Rabu, 26 September 2012

E.Durkheim_AnisaIndrianiJNRI/B_Tugas2

Emile Durkheim


-          Fakta sosial

Durkheim menyatakan bahwa tugas utama sosiologi adalah mengkaji apa yang disebut fakta sosial. Ia mengonsepkan bahwa fakta sosial sebagai kekuatan (Takla dan Pope, 1985) dan struktur yang ada diluar namun memiliki daya paksa terhadap individu. Studi tentang struktur dan kekuatan skala besar, misalnya hukum yang telembaga dan keyakinan moral yang dipegang bersama – sama dan dampak yang di timbulkannya terhadap seseorang menjadi pokok perhatian dan teoritisi sosiologi yang lebih belakangan (Parsons, misalnya). Fakta sosial berkaitan dengan buku yang ditulis oleh Durkheim yang berjudul Suicide (1897/1951), dalam bukunya Durkheim dapat mengaitkan perilaku individu, semisal bunuh diri dengan sebab – sebab sosial (fakta sosial) dan argumen dasarnya adalah bahwa hakikat dan perubahan fakta sosiallah yang menyebabkan perbedaan angka bunuh diri.

Dalam buku The Rules of Sociological Method, Durkheim membedakan dua jenis fakta sosial, yaitu:

1.      Material, misalnya: birokrasi, hukum

2.      Nonmaterial, misalnya: budaya, institusi sosial

 

-          Agama

Dalam karya terakhirnya yang berjudul The Elementary Forms of Religious Life (1912/1965), Durkheim meneliti masyarakat primitive untuk menemukan akar – akar agama , menurutnya yang ditemukan adalah bahwa sumber agama adalah masyarakat itu sendiri. Agama adalah cara masyarakat mengekspresikan dirinya dalam bentuk fakta sosial nonmaterial. Emile Durkheim melihat semua agama membedakan hal – hal yang dianggap sakral dan yang dianggap profan. Durkheim menawarkan definisi agama sebagai berikut: "suatu agama adalah sebuah sistem kepercayaan dan tingkah laku yang berhubungan dengan hal – hal yang dianggap sakral, yaitu hal – hal yang dipisahkan dan dilarang – kepercayaan dan perilaku yang mempersatukan semua penganutnya menjadi satu komunitas moral, yaitu berdasarkan nilai – nilai bersama yang disebut umat". Ritus-ritus keagamaan merupakan cara bertindak (manner of acting) di tengah-tengah suatu kelompok yang sudah terhimpun, dimaksudkan untuk menghibur dan memelihara keadaan-keadaan mental tertentu yang ada dalam kelompok ini.

-          Pembagian kerja

Dalam buku Durkheim yang berjudul The Division of Labor in Society (1893). Karena familiaritisnya dengan Comte, Spencer, Schaffle, dll maka Durkheim berposisi untuk melontarkan pernyataan-pernyataan yang meyakinkan. Dengan menjadikan fakta solidaritas sosial sebagai unsur dasar dalam masyarakat, maka ia membagi masyarakat kedalam 2 tipe utama, yaitu masyarakat dimana solidaritas sosialnya bersifat mekanis/didominasi oleh kesadaran kelompok dan masyarakat dimana solidaritasnya bersifat organis atau dikarakterisir dengan spesialisasi divisi buruh dan saling ketergantungan.

Kedua jenis masyarakat hasil rumusannya itu dianalisis untuk menjawab permasalahan bagaimana caranya menentukan keadaan proses transformasi itu.  Dia percaya bahwa bila penduduk berkembang lebih banyak maka masyarakat aka lebih kompleks. Pembagian kerja akan sebanding dengan volume dan kepadatan masyarakat. Pembagian kerja semakin berkembang maka individu – individu tidak akan selamanya sama, sebab pekerjaan mereka mengikuti fungsi spesialis, pembagian kerja menetapkan bentuk kontrak moral baru antara individu dan inilah yang dinamakan "solidaritas organik". "solidaritas mekanik" berkaitan dengan pertumbuhan pembagian tenaga kerja, diamana semakin meningkat pembagian kerja maka terjadi perubahan struktur sosial dari solidaritas mekanik ke solidaritas organik.

 

-          Anomie

Ide tantang anomie itu diperkenalkan sebagai suatu tandingan tepat atas ide tentang solidaritas sosial. Sementara solidaritas sosial adalah suatu bentuk integrasi ideologi kolektif, anomie adalah bentuk kebingungan, ketidak amanan, "kehampaan norma". Representasi kolektif berada dalam keadaan porakporanda atau bisa juga tiadanya suatu "bangunan peraturan" yang sesuai dengan situasi – situasi kehidupan ekonomi yang terus berubah, sehingga menelantarkan pasar dalam keadaan tanpa aturan dan membiarkan para pekerja  tidak memiliki tujuan sosial apapun.

 

-          Fungsionalisme

pada awalnya Durkheim menganalisa secara teologis, yakni berbagai konsekuensi  yang terjadi di masa lampau menjadi penyebab gejala tersebut. Dengan demikian harus dibedakan antara sebab-sebab terjadinya suatu gejala dengan tujuan akhirnya, yaitu fungsionalisme. Namun Durkheim menyadari kelemahan mempergunakan pemikiran teologis. Durkheim mengetahui analisa teologis terkadang tidak benar, dia sendiri kadang kala terjerumus ke dalamnya, kemungkinan besar penyebabnya adalah pembentukan asumsi-asumsi organismik ke dalam analisa sosiologis. Dengan memasukkan asumsi-asumsi organismik seperti fungsi, kebutuhan, keadaan normal, patologi dan lain sebagainya menyebabkan analisa secara fungsionalisme menjadi suatu cara yang disukai pakar sosiolog selama beberapa generasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini