Rabu, 04 November 2015

laporan penelitian sosiologi

LAPORAN PENELITIAN SOSIOLOGI

PEREBUTAN KUE KESEJAHTERAAN DALAM  KONFLIK DAN PERSAINGAN DALAM MASYARAKAT

 


ANGGOTA KELOMPOK :

BINTANG RAYA HANZARI (11150510000080)- JURNALISTIK 1A

M. NAWAWI (11150510000217)-JURNALISTIK 1B

HODIJAH (11150510000072)- KPI 1B

SIVAUL FUADAH (11150510000014)- KPI 1A


 

FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2015





PENDAHULUAN

 

1.1 LATAR BELAKANG PENELITIAN

            Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 merupakan realisasi pasar bebas di Asia Tenggara yang telah dilakukan secara bertahap mulai KTT ASEAN di Singapura pada tahun 1992. Tujuan dibentuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) untuk meningkatkan stabilitas  perekonomian di kawasan ASEAN, serta diharapkan mampu mengatasi masalah-masalah di bidang ekonomi antar negara ASEAN. Konsekuensi atas kesepakatan MEA tersebut berupa aliran bebas barang bagi negara-negara ASEAN, dampak arus bebas jasa, dampak arus bebas investasi, dampak arus tenaga kerja terampil, dan dampak arus bebas modal. Hal-hal tersebut tentunya dapat berakibat positif atau negative bagi perekonomian Indonesia. Oleh karena itu dari sisi pemerintah juga dilakukan strategi dan langkah-langkah agar Indonesia siap dan dapat memanfaatkan momentum MEA.

Gambaran karakteristik utama MEA adalah pasar tunggal dan basis produksi; kawasan ekonomi yang berdaya saing tinggi; kawasan dengan pembangunan ekonomi yang adil; dan kawasan yang terintegrasi ke dalam ekonomi global. Dampak terciptanya MEA adalah terciptanya pasar bebas di bidang permodalan, barang dan jasa, serta tenaga kerja. Konsekuensi atas kesepakatan MEA yakni dampak aliran bebas barang bagi negara-negara ASEAN, dampak arus bebas jasa, dampak arus bebas investasi, dampak arus tenaga kerja terampil, dan dampak arus bebas modal.[1] (SUROSO, 2015)

            Dengan adanya MEA daya saing dan peluang terbuka lebar, sehingga wajar apabila di Indonesia banyak sekali perusahaan asing dan perusahaan swasta yang lebih modern saling bersaing. Salah satu contoh persaingan yang terjadi adalah pada bidang retel produk kebutuhan pokok dan kebutuhan pelengkap, misalnya adalah P.T.Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (Perseroan) dengan Alfamaret dan Alfamidi nya, P.T. Indomarco Prismatama dengan Indomaretnya dan Seven & I Holdings CO. perusahaan asal Amerika Serikat dengan 7-ELEVEN (SEVEL) nya. Dengan adanya persaingan yang terbuka lebar, promo untuk menerik para konsumen pun gencar dilakukan yang berdampak pada menurunnya minat pembeli terhadap pedagang dengan modal kecil yang juga menjual produk yang sama.

            Seperti yang dimuat dalam berita Jakarta.Bisnis.com, Pemerintah Kota Tangerang Selatan (tangsel) dinilai kurang tepat  menata lokasi gerai minimarket, sehingga berpotensi menimbulkan persaingan tidak sehat antar-ritel modern itu, sehingga mematikan warung-warung kecil.

Pemberian izin gerai minimarket di Tangsel, terkesan hanya berorientasi untuk tujuan mendapat sumber retribusi tanpa mempertimbangkan jarak sehat secara bisnis atara satu gerai dengan gerai yang lain.

Kondisi tersebut antara lain terlihat dari operational minimarket Indomaret dan Alfamart di kawasan Jl Legoso Kecamatan Ciputat serta di Kampung Utan dan  Pondok Ranji, Kecamatan Ciputat Timur Tangsel.

Budiman, warga Legoso Kecamatan Ciputat, mengatakan jarak antar-gerai minimarket yang berdekatan itu memang sangat menguntungkan bagi konsumen yang karena terdapat banyak pilihan tempat berbelanja.

"Namun, persaingan antara mereka dalam memberikan potongan harga itu sesungguhnya secara pelan-pelan mematikan warung kecil milik perorangan warga sekitar," katanya Selasa (21/4/2015).

Menurutnya, perusahaan ritel modern memang memiliki dukungan permodalan yang besar, sehingga dapat setiap saat memberikan diskon harga sejumlah produk untuk menjadi daya tarik konsumen berdatangan.

Sebaliknya, pelanggan warung kecil terus menyusut, karena tersedot oleh minimarket yang menawarkan berbagai kelebihan dari sisi gerai yang modern dan nyaman dengan segala perangkatnya seperti pendingin ruangan.  

Dia menjelaskan belakangan ini muncul satu lagi gerai minimarket baru di Jl Juanda Kampung Utan, Kecamatan Ciputat Timur atau di seberang ISCI yang telah beroperasi tanpa mencantumkan nama usahanya.

"Melihat dari bentuk gerai, desainnya dan cara pelayanannya, itu jelas minimarket dan bukan toko atau warung biasa. Maka bisa diduga usaha itu mencuri start, ketika izinnya masih dalam proses, tetapi gerainya sudah beroperasi," ujarnya.

Belum lama ini Pihak Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Tangsel mengeluarkan surat edaran terkait Surat Keterangan Domisili Usaha (SKDU) untuk ritel yang menyatakan izinnya mulai dibatasi untuk wilayah kelurahan tertentu.[2] (Abdullah, 2015)

Menanggapi hal tersebut kami mengambil judul besar "Berebut Kue Kesejahteraan, Konflik dan Persaingan dalam Masyarakat". Sebagai gambaran akan persaingan antar perusahaan retel, konflik yang terjadi serta dampaknya terhadap kesejahteraan para pedagang yang bermodal kecil.

 

1.2 PERTANYAAN PENELITIAN

a.       Apa yang melatar belakangi pesatnya pertumbuhan dan perkembangan perusahaan retell di Indonesia?

b.      Apa dampak yang mungkin timbul dari pesatnya perkembangan perusahaan retell di Indonesia?

c.       Siapa yang bisa terkena dampak akibat perusahaan retel yang berkembanga begitu pesat? Dan siapa yang diuntungkan oleh hal tersebut?

d.      Adakah perbedaan kelas konsumen dari tiap perusahaan retell dan pedagang kecil?

e.       Apa pengaruh dan hubungan antara konflik dan persaingan dalam perebutan

konsumen oleh perusahaan retell dengan kesejahteraan para pedagang kecil?

 1.3 METODE PENELITIAN

            Kami melakukan penelitian ini dengan menggunakan Metode Kuantitatif, dimana kami menghubungkan sebab akibat yang terjadi selama penelitian kami ini. Serta, menggunakan Penelitian Kasus (Lapangan) dengan mempelajari langsung latar belakang keadaan sekarang dan interaksi lingkungan suatu unit social.

1.4 TINJAUAN TEORI

            Kami menggunakan pendekatan Marxian dengan Teori Konflik dan Teori Kelas untuk menemukan dan menentukan konflik serta kelas social yang ada dalam penelitian.

 

GAMBARAN UMUM

2.1 PROFIL UMUM

a.       Warung Pesanggrahan ( TOKO 3 DARA)

Toko sembako yang berada tepat di muka gang sebelum masuk ke   jalan Pesanggrahan, merupakan salah satu warung sembako yang berderet di gang pesanggrahan dan letaknya tepat di samping 7-Eleven (SEVEL).

Toko ini berdiri sejak tahun 2012, yang merupakan kepemilikan pribadi yang dikelola oleh sendiri dengan bantuan anak-anaknya, toko ini selain menjual beragam kebutuhan pokok ditoko ini juga menjual rokok, alat tulis, serta minuman ringan dan produk kebutuhan pelengkap lain.

Seperti halnya jenis usaha lain, pemilik toko yang bernama Ibu Rufida  ini juga mengaku pernah mengalami penurunan jumlah konsumen. Namun, pemilik mengaku tidak pernah mengalami kerugian, dengan pangsa pasar yang beragam dari Mahasiswa sampai dengan Ibu-Ibu rumah tangga ditambah letak yang strategis karena berada tepat dideretan paling depan ketika hendak memasuki gang pesanggrahan sehingga  menurutnya untuk pendapatan masih cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.

Dengan letak yang bersebelahan dengan 7-Eleven, baginya pengaruh terhadap jumlah konsumen yang datang ke tokonya  tetap ada. Tapi, keberagaman barang kebutuhan yang dijual, harga yang bersaing serta kelas konsumen yang berbeda membuat pemilik merasa tidak begitu khawatir akan kehilangan konsumen. Keunggulan 7-Eleven terhadap pelayanan, kenyamanan tempat serta fasilitas pendukung lain bagi pemilik toko tersebut akan menjadi pesaing bagi usaha yang konsumennya memiliki kesamaan kelas sosial seperti 7-Eleven  semisal Alfamidi, Alfamart, Indomart, lawson dan lain-lain.


b.      Indomart

Indomart merupakan minimarket yang menyediakan kebutuhan pokok dan

kebutuhan sehari-hari, Indomaret adalah Brand minimarket yang merupakan kepemilikan P.T. Indomarco Prismatama yang berdiri sejak tahun 1988 dan sudah memiliki banyak gerai yang tersebar hampir diseluruh Indonesia.

            Bermacam produk disediakan demi memenuhi kebutuhan masyarakat, bahkan kita bisa dengan mudah mnemukan minimarket yang bermotto "Mudah dan Hemat" ini disetiap sisi jalan. Banyaknya gerai yang tersebar mempermudah konsumen untuk dapat mnemukan minimarket ini. Salah satu gerainya ada tepat diseberang jalan kampus 1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

            Di Indomaret ini, perharinya konsumen yang datang bisa mencapai 500-600 orang, dan konsumennya dari bermacam kalangan dari Ibu Rumah Tangga, Mahasiswa dan Orang yang kebetulan lewat. Namun, karena letaknya yang berseberangan dengan kampus konsumen utamanya adalah Mahasiswa dan anak kost disekitar kampus.

            Setiap hari Indomart ini dijaga oleh sembilan karyawan yang terbagi atas tiga shift, menurut salah satu karyawan letak indomaret yang strategis dan kepercayaan masyarakat terhadap Indomart membuat Indomart tetap stabil dan berkembang pesat tanpa mengalami kerugian.

            Keberadaan minimarket lain dan warung-warung disekitar Indomart tidak begitu berpengaruh terhadap prospek penjualan, karena diyakini oleh salah stu karyawan, kepercayaan masyarakat dan strategi penjualan yang dimiliki Indomart mampu memberi member perbedaan dengan minimarket yang lain.

            Berbeda dengan toko sembako dan warung-warung kecil lainnya, Indomart mengutamakan kenyamanan dan pelayanan yang baik terhdap konsumen. Karena kebanyakan konsumennya adalah Mahasiswa dan anak kost sehingga produk yang paling cepat penjualannya adalah minuman dan makanan ringan.

c.       Konsumen

            Pengertian konsumen menurut Philip Kotler (2000) dalam bukunya Principal of Marketing adalah semua individu dan rumah tangga yang membeli atau memperoleh barang atau jasa untuk dikonsumsi pribadi.

            Psikologi konsumen adalah The Study of Consumer Behavior in a Relation Envyronment, dimana pada psikologi konsumen membahas tingkah laku individu sebagai konsumen. Psikologi konsumen merupakan psikologi ekonomi dalam pengertian mikro.

            Perilaku konsumen adalah studi mengenai individu, kelompok atau organisasi dan proses-proses yang dilakukan dalam memilih, menentukan, mendapatkan, menggunakan dan menghentikan pemakaian produk, jasa, pengalaman atau ide untiuk memuaskan kebutuhan serta dampak proses-proses tersebut terhadap konsumen dan masyarakat.

            Definisi lain dari psikologi konsumen adalah kegiatan bersibuk diri secara luas dimana manusia sebagai konsumen dari barang dan jasa. Sasaran utama dari psikologi konsumen itu adalah prilaku konsumen, misalnya dengan keadaan dan alasannya seseorang tersebut menentukan pikihannya. Karena sasaran utamanya menjelaskan perilaku maka disamping psikologi konsumen juga digunakan istilah perilaku konsumen.

            Perilaku konsumen adalah aktifitas seseorang saat mendapatkan, mengkonsumsi dan membuang barang atau jasa sedangkan The American Marketing Association mendefinisiklan perilaku konsumen sebagai interaksi dinamis dari pengaruh dan kesadaran, perilaku, dan lingkungan dimana manusia melakukan pertukaran aspek hidupnya. Dalam kata lain perilku konsumen mengikutkan pikiran dan perasannya yang dialami manusia dan aksi yang dilakukan saat proses komsumsi. Perilaku konsumen menitikberatkan pada aktivitas berhubungan dengan konsumsi dari individu. Perilaku konsumen berhubungan dengan alas an dan tekanan yang mempengaruhi pemilihan, pembelian, penggunaan dan pembuangan barang dan jasa yang bertujuan unutk memuaskan kebutuhan dan keinginan pribadi.

            Konsumsi, dari  bahasa Belanda consumptive, ialah suatu kegiatan yang bertujuan mengurangi atau menghabiskan daya guna atau suatu benda naik berupa barang atau jasa, untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan secara langsung. Konsumen adalah setiap orang pemakai barang atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Jika tujuan pembelian produk tersebut untuk dijual kembali maka dia disebut pengecer atau distributor. Pada masa sekarang ini bukan suatu rahasia lagi bahwa sebenarnya konsumen adalah raja sebenarnya. Oleh karena itu produsen yang memiliki prinsip holistic marketing sudah seharusnya memperhatikan semua yang menjadi hak-hak konsumen.

Konsumtif sering diartikan sama dengan kata konsumerisme. Padahal kata yang terakhir ini mengacu pada segala sesuatu yang berhubungan dengan konsumen. Sedangkan konsumtif lebih khusus menjelaskan keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal.

Konsumerisme adalah suatu gerakan sosial yang dilakukan oleh berbagai pihak yang bertujuan untuk mengingatkan posisi konsumen dalam berintraksi dengan pihak penjual, baik sebelum pada saat, dan setelah konsumsi dilakukan. Konsumen perlu mengetahui hak-haknya secara jelas sehingga apabila terjadi ketidaksesuaian yang dirasakan pada 3 fase tersebut, konsumen akan dapat mengidentifikasi letak ketidaksusaiannya, dimana karena sumber permasalahan berasal dari kecerobohan konsumen itu sendiri.

Perkembangan teknologi informasi dan era perdaganga bebas memunculkan masalah konsumerisme baru yang harus diwaspadai oleh berbagai pihak sehingga dapat mencegah dampak yang merusak bagi konsumen.

 

2.2 LOKASI KAJIAN

Kami mengambil lokasi kajian disekitar kita, dengan melihat letak obyek dan subyek kajian. Diantaranya:

1.    Toko 3 DARA  di gang pesanggrahan samping UIN syarif Hidayatullah Jakarta tepatnya di jalan ir. H.juanda no. 91

2.      Sevel UIN di jalan ir. H. juanda

3.      Indomart Juanda 3 di depan kampus UIN

            Dengan mengunjungi lokasi kajian sekaligus menggunakan metode pengumpulan data yaitu dengan wawancara, kami mendapatkan informasi langsung dari narasumber. Wawancara merupakan salah satu bagian terpenting dari survey. Wawancara  merupakan percakapan antara 2 orang atau lebih yang berlangsung antara narasumber dan pewawancara. Tujuan dari wawancara adalah untuk mendapatkan informasi dimana sang pewawancara melontarkan pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab oleh orang yang diwawancarai.

                                                          

 

 

ANALISIS HASIL

Persaingan Perusahaan Modal Besar Vs Kesejahteraan Pedagang Modal Kecil

            Di fahami sebagian kalangan pasar bebas (Globalisasi), merupakan kekuatan penentu dalam perekonomian dunia. Di Negara-negara dengan pemerintah otoriter yang tabu melepaskan kekuasaan, aliran barang, jasa, modal dan tenaga kerjayang makin bebas akan mengakibatakan kebutuhan atas kebebasan untuk mendapatkan informasi, kebebasan untuk berkumpul dan kebebasan untuk mengemukakan pendapat, dan mandata dari pihak yang di perintah bagi pemerintah yang mendapatkan kekuasaan dari situ. (BREMMER, 2011)

Munculnya istilah Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 merupakan realisasi pasar bebas di Asia Tenggara yang memiliki tujuan terbentuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) untuk meningkatkan stabilitas  perekonomian di kawasan ASEAN, serta diharapkan mampu mengatasi masalah-masalah di bidang ekonomi antar negara ASEAN. MEA memberikan harapan terhadap Negara-negara berkembang untuk meningkatkan perekonomian dan memperluas jangkauan pasa. Namun, konsekuensi atas kesepakatan MEA tersebut berupa aliran bebas barang bagi negara-negara ASEAN, dampak arus bebas jasa, dampak arus bebas investasi, dampak arus tenaga kerja terampil, dan dampak arus bebas modal. Hal-hal tersebut tentunya dapat berakibat positif atau negative bagi perekonomian Indonesia. Oleh karena itu dari sisi pemerintah juga dilakukan strategi dan langkah-langkah agar Indonesia siap dan dapat memanfaatkan momentum MEA. (SUROSO, 2015)

Dengan adanya MEA persaingan ekonomi terbuka lebar, ditambah para pengusaha, investor, dan tenaga kerja ahli yang berbondong-bondong mencari peluang. Maka, timbul kekhawatiran akan ketidak siapan Indonesia menghadapi MEA, dengan tenaga kerja yang belum kompetitif, infrastruktur yang belum memadai, serta arus modal yang mengucur deras ke Negara Indonesia menimbulkan kekhawatiran bahwa rakyat Indonesia akan menjadi budak di Negeri sendiri.

Perkembangan ekonomi menjadi sistem pasar yang bebas dan lebih modern, membuat perusahaan asing maupun perusahaan swasta harus memutar otak untuk membuat strategi baru demi menarik konsumen. Hal ini, pun yang dilakukan oleh perusahaan retel seperti Indomaret dan 7-Eleven.

Dengan memahami karakter konsumen di Indonesia yang selalu ingin dipermudah, lebih cepat dan lebih murah, perusahaan-perusahaan retel berani untuk berspekulasi mendirikan banyak gerai atau cabang di setiap daerah di Indonesia. Bukan hanya itu, strategi promo besar-besaran dengan maksud menarik konsumen lebih banyak.

Bermacam-macam strategi pemasaran dilakukan, seperti strategi pemasaran yang dilakuakan 7-Eleven dengan memenfaatkan media telekomunikasi, semisal sms dan media sosial untuk memperkenalkan produk-produk serta diskon dan promo lain untuk menarik para konsumen agar datang ke gerai mereka.

Tidak jauh berbeda dengan strategi pemasaran yang dilakuakn oleh perusahaan retel Indomaret, untuk menarik perhatian konsumen Indomaret memasang diskon dengan tulisan besar dikaca pintu masuk Indomaret. Tidak hanya itu, promo menggunakan media cetak semisal Koran yang disebarkan disetiap rumah-rumah warga.

Persaingan memperebutkan perhatian konsumen, sengaja dilakuakan untuk meningkatkan nilai penjualan serta persaingan untuk menjadi perusahaan retel yang dipercaya oleh masyarakat.

Dalam kasus ini, karl marx memandang bahwa perubahan sosial tidak terjadi melalui proses penyesuaian nilai-nilai yang membawa perubahan, tetapi terjadi akaibat adanya konflik yang menghaasilkan kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi semula. Tergambar dengan adanya konflik perebutan konsumen antara perusahaan-perusahaan retel menimbulkan kondisi berbeda terhadap pedagang kecil. (Ritzer, 2014)

Dampak yang ditimbulkan akibat ketatnya persaingan antar perusahaan-perusahaan retel yaitu turunnya minat masyarakat sebagai konsumen untuk membeli kebutuhannya di pedagang kecil. Disisi lain para konsumen amat diuntungkan dengan adanya promo besar-besaran yang dilakukan perusahaan retel, karena adanya promo tersebut konsumen dapat memilih tempat mana yang paling menguntungkan untuk mereka.

Dampak lain yang terjadi akibat persaingan dalam memperebutkan konsumen adalah menjamurnya perusahaan-perusahaan retell lain yang ingin ikut serta dalam memperebutkan perhatian konsumen, yang berakibat merantainya dampak terhadap pedagang kecil.

Akibat dari persaingan perusahaan retel bermodal besar berbuntut pada penurunan nilai kesejahteraan para pedagang kecil. Yang dikhawatirkan dapat memicu persaingan tidak sehat antar pedagang kecil dan antara pedagang kecil dan perusahaan retel.

Disisi lain, masih ada para konsumen yang mau member kepercayaannya untuk tgetap membeli di pedagang kecil. Sehingga eksistensi pedagang kecil masih bertahan ditengah gempuran persaingan pasar. Hal ini menunjukakan bahwa ada kelas konsumen yang lebih memilih untuk tetap menjadi konsumen pedagang kecil, sekalipun ada kelas konsumen yang lebih memilih perusahaan retel dengan alas an kenyamanan.

Sesuai dengan Teori Kelas yang di kemukakan oleh Karl Marx yang menjelaskan sejarah dari masyarakat yang ada samapi sekarang adalah sejarah perjuangan kelas. Dengan kata lain, teori kelas beranggapan bahwa pelaku utama dalam masyarakat adalah kelas-kelas sosial. Sehingga sangat memungkinkan eksistensi pedagang kecil akan tetap bertahan seiring dengan masih adanya kelas konsumen yang masih memilih untuk tetap menjadi konsumen pedagang kecil. (Ritzer, 2014)

Kami melakuakan survei kebeberapa konsumen dengan berbagai latar belakang yang berbeda, dengan pertanyaan "lebih enak belanja di pedagang kecil atau di minimarket ?" dan jawabannya :

·         Maulidina :"Tergantung dana, kalau punya uang jajan banyak, lebih enak di 7-Eleven"

·         Furqon :"Sesuai kebutuhan, kalau mau belanja lebih komplit ya ke 7-Eleven"

·         Fahmi :"lebih suka belanja diwarung, karena mensejahterakan masyarakat"

·         Badru :"lebih enak jajan diwarung, karena lebih murah"

·         Karlita :"7-Eleven, nyaman dan enak buat tempat nongkrong"

·         Arya    :"7-Eleven, karena lebih lengkap dan nyaman".

KESIMPULAN

            Munculnya MEA, menjadi tanda dimulainya pasar bebas di Indonesia. Persaingan yang ketat antar pengusaha mengharuskan mereka memutar otak untuk bersaing mencuri pandangan konsumen terhadap apa yang dibutuhkan dan apa yang bisa didapatkan. Dampak ini tidak hanya berpengaruh terhadap kepada pengusaha besar, namun pengusaha kecil pun ikut bersaing.

Perusahaan retel yang saling bersaing berdampak pada menurunnya konsumen pada pedagang kecil. Akan tetapi tidak semua konsumen berpaling dari pedagang kecil, Disisi lain, masih ada para konsumen yang mau memberi kepercayaannya untuk tetap membeli di pedagang kecil. Sehingga eksistensi pedagang kecil masih bertahan ditengah gempuran persaingan pasar. Hal ini menunjukakan bahwa ada kelas konsumen yang lebih memilih untuk tetap menjadi konsumen pedagang kecil, sekalipun ada kelas konsumen yang lebih memilih perusahaan retel dengan alas an kenyamanan.

Dari sini kita dapat melihat bahwa konsumen memiliki kelasnya masing-masing dalam memilih kebutuhan hidupnya sehari-hari. Ada sekolompok konsumen lebih memilih pedagang kecil sebagian lagi ada yang memilih minimarket. Tapi kembali lagi pada kebutuhan dan kepentingan tiap-tiap konsumen.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdullah, N. (2015, April 21). Minimarket Makin Berdekatan, Warung Kecil Mati Pelan-Pelan. Retrieved November 02, 2015, from Bisnis.com Jakarta Raya: http://jakarta.bisnis.com/read/20150421/383/425376/minimarket-makin-berdekatan-warung-kecil-mati-pelan-pelan

BREMMER, I. (2011). Akhir Pasar Bebas "The End Of Free Market". Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Ritzer, G. (2014). Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana.

SUROSO, G. (2015, Februari 12). MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA) DAN PEREKONOMIAN INDONESIA. Retrieved 11 02, 2015, from BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN-KEMENTRIAN KEUANGAN: http://www.bppk.kemenkeu.go.id/publikasi/artikel/150-artikel-keuangan-umum/20545-masyarakat-ekonomi-asean-mea-dan-perekonomian-indonesia                


[1]http://www.bppk.kemenkeu.go.id, Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dan Perekonomian Indonesia Kamis, 12 Februari 2015 08:23, diakses pada Senin, 02 Nopember 2015

 

[2]http://jakarta.bisnis.com, Minimarket Makin Berdekatan, Warung Kecil Mati Pelan-Pelan, Selasa, 21/04/2015 17:04 WIB, diakses pada Senin, 02/11/2015.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini