Selasa, 29 Maret 2016

Zainul, Fadlil, MD 4A_HAMBATAN-HAMBATAN MUNTADZIM DAN MUNTADZIMAH DALAM MENGIKUTI KEGIATAN PENGAJIAN DI MA’HAD DARUSSUNNAH_tugas 4

HAMBATAN-HAMBATAN MUNTADZIM DAN MUNTADZIMAH DALAM MENGIKUTI KEGIATAN PENGAJIAN DI MA'HAD DARUSSUNNAH

 

Oleh    : Muhammad Zainul Ilyas       11140530000013

              Muhammad Fadlil Hidayat   11140530000066

Kelas   : MD 4A

 

Darussunnah merupakan salah satu lembaga dakwah di daerah Tanggerang, tepatnya di Ciputat. Lembaga ini berbentuk pondok pesantren yang berfokus pada kajian hadis dan ilmu hadis yang diperuntukan khusus bagi mahasiswa dan mahasiswi yang belajar di perguruan tinggi seputar Tanggerang dan Jakarta. Mahasiswa yang belajar disini, disebut mahasantri dan mahasantriyah. Kebanyakan dari mereka, belajar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta karena lokasinya yang dekat, juga ada yang belajar di PTIQ Jakarta dan UMJ namun tidak sebanyak yang belajar di UIN Jakarta.

Darussunnah juga mempunyai lembaga madrasah yang setara dengan SMP dan SMA. Siswa yang belajar di Madrasah ini, disebut dengan Santri. Madrasah Darussunnah ini baru berdiri dua tahun yang lalu, sehingga santrinya baru hanya sampai kelas 2 MTs saja, dan juga baru hanya santri laki-laki saja.

Berbeda dengan Madrasah yang hanya santri laki-laki saja, Mahasantri Darussunnah karena sudah lama berdiri, maka yang belajar disini tidak hanya laki-laki melainkan juga perempuan. Yang laki-laki disebut mahasantri dan yang perempuan disebut dengan mahasantriyah.

Masa belajar disini adalah empat tahun atau delapan semester dan diakhiri dengan skripsi yang disebut dengan takhrij. Sehingga, yang belajar disini akan mendapatkan gelar Licence (Lc) tatkala mampu menyelesaikan takhrijnya.

Di tahun sekarang yakni tahun 2016, seluruh Mahasantri dan mahasantriyah Darussunnah berjumlah sekitar 160 yang terdiri dari 4 angkatan, yakni angkatan Ihna, Ash-Shuffah, Avicena dan Al-Aqsha. Dari keseluruhan mahasantri dan mahasantriyah, ada yang disebut muntadzim/ muntadzimah dan ada yang disebut muntasib/muntasibah. Muntadzim/ muntadzimah adalah mahasantri yang mengaji dan tinggal di asrama Darussunnah dan juga berhak mengikuti takhrij tatkala sudah selesai masa ajaran selama empat tahun. Sedangkan muntasib/muntasibah adalah mahasantri/mahasantriwati yang mengaji saja di Darussunnah, akan tetapi tinggalnya tidak di asrama, melainkan di kos kosan sekitar Darusunnah dan tidak berhak mengikuti takhrij. Meski demikian, semangat mengaji muntasib/muntasibah tidak kalah dengan muntadzim/muntadzimah walaupun terkadang ada banyak hambatan-hambatan yang menyebabkan ketidak bisanya menghadiri pengajian.

Menurut divisi pendidikan IMDAR (Ikatan mahasantri Darussunnah) Nelli Lailiyatu Alfina, jumlah mahasantri muntasib berjumlah 3 orang, dan mahasantriyah muntasibah berjumlah 8 orang. Mereka semua merupakan para pejuang ilmu yang mana meskipun tidak tinggal di asrama, tapi semangat mereka untuk mengaji sangatlah tinggi, tapi tidak menutup kemungkinan, ada saat-saat tertentu bagi mereka untuk tidak mengikuti kegiatan mengaji di Darussunnah. Oleh karenanya, kami melakukan wawancara kepada sebagian dari mereka terkait alasan-alasan atau hambatan-hambatan mereka ketika mereka tidak bisa mengikuti kegiatan pengajian di Darussunnah.

Al-hamdulillah diskusi yang kami lakukan tidak menemukan hambatan yang tertalu berat, hanya saja untuk bertemu dengan narasumber kami kesusahan menentukan waktu yang tepat, dalam artian bisa bertemu bersama dengan narasumber yang lainnya, pada akhirnya kami berdiskusi secara random. Meskipun diskusi yang kami lakukan tidak dapat berbarengan karena dengan dalih waktu kuliah yang sangat padat, mau tidak mau kami harus melaksanakan diskusi dengan cara bergantian dari satu narasumber ke narasumber yang lain, sore hari pada waktu itu, hujan pula tapi kami tidak patah semangat untuk melaksanakan diskusi. Ada empat orang narasumber yang terlibat dalam diskusi kami yaitu Rahmat Ilahi mahasiswa UIN prodi tafsir hadist, fauzan Azima mahasiswa UIN prodi tafsir hadist, Rifa Tsamrotul Sa'adah mahasiswi UIN prodi tafsir hadist dan yang terakhir Lailiyatu Al-fina mahasiswi UIN prodi Studi Islam

Keempat narasumber berasal dari satu mahasiswi muntadzimah, satu mahasiswi muntasibah dan dua orang mahasiswa muntadzim. Di sini kami berdiskusi tentang hambatan-hambatan temen-temen mahasiswa dan mahasiswi dalam belajar di Darus-Sunnah. Berbagai macam ide dan gagasan temen-temen narasumber saling mengemukakan, jika kita simpulkan dari diskusi yang telah kita laksanakan "Hambatan-Hambatan Mahasantri Darus-Sunnah" khususnya bagi muntasib dan muntasibah yaitu : yang pertama hambatan yang sering temen-temen mahasiswa dan mahasiswi rasakan yaitu rasa malas, ujarnya. Semua narasumber memang mengemukakan rasa malas ini memang tidak bisa dipungkiri lagi, sudah merupakan suatu keniscahyaan jika semua tindakan yang baik pasti memiliki hambatan "malas", hambatan selanjutnya yang mereka kemukakan adalah jarak antara tempat mereka mukim dengan Darus-Sunnah, ada sebagian narasumber yang bertempat tinggal jauh di depan kampus satu lebih tepatnya dan bahkan ada yang bertempat tinggal di daerah pemakaman UIN lebih tepatnya di daerah pesanggerahan, ini merupakan hambatan juga ujar mereka.

Lingkungan baru yang jauh berbeda dari kampung halaman mereka  juga merupakan hambatan yang mereka kemukakan dalam diskusi  dalam belajar di Darus-Sunnah" Hal ini menyebabkan sebagian narasumber susah berinteraksi untuk mengikuti pembelajaran dengan baik. Hambatan selanjutnya ialalah sistem pembelajarannya yang terbilang cepat bagi yang memiliki besic pondok yang kurang  mereka kemukakan dalam diskusi karena pembelajaran di Darus-Sunnah selain menggunakan metode pembelajaran bahasa Arab dan Ingrris para Mahasantri dan Mahasantriwatinya dituntut agar mengetahui dasar-dasar ilmu agama khususnya ilmu hadis.

Penjelasan-penjelasan diatas adalah hasil dari diskusi kami bersama temen-temen narasumber langsung, kurang lebihnya seperti yang telah kami paparkan di atas,kurang lebihnya kami mohon maaf. Terima kasih

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini