Senin, 06 Oktober 2014

Ardiansyah Fadli_Tugas1__KPI5C


Etika Dan Moral
 ETIKA
Istilah Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Bentuk tunggal kata 'etika' yaitu ethos sedangkan bentuk jamaknya yaitu ta etha. Ethos mempunyai banyak arti yaitu : tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan/adat, akhlak,watak, perasaan, sikap, cara berpikir. Sedangkan arti ta etha yaitu adat kebiasaan. Arti dari bentuk jamak inilah yang melatar-belakangi terbentuknya istilah Etika yang oleh Aristoteles dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Jadi, secara etimologis (asal usul kata), etika mempunyai arti yaitu ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan (K.Bertens, 2000).

MORAL
Istilah Moral berasal dari bahasa Latin. Bentuk tunggal kata 'moral' yaitu mos sedangkan bentuk jamaknya yaitu mores yang masing-masing mempunyai arti yang sama yaitu kebiasaan, adat. Bila kita membandingkan dengan arti kata 'etika', maka secara etimologis, kata 'etika' sama dengan kata 'moral' karena kedua kata tersebut sama-sama mempunyai arti yaitu kebiasaan,adat. Dengan kata lain, kalau arti kata 'moral' sama dengan kata 'etika', maka rumusan arti kata 'moral' adalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Sedangkan yang membedakan hanya bahasa asalnya saja yaitu 'etika' dari bahasa Yunani dan 'moral' dari bahasa Latin.
                                                           
                                                            Amoral dan Immoral
Kemudian, selain ada istilah etika dan moral, ada istilah amoral dan immoral. Secara etimologis amoral tidak berkaitan dengan moral, sedangkan immoral berarti bertentangan dengan moral. Istilah amoral berarti netral dari sudut pandang moral atau tidak mempunyai relevansi moral atau etis. Sedangkan immoral seperti dikatakan tadi, berarti bertentangan dengan moral. 

                                                             Etika dan etiket
Etika berarti moral sedangkan etiket berarti sopan santun. Etika dan etiket menyangkut perilaku manusia. Kedua-duanya mengatur perilaku manusia secara normatif artinya memberi norma bagi perilaku manusia dan dengan demikian menyatakan apa yag harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.

Moralitas
Moralitas berasal dari kata dasar "moral" berasal dari kata "mos" yang berarti kebiasaan. Kata "mores" yang berarti kesusilaan, dari "mos", "mores". Moralitas yang secara dapat dipahami sebagai suatu tata aturan yang mengatur pengertian baik atau buruk perbuatan kemanusiaan, yang mana manusia dapat membedakan baik dan buruknya yang boleh dilakukan dan larangan sekalipun dapat mewujudkannya, atau suatu azas dan kaidah kesusilaan dalam hidup bermasyarakat.
Subyektif 

Berarti mengenai atau menurut pandangan sendiri, tidak langsung mengenai pokok atau halnya. Subyektif bersifat relatif. Penilaian yang diputuskan pun semata berasal dari menduga-duga
Etika Deskriptif, Normatif, dan Metaetika

1.      Etika deskriptif, ilmu pengetahuan (Etika) semata-mata bersifat deskriptif dan hanya berusaha untuk membuat deskripsi yang cermat. Etika deskriptif mungkin merupakan suatu cabang sosiologi, tetapi ilmu tersebut penting bila kita mempelajari Etika untuk mengetahui apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap tidak baik. Etika deskriptif bersangkutan dengan pencatatan terhadap corak-corak, predikat predikat serta tanggapan-tanggapan kesusilaan yang dapat ditemukan. Singkatnya, etika deskriptif hanya melukiskan tentang predikat dan tanggapan kesusilaan yang telah diterima dan dipakai

2.    Etika Normatif, etika dipandang suatu ilmu yang mengadakan ukuran atau norma yang dapat dipakai untuk menaggapi atau menilai perbuatan. Menerangkan tentang apa yang seharusnya terjadi dan apa yang harus dilakukan, dan memungkinkan kita untuk mengukur dengan apa yang seharusnya terjadi.
Etika normatif bersangkutan dengan penyelesaian ukuran kesusilaan yang benar.

3.    Meta Etika, sebagai suatu jalan menuju konsepsi atas benar atau tidaknya suatu tindakan atau peristiwa. Dalam meta-etika, tindakan atau peristiwa yang dibahas dan dipelajari berdasarkan hal itu sendiri dan dampak yang dibuatnya

Hakikat Etika Filosofis
Beberapa filsuf telah memberikan pandangan etika, sejak Stoa masalah etika telah menjadi salah satu pembahasan pokok filsafat. Menurut Stoa filsafat terdiri dari tiga bagian yaitu, fisika, logika, dan etika yang berfungsi sebagai buahnya. Seorang tokoh skolastik memikirkan tentang etika lebih dekat kepada aspek kemanusiaannya. Moral yang berlaku secara sosial maupun individual dipertimbangkan dalam tabiat manusia secara hakiki. Sebab manusia adalah makhluk sosial. Dalam hal ini seorang filsuf Thomas Aquinas telah menampilkan metode induktif didalam menguraikan etika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini