Selasa, 12 April 2016

Tiara 'Adani_Timeline_Tugas 5

Nama               : Tiara 'Adani

 

NIM                : 11140530000052

 

Mata Kuliah    : Metodelogi Penelitian Dakwah

 

Jurusan            : Manajemen Dakwah 4B

 

 

Alur Sejarah (Timeline)

 

 

            Alur sejarah timeline merupakan tugas metodelogi penelitian dakwah yang kelima, yaitu teknik penelusuran alur sejarah suatu masyarakat dengan menggali kejadian penting yang pernah dialami pada waktu tertentu. Pada tugas kali ini saya memilih bapak Mahim sebagai narasumber yang saya teliti, karena beliau merupakam salah satu seorang yang berjasa dalam pembangunan Masjid Jami Al-Huda yang terletak di Sasak Tinggi Ciputat.

 

Mahim merupakan seorang yatim piatu yang ditinggal oleh kedua orang tuanya sejak ia kecil. Beliau lahir di Sasak Tinggi Ciputat pada tanggal 10 Maret 1942. Beliau adalah anak keenam dari tujuh bersaudara. Ayah beliau bernama Nasim dan ibu beliau bernama Sarinah. Beliau merupakan seorang laki-laki yang berasal dari keluarga yang sangat sederhana bahkan dapat dikatakan hidupnya begitu susah, maka dari itu beliau selalu berusaha untuk menghidupi kehidupan sehari-harinya dengan bekerja.

 

Sejak kecil beliau tinggal bersama orang-orang Cina dengan bekerja sebagai kuli, pemacul, penebang kayu, pembuat tahu, merawat kerbau yang semua pekerjaan itu beliau lakukan setiap hari. Bahkan ketika beliau bekerja beliau pernah tercebur sumur pada jam 12 malam dikarenakan tempat kerjanya yang licin. Alhamdulillah beliau dapat tertolong, karena banyak orang yang tercebur sumur tersebut yang tidak terselamatkan nyawanya.

 

Beliau tumbuh di lingkungan yang dominan berbeda agama dengannya (orang-orang Cina). Namun, meskipun beliau tinggal bersama orang-orang yang berbeda agama, beliau tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim. Beliau mengikuti pengajian-pengajian dengan cara diam-diam, karena beliau dilarang oleh majikanya yang berbeda agama untuk tidak mengikuti pengajian tersebut.

 

Pada tahun 1943 beliau mengalami penjajahan Jepang, yaitu kejadian "alarm" dimana setiap kali terdengar suara alarm semua orang tanpa terkecuali harus memasuki tempat perlindungan. Tempat perlindungan tersebut dapat dikatakan tidak layak untuk ditinggali manusia karena tempat perlindungan tersebut merupakan sebuah galian tanah atau biasa disebut bentengan oleh masyarakat sekitar, tempat yang tidak terdapat lampu penerangan yang baik bahkan tidak terdapat banyak udara di dalamnya. Sampai makan pun harus mengantri bubur di kecamatan.

 

Pendidikan beliau berhenti hingga kelas lima SD, dikarenakan tidak ada lagi yang membiayai beliau untuk melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi. Pada tahun 1950 yaitu pada usia beliau lima belas tahun beliau mulai melanjutkan bekerja sebagai pedagang sayuran di pasar senin. Beliau memulai berdagang dari jam 4 pagi sampai malam dan dilanjutkan dengan berbelanja sayuran setelah berdagang.

 

Hingga akhirnya pada usia 18 tahun beliau memutuskan untuk menikah dengan wanita bernama Asinah pada 12 April tahun 1959. Dari pernikahannya beliau dikaruniai tujuh orang anak, empat orang laki-laki dan tiga orang perempuan. Pada tahun kelahiran anak beliau yang keempat bertepatan dengan kejadian PKI yaitu pada tahun 1965.

 

Setelah itu pada tahun 1970 beliau memilih untuk berhenti berdagang karena tempat beliau berdagang yaitu di pasar senin mulai ada pembangunan proyek baru, dan juga dikarenakan beliau tidak bias membayar kios yang disewanya. Kemudian setelah beliau berhenti berdagang beliau melanjutkan untuk mengurus Masjid.

 

Masjid didirikan pada tahun 1970. Orang-orang yang pertama kali merencanakan membangun Masjid yaitu Bapak Salam, Bapak Mahim, Bapak Dudung dan Bapak Guswar. Tanah Masjid merupakan tanah wakaf yang diberikan oleh Bapak Saman bin Gajud. Kemudian pemberian nama Masjid diusulkan oleh Ustadz yang selanjutnya disepakati oleh masyarakat sekitar yaitu Masjid Jami Al-Huda. Menurut sang Ustadz pemberian nama Al-Huda agar kita semua mendapat petunjuk dari-Nya.

 

Pada awalnya Masjid Jami Al-Huda hanya beratapkan genteng dan selanjutnya diganti dengan seng. Masjid Jami Al-Huda mengalami beberapa kali perubahan, setelah beratapkan genteng dan seng kemudian setelah itu para pengurus melakukan kebijakan untuk melakukan perubahan terhadap Masjid Al-Huda lagi, yaitu dengan cara memberi informasi kepada masyarakat sekitar untuk membawa batu bata setiap akan melaksanakan sholat berjama'ah setiap hari jum'at guna untuk memperbaiki keadaan Masjid. Pada tahun 1996 Masjid Al-Huda melakukan renovasi yang lebih baik dari sebelumnya, hingga sekarang Masjid Jami Al-Huda sudah terlihat lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini