Senin, 15 April 2013

teori strukturalis_ lela muspita sari _ tugas 2

Teori Strukturalis (Pendekatan Institusional)
Pendahuluan
Teori strukturalis seringkali berkaitan dengan kesenian dan juga dengan pembangun, dimana teori ini menjadi perubahan bisa dijadikan suatu kajian yang bisa dilakukan. Dalam masyarakat adanya kehidupan yang baik saat ini tidak terlepas dari dahulu yang lalu dibenahi secara teratur dalam setiap waktu.
Metode Studi
            Metode studi yang dilakukan adalah "searching" di www.google.com dan mengutip pernyataan yang ada di Wikipedia.com, lalu mengutip sebagian isi dari buku.
Pengertian
Dikutip dari Wikipedia.com strukturalisme adalah faham atau pandangan yang menyatakan bahwa semua masyarakat dan kebudyaan memiliki suatu struktur yang sama dan tetap. Strukturalisme juga adalah sebuah pembedaan secara tajam mengenai masyarakat dan ilmu kemanusiaan dari tahun 1950 hingga 1970, khususnya terjadi di Perancis. Strukturalisme berasal dari bahasa Inggris, structuralism; latin struere (membangung), structura berarti bentuk bangunan. Trend metodologis yang menyetapkan riset sebagai tugas menyingkapkan struktur objek-objek ini dikembangkan olerh para ahli humaniora.  Struktualisme berkembang pada abad 20, muncul sebagai reaksi terhadap evolusionisme positivis dengan menggunakan metode-metode riset struktural yang dihasilkan oleh matematika, fisika dan ilmu-ilmu lain.
            Strukturalis menurut levi-strauss lebih berkonsentrasi pada asal usul itu sendiri. Dia memandang kebudayaan manusia. Seperti hal itu dinyatakan dalam kesenian, dalam upara-upacara dan pola kehidupan sehari-hari. Sebagai perwakilan lahirlah (surface representation) dari struktur pemikiran manusia yang mendasarinya. Sebagai contoh sederhana, pemakaian simbol warna yang digunakan dalam lampu lalu lintas dapat dilihat sebagai suatu refleksi  dari pola-pola tertentu yang sebelumnya sudah ditetapkan sifatnya dalam pikiran orang. Kita memilih merah sebagai suatu simbol dengan arti "stop-berbahaya", dan mungkin dasarnya adalah warna merah diasosiasikan sebagai darah. Kemudian karena diperlukan warna lain untuk menyampaikan "pesan" sebaliknya yaitu "boleh jalan-aman", maka kita memilih warna hijau, yang melambangkan benda-benda yang tumbuh dan dalam "roda" warna merupakan lawan dari warna merah. Lalu kuning, suatu warna antara, kemudian diperkenalkan sebagai istilah ke-3 dalam rumus untuk melambangkan art "siap untuk berhenti—situasi sedang berubah"[1]
           
DAFTAR PUSTAKA
Ihroni, T.O, Pokok-pokok Antropologi Budaya, 2006, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.


[1]. T.O. Ihromi, Pokok-pokok antropologi budaya, (Jakarta: yayasan obor Indonesia, 2006),  Hal. 66.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini