Senin, 03 Desember 2012

Laporan 5 Tokoh 1, Agama dalam Kehidupan Sosial, KPI 1 E

Sosok Pengubah Masalah Sosial Seputar Kehidupan Kampung Pemulung
Nama  : Syifa Maulidina
NIM    : 1112051000150
I.                   Latar Belakang
Masalah sosial merupakan hal yang wajar dalam bermasyarakat. Namun masalah sosial perlu dianalisis karena melibatkan faktor yang sangat berpengaruh, yaitu pendidikan dan ekonomi. Dalam kedua aspek ini seharusnya mampu menyadari bahwa pendorong kepribadian dalam kehidupan bermasyarakat adalah hal ini. Sebagaimana kita ketahui banyak sekali anak – anak bangsa yang mungkin memang memiliki cita – cita yang sangat positif namun itu hanya sebatas impian dan ucapan saja. Karenanya faktor ekonomi yang menghimpit keluarga dan sulitnya untuk mengenyam bangku pendidikan yang layak.
 Kemudian masalah sosial yang tentunya memang ada dalam kenyataannya yaitu memembahas tentang kesenjangan sosial yang dimana perbedaan kasta tinggi menengah dan bawah itu sangat terlihat, persoalan ini akan menimbulkan rasa ketersinggungan  baik kasta menengah ataupun bawah dan menghilangkan rasa persaudaraan. Sungguh memprihatinkan jika bangsa Indonesia ini memiliki slogan "Bhineka Tunggal Ika" bisa terpecah dengan hanya masalah sosial tersebut. Untuk itu, tentunya sebagai warga negara yang baik kita menyadari hal itu dengan penuh seksama. Karena agar terciptanya bangsa yang lebih maju, maka sepatutnya kita sebagai masyarakat tidak hanya mengandalkan peran pemerintah saja. Melainkan ikut serta mengetahui dan menata kesenjangan sosial yang terjadi di lingkungan sekitar.  
 
II.                Pertanyaan Pokok
Bagaimana membangun jiwa sosial sehingga mampu mendirikan sebuah yayasan atau rumah singgah untuk tempat pendidikan bagi anak – anak pemulung ?
 
III.             Metode
Metode yang digunakan adalah kualitatif, karena metode ini menggunakan informan kunci yaitu salah seorang penggagas yayasan untuk anak – anak pekerja sektor informal. Dan dengan metode ini didapat informasi secara mendalam.
Waktu      : 3 Desember 2012, 18:30 – sampai selesai
Lokasi      : Jalan Jambu, Legoso – Ciputat, Tangsel
 
IV.             Gambaran Tokoh
Narasumber bernama Ibu Desi Handayani (41). Beliau adalah seorang tokoh masyarakat yang hanya lulusan SMK, tetapi jiwa sosial beliau sangat berpengaruh terhadap lingkungan sekitar. Yang memang pada kenyataannya lingkungan tersebut merupakan tempat bagi keluarga para pemulung. Beliau berperan sebagai penggagas rumah singgah bagi anak – anak yang bekerja pada sektor informal, pemikiran beliau untuk mendirikan sebuah yayasan atau rumah singgah tentu tidak hanya dengan sendiri saja, akan tetapi beliau tergerak hatinya karena melihat banyaknya pemulung yang harusnya mengenyam pendidikan dengan layak.
 
V.                Analisis
Tahun 2000 adalah tahun dimana pertama kali rumah singgah ini didirikan. Dalam perjalanan rumah singgah atau yayasan anak pekerja sektor informal ini, ada pro dan kontra di tahun pertama dalam membina anak – anak tersebut. Dimana peran anak dirampas oleh orang tua yang menuntut anaknya untuk bekerja pagi siang malam demi membantu penghasilan orang tuanya.
Pembinaan berjalan, para orang tua selalu menunggu anaknya untuk menyuruhnya kembali bekerja, padahal saat itu masih berlangsung materi formal yang diberikan oleh Ibu Desi. Pada awalnya Ibu Desi tidak keberatan dengan sikap para orang tua tersebut, namun pada akhirnya Ibu Desi memberikan pengertian akan pentingnya pendidikan untuk anak, sehingga terbukanya pikiran para orang tua bahwa pendidikan itu penting.
Anak – anak yang sudah dibina dalam rumah singgah sudah mencapai 150 orang. Tidak hanya anak – anak yang dibina, ada juga para ibu dari anak pemulung tersebut, pembinaan yang diberikan mulai dari pengetahuan umum, sampai pembinaan keterampilan seperti, menjahit, menyablon, dan mekanik/ montir. Tidak sedikit anak yang berprestasi, walaupun pada awal masuk rumah singgah mereka buta huruf, bahkan ada yang tidak bisa memegang alat tulis.
Nilai agama juga berperan, dimana anak diajarkan sholat, bacaan sholat, dan mengaji yang berimbas pada orang tua masing – masing, yang mungkin tadinya jarang beribadah menjadi rajin beribadah. Dan semua itu menghantarkan keluarga mereka menuju kehidupan yang lebih baik. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini