Selasa, 12 April 2016

Selvi Claudia Rahmatika_Alur Sejara(Timeline)_Tugas5

Nama : Selvi Claudia Rahmatika

NIM  : 11140530000039 // MD 4B


 

Narasumber : H.Mulkan Nasir, BK,.S.Pd.,MM

TTL              : Jawa Tengah, 01 Januari 1955

 

            "Setiap orang pasti memiliki persepsi dimana mereka menganggap suatu hal kecil bisa menjadi kejadian penting dalam hidupnya, mungkin untuk orang lain itu tidak penting, biasa saja namun menurut orang lain pula itu adalah hal yag sangat penting dan menjadi suatu hal yang tak terlupakan dalam hidup orang tersebut" itulah kalimat pembuka yang disampakan oleh pak Mulkan selaku narasumber yang peneliti wawancarai, beliau adalah salah seorang dosen di fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi. Peneliti tertarik dengan pengalaman-pengalaman beliau ketika mulai merantau, menjajakan tanah Lampung dan sepenggal cerita ketika awal mula menjadi dosen di UIN Syarifhidayatullah Jakarta.

            Berikut adalah kejadian-kejadian yang beliau anggap sangat penting sehingga beliau senantiasa mengingatnya. Ceritanya bermula sekitar tahun 1974, ketika beliau lulus dari MA dan mempunyai keinginan untuk merantau ke daerah Ibu kota yang kala itu menjadi bahan pembicaraan sebagai kota yang mudah untuk mencari kesuksesan. Namun keinginan beliau tidak didukung oleh kedua orang tuanya, terlebih ibunya yang sangat menolak keinginan anaknya tersebut. Saat itu beliau tidak terlalu memaksa dengan keras keinginannya, beliau sadar posisinya sebagai anak yang tidak ingin menyakiti kedua orang tuanya, akhirnya dengan taktik halus beliau yang hampir setiap saat membujuk kedua orang tuanya itu membuahkan sedikit hasil, yaitu ayahnya mengizinkannya untuk pergi merantau ke Jakarta.  Namun ketika itu ibunya belum juga mengizinkan, pak Mulkan tidak langsung putus asa namun ia malah semakin meyakinkan ibunya agar percaya bahwa ia akan baik-baik saja di Jakarta, dengan segala keberatan hati ibu beliau akhirnya mengizinkan beliau untuk pergi merantau ke kota Jakrata namun dengan catatan bahwa kedua orang tuanya tidak dapat memberkan uang untuk hidup disana.

            Mendengar hal itu pak Mulkan sangat senang dan sekali lagi meyakinkan orang tuanya bahwa ia akan hidup dengan baik di Jakarta, lalu berangkatlah pak Mulkan ke Jakarta untuk merantau, hal pertama yang ia lakukan adalah pergi ke rumah salah satu saudaranya yang berada di Jakarta, disana bisa dikatakan ia menumpang untuk tidur dan makan. Lalu ia mencoba tes masuk IAIN Jakarta, dan ternyata dari hasil tes yang awalnya hanya mencoba-coba ia dinyatakan lulus masuk IAIN. Kala itu pak Mulkan tidak tahu harus membayar biaya pendidkannya sendiri dari mana, namun berkat do'a dan kerja kerasnya ia di terima mengajar pada sebuah Madrasah di bilangan Menteng atas, dan dari sinilah pak Mulkan mendapatkan uang untuk hidup sehari-hari di IAIN.

            Kejadian penting yang kedua yaitu ketika telah lulus dari IAIN sebagai sarjana muda, sekitar tahun 1979 beliau diberikan tugas sebagai tenaga kerja sukarela di Lampung, daerah Lambuan Maringgih kp.Pepen. Hal yang membuatnya menarik yaitu ketika beliau harus berusaha belajar memahami budaya kebasaan tabiat perilaku budaya orang Lampung, karena berdasarkan info yang ia dengar bahwa sesungguhnya orang Lampung itu memiliki sifat yang statis, dimana mereka susah untuk menerima hal-hal baru. namun pak Mulkan tetap meyakinkan dirinya bahwa ini bukanlah hal yang sulit ia harus mencoba untuk tetap memiliki pendekatan yang baik pada penduduk Lampung, dan akhrnya beliau mengajak teman-temannya dan juga beberapa aparat disana untuk membangun sebuah Madrasah Ibtidaiyah, dan yang sangat luar biasa ternyata aparat sanapun menyetujui bahkan mendukung adanya pembangunan kembali Madrasah-madrasah atau sekolah untuk anak-anak yang putus sekolah. Hal ini mebuktikan bahwa apa yang ia dengar dari informasi telinga ke telinga itu sangat bertolak belakang, nyatanya orang-orang Lampung mau menerima adanya pembangunan MI yang diberi nama MI AL-Iman.

            Selain menjadi kepala sekolah di MI Al-Iman, pak Mulkan juga menjadi kepala sekolah di MI Al-Hidayah dan SD Muhammadiyah. Sekitar tahun 1980 atau setahun kemudian beliau dipindah tugaskan ke daerah Lampung Utara, dan ada saat itu beliau menitipkan Madrasah yang telah ia bangun kepada teman kepercayaannya untuk mengurus MI Al-Iman agar dapat berjalan normal seperti biasanya. Namun ketika beberapa bulan kemudian saat beliau kembali ntuk menengok MI Al-Iman ternyata sekolah itu sudah tidak ada, baik sekolah, guru maupun siswanya sudah tidak ada. Entah apa yang membuatnya seperti ini karena ia merasa baik-baik saja ketika ia mengajar di sini beberapa waktu lalu, dan setelah di analisis ternyata interaksi antara pengurus Madrasah dan warga tidak berjalan dengan baik sehingga menimbulkan sesuatu yang salah pemahaman.

            Kajadian penting berikutnya ketika beliau masih di tugaskan di Lampung yaitu terjadinya pertarungan antara warga aseli Lampung dengan warga pendatang (transmigran). Pertarungan ini dipicu ketika saat musim kemarau ada beberapa anak dari wara pendatang yang mengambil ikan di sungai penduduk aseli Lampung, setelah mereka ketahuan oleh penduduk aseli Lampung mereka di kejar sampai mereka masuk ke dalam hutan. Hal in memicu kemarahan dari warga pendatang, anak mereka tidak kembali-kembali dari hutan dan terjadilah perang berdarah. Pada saatu itu pak Mulkan segera pergi ke Polsek Mandala, dan syukurnya setelah lapor pertumpahan itu segera reda karena anak mereka telah kembali pualng ke rumah dengan selamat.

            Sekitar tahun 1982 di akhir masa tugasnya, pak Mulkan kembali dipercayai untuk mengawasi sebuah proyek pembangunan bendungan di daerah Lampung Selatan. Hal yang paling dirasa sangat membanggakan bagi beliau adalah ketika sepulang dari tugas di daerah Lampung (1982) beliau langsung di tawarkan 12 kementrian yang ada di Indonesia tanpa tes ssama sekali, karena beliau merasa memiliki bassic dibidang agama seperti ketika MTS,MA dan iapun adalah salah satu lulusan IAIN Jakarta akhirnya beliau memilih untuk bergabung dengan Mentri Agama.

            Lalu ketika beliau telah bergabung beliau di tugaskan di daerah Jawa Tengah, beliau juga beranggapan bahwa ketika beliau dipilih untuk menjadi salah satu tim penilai lomba desa tingkat recidance dan kabupaten itu sebagai moment yang tak terlupakan, ketika itu ada 4 kabupaten yang mengikuti lomabnya yaitu kab.Banyumas, Purbalingga, Cilacap dan Banjarnegara. Setelah itu beliau dipindah tugaskan di Purwokerto. Setelah di Purwokerto beliau meminta atau mengajukan diri untuk dipindahkan ke daerah Jakarta. Dan di IAIN-lah pak Mulkan di tugaskan.

            Tepatnya pada tahun 1990 pak Mulkan mulai menjalani kehidupan di IAIN, dari mulai staff biasa yang hanya menjadi tukang menulis dan antar surat hingga akhirnya beliau menjadi Kasubag Tata Usaha fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi-kala itu(2003), lalu menjadi sekertaris Kopri (2009), dan kepala Urusan pasca sarjana (2009). Disela-sela ia bekerja di kementrian agama yaitu pada tahun 1994 beliau kembali bersilaturahmi ke daerah Lampung tempatnya dulu ditugaskan, dan betapa bahagianya beliau ketika mendapati sekolah Madrasah Al-Ikhlas yang dulu di kepalainya kini telah berkembang dengan adanya MTS dan MA, juga SD Muhammadiyah yang sudah berkembang dengan adanya SMP dan STM. Hal ini membuat beliau sangat senang dan terharu.

            Kejadian penting selanjutnya yaitu ketika beliau mulai belajar kembali di BA, Sarjana Muda dan Magister beliau mengajukan diri untuk pindah menjadi dosen. Salah satu alasannya yaitu untuk memperpanjang usia pensiun. Dan pengajuan ini di terima, lalu sekitar tahun 2009 beliau mulai mengajar menjadi dosen sampai sekarang, beliau juga sempat menduduki jabatan sebagai Sekjur (Sekertaris Jurusan) Menejemen Dakwah, namun sayangnya pada masa akhir periodenya yaitu tahun kemarin(2015) umur beliau tidak sampai, karena ketika ada pembaharuan usia untuk menduduki jabatan Sekjur yaitu tidak boleh lebih dari 60 tahun, karena sudah lebih ari 60 tahun beliaupun di promosingkirkan.

            Kurang lebih inilah beberapa kejadian yang dianggap penting oleh H.Mulkan Nasir, BA.,S.pd.,MM. Hal yang paling penting yang dapat dijadikan pelajaran yaitu ketika do'a dan kerja keras saling berdampingan menjadi satu alunan yang serasi akan menghasilkan sebuah hasil yang kita inginkan, bahkan itu lebih indah dari apa yang kita duga.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini