Senin, 20 Oktober 2014

Ellya Pratiwi KPI 5E (1112051000030)

Ellya Pratiwi (KPI 5E)

1112051000030

FILSAFAT KOMUNIKASI, APAKAH ITU?

Dalam proses komunikasi terdapat dua perspektif yang dapat ditinjau untuk mengetahui prosesnya, yaitu perspektif psikologis dan mekanis. Yang dimaksud dengan perspektif psikologis ialah komunikasi merupakan kegiatan yang melibatkan komunikator, isi pesan, komunikan, labang, sifat hubungan, pandangan, proses decoding dan encoding. Sedangkan komunikasi dalam perspektif mekanis ialah bahwa komunikasi merupakan kegiatan mekanik  dari seorang komunikator yang bersfiat situasional dan kontekstual. Refleksi dari proses komunikasi yang cukup kompleks tersebut sering pula dimasukkan kedalam disiplin ilmu filsafat komunikasi.

Secara singkat, yang dikatakan sebagai filsafat komunikasimenurut Muhamad Mufid (2009: 85) ialah ilmu yang mengkaji setiap aspek dari komunikasi dengan menggunakan pendekatan dan metode filsafat sehingga didapatkan penjelasan yang mendasar, utuh dan sistematis seputar komunikasi. Pada hakikatnya komunikasi ialah proses penunjukkan ekspresi antar manusia. karena setiap manusia memiliki kepentingan masing-masing untuk menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya agar makna dan tujuan mereka dapat diterima oleh yang lain sesuai dengan apa yang mereka maksud.

Pemikiran mengenai filsafat komunikasi memiliki satu pemikiran yang sama pula dengan pemikiran teori komunikasi itu sendiri. Beberapa tokoh yang terkait dengan bidang filsafat komunikasi diantaranya ialah Richard L. Lanigan, Stephen Littlejohn dan Whitney R. Mundt. Dalam pemikiran Richard, ia mengkhusukan tentang analisis filosofis atas komunikasi yang memiliki empat titik refelksi yaitu metafisika, epistomologi, aksiologi dan logika.

Filsafat komunikasi pada titik refleksi metafisika yakni membahas tentang apa yang manusia itu ketahui mengenai keberadaan zat, pikiran dan kaitan zat dengan pikiran. Pemikiran ini juga menjelaskan tentang adanya hubungan antara sifat dan fungsi teori tentang realitas. Pada aspek epistomologi menjelaskan tentang bagaimana cara mengetahui pemikiran tentang zat, pikiran dan kaitan zat dengan pikiran tersebut. Epistomologi merupakan proses bagaimana pengetahuan tersebut diperoleh dan disusun melalui sebuah proses yang menggunakan metode ilmiah. Metode ilmiah itu sendiri ialah tata cara dari suatu kegiatan berdasarkan perencanaan yang matang dan mapan, sistematik dan logis. Proses-proses dalam metode ilmiah tersebut harus dilandasi dengan kerangka pemikiran yang logis, penjabaran hipotesis yang deduksi dan kerangka pemikiran serta adanya verifikasi terhadap hipotesis dalam menguji kebenaran secara faktual.

Titik refleksi yang ketiga ialah aksiologi ialah cara bagaimana merealisasikan dan mengekspresikan ilmu pengetahuan yang sudah diperoleh tersebut. Merefleksikan apa yang ada dalam pemikiran tersebut harus disertai dengan pertimbangan apakah etis atau tidak pesan itu disampaikan. Sehingga menjadi sangat penting bagi komunikator dalam menyampaikan pesannya dengan lambang yang sesuai agar makna pesan tersebut diterima dengan mudah.

Terakhir yakni logika yang merupakan cabang filsafat yang membahas soal asas dan dasar secara baik dan benar dalam proses berkomunikasi. Logika menjadi sangat penting karena logika merupakan pemikiran yang akan dikomunikasikan kepada komunikan yang akan menjadi penerima dan memutuskan sikap apa yang akan diambil atas pesan dari komunikasi tersebut. Tentu saja seorang komunikator menginginkan penerima pesan mengambil sikap yang sesuai dengan harapannya. Maka dari itu, komunikator harus pandai dalam menyusun logika dan menyampaikannya kepada penerima pesan.

Whitney R. Mundt berpendapat dalam filsafatnya bahwa komunikasi memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan kekuatan dan kekuasaan pemerintah. Dalam hal ini, Mundt membagi pers kedalam lima bagian, yaitu:

1.      Otoriter

Sistem pers dimana pemerintah memegang penuh kekuasaan atas pers tersebut. Pers tidak dibebaskan untuk mengkritik apapun mengenai pemerintah agar terjaga citra baiknya.

2.      Sosial-otoriter

Pers pada sistem sosial-otoriter ini dimiliki oleh pemerintah atau partai pemerintah untuk melengkapi pers mencapai tujuan ekonomi nasional dan tujuan filsafati.

3.      Libertarian

Berbeda dengan otoriter yang diawasi penuh oleh pemerintah, sistem pers liberitarian merupakan sistem yang memberikan kebebasan kepada wartawan atau insan media dalam mengekspresikan pesan komunikasi tanpa adanya campur tangan dari pemerintah.

4.      Sosial-sentralis

Sistem pers ini ialah kepemilikan yang berpusat di pemerintah atau lembaga umum dengan saluran komunikasi terbatas untuk menjamin semangat operasional dari filsafat lebrtarian.

Daftar pustaka:

Mufid, Muhamad. Etika dan Filsafat Komunikasi, 2009, Kencana: Jakarta.  

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini