Senin, 06 Oktober 2014

Tugas ke III / Novi Fitriani / 1112051000147 / KPI 5E

Novi Fitriani / 1112051000147 / KPI 5E

1.      Definisi   Filsafat

-          Plato : Filsafat adalah pengetahuan yang berniat mencapai pengetahuan kebenaran yang asli.

-          Aristoteles : Filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik dan estetika (filsafat keindahan)

-          Kesimpulan : Filsafat adalah ilmu istimewa yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa, karena masalah-masalah tersebut di luar jangkauan ilmu pengetahuan biasa.

2.      Unsur-unsur Filsafat

a.      Epistemologi (membicarakan cara memperoleh pengetahuan)

Epistemologi membicarakan sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan. Runes dalam kamusnya (1971) menjelaskan bahwa epistemology is the branch of philosophy which investigates the origin, structure methods and validity of knowledge.

Pengetahuan manusia ada tiga macam, yaitu pengetahuan sains. Pengetahuan filsafat, dan pengetahuan mistik. Pengetahuan itu diperoleh manusia melalui berbagai cara dan dengan menggunakan berbagai alat. Ada beberapa aliran yang berbicara tentang ini, yaitu: Empirisme, Rasionalisme, Positivisme.

b.      Ontologi (membicarakan pengetahuan itu sendiri)

Setelah membenahi cara memperoleh pengetahuan, filosof mulai menghadapi objek-objeknya untuk memperoleh pengetahuan. Objek-objek itu dipikirkan secara mendalam sampai pada hakikatnya. Inilah sebabnya bagian ini dinamakan teori hakikat. Ada yang menamakan bagian ini ontologi.

Hakitat yaitu realitas; realitas ialah ke-real-an; "real" artinya kenyataan yang sebenarnya; jadi hakikat adalah kenyataan yang sebenarnya, keadaan sebenarnya sesuatu, bukan keadaan sementara atau keadaan yang menipu, bukan keadaan yang berubah.

c.       Aksiologi (membicarakan nilai guna pengetahuan)

Untuk mengetahui kegunaan filsafat, dapat dilihat dari tiga hal, pertama filsafat sebagai kumpulan teori, kumpulan teori filsafat digunakan untuk memahami dan mereaksi dunia pemikiran, karena dunia dibangun dan dibentuk oleh dua kekuatan yaitu agama dan filsafat.  kedua filsafat sebagai pandangan hidup, yaitu filsafat sama halnya dengan kegunaan agama, sebagai jalan kehidupan atau pedoman. ketiga filsafat sebagai metode pemecahan masalah. Sesuai dengan sifat filsafat yang memecahkan masalah secara mendalam dan universal. Pertama-tama mencari penyebab paling awal munculnya masalah, universal artinya melihat masalah dalam hubungan seluas-luasnya.

 

3.      Metode-metode Filsafat

d.      Metode Kritis : bersifat analisa istilah dan pendapat. Merupakan hermeneutika, yang menjelaskan keyakinan, dan memperlihatkan pertentangan. Dengan jalan bertanya (berdialog), membedakan, membersihkan, menyisihkan, dan menolak, akhirnya ditemukan hakikat. (Sokrates, Plato)

e.      Metode Intuitif : Dengan jalan intropeksi pembersihan intelekual (bersama dengan persucian moral), sehingga tercapai suatu penerangan pikiran.(Platinos). Dengan jalan pembauran antara kesadaran dan proses perubahan, tercapai pemahaman langsung mengenai kenyataan.(Bergson).

f.        Metode Skolastik : bersifat sintetis-deduktif. Dengan bertitik tolak dari definisi-definisi atau prinsip-prinsip yang jelas dengan sendirinya, ditarik kesimpulan-kesimpulan.(Aristoteles, Tomas Aquinas, filsafat abad pertengahan)

g.      Metode matematis : Melalui analisa mengenai hal-hal kompleks, dicapai intuisi akan hakikat-hakikat sederhana (ide terang dan berbeda dari yang lain) ; dari hakikat-hakikat itu di dedukasikan secara matematis segala pengertian lainnya. (Decrates dan pengikutnya)

h.      Metode empiris : hanya pengalamanlah menyajikan pengertian benar, maka semua pengertian (ide-ide) dalam instropeksi dibandingkan dengan serapan-serapan (impressi) dan kemudian disusun bersama secara geometris. (Hobbes, Locke, Barkeley, Hume).

i.        Metode transendental : Bertitik-tolak dari tepatnya pengertian tertentu, dengan jalan analisis diselidiki syarat-syarat aprioribagi pengertian sedemikian. (Kant, Neo-Skolastik).

j.        Metode dialektis : dengan jalan mengikuti dinamika pikiran atau alam sendiri, menurut triade tesis, antitesis dicapai hakikat kenyataan. (Hegel, Marx)

k.      Metode fenomenologis : dengan jalan beberapa pemotongan sistematis (reduction), refleksi atas fenonim dalam kesadaran mencapai penglihatan hakikat-hakikat murni. (Husserl, eksistensialisme)

l.        Metode Neo-positivistis : kenyataan dipahami menurut hakikatnya dengan jalan mempergunakan aturan-aturan seperti berlaku pada ilmu pengetahuan positif.

m.    Metode analitika bahasa : dengan jalan analisis pemakaian bahasa sehari-hari ditentukan sah atau tidaknya ucapan-ucapan filosofi. (Wittgenstein).

4.      Hakikat

Definisi Poedjawijatna dan Hasbullah Bakry menjelaskan satu hal yang penting yaitu bahwa filsafat itu pengetahuan yang diperoleh dari berpikir. Ciri khas filsafat ialah ia diperoleh dengan berpikir dan hasilnya berupa pemikiran (yang logis tetapi tidak empiris). Kita sebenarnya tidak cukup hanya mengatkan filsafat itu hasil pemikiran yang tidak empiris, karena pernyataan itu memang belum lengkap. D. C. Mulder mendefinisikan filsafat sebagai pengetahuan teoritis tentang susunan kenyataan sebagai keseluruhan. Namun dengan mengatakan bahwa filsafat ialah hasil pemikiran yang hanya logis, kita telah menyebutkan intisari filsafat. Pengetahuan filsafat ialah pengetahuan logis dan tidak empiris.

 

Sumber : Poerwantana, dkk.. Seluk Beluk Filsafat. Salatiga: CV Rosda. 1987

Sudarsono, Ilmu Filsafat. Jakarta: Rineka Cipta. 1993

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini