Senin, 06 Oktober 2014

Much Mugni Noorrachman KPI 5D Filsafat

DEFINISI
FILSAFAT; Ilmu pengetahuan yang mempersoalkan hakikat dari segala yang ada. Kata filsafat atau falsafat dalam bahasa Arab berasal dari bahasa Yunani philosophia yang secara harfiah berarti cinta kepada pengetahuan atau cinta kepada kebijaksanaan. Orang yang cinta kepada pengetahuan atau kebijaksanaan disebut philosophos atau dalam bahasa Arab failsouf (filsuf).

Di bawah ini beberapa pengetian filsafat menurut para ahli dilihat dari batasan filsafat:
-    Plato; Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang mencari hakikat kebenaran yang asli. Aristoteles (384-322 SM) yang menitikberatkan pada ilmu Filsafat, Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang mengandung kebenaran mengenai ilmu-ilmu fisika, logika, etika, ekonomi, politik dan estetika. Ia juga mengatakan Filsafat adalah ilmu yang mencari kebenaran yang pertama, ilmu tentang segala yang ada yang menunjukan adanya mengadakan sebagai penggerak pertama. Keduanya belum samapai kepada konsepsi adanya Tuhan yang menciptakan.
-   Al-Farabi (870-950) seorang filsuf muslim mengatakan filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud dan bertujuan menyelidik hakikat yang sebenarnya (al-'ilm bi al-maujûdât bimâ hiyâ maujûdât).
-   Harun Nasution merumuskan definisi filsafat antara lain sebagai berikut: pengetahuan tentang hikmat; mencari kebenaran; dan membahas dasar-dasar dari apa yang dibahas. Lebih lanjut dikatakan bahwa intisari filsafat ialah berpikir menurut tata-tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma, serta agama), dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalan.
Filsafat Agama berarti berpikir tentang dasar-dasar agama, mencoba memahami dasar-dasar itu menurut logika, sehingga dapat memberikan penjelasan yang dapat diterima akal kepada orang-orang yang tidak percaya kepada wahyu dan hanya berpegang pada pendapat akal.
UNSUR-UNSUR
Kajian filsafat ilmu adalah mencakup 3 dimensi, yakni; Landasan Ontologis, Landasan Epistemologis, Landasan Aksiologis.
-   Dimensi Ontologis; Ontology berarti berarti ilmu pengetahuan atau ajaran tentang yang berada. Ontology menyelidiki sifat dasar dari apa yang nyata secara fundamental dan cara yang berada di mana entitas dari kategori-kategori yang logis, yang berlainan (objek fisis, hal universal, abstraksi) dapat dikatakan ada; dalam rangka tradisional ontology dianggap sebagai teori mengenai prinsip-prinsip umum dari hal ada, sedangkan akhir-akhir ini ontology dipandang sebagai teori mengenai apa yang ada.
-   Dimensi Epistimologi; Epestemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal-usul dan mula atau sumber, struktur, metode, dan syahnya pengetahuan.
     Epistemology adalah cabang filsafat yang menjelaskan tentang masalah-masalah filosofis sekitar teori pengetahuan. Secara umum pertanyaan-pertanyaan epistemology menyangkut dua macam, yakni epistemology kefilsafatan yang erat hubungannya dengan psikologi dan pertanyaan-pertanyaan semantic yang menyangkut hubungan antara pengetahuan dengan objek pengetahuan tersebut.
-   Dimensi Aksiologis; Aksiologis adalah "teori tentang nilai". Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki oleh manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Teori tentang nilai yang dalam filsafat mengacu kepada permasalahan etika dan estetika. Aksiologi sebagai salah satu cabang filsafat membahas nilai sebagai imperative dalam penerapan ilmu pengetahuan secara praktis.
     Aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai, yang umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan. Aksiologi juga menunjukkan kaedah-kaedah apa yang harus kita perhatikan di dalam menerapkan ilmu ke dalam praktis. Aksiologi memuat pemikiran tentang masalah nilai-nilai termasuk nilai-nilai tinggi dari Tuhan. Misalnya, nilai moral, nilai agama, nilai keindahan. Aksiologi juga mengandung pengertian lebih luas dari pada etika atau nilai-nilai kehidupan yang bertaraf tinggi.
METODE
Penjelasan secara singkat metode-metode filsafat yang khas adalah sebagai berikut:
1.        Metode Kritis: Socrates dan plato; Metode ini bersifat analisis istilah dan pendapat atau aturan-aturan yang di kemukakan orang. Merupakan hermeneutika, yangmenjelaskan keyakinan dan memperlihatkan pertentangan. Dengan jalan bertanya (berdialog), membedakan, membersihkan, menyisihkan dan menolak yang akhirnya di temukan hakikat.
2.        Metode Intuitif : Plotinus dan Bergson; Dengan jalan metode intropeksi intuitif dan dengan pemakaian simbol-simbol di usahakan membersihkan intelektual (bersama dengan pencucian moral), sehingga tercapai suatu penerangan pemikiran. Sedangkan bergson dengan jalan pembauran antara kesadaran dan proses perubahan, tercapai pemahaman langsung mengenai kenyataan.
3.        Metode Skolastik : aristoteles, thomas aquinas, filsafat abad pertengahan; Metode ini bersifat sintetis-deduktif dengan bertitik tolak dari defenisi-defenisi atau prindip-prinsip yang jelas dengan sendirinya di tarik kesimpulan-kesimpulan.
4.        Metode Geometris : rene descartes dan pengikutnya; Melalui analisis mengenai hal-hal kompleks di capai intiuisi akan hakikat-hakikat sederhana (ide terang dan berbeda dari yang lain), dari hakikat-hakikat itu di dedukasikan secara matematis segala pengertian lainnya.
5.        Metode Empiris :Hobbes, Locke, Berkeley, David Hume; Hanya pengalamanlah menyajikan pengertian benar, maka semua pengertian (ide-ide ) dalam intropeksi di bandingkan dengan cerapan-cerapan (impresi) dan kemudian di susun bersama secara geometris.
6.        Metode Transendental : Immanuel Kant dan Neo skolastik; Metode ini bertitik tolak dari tepatnya pengertian tertentu dengan jalan analisis di selidiki syarat-syarat apriori bagi pengertian demikian.
7.        Metode fenomenologis : Husserl, Eksistensialisme; Yakni dengan jalan beberapa pemotongan sistematis (reduction), refleksi atau fenomin dalam kesadaran mencapai penglihatan hakikat-hakikat murni. Fenomelogi adalah suatu aliran yang membicarakan tentang segala sesuatu yang menampakkan diri, atau yang membicarakan gejala. Hakikat segala sesuatu adalah reduksi atau penyaringan dan menurut Husserl ada tiga macam reduksi yaitu:
a.     Reduksi fenomologis, kita harus menyaring pengalaman-pengalaman kita agar mendapat fenomena semurni-murninya.
b.     Reduksi eidetis.
c.     Reduksi transcendental
8.        Metode Dialektis : Hegel dan Mark; Dengan jalan mengikuti dinamik pikiran atau alam sendiri menurut triade tesis, antitetis, sistesis di capai hakikat kenyataan. Dialektis itu di ungkapkan sebagai tiga langkah, yaitu dua pengertian yang bertentangan kemudian di damaikan (tesis-antitesis-sintesis).
9.        Metode Non-positivistis; Kenyataan yang di pahami menurut hakikatnya dengan jalan mempergunakan aturan-aturan seperti berlaku pada ilmu pengetahuan positif (eksakta).
10.    Metode analitika bahasa : Wittgenstein; Dengan jalan analisa pemakaian bahasa sehari-hari ditentukan sah atau tidaknya ucapan-ucapan filosofis. Metode ini di nilai cukup netral sebab tidak sama sekali mengendalikan salah satu filsafat. Keistimewaannya adalah semua kesimpulan dan hasilnya senantiasa di dasarkan kepada penelitian bahasa yang logis.
HAKIKAT
Islam mengakui bahwa selain kebenaran hakiki (al-haqq) yang berasal dari Tuhan (QS. 3:60 dan QS. 18:29), masih ada lagi kebenaran yang tidak bersifat absolut, yaitu kebenaran yang dicapai sebagai hasil usaha akal budi manusia. Akal adalah anugerah dari Allah SWT. kepada manusia, maka wajar bila akal mampu pula mencapai kebenaran, walaupun kebenaran yang dicapainya itu hanyalah dalam taraf relatif atau nisbi. Oleh sebab itu, apabila kebenaran yang nisbi itu tidak bertentangan dengan al-Qur`an dan Sunah, maka kebenaran itu dapat saja dijadikan pegangan atau digunakan dalam kehidupan ini. (QS. 39:18).
BUKU BACAAN:
-       ENSIKLOPEDIA Islam, Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam – Cetakan 4, Jakarta: Ictiar Baru Van Houve, 1997.
-       Suriasumantri. S. Jujun. 2005. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta.  Pustaka Sinar Harapan.
-       Susanto. 2011. Filsafat Ilmu Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis. Jakarta: Bumi Aksara. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini