Selasa, 12 April 2016

M.Gustaf Maulana_Timeline_Metodologi Penelitian Dakwah_Tugas 5

NAMA            : M. Gustaf Maulana
NIM                : 1112053000003
MATKUL       : Metodologi Penelitian Dakwah
 
ALUR SEJARAH (TIMELINE)
Dalam tugas kali ini saya akan membahas masalah timeline atau alur sejarah moment hidup seseorang yang pada hakikatnya meiliki momen-momen terpenting semasa hidupnya. Saya memilih seorang tokoh masyarakat Drs. H.Ridwan Syahrani  M.Si. Beliau adalah seorang tokoh masyarakat yang lahir pada tanggal 3 Maret 1958 di Kalimantan Selatan. Beliau asli putra daerah Kalimantan Selatan yang lahir dari seorang veteran masa penjajahan Belanda bernama H.Dusni bin Abdu Samad. H.Ridwan merupakan seorang pegawai negeri sipil Kementrian Agama. Beliau sedang berdomisili di daerah Jakarta Pusat tepatnya kawasan menteng. Saya berkesempatan mewawancarai beliau hari senin, 11 April 2016.
Keramahan dan kesopanan beliau yang membuat diskusi kami menjadi begitu menarik tentang pengalaman hidup beliau semasa remaja sampai menjadi seorang PNS Kemenag yang juga membuka usaha jasa transportasi. Beliau memutuskan untuk menjadi santri pada usia 12 tahun sampai dengan 19 tahun sekitar mulai tahun 1969 – 1975 an. Di masa santri bercerita ada momen yang begitu unik, beliau kamping dengan palang merah remaja, ketika itu ada seorang santriwati meminta kapas terus menerus, dan ternyata selidik punya selidik  kapas itu dipakai untuk pelindung datang bulannya si santriwati itu karena pada masa itu belum ada pelindung datang bulan seperti sekarang.
Selepas masa menjadi seorang santri, H.Ridwan yang biasa dipanggil Mas Iwan akhirnya melanjutkan kuliah di Universitas IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kurang lebih selama 4 tahun beliau menjadi seorang mahasiswa Fakultas Dakwah sekitar tahun 1980 an. Menjadi seorang mahasiswa pada masa orde baru beliau sempat memiliki sejarah yang beliau selalu ingat. Sekitar tahun 1980 an pula Mas Iwan mengalami kecelakaan yang mengakibatkan Mas Iwan dilarikan ke rumah sakit kristen dan disitu juga ada seorang pendeta yang mendoakan mas Iwan agar cepat sembuh. Tetapi, mas Iwan menolak karena dia tahu bahwa itu pendeta. Sebagai seorang mahasiswa yang pada masa itu terkenal dengan mahasiswa pergerakan, mas Iwan ini juga seorang aktivis yang mengikuti BEM di Fakultas tersebut. Masih sekitar tahun 1980-1983 an beliau sempat memulai aksi demo terhadap Dekanat Fakultas Dakwah pada masa itu. Jabatan di BEM nya pun cukup dibilang penting karena dipercaya menjadi pengatur keuangan (bendahara) BEM Fakultas.
Sedikit memang momen yang bersejarah di masa mas iwan menjadi mahasiswa. Mas Iwan layaknya mahasiswa lainnya yang lulus di tahun 1984 an setelah menimba ilmu selama kurang lebih 4 tahun. Selepas mas Iwan menjadi seorang sarjana tahun 80-an, tak disangka mas Iwan sudah mendapatkan pekerjaan sebagai seorang honorer Kementrian Agama daerah Kalimantan Selatan. Sebgai seorang perantau yang menimba ilmu di pulau Jawa, mas Iwan ingin mengabdi untuk asal kelahirannya di daerah yang terkenal dengan suku Dayaknya. Di masa-masa beliau menjadi seorang honorer itu sekitar tahun 1990an, mas Iwan sudah dipercaya untuk mengurus Masjid yang berada di daerah Kalimantan tepatnya Masjid yang berada di Jl.M.H. Tamrin. Menurut mas Iwan ini merupakan momen yang penting dalam hidupnya, karena beliau bisa mengaplikasikan ilmu yang selama ini dipelajari semasa kuliah untuk mengembangkan nilai-nilai keislaman, salah satunya dengan menjadi bagian dari Kementrian Agama.
Tahun 1995 pun mas Iwan diangkat menjadi PNS yang akhirnya mendapatkan rumah dinas dari Kementrian Agama. 34 tahun sebelumnya mas Iwan mengakhiri masa lajangnya dan menikahi seorang gadis asli Kalimantan yang bernama Risnawati. 4 tahun berselang karir mas Iwan mulai menanajak dan mendapatkan seoarang bayi kecil, mungil yang diberi nama Hafidz Maulana. Di sekitaran 1995an – 2000an beliau bekerja keras demi menghidpukan keluarga. Di tahun 1997 mas Iwan berangkat untuk menuanikan ibadah Haji bersama istri dan meninggalkan bayi mereka kepada adik ibu risnawati.
Di tahun 2000an , mas Iwan dan keluarga kecilnya sepakat untuk pindah dari rumah dinas dan membangun rumah sendiri yang lebih luas dan nyaman untuk keluarganya. Karir Pak H.Ridwan Syahrani terus menigkat yang sampai akhirnya di tahun 2013 beliau dipercaya menjadi sekretaris FKUB (Forum Komunikasi Umat Beragama) se-Kalimantan Tengah. Ini merupakan momen penting dan akan menjadi sejarah bagi hidup Drs.H.Ridwan Syahrani M.Si.
Begitu cerita singkat momen hidup Drs. H. Ridwan Syaharani yang beliau paparkan kepada Saya selama wawancara semoga menjadi inspirasi bagi saya dan pembaca sekalian.     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini