Selasa, 17 September 2013

Rizka Fitriana Sari KPI 1C_Tugas 2_Emile Durkheim

Emile Durkheim
A.   Suicide
 
Studi Durkheim tentang bunuh diri adalah contoh paradigmatis dari bagaimana
seharusnya sosiologi menghubungkan teori dan penelitian (Merton, 1968). Dia menyatakan bahwa tujuannya dalam studi ini untuk mengetengahkan sebuah contoh metode disiplin sosiologi yang baru lahir ini. Durkheim memilih studi bunuh diri karena persoalan ini relatif merupakan fenomena konkret dan spesifikasi dimana tersedia data yang bagus secara komparatif. Alasan utama Durkheim melakukan studi bunuh diri ini, untuk menunjukkan kekuatan disiplin sosiologi.
            Durkheim tidak terlalu fokus mempelajari mengapa orang melakukan bunuh diri. Durkheim hanya tertarik untuk menjelaskan perbedaan angka bunuh diri, mengapa suatu kelompok memiliki angka bunuh diri lebih tinggi dibandingkan kelompok lain. Durkheim mengasumsikan bahwa hanya fakta sosial yang bisa menjelaskan hal tersebut.
            Durkheim menawarkan dua cara yang saling berhubungan. Cara pertama, membandingkan suatu tipe masyarakat/krlompok dengan tipe yang lain. Cara kedua, melihat perubahan angka bunuh diri dalam sebuah kelompok dalam suatu rentang waktu. Jika ada perbedaan angka bunuh diri, maka menurut Durkheim perbedaan tersebut adalah akibat dari perbedaan faktor-faktor sosial, ringkasnya, arus sosial.
            Durkheim memulai suicide dengan menguji dan menolak serangkaian pendapat alternatif tentang penyebab bunuh diri. Di antaranya, psikopatologi individu, alkoholisme, ras, keturunan, iklim. Yang penting adalah metode empirisnya dalam menyisihkan faktor-faktor yang berada di luar dan tidak relevan agar bisa mendapatkan yang dianggap sebagai penyebab bunuh diri. Durkheim juga menguji dan menolak teori imitasi yang dikemukakan oleh seorang teoretikus yang sezaman dengannya, psikolog sosial asal Prancis, Gabriel Tarde (1843-1904). Teori imitasi mengatakan seseorang melakukan bunu diri karena meniru tindakan orang lain. Pendekatan sosiologi ini adalah saingan utama bagi fokus Durkheim mengenai fakta sosial. Durkheim mengatakan bahwa jika imitasi memang penting, maka kita akan menemukan bahwa bangsa-bangsa yang hidup berdekatan dengan angka bunuh diri yang tinggi, juga akan memiliki angka bunuh diri yang tinggi.
           Durkheim menyimpulkan bahwa faktor terpenting dalam perbedaan angka bunuh diri akan ditemukan dalam perbedaan level fakta sosial. Kelompok yang berbeda memiliki sentimen yang berbeda sehingga menciptakan arus sosial yang berbeda pula. Arus sosial itulah yang memengaruhi keputusan seorang individu untuk bunuh diri.
 Empat Jenis Bunuh Diri
         Teori bunuh diri Durkheim dapat dilihat dengan dua fakta sosial utamanya – integritas dan regulasi. Integritas  kuat merujuk pada tidaknya keterkaitan dengan masyarakat. Regulasi merujuk pada tingkat paksaan eksternal dirasakan individu. Menurut Durkheim, dua arus sosial tersebut adalah variabel yang saling berkaitan dan angka bunuh diri meningkat ketika salah satu arus menurun dan yang lain meningkat.
           Bunuh Diri Egositis, Tingginya angka bunuh diri egositis dapat ditemukan dalam masyarakat atau kelompok dimana individu tidak berinteraksi dengan baik dalam unit sosial yang luas. Durkheim percaya bahwa bagian paling baik dari manusia –moralitas, nilai, dan tujuan kita- berasal dari masyarakat.
                                 Rendah                 Bunuh diri egositis
Integrasi                    Tinggi                  Bunuh diri altruistis
                                 Rendah                 Bunuh diri anomik
Regulasi                   Tinggi                   Bunuh diri fatalistis
 
Jika integrasi yang meningkat, Durkheim mengelompokkannya jadi bunuh diri altruistis. jika integrasi menurun, akibatnya peningkatan bunuh diri egoistis. Bunuh diri fatalistis berkaitan dengan regulasi yang tinggi, bunuh diri anomik adalah rendahnya regulasi.
            Bunuh Diri Altruistis, Bunuh diri altruistis terjadi ketika "integrasi sosial sangat kuat" (Durkheim, 1897/1951:217). Contohnya, bunuh diri massal dari pengikut pendeta Jim Jones di Jonestown, Guyana, 1978. Mereka memperoleh racun sembunyi-sembunyi lalu menenggaknya kemudian diikuti oleh anak-anak mereka. Bunuh diri altruistis makin banyak terjadi jika "makin banyak harapan yang tersedia, karena bergantung pada keyakinan akan adanya sesuatu yang indah setelah hidup di dunia."
            Bunuh Diri Anomik, Terjadi ketika regulasi masyarakat terganggu. Gangguan itu membuat masyarakat tidak puas karena lemahnya kontrol terhadap nafsu mereka.
            Bunuh Diri Fatalistis, Terjadi ketika regulasi meningkat. Durkheim(1897/1951:276) menggambarkan, seseorang yang masa depannya telah tertutup dan nafsu yang tertahan oleh disiplin yang menindas. Contohnya, budak yang menghabisi hidupnya karena putus asa, karena regulasi yang menekan setiap tindakan. Durkheim berpendapat bahwa arus sosial dapat mempengaruhi angka bunuh diri. bunuh diri individual dilandasi oleh arus egoisme, altruisme, anomi, dan fatalisme.
Angka Bunuh Diri dan Reformasi Sosial
           Durkheim mengakhiri studinya tentang bunuh diri dengan sebuah pembuktian apakah reformasi bisa diandalkan untuk mencegah bunuh diri. Usaha yang selama ini dilakukan untuk mencegah bunuh diri gagal karena ia dilihat sebagai problem individu. Usaha  langsung untuk meyakinkan individu agar tidak melakukan bunuh diri ternyata sia-sia, karena penyebab riilnya justru ada dalam masyarakat.

B.     The Rules of Sosiological Method(1895/1982)
Durkheim menyatakan bahwa tugas utama sosiologi adalah mengkaji apa yang disebut sebagai fakta sosial. Ia mengonsepkan fakta sosial sebagai kekuatan (Takla dan Pope, 1985) dan struktur yang ada di luar namun memiliki daya paksa terhadap individu..
Teori tentang fakta sosial:
1.  Fakta Sosial material
Durkheim melihat fakta sosial berada di sepanjang kontinum hal-hal yang material (lukes, 1917:9-10). Sosiolog selalu memulai studinya dengan focus pada fakta sosial material, yang dapat dipahami secara empiris, untuk memahami fakta sosial nom material, yang merupakan focus sebenarnya dari studi yang dia lakukan. Hal yang paling material misalnya tingkat kepadatan populasi , saluran komunikasi, dan susunan perumahan (Andrews, 1993). Pada level lain, fakta sosial material itu bisa berupa komponen structural yang bercampur dengan komponen morfologis (kepadatan penduduk dalam susunan perumahan dan jalur komunikasi mereka) dan fakta sosial non material (semisal norma birokrasi)
2.  Fakta Sosial non material
a)      Moralitas
Durkheim yakin bahwa moralitas adalah fakta sosial, dengan kata lain, moralitas bisa dipelajari secara empiris, karena ia berada diluar individu, ia memaksa individu dan bisa dijelaskan dengan fakta-fakta sosial lain. Artinya, moralitas bukanlah sesuatu yang bisa dipikirkan secara filosofis, namun sesuatu yang mesti dipelajari sebagai fenomena empiris
b)      Kesadaran Kolektif
Menurut Durkheim kesadaran kolektif adalah seluruh kepercayaan dan perasaan besama orang kebanyakan dalam sebuah masyarakat akan membentuk suatu sistem tetap yang mempunyai kehidupan sendiri.
c)      Representasi Kolektif
Durkheim menggunakan istilah ini untuk mengacu konsep kolektif maupun "daya" sosial yang memaksa individu. Contoh representasi kolektif adalah symbol agama, mitos, dan legenda popular. Semua yang tersebut itu adalah cara-cara dimana masyarakat merefleksikan dirinya.
d)     Arus Sosial
Sebagian besar fakta sosial yang dirujuk Durkheim sering kali diasosiasikan dengan organisasi sosial. Akan tetapi, dia menjelaskan bahwa fakta sosial "tidak menghadirkan diri dalam bentuk yang jelas" (1895/1952: 52). Durkheim menyebutnya dengan arus sosial. Dia mencontohkan dengan " luapan semangat, amara, dan rasa kasihan" yng terbentuk dalam kumpulan public (Durkheim, 1895/1982: 52-53). Arus sosial memiliki kekuatan untuk memaksa kita meski kita baru bisa menyadari ketika kita bergulat melawan perasaan bersama.

George Ritzer & Douglas J. Goodman , Teori Sosiologi
                                                                                               
Rizka Fitriana Sari
1113051000119

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini