Selasa, 17 September 2013

Vicky Dianiya_KPI 1A_Tugas 2_Emile Durkheim1

Emile Durkheim

 

A. SKETSA BIOGRAFIS

Emile Durkheim lahir pada tanggal 15 April 1858, di Epinal, Prancis.  Ia adalah keturunan para rabid an ia sendiri belajar kepada seorang rabi, namun ketia dia berumur belasan tahun, ia menyangkal silsilah keturunanya (Strenski, 1997: 4). Sejak saat itu, minat terhadap agama lebih akademis daripada teologis (Mestrovic, 1988). Ia tidak hanya kecewa den gan ajaran agama, namun juga pada pendidikan umum dan penekananya pada soal-soal literal dan estetis. Walaupun dia tertarik pada sosiologi ilmiah, namun di masa itu belum ada disiplin sosiologi, sehingga antara tahun 1882 sampai 1887 dia mengajar filsafat di beberapa sekolah provinsi di sekitar Paris.

Haratnya terhadap ilmu pengetahuan semakin besar ketika dia melakukan perjalanan ke Jerman, dimana dia berkenalan dengan psikologi ilmiah yang dirintis oleh Wilhelm Wundt (Durkheim, 1887/1993). Ditahun-tahun setelah kunjungannya ke Jerman, Durkheim menerbitkan beberapa karya yang melukiskan pengalamannya di Jerman (R. Jones, 1994). Publikasi-publikasi ini membantu dia memperoleh posisi di departemen filsafat di Universitas Boxdeaux pada tahun 1887. Di sana Durkheim memberikan kuliah dalam ilmu sosial di sebuah universitas Prancis untuk pertama kalinya.

Tahun-tahun berikutnya ditandai oleh serangkaian keberhasilan pribadi Durkheim. Selain ia sudah banyak menerbitkan beberapa karyanya, pada tahun 1896 ia menjadi profesor penuh di Bordeaux. Pada tahun 1902 ia diundang oleh universitas Prancis yang terkenal, Sorbonne, dan pada tahun 1906 ia menjadi profesor resmi untuk ilmu pendidikan, satu jabatan yang pada tahun 1913 diubah menjadi ilmu pendidikan dan sosiologi.

Kini Durkheim sering kali disebut sebagai seorang yang berhaluan politik konservatif, dan pengaruhnya dalam bidang sosiologi jelas-jelas konservatif. Namun, pada zamannya ia dipandang sebagai seorang liberal, dan ini tercermin ketika dia secara aktif berperan dalam membela Alfred Dreyfus, kapten tentara keturunan Yahudi yang divonis mati karena penghinaan terhadap Tuhan dirasakan banyak orang sebagai antisemit (Farrel, 1997).

Minat Durkheim (1928/1962) pada sosialisme juga dijadikan bukti untuk melawan gagasan bahwa ia adalah seorang konservatif, namun sosialisme ini sangat berbeda dengan yang menjadi minat Marx dan para pengikutnya. Sebenarnya, Durkheim menyebut Marxisme sebagai serangkaian "hipotesis yang dapat diperdebatkan dan ketinggalan zaman" (Lukes, 1972: 323). Bagi Durkheim, sosiolisme  merepresentasikan gerakan yang ditunjukan bagi regenerasi moralo masyarakat melalui moralitas, ilmiah, dan ia tidak tertarik pada cara-cara politis jangka pendek maupun pada aspek ekonomi sosialisme. Durkheim seperti akan kita ketahui, ia memberikan  pengaruh yang begitu besar bagi perkembangan sosiologi.

Durkheim wafat pada tanggal 15 November 1917. Dia adalah sosok paling disegani di kalangan intelektual Prancis, namun baru dua puluh tahun kemudia, yakni ketika Talcott Parsons menerbitkan buku yang berjudul The Structure of Social Action (1937), karya Dukheim mulai berpengaruh signifikan dalam sosiologi Amerika.

B. FAKTA SOSIAL

Durkheim mengembangkan konsep tersendiri tentang pokok bahasan sosiologi, dan selanjutnya mengujinya dengan studi empiris. Dalam buku The Rules of Sociological Method (1895/1982), Durkheim menyatakan bahwa tugas utama sosiologi adalah mengkaji apa yang disebut sebagai fakta sosial. Ia mengonsepkan fakta sosial sebagai kekuatan (Takla dan Pope, 1985) dan struktur yang ada di luar, namun memiliki daya paksa terhadap individu. Dalam buku Suicide (1897/1951), Durkheim beralasan bahwa jika saja ia dapat mengaitkan perilaku individu, semisalnya bunuh diri, dengan sebab-seebab sosial (fakta sosial), itu berarti dia berhasil membuktikan betapa pentingnya disiplin sosiologi.

            Dalam buku  The Rules of Sociological Method, Durkheim membedakan duajenis fakta sosial –material dan nonmaterial. Meskipun ia membahas keduanya di sepanjang karyanya, fokus utamanya adalah fakta sosial nonmaterial (misalnya, kebudayaan, institusi sosial), daripada fakta sosial material (misalnya, birokrasi, hukum). Ia menyimpulkan bahwa masyarakat primitif terutama dipersatukan oleh fakta sosial nonmaterial, khususnya moralitas yang dipegang erat bersama-sama, atau apa yang disebutnya sebagai kesadaran kolektif (collective conscience) yang begitu kuat. Namun, karena kompleksitas masyarakat modern, terjadi kemunduran kekuatan kesadaran kolektif. Dalam karya terakhirnya, fakta sosial nonmaterial bahkan semakin menduduki posisi sentral. Sebenarnya, mungkin ia mungkin mulai memfokuskan perhatiannya pada bentuk hakiki fakta sosial nonmaterial –agama- dalam karya utama terakhirnya, The Elementary Forms of Religious Life (1912/1965).

C. FAKTA SOSIAL DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

1)      Bunuh Diri

2)      Krisis Moral

3)      Gaya Hidup atau Adat di Suatu Daerah

4)      Masyarakat Beragama

5)      Hukuman Bagi yang Berbuat Kesalahan

D. KARYA-KARYA UTAMA

Ø  The Division of Labor in Society (1893)

Ø  The Rules of Sociological Method (1895)

Ø  Suicide (1897)

Ø  The Elementary Forms of Religious Life  (1912)


Sumber : Teori Sosiologi oleh George Ritzer & Douglas J. Goodman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini