Rabu, 17 Juni 2015

TUGAS UAS METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF

 

Firda Zanariyah

1112052000031

BPI 6

KESADARAN SISWA-SISWA SERTA GURU M.I HIDAYATUL MUTTAQIN MENGENAI WAJIB BELAJAR 12 TAHUN

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Di Indonesia pemerintah telah membuat undang-undang tentang wajib pendidikan selama 12 tahun yang akan mulai pada tahun ajaran 2013/2014. Terciptanya Undang-undang tersebut tak lepas dari peran pemerintah, khususnya Menteri Pendidikan yang bertujuan agar anak-anak di Indonesia mendapatkan bekal untuk masa depan yang lebih baik. Salah satu latar belakang pemerintah mengeluarkan undang-undang tersebut adalah agar anak-anak Indonesia mendapatkan pendidikan yang layak, seperti sekarang ini yang mewajibkan anak-anak Indonesia mengikuti pendidikan selama 12  tahun atau hingga lulus SLTA/SMA sedarajat.

Hal ini merupakan langkah pemerintah untuk mencerdaskan anak-anak Indonesia yang merupakan generasi muda penerus bangsa. Karena nantinya kemajuan dan perkembangan bangsa Indonesia ada di tangan para generasi muda yang mempunyai rasa nasionalisme yang tinggi yang akan membuat negara kita Indonesia tercinta ini menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya.

Selain itu dengan adanya program pendidikan ini, pemerintah berharap nantinya anak -anak bangsa tidak akan ketinggalan dengan informasi-informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang semakin berkembang dan mengalami kemajuan seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern atau semakin maju.

Tidak hanya itu dengan adanya program wajib  belajar 12 tahun, pemerintah Indonesia secara tidak langsung telah mengurangi  jumlah masyarakat indonesia yang buta huruf, tidak dapat membaca, serta menulis yang sebagian dari masyarakat Indonesia masih banyak yang mengalami hal demikian. Pemerintah berharap kedepannya tidak akan ada lagi masyarakat Indonesia  yang mengalami  buta huruf.

Sebagian dari masyarakat di Indonesia  masih banyak yang tidak mengenal huruf atau disebut  buta huruf, tidak bisa membaca serta menulis. Hal ini dapat terjadi karena dahulu sebagian dari masyarakat yang mengalami ekonomi rendah, mereka lebih memilih untuk mencari pekerjaan agar mendapatkan uang di bandingkan dengan mengikuti pendidikan di  bangku sekolah. Karena menurut pendapat mereka, apabila bersekolah hanya akan membuang-buang waktu saja dan lebih baik waktu itu di gunakan untuk mencari uang untuk dapat memenuhi kelangsungan hidup mereka.

Dahulu mayoritas  masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan masih relatif rendah kesadarannya akan pentingnya pendidikan. Kebanyakan dari mereka hanya mengikuti pendidikan hanya sampai bangku sekolah dasar (SD) saja. Karena bagi mereka bisa membaca dan menulis saja sudah cukup untuk bekal hidup mereka tanpa memikirkan pengetahuan dan informasi yang semakin hari semakin berkembang, yang lebih dapat membantu mereka hidup tidak serba ketinggalan.

Selain itu masyarakat zaman dahulu mempunyai pemikiran bahwa dengan bekal keyakinan yang kuat serta usaha yang cukup keras, mereka dapat menghasilkan pundi-pundi uang tanpa harus mengikuti pendidikan yang layak di bangku sekolah. Tetapi apabila di bandingkan dengan sekarang, masyarakat yang hanya lulusan SD tentu tidak akan mendapatkan pekerjaan yang layak, kecuali  dengan usaha yang sangat keras.Sebagian dari mereka beranggapan bahwa dengan modal membaca dan menulis saja mereka dapat mendapatkan pekerjaan, meskipun sebenarnya pekerjaan tersebut termasuk pekerjaan yang kurang layak untuk sekarang ini.

Bahkan sebagian dari mereka memilih untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga

yang bagi mereka merupakan pekerjaan yang sangat tepat dan menguntungkan.Karena hanya dengan dapat mengerjakan pekerjaan rumah tangga saja mereka dapat diterima dan dapat dipekerjakan tanpa harus melalui tes yang lumayan sulit.

Inilah yang membuat sebagian dari masyarakat dulu tidak terlalu mementingkan pendidikan serta ilmu pengetahuan. Karena bagi mereka dengan hanya bermodalkan ijasah SD saja mereka bisa mendapatkan pekerjaan dan menghasilkan uang. Tanpa harus memikirkan resiko yang di hadapi dengan pekerjaan tersebut.

Selain itu, faktor lainnya adalah kurangnya dukungan dari pemerintah akan pentingnya pendidikan. Dahulu orang-orang yang mengalami ekonomi rendah tentu tidak akan dapat mengikuti pendidikan  sampai ke jenjang  perguruan tinggi. Cukup dengan mengikuti pendidikan di bangku SD  (Sekolah Dasar) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sudah termasuk sangat  lumayan. Hal ini disebabkan karena biaya pendidikan yang lumayan mahal, sehingga tidak dapat di jangkau oleh masyarakat yang mengalami ekonomi rendah. Bagi mereka, dibandingkan dengan harus membayar untuk biaya sekolah lebih baik digunakan untuk memenuhi kelangsungan hidup mereka.

 

B.     Identifikasi Masalah

1.      Masih banyaknya masyarakat Indonesia yang belum sadar akan pentingnya pendidikan.

2.      Kurangnya bantuan penyadaran kepada masyarakat luas tentang pentingnya wajib belajar 12     tahun.

C.    Rumusan Masalah

Berdasarkan identfikasi masalah yang telah dijelaskan diatas, maka peneliti akan mencoba menggali lebih dalam mengenai "Pandangan Siwa-Siwa Serta Guru M.I Hidayatul Muttaqin Mengenai Wajib Belajar 12 Tahun"

D.    Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk : mengetahui seberapa besar kesadaran siswa-siswi serta guru tentang wajib belajar 12 tahun dan respon guru terhadap pendidikan wajib belajar 12 tahun.

 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

A.    Pengertian Pendidikan 

 

 Dengan perkembangan zaman di dunia pendidikan yang terus berubah dengan signifikan sehingga banyak merubah pola pikir pendidik, dari pola pikir yang awam dan kaku menjadi lebih modern. Hal tersebut sangat berpengaruh dalam kemajuan pendidikan di Indonesia. Menyikapi hal tersebut pakar-pakar pendidikan mengkritisi dengan cara mengungkapkan dan teori pendidikan yang sebenarnya untuk mencapai tujuan pendidikan yang sesungguhnya.

Tujuan pendidikan adalah menciptakan seseorang yang berkualitas dan berkarakter sehingga memiliki pandangan yang luas kedepan untuk mencapai suatu cita-cita yang di harapkan dan mampu beradaptasi secara cepat dan tepat di dalam berbagai lingkungan. Karena pendidikan itu sendiri memotivasi diri kita untuk lebih baik dalam segala aspek kehidupan.

Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia bisa mengajar bayi mereka sebelum kelahiran.

Pada dasarnya pengertian pendidikan ( UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003 ) adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Menurut kamus Bahasa Indonesia Kata pendidikan berasal dari kata 'didik' dan mendapat imbuhan 'pe' dan akhiran 'an', maka kata ini mempunyai arti proses atau cara atau perbuatan mendidik. Secara bahasa definisi pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusiamelalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Menurut Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional Indonesia) menjelaskan tentang pengertian pendidikan yaitu: Pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.

Menurut UU No. 20 tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.

Sedangkan pengertian pendidikan menurut H. Horne, adalah proses yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada tuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia.

Dari beberapa pengertian pendidikan menurut ahli tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Pendidikan adalah Bimbingan atau pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa kepada perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri tidak dengan bantuan orang lain.

 

B.     Wajib Belajar 12 Tahun

Sumber daya yang berkualitas butuh pendidikan yang memadai, karena itu program wajib belajar 12 tahun menjadi penting dan dibutuhkan. Tujuan dari pendidikan nasional tidak saja hanya mencetak sumber daya manusia yang cerdas akan tetapi juga mampu mencetak kepribadian yang berkarater, berakhlak, kreatif, memiliki visi misi dan bertanggung jawab serta sebagai warga Negara yang baik.

System pendidikan nasional di Indonesia sudah mencakup wajib belajar 12 tahun. Pemerintah telah menetapkan wajib belajar 12 tahun untuk seluruh kalangan masyarakat Inonesia. Agar Indonesia mampu mencetak lebih banyak sumber daya manusia yang lebih kreatif dan mampu memberdayakan kemampuannya.

Saat ini, pemerintah sangat mengupayakan pentingnya pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari upaya pemerintah memberikan bantuan  kepada masyarakat yang mengalami ekonomi rendah agar anak-anak Indonesia yang tidak mampu dapat merasakan pendidikan di bangku sekolah. Jadi tidak ada alasan untuk anak-anak yang tidak mampu tidak dapat sekolah karena alasan biaya yang mahal.

Dahulu pemerintah membuat Undang-Undang tentang wajib belajar 9 Tahun yaitu hingga lulus SLTP/SMP sederajat, tetapi sekarang pendidikan bagi anak-anak Indonesia diwajibkan hingga 12 tahun atau hingga lulus SLTA/SMA sederajat.

Ini merupakan upaya dari pemerintah untuk terus memajukan perkembangan pendidikan di Indonesia. Dengan mewajibkan belajar hingga 12 tahun, di harapakan anak-anak indonesia nantinya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak atau dapat melanjutkan hingga perguruan tinggi, apabila mereka  mendapatkan prestasi dan beasiswa untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Secara tidak langsung pemerintah telah ikut serta dalam mengurangi angka pengangguran di Indonesia. Karena dengan mendapatkan pendidikan bagi masyarakat ekonomi rendah, tentu kedepannya masyarakat bisa mendapatkan pekerjaan yang layak sehingga dapat lebih menyejahterakan keluarganya.

Program pemerintah dalam menangani masalah pendidikan ini memang di khususkan untuk masyarakat yang mengalami ekonomi rendah. Dengan adanya bantuan pemerintah tersebut tidak akan ada lagi yang namanya anak-anak Indonesia yang tidak bersekolah atau putus sekolah karena alasan tidak mempunyai cukup biaya.

Selain memberikan bantuan kepada anak-anak yang tidak mampu agar dapat mengkuti pendidikan di bangku sekolah, pemerintah juga memberikan bantuan-bantuan untuk tempat-tempat pendidikan seperti halnya memberikan bantuan komputer, buku-buku dan kebutuhan lain yang dapat menunjang kelangsungan belajar mengajar yang lebih efektif dan efisien. Dan juga agar pendidikan di Indonesia ini tidak jauh ketinggalan di bandingkan dengan negara-negara lain yang lebih maju.

Pemerintah sangat mengupayakan pendidikan di negara ini, tetapi masih banyak anak

anak di Indonesia yang belum mengerti akan pentingnya pendidikan dan ilmu pengetahuan untuk bekal dimasa yang akan datang.

Masih banyak anak-anak di Indonesia yang sering bolos sekolah, tidak menghargai gurunya dan masih banyak lagi. Hal ini terjadi karena belum adanya kesadaran akan pentingnya pendidikan. Kurangnya dukungan oleh orang tua tentang betapa pentingnya ilmu pengetahuan dan pendidikan serta kemajuan tegnologi sekarang ini.

 

 

 

BAB III

METODE PENELITIAN

A.    Metode Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan cara observasi dan turun kelapangan, membuka forum-forum diskusi bersama beberapa siswa-siswa dan beberapa guru yang ada disekolah M.I Hidayatul Muttaqin.

B.     Lokasi Penelitian

Penelitian ini bertempat di M.I Hidayatul Muttaqin Jl. Jati Padang IV Pasar Minggu Kota Administrasi Jakarta Sealatan.

C.     Metode Pengumpulan Data

Tekhnik Pengumpulan data yang penulis lakukan pada penelitian ini adalah :

1.      Peneliti mendatangi sekolah M.I Hidayatul Muttaqin dengan membawa surat tugas dari Fakultas yang berisikan tentang permohonan untuk observasi serta penelitian disekolah tersebut

2.      Selanjutya, peneliti memulai dengan meminta beberapa orang siswa-siswa kelas 3-6 serta dua orang guru.

3.      Peneliti mulai menanyakan beberapa pertanyaan tentang bagaimana tanggapan siswa-siswi akan sadarnya pendidikan 12 tahun. Beberapa siswa-siswi yang ditanyakan menjawab satu persatu pertanyaan yang peneliti lontarkan. Dari hasil peneliti menanyakan beberapa pertanyaan kepada siswa-siswi ternyata belum semua siswa-siswi sadar akan pentingnya wajib belajar 12 tahun. Bahkan ada beberapa anak yang tidak tahu sama sekali dengan hal itu. Selanjutnya, peneliti menanyakan apakah adik-adik siswa-siswi memiliki cita-cita? Dan apa cita-citanya? Dari hasil pertanyaan itu peneliti menerima jawaban yang cukup memuaskan karena para siswa-siswi memiliki cita cita yang tinggi dan mulia. Namun, ada satu siswa yang jawabannya cukup membuat heran, karena siswa menjawab tidak ingin punya cita-cita yang tinggi yang penting bisa bahagiakan kedua orang tuanya. Si siswa masih bingung dengan setiap pertanyaan orang lain yang menyanyakan padanya tentang cita-cita.

4.      Tahap yang selanjutnya adalah peneliti membuka forum-forum diskusi bersama beberapa guru M.I Hidayatul Muttaqin. Bersama dua guru peneliti menanyakan bagaimana tanggapan guru terhadap pendidikan 12 tahun? kedua guru tersebut sangat setuju dengan pertanyaan itu, guru-guru ini mendukung 100% program pemerintah mengenai wajib belajar 12 tahun. hanya saja kedua guru tersebut member sedikit argument bahwasanya kedua duanya setuju apabila pemerintah lebih peduli lagi kepada siswa-siswa yang ekonominya masih merendah serta memberikan saran kepada seluruh guru yang ada di Indonesia agar lebih teliti dan cermat dalam menangani siswa-siswi yang diajarnya. Agar dapat mencetak generasi penerus yang lebih baik, aktif, kreatif serta inovatif.

5.      Setelah selesai observasi dan diskusi peneliti mengumpulkan data yang sudah tertulis dengan menggabungkannya menjadi hasil penelitian kualitatif.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini