan sosia dan ekonomi karena sistem itu memisahkan anak-anak satu ras dan satu agama dari yang lainnya atau karena anak-anak dari keluarga miskin tidak sama berhasilnya dalam memperoleh kualifikasi pendidikan seperti anak-anak dari keluarga yang kaya raya.

Di Indonesia yang saat ini sedang dilanda berbagai macam krisis yang berkepanjangan, timbulnya kesenjangan social yang sangat dalam antara kelompok masyarakat miskin dan kelompok masyarakat yang kaya sangat sulit untuk dihindari.

Saat ini sangat terlihat jelas bahwa di Indonesia ada banyak sekali sistem pendidikan yang menyebabkan kesenjangan antara murid-murid yang berasal dari keluarga kaya dengan murid yang berasal dari keluarga miskin atau keas menengah ke bawah. Hal ini dapat kita lihat dari perbedaan yang sangat signifikan antara sekolah elit dan sekolah non-elit.

Berdasarkan hasil penelitian kami terhadap ketiga sekolah yang memiliki kelas sosial yang berbeda, kami menemukan banyak sekali perbedaan antara sekolah-sekolah tersebut.

Pertama, kami meneliti salah satu sekolah swasta yang tergolong non-elit di kawasan Tangerang, yaitu SMA Al-Hasyimiyyah. Sistem pembelajaran yang berada di SMA tersebut adalah belajar di kelas dan di luar kelas. Biasanya, pembelajaran diadakan di luar kelas apabila berlangsung mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Kemudian latar belakang guru-guru yang mengajar adalah S1 dari perguruan tinggi negeri maupun perguruan tinggi swasta yang berada di Jabotabek.

Bagi sekolah Non-elit tentunya harus mempunyai strategi khusus untuk tetap berdiri dan mempunyai cara untuk menghadapi persaingan dengan sekolah lain yang mutu dan kualitasnya sangat bagus. SMA ini mempunyai cara tersendiri yaitu meningkatkan program pengajaran untuk siswa agar siswa mempunyai kualitas berdaya saing tinggi dengan siswa sekolah lain, kemudian meningkatkan estrakulikuler. Kegiatan eksrakurikuler disini belum begitu banyak macamnya, karena baru ada paskibraka, drumband dan marawis di SMA ini. Harapan guru-guru dengan estrakulikuler yang sudah ada dapat membawa nama baik sekolah dengan kemenangan dan keaktifan ekstrakulikuler diluar sekolah berikutnya meningkatkan kedisiplinan guru dan siswa.


Namun meski tergolong non-elit, SMA Al-Hasyimiyyah telah meraih beberapa prestasi, seperti Juara Gerak Jalan Tingkat Kota, Juara Marawis antar SMA dan juara futsal antar SMA.

Murid-murid di sini juga disediakan tabungan untuk mereka menabung yang suatu saat ketika mereka butuh mereka bisa mengambil lewat wali kelas masing-masing. Beda halnya dengan sekolah kalangan atas yang mungkin mereka sudah menggunakan system ATM. Berdasarkan hasil wawancara terhadap masyarakat sekitar, sekolah ini dikatakan sekolah yang kurang peminat dan menjadi tujuan terakhir bila anaknya tidak masuk di sekolah negeri favorit. Sekolah ini pun belum ada pengamananya seperti satpam di gerbang sekolah yang membuat para siswa  bisa kabur ketika pelajaran berlangsung dan ketika bel kelas mereka bisa seenaknya masuk tanpa dihukum di gerbang. Meski keamanannya yang masih rendah, belum pernah ada kasus kejahatan yang terjadi di sekolah ini.

Namun kelebihan dari sekolah ini adalah penanganan yang cepat jika murid bermasalah seperti tidak masuk sekolah, belum bayaran spp, dan terkena kasus disekolah. Selain itu, guru-guru yang mengajar  mau menjadi sukarelawan untuk dikarenakan keterbatasan staf pengajar.

Sekolah lain yang menjadi bahan penelitian kami adalah SMA-SMK Triguna Utama yang kelas sosialnya satu tingkat lebih atas daripada sekolah non-elit yang telah dibahas. SMA-SMK Triguna Utama berlokasi di Jl. Ir. H Juanda KM.2 Ciputat, Tangerang. Berbeda dengan sekolah sebelumnya, SMA-SMK Triguna Utama telah melengkapi fasilitas belajar mengajar, meliputi: laboratorium bahasa, laboratorium komputer, laboratorium IPA, bengkel ketrampilan, perpustakaan, dan tentu saja sarana serta lapangan olah raga. Bahkan, di sekolah ini pun tersedia studio musik lengkap dengan peralatan band.

  

SMA Triguna Utama juga merupakan sekolah yang sarat akan prestasi, diantaranya adalah Juara 1 lomba Futsal antar SMA se-Jabodetabek di STIE Ahmad Dahlan dan di UIN Jakarta. Sementara SMK Triguna Utama meraih juara 1 LKS Bidang Otomotif, juara 2 Tingkat Provinsi Banten dn juara 5 Tingkat Nasional.

Sementara itu sekolah elit adalah sekolah yang dianggap berkualitas dan unggul serta merupakan sekolah favorit yang menggunakan fasilitas teknologi canggih yang bertujuan memodernisasikan pendidikan walaupun dengan biaya yang tidak sedikit. Sekolah elit akan terus menerus mereproduksi system pendidikan dengan jalan melengkapi atau menambah setiap fasilitas yang ada di sekolah tersebut. Dalam hal ini sekolah elit akan menjadi alat kesenjangan sosial. Salah satu sekolah yang termasuk elit adalah Jakarta International Multicultural School (JIMS).

  




Sekolah ini menerapkan sistem pendidikan berstandar Internasional. Suasana di dalam sekolah pun terasa lebih berbeda jika di bandingkan dengan sekolah-sekolah sebelumnya.

Bangunannya yang megah dan fasilitas yang jauh lebih baik membuat sekolah ini semakin terkesan mewah. Selain itu, berbeda dengan sekolah-sekolah sebelumnya, JIMS menyelenggarakan pendidikan dengan memfokuskan penggunaan bahasa Internasional, bahasa Inggris.

Selain itu, para guru yang mengajar di sekolah ini pun adalah para guru yang sangat kompeten bahkan seorang praktisi yang sangat berpengalaman di bidangnya. Tenaga pengajar di sekolah ini pun banyak lulusan bahkan berasal dari Asia, Eropa dan Amerika.

Dengan sistem pendidikan berstandar Internasional dengan kurikulum Cambridge serta fasilitas yang jauh lebih canggih dan lebih baik dari sekolah-sekolah sebelumnya menjadikan siswa-siswi JIMS lebih fasih dalam menggunakan bahasa Inggris serta meraih prestasi yang jauh lebih baik.

Prestasi-prestasi itu bahkan tidak hanya di dalam negeri, bahkan di luar negeri pun mereka mampu meraih prestasi. Tentu saja dengan segudang kelebihan yang dimiliki menjadikan Jakata Internatonal Multicultural School (JIMS) mengharuskan para orangtua harus membayar SPP jauh lebih mahal untuk menyekolahkan anaknya di sini. Tak heran, siswa-siswi yang bersekolah di JIMS merupakan anak-anak yang berasal dari keluarga kaya raya, keluarga para kaum borjuis, bukan proletar.

Globalisasi menyeret kita ke dalam kemajuan zaman. Siap atau tidak, kita akan dihadapkan pada persaingan yangat kompetitif yang membutuhkan kemampuan intelektualitas yang tinggi. Hal ini tidak terlepas dari fungsi sekolah sebagai lembaga pendidikan yang diharapkan mampu mencetak manusia-manusia yang berkualitas dan mampu bersaing secara sehat.

Karena itulah, saat ini banyak bermunculan lembaga-lembaga pendidikan yang menyelenggarakan sekolah elit yang menawarkan fasilitas lengkap, pengajar professional, kurikulum yang jauh lebih unggul dan sebagainya. Segala kelebihan yang ditawarkan tersebut tentunya harus diimbangi dengan biaya yang cukup tinggi yang harus dikeluarkan.

Sekolah elit yang akhir-akhir ini menjadi fenomena sosial yang cukup menarik. Sekolah-sekolah tersebut kerap memasang label "Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional", "Sekolah Unggulan", atau "Internasional School". Para orang tua tentu akan lebih memilih sekolah tersebut untuk menyekolahkan anaknya meskipun SPPnya tentu lebih mahal. Karena memerlukan biaya yang besar, sekolah seperti ini umumnya diselenggarakan oleh pihak-pihak swasta. Namun tidak menutup kemungkinan juga ada banyak sekolah swasta yang tidak tergolong "unggulan" atau "elit".

Keberadaan sekolah elit di tengah-tengah masyarakat sangat berpengaruh terhadap eksistensi sekolah-sekolah non-elit atau menengah ke bawah. Kelengkapan fasilitas yang dimiliki oleh sekolah elit tentu sangat menunjang berlangsungnya kegiatan belajar mengajar dengan baik. Para siswa akan lebih mudah menerima pelajaran dibimbing oleh tenaga pendidik yang sangat terampil dan professional.

Berbeda dengan sekolah-sekolah non-elit yang tidak memiliki fasilitas yang lengkap dan memadai. Mereka melangsungkan kegiatan belajar mengajar dengan fasilitas seadanya. Namun meski begitu, siswa-siswinya tetap dapat mengikuti pelajaran dengan baik.

Namun, pada umumnya siswa-siswa sekolah elit memiliki prestasi belajar yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan siswa-siswa sekolah non-elit. Hal ini dikarenakan dalam sekolah elit ditunjang oleh guru yang lebih berkualitas dan fasilitasnya lebih memadai. Tak jarang, sekolah elit memiliki banyak sekali guru yang sudah sangat kompeten di bidangnya dan merupakan lulusan dari perguruan tinggi-perguruan tinggi terbaik di Indonesia, guru yang lulusan luar negeri atau bahkan mendatangkan guru-guru yang asli berasal dari negara-negara tertentu seperti Jakarta Internasional Multicultural School (JIMS) yang tenaga pengajarnya merupakan praktisi yang berpengalaman dari Asia, Eropa dan Amerika.

Alumni-alumni sekolah elit cenderung lebih mudah untuk masuk ke perguruan tinggi sebab mereka mempunyai banyak relasi dengan perguruan tinggi untuk mendapatkan informasi mengenai penerimaan mahasiswa baru. Sementara sekolah non-elit atau sekolah dengan kelas sosial dibawahnya, lulusannya cenderung lebih memilih bekerja dengan kemampuan seadanya. Hal ini disebabkan pihak sekolah kurang mendapatkan informasi karena kurang memiliki relasi ke perguruan tinggi. Dengan kata lain bahwa siswa-siswi sekolah elit mempunyai kesempatan lebih besar untuk masuk ke perguruan tinggi dibanding siswa-siswi yang berasal dari sekolah non-elit.

Perbedaan lain yang lumayan mencolok dari sekolah elit dan sekolah non-elit dapat terlihat dari gaya atau penampilan siswa-siswinya. Peserta didik akan menyatakan kelas sosialnya dari merek sepatu, jam tangan, handphone, kendaraan serta aksesoris yang ia pakai. Siswa sekolah elit tentu saja menggunakan barang-barang kelas atas dibanding dengan siswa sekolah non-elit yang memakai aksesoris atau barang-barang yang seadanya. Siswa non-elit rata-rata berangkat ke sekolah dengan menggunakan angkutan umum, atau bahkan jalan kaki. Jarang sekali siswa dating dengan membawa kendaraan, jikapun ada maka jumlahnya sedikit. Sementara jika kita melihat siswa-siswa di sekolah elit maka kita akan melihat kebanyakan dari mereka dating dan dijemput menggunakan mobil pribadi.

Sebenarnya, apa yang mereka pakai secara sadar atau tidak tentunya sesuai dengan lingkungan dan posisi mereka di dalam masyarakat. Pilihan jenis olahraga, musik, atau les tambahan tertentu juga dapat mengungkapan ke-khasan pada kelompok sosial tertentu.

Para murid sekolah elit kebanyakan tinggal di daerah yang cukup jauh dari sekolah. Hal ini karena orang tua yang berasal dari kelas menengah ke atas lebih memikirkan kualitas sekolah meskipun letaknya jauh dari rumah. Namun, siswa-siswi di sekolah non-elit rata-rata tinggal tidak jauh di sekitar sekolah. Karena para orang tua yang berasal dari kelas menengah ke bawah hanya memikirkan "yang penting sekolah" sehingga tidak memikirkan kualitas sekolah yang dipilih.

Sekolah sebenarnya menjadi medan kesenjangan sosial bagi pelaku sosial menengah ke atas dan menengah ke bawah. Di dalam sekolah, dituntut pemenuhan standar bagi pelaku pendidikan demi pengakuan sosial dalam masyarakat tanpa memikirkan latar belakang peserta didik yang berbeda. Hal ini menyebabkan murid-murid sekolah elit yang berasal dari kalangan menengah ke atas akan lebih menonjol dibandingkan murid-murid sekolah non-elit karena sarana sekolah di sekolah non-elit tidak selengkap sarana di sekolah elit. Kelengkapan sarana dan prasarana di sekolah elit juga merupakan hasil dari bantuan orang tua murid yang memiliki keuangan cukup besar sehingga dapat membuat fasilitas-fasilits yang ekstra, yang jauh lebih baik dari sekolah-sekolah lain.

Kesenjangan antara sekolah elit dan non-elit sangat dirasakan oleh siswa-siswi yang berasal dari kalangan non-elit. Para siswa sekolah non-elit sering kali tidak percaya diri dengan apa yang dimilikinya mereka takut menjadi bahan olokan karena seragam yang mereka pakai seadanya dan kemampuan yang mereka punya hanya sebatas yang guru ajarkan. Mereka belajar di tempat-tempat bimbingan belajar seperti yang dilakukan oleh siswa-siswi elit.

Hal ini tentu sangat sesuai dengan teori Karl Marx bahwa kelas-kelas yang dianggap sebagai kelompok sosial yang mempunyai kepentingan sendiri yang bertentangan satu sama lain. Teori tersebut memandang masyarakat terdiri dari dua kelas berdasarkan kepimilikan sarana dan alat produksi yaitu kelas borjuis dan kelas proletar. Kelas borjuis adalah kelompok yang mempunyai sarana dan alat produksi yang dalam hal ini adalah perusahaan sebagai modal dalam usaha. Dan kelas proletar adalah kelas yang tidak memiliki sarana dan alat produksi sehingga dalam pemenuhan akan ekonominya tidak lain hanya menjual tenaganya saja.

Raymond Boudon menjelaskan peningkatan dalam ketimpangan kesempatan pendidikan dengan membahas efek struktual mnyeluruh dari sistem pelapisan sosial bukannya aspek-aspek khas dari masyarakat seperti perbedaan-perbedaan kelas dalam hal motivasi, bahasa dan semacamnya. Penjelasan Boudon pad dasarnya adalah makin tinggi latar belakang sosial seorang anak, makin cenderung dia untuk tetap melanjutkan pendidikan. Akibatnya makin banyak tahap dan pilihan terdapat dalam pengajaran, makin cenderung anak-anak dengan latar belakang kelas sosial tinggi menguasai tahap-tahap akhir pendidikan.

Sekolah-sekolah elit juga sering ditemukan berbagai program unggulan yang ditawakan kepada para peserta didik yang sangat jarang ditemukan di sekolah-sekolah non-elit. Program-program unggulan tersebut seperti program akselerasi atau program kelas bilingual. Dengan adanya sistem seperti ini tentu saja hanya murid-murid yang berasal dari kelas atas yang bisa merasakan program unggulan tersebut.

Berkembangnya sekolah-sekolah elit atau mahal justru menimbulkan masalah baru, yaitu kecemburuan sosial yang terjadi di masyarakat. Ironis memang, ketika kondisi masyarakat yang semakin terpuruk karena krisis ekonomi dan banyaknya anak-anak yang belum terjamah oleh pendidikan justru sekolah elit semakin merebak perkembangannya terutama di kota-kota besar.

Sekolah-sekolah yang menyandang gelar "sekolah elit" atau "sekolah unggulan" akan membuat sekolah tersebut menjadi eksklusif dan menciptakan kastanisasi karena hanya bisa dimsuki oleh anak-anak kalangan menengah ke atas. Tingginya pembiayaan yang dikenakan pada orang tua siswa membuat sekolah-sekolah tersebut tidak dapat dimasuki oleh anak-anak dari kalangan bawah. Siswa yang belajar di seklah tersebut akan merasa seperti kelompok elit yang berbeda dengan siswa sekolah biasa.

Dampak negatif lain yang berkaitan dengan adanya sekolah elit tentu sangat berkaitan dengan paham hedonisme. Hedonisme adalah paham bahwa kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan hidup. Tentu paham ini sangat tidak sesuai dengan nilai luhur yang ditanamkan oleh orang tua saat kita masih kecil. Pertentangan nilai inilah yang membuat kita harus memlih antara hidup dengan nilai luhur yang sudah ditanamkan atau larut terbawa arus globalisasi yang bahkan merubah ideologi menjadi hedonisme Jika orang tua mau menyekolahkan anakny disekolah mahal hanya untuk gengsi tentu ini bukan lah hal yang baik untuk perkembangan pendidikan di Indonesia.

Keberadaan sekolah elit juga berdampak buruk bagi anak-anak didiknya. Siswa-siswi yang bersekolah di sekolah elit bisa saja menjadi anak-anak yang sombong. Dengan bersekolah di tempat yang elit dan ketika si anak belum cukup pemikirannya untuk menghargai orang lain sikap sombang akan tumbuh secara pesat. Peran orang tua dan guru juga lingkungan sekitar harus bisa membimbing mental anak yang akan terjun ke masyarakat luas agar tetap rendah hati dan bijak dalam bersosialisasi dengan orang lain.

Munculnya stratifikasi sosial juga merupakan salah satu dampak didirikinnya sekolah elit. Akan muncul gengsi dan merasa sekolah mereka sangat baik dan sekolah lain buruk. Dengan begitu akan muncul golongan golongan yang merasa diri elit dan tidak mau berbaur dalam masyarakat luas. Tentunya ini bukan tidak mungkin akan menimbulkan konflik antar golongan.

Selain itu, dengan adanya sekolah mahal akan sangat memungkinkan menganggu tujuan utama sekolah yang tadinya mendidik malah menjadi brand atau merek dari pendidikan seseorang. Bahkan saat ini mulai ada trend jika siswa masuk ke suatu sekolah tertentu bukan untuk mendapat ilmunya tapi mengejar gelar lulusan sekolah tersebut.

Munculnya sekolah sekolah-sekolah elit tentu akan muncul juga anggapan baru di dalam masyarakat bahwa jika ingin mendapatkan pendidikan yang bagus itu mahal. Dengan perekonomian yang masih banyak pengangguran dan miskin tuntutan pendidikan menjadi terbengkalai dan anak mereka tidak sekolah. Beruntung, hal ini direspon oleh pemerintah untuk mengadakan sekolah gratis yang merupakan sebuah langkah yang baik. Tapi perlu diingat bahwa adanya sekolah gratis dan sekolah mahal tentu saja akan berpengaruh terhadap psikologis anak apalagi yang belum cukup dewasa dan  kurang perhatian orang tua. 

Kehadiran sekolah elit sebenarnya dapat memberikan kesempatan bagi anak untuk bias mendapatkan mendidikan yang berkualitas. Namun terlepas dari itu semuanya, nyatanya hanya anak-anak yang berasal dari kelas menengah ke ataslah yang dapat menikmatinya. Hal ini tentu sangat berpotensi terjadinya ketidak adilan sosial dalam masyarakat. Tapi tidak dapat dipungkiri bahwa di dalam sekolah elit bisa saja terdapat anak-anak yang berasal dari keluarga menengah ke bawah, namun tentu saja jumlanya sangat sedikit. Konsep sekolah elit seperti ini sangat tidak sejalan dengan prinsip keadilan dalam menjalankan sebuah pendidikan.

Banyak anak-anak yang mendambakan untuk dapat bersekolah di sekolah yang memiliki fasilitas lengkap seperti laboratorium, fasilitas olahraga dan perpustakaan yang baik tetapi mereka harus menukarnya dengan harga yang sangat mahal yang tidak mungkin dijangkau orang-orang kelas menengah ke bawah.

Para ahli sosiologi sering mengungkapkan bahwa lingkungan sosial adalah hal yang sangat penting dalam sebuah pengajaran. Orang-orang yang berpegang pada perspektif ini tidak mengingkari bahwa pengajaran terhadap anak-anak dapat diperbaiki melalui suatu lingkungan pengajaran yang baik. Dalam keluarga miskin, dapat dilakukan dengan cara memperbaiki kondisi material atau ekonomi.

Akan tetapi, meskipun keterbatasan ekonomi, tidak berarti anak-anak dari keluarga tidak mampu memiliki keterbatasan intelektual. Mereka hanya belum atau tidak memiliki kesempatan untuk menyalurkan dan mengembangkan kecerdasan yang mereka miliki. Kalaupun mereka diberi kesempatan untuk bersekolah di sekolh elit maka kemungkinan besar mereka akan merasa tidak percaya diri karena lingkungan yang ia hadapi memiliki status sosial yang berbeda dan sumber pendanaan sekolah yang berbeda.

Bila dilihat perbandingan jumlah sekolah yang ada di Indonesia dengan jumlah sekolah elit memang cukup kecil persentasenya. Namun, meskipun kecil tetapi permasalahannya cukup menarik perhatian banyak pihak. Hal ini disebabkan dampak sosial, ekonomi dan psikologi antara golongan menengah ke atas dan golongan menengah ke bawah menciptakan jurang pemisah yang lebar diantara mereka.

Pemerintah juga kurang menaruh perhatian terhadap kesenjangan sosial yang akan menyulitkan pembinaan masyarakat secara menyeluruh. Pemerintah hendaknya memberikan perhatian terhadap setiap sekolah secara adil dan merata sehingga tidak terjadi kesenjangan sosial yang teus-menerus agar setiap anak dapat merasakan pendidikan yang berkualitas.

Padahal pemerintah memiliki peran yang strategis dalam mengurangi kesenjangan yang terjadi di masyarakat terutama dalam dunia pendidikan saat ini. Apabila sekolah unggul benar-benar dilaksanakan maka haruslah unggul dari awal penerimaan siswa, unggul dari sisi akademis dan unggul dalam menciptakan lulusan yang berkualitas tanpa membeda-bedakan status sosial. Maka seharusnya, sekolah-sekolah yang tergolong non-elit atau biasa sajalah yang seharusnya lebih dikembangkan.

Dengan demikian, maka akan banyak sekali bibit-bibit yang sangat potensial di negeri ini yang akan mendapatkan kesempatan baik untuk menempuh pendidikan dengan sarana dan prasarana yang baik tanpa memikirkan dia mampu membayar atau tidak, akan tetapi lebih kearah kemampuannya dalam bersaing secara sehat.

Pendidikan dengan fasilitas lengkap dan biaya mahal juga tidak menjadi jaminan bahwa siswa akan mendapat pendidikan yang terbaik. Tetapi kewajiban kita untuk memberikan pendidikan dan fasilitas terbaik bagi para generasi bangsa. Fasilitas yang biasa saja dan biaya pendidikan yang terjangkau dan tergolong murah pun tidak menutup kemungkinan untuk bisa menghasilkan insan-insan yang berkualitas dan luar biasa.

Tidak ada yang salah dengan pendirian sekolah-sekolah elit. Tetapi, akan lebih bijaksana apabila diberikan juga kepada anak-anak yang kurang mampu namun memiliki kemampuan akademis yang baik agar dapat mengenyam pendidikan di sekolah elit tanpa mengesampingkan kepentingan para pengusaha swasta untuk mendapatkan keuntungan dari pendirian sekolah elit tersebut. Misalnya dengan subsidi silang atau meningkatkan program-program beasiswa yang sampai saat ini terlihat berjalan satu kaki dan enggan untuk diraih. 

Namun, sekarang ini rupanya pemerintah yang meminta pihak swasta untuk memberikan jatah terhadap anak-anak kurang mampu mulai di apresiasi sedikit demi sedikit. Saat ini juga mulai berkembang cara baru yang bisa menjadi salah satu solusi yaitu melaksanakan kompetisi akademis yang hadiahnya berupa beasiswa pendidikan sampai selesai. Walaupun masih sedikit sekolah-sekolah yang melakukan cara ini, namun seiring berjalannya waktu semoga menjadi langkah awal yang baik dalam memberikan kesempatan bagi yang lainnya dalm pengenyam pendidikan di sekolah elit meskipun hal ini masih dirasa belum adil sebab anak-anak dengan kemampuan akademik lebih tinggi yang berasal dari keluarga miskin harus mampu melewati persaingan yang tentu lebih ketat dibanding anak-anak dari leuarga yang mampu.

Upaya lain yang dapat kita lakukan untuk mengatasi masalah ini adalah persamaan antra siswa yang berasal dari keluarga miskin dengan keluarga kaya pada saat seleksi akademik penerimaan siswa baru di sekolah elit atau unggulan. Hal ini bertujuan agar siswa miskin juga dapat merasakan fasilitas pendidikan yang baik sehingga mereka dapat mengembangkan kemampuannya dengan baik.


                        

IV.             KESIMPULAN

 

Globalisasi menyeret kita ke dalam kemajuan zaman. Siap atau tidak, kita akan dihadapkan pada persaingan yangat kompetitif yang membutuhkan kemampuan intelektualitas yang tinggi. Hal ini tidak terlepas dari fungsi sekolah sebagai lembaga pendidikan yang diharapkan mampu mencetak manusia-manusia yang berkualitas dan mampu bersaing secara sehat.

Oleh karena itu, saat ini banyak bermunculan lembaga-lembaga pendidikan yang menyelenggarakan sekolah elit yang menawarkan fasilitas lengkap, pengajar professional, kurikulum yang jauh lebih unggul dan sebagainya. Segala kelebihan yang ditawarkan tersebut tentunya harus diimbangi dengan biaya yang cukup tinggi yang harus dikeluarkan.

Dibalik kualitas sekolah elit yang menawarkan fasilitas-fasilitas yang lebih baik dari sekolah pada umumnya, keberadaan sekolah ini menjadi medan kesenjangan sosial antara orang-orang dengan kelas sosial menengah ke atas dengan orang-orang dengan kelas sosial menengah ke bawah.

Di dalam sekolah, dituntut pemenuhan standar bagi pelaku pendidikan demi pengakuan sosial dalam masyarakat tanpa memikirkan latar belakang peserta didik yang berbeda. Hal ini menyebabkan murid-murid sekolah elit yang berasal dari kalangan menengah ke atas akan lebih menonjol dibandingkan murid-murid sekolah non-elit karena sarana sekolah di sekolah non-elit tidak selengkap sarana di sekolah elit. Pada umumnya juga siswa-siswa sekolah elit memiliki prestasi belajar yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan siswa-siswa sekolah non-elit. Hal ini dikarenakan dalam sekolah elit ditunjang oleh guru yang lebih berkualitas dan fasilitasnya lebih memadai.

Namun, dengan didirikannya sekolah-sekolah elit di tengah masyarakat juga sebenernya membawa dampak negatif bagi anak-anak didiknya. Siswa-siswi yang bersekolah di sekolah elit bisa saja menjadi anak-anak yang sombong. Dengan bersekolah di tempat yang elit dan ketika si anak belum cukup pemikirannya untuk menghargai orang lain sikap sombang akan tumbuh secara pesat.

Pemerintah juga seharusnya bisa memberikan perhatian yang lebih terhadap sekolah-sekolah non-elit agar siswa-siswi yang bersekolah di sekolah tersebut mampu berkompetisi secara sehat dengan siswa-siswa yang berasal dari sekolah elit sehingga terjadi kemerataan pendidikan bagi anak-anak bangsa. Dengan demikian, anak-anak Indonesia dapat merasakan pendidikan yang baik tanpa harus mengeluarkan biaya yang mahal.

Memang tidak ada yang salah dengan didirikannya sekolah-sekolah elit. Tetapi, akan lebih bijaksana apabila diberikan juga kepada anak-anak yang kurang mampu namun memiliki kemampuan akademis yang baik agar dapat mengenyam pendidikan di sekolah elit tanpa mengesampingkan kepentingan para pengusaha swasta untuk mendapatkan keuntungan dari pendirian sekolah elit tersebut. Misalnya dengan subsidi silang atau meningktkan program-program beasiswa yang sampai saat ini terlihat berjalan satu kaki dan enggan untuk diraih. 

 

 

V.                DAFTAR PUSTAKA

 

Worsley,Peter.1991.Pengantar Sosiologi:Sebuah Pembanding. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya

 

Kolip, Usman.2011..Pengantar Sosiologi.Jakarta: Kencana Prenadamedia Group


Bouman,P.J.1982.Sosiologi Fundamental.Jakarta: Djambatan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini