Senin, 12 Mei 2014

Suryo W. & Alfian Bayu P._Tugas ke-7_STRATEGI PENGEMBANGAN PRODUK PADA INDUSTRI OBAT TRADISIONAL DI INDONESIA SERTA PERAN PEMERINTAH DALAM PENGEMBANGANNYA

STRATEGI PENGEMBANGAN PRODUK PADA INDUSTRI OBAT TRADISIONAL DI INDONESIA SERTA PERAN PEMERINTAH DALAM PENGEMBANGANNYA

 

Pendahuluan

 

                Untuk memenuhi permintaan dan persaingan pasar, para pengusaha dituntut untuk meningkatkan efiensi produksinya dan meningkatkan efektivitas untuk mencapai tujuan-tujuannya. Industri yang tidak menerapkan mindset tersebut akan tergilas oleh banyaknya persaingan yang diterapkan para kompetitornya. Dan mindset tersebut telah menjadi dasar bisnis bagi pelaku usahan, terutama yang ingin masuk persaingan internasional.

                Dampak dari kekuatan pelaku usah yang berada pada pasar global telah dirasahakn pelaku usaha secara keseluruhan, bahkan para pengusaha  yang menjual di daerah terkecil dapat merasakan dampak kekuatan tersebut. Sedangkan dari sisi pelaku usaha perubahan yang terjadi dalam persaingan dianggap sebagai ancaman, namun ada juga yang menggap sebagai tantangan sekaligus peluang bagi pengembangan usahanya.

                Walaupun peran pemerintah sebagai regulator sekaligus dinamisator memang di perlukan terutama dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif. Namun, dari sisi pengusahan mindset yang harus dikembangkan adalah strategi perusahaan untuk dapat bertumbuh kembang pada kemampuannya sendiri.

                Seiring dengan berkembangnya gaya hidup Back to Nature penjualan produk berbahan tradisional meningkat pesat. Sebagai ilustrasi pada penjualan suplemen tahun 1998 mencapai US$ 40 milyar dan sejumlah US$ 19,8 milyar merupakan produk herbal.

 

Analisis dan Perbandingan

                Pada penilitian pertama yang berjudul Kebijakan pemerintah tentang obat tradisional dijelaskan bahwa obat-obat tradisional dulunya dibuat untuk kalangan sendiri atau terbatas tetapi seiring dengan berkembangnya zaman obat tradisional menjadi industri rumah tangga dan sekitar tahun ke-20 obat tradisional di produksi secara massal oleh industri-industri kecil obat tradisional(IKOT) dan Idunstri Obat Tradisional(IOT)

                Dan perkembangan obat tradisional memiliki perkembangan yang baik di Negara-negara maju maupun berkembang. Menurut badan WHO 65% penduduk Negara maju menggunakan obat tradisional. Walaupun sebenarnya obat tradisional banyak ke kurangan tetapi WHO memberi pedoman seperti strategi pengembangan obat tradisional,monografi tumbuhan obat, pedoman mengenai mutu dan keamanan obat tradisional, cara pembuatan obat tradisional yang baik, cara budidaya dan pengumpulan tumbuhan yang baik.

                Untuk kelebihannya obat tradisional di Indonesia menggunakan banyak sekali tumbuhan-tumbuhan yang ada disekitar sehingga gampang untuk ditemui di daerah-daerah di Indonesia. Di tasikmalaya sendiri terdapat 113 jenis tumbuhan obat yang dimanfaatkan untuk daerah itu sendiri.

                 Karena Indonesia merupakan Negara agraris yang memiliki banyak area pertanian dan perkebunan yang luas serta perkarangan yang dapat ditanami tumbuhan obat sehingga di Indonesia sendiri banyak sekali tumbuhan obat.

                Dan untuk perizinan sendiri di Indonesia memiliki IOT dan IKOT untuk industri-industri obat tradisionalnya. Bukan itu saja obat herbal yang di Indonesia tersebut sudah banyak di teliti oleh terhadap obat-obat tersebut dalam rangka pengembangan obat tradisional

                Sedangkan untuk kelemahannya obat tradisional di indonesia yaitu kurangnya standard dan metode instrument yang tepat untuk melakukan evaluasi terhadap mutu jaminan obat-obat tradisional tersebut  Dan kurangnya sumber daya alam yang belum dikelola secara optimal dan budidaya belum di lakukan secara professional ,karena iklim yang tidak menentu dan harga pasar yang tidak ada jaminan.

                Lalu pembiayaan yang tersedia untuk pengembangan obat tradisional dan penelitian tentang obat tradisional di Indonesia sendiri masih kurang bahkan jauh dari dari kebutuhan. Selain itu, industri obat tradisional di Indonesia kurang memperhatikan dan memanfaatkan hasil-hasil penelitian.

                Untuk mengatasi masalah tersebut pemerintah di Indonesia membuat kebijakan-kebijakan obat-obat tradisional nasional  yang disebut dengan KOTRANAS yaitu sebuah dokumen yang berisi pernyataan komitmen semua pihak yang menetapkan tujuan dan sasaran nasional di bidang obat tradisional beserta prioritas, strategi dan peran berbagai pihak dalam penerapan komponen-komponen pokok kebijakan untuk pencapaian tujuan pembangunan nasional khususnya di bidang kesehatan.

                Tujuan KOTRANAS ini 1. Mendorong pemanfaatan sumber daya alam dan ramuan tradisional secara berkelanjutan untuk digunakan sebagai obat tradisional dalam upaya peningkatan pelayanan kesehatan2. Menjamin pengelolaan potensi alam Indonesia secara lintas sektor agar mempunyai daya saing tinggi sebagai sumber ekonomi masyarakat dan devisa negara yang berkelanjutan.3. Tersedianya obat tradisional yang terjamin mutu, khasiat dan keamanannya, teruji secara ilmiah dan dimanfaatkan secara luas.

                Setelah mempelajari penelitian di atas kami mencoba membandingkan dengan penelitian yang kedua yaitu penelitian yang berjudul Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan Tanaman Obat Keluarga di Desa Pulau Sapi Kecamatan Mentarang Kabupaten Malinau di jelaskan dalam penelitian tersebut bahwa Tanaman obat keluarga sangat penting dalam kehidupan di kecamatan mentarang kabupaten malinau

Sedangkan pemerintahnya melakukan program pemerintahan  Kabupaten Malinau yaitu Gerakan Pembangunan Desa Mandiri (Gerbang Dema) salah satu pilarnya adalah memprioritaskan pembangunan yaitu peningkatan pertanian secara luas dan usaha pemberdayaan ekonomi keluarga,  pengembangan tanaman obat keluarga melalui kelompok ibu-ibu Dasa Wisma, PKK di tingkat ibu-ibu rumah tangga dan  dikelola oleh masing-masing desa, salah satu program desa yang dikembangkan oleh ibu-ibu PKK adalah tanaman obat keluarga (TOGA).

Dan untuk melakukan produksinya peran pemerintah melakukan pengadaan bahan baku untuk proses produksi toga yaitu  Pemerintah membangun kawasan berikat sebagai suatu kawasan yang membuka peluang dan kemudahan sebesar-besarnya bagi usaha – usaha yang memerlukan bahan baku obat-obat herbal.

Dan kesimpulannya bahwa di Indonesia sendiri pemerintah sudah banyak melakukan terobosan-terobosan agar masyarakat di Indonesia ini sadar akan manfaat dan khasiat obat tradisional dan tidak memandang sebelah mata akan khasiatnya dan sebagai warga Indonesia kita seharusnya mendukung dan memakai produk dalam negeri kita sendiri sehingga produk kita bias dikenal oleh negeri luar bahkan WHO juga sudah memberi tahu bahwa 65% penduduk Negara-negara maju lebih memilih obat-obatan tradisional maka sebab itu seharusnya kita bisa menghargai dan memakai obat-obatan di Indonesia apalagi Indonesia sendiri memiliki banyak sekali tanaman-tanaman yang digunakan untuk obat-obat tradisiona itu sendiri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini