Senin, 29 September 2014

MUDILLAH/1112051000132/KPI5E/ETIKAFILSAFAT/TUGASKE-2

Nama: Mudillah

NIM: 1112051000132

Kelas : KPI 5E

Tugas: ke-2

 

A.  Bidang yang Menjadi Garapan Etika Terapan Saat ini

Di dalam etika terapan banyak sekali topik yang dibicarakannya. Untuk sekedar menciptakan kejernihan dalam kerumunan pokok pembicaraan itu dapat dibedakan antara dua wilayah besar yang diselediki dalam etika terapan. Etika terapan dapat menyoroti suatu profesi atau suatu masalah. Sebgai contoh tentang etika terapan yang membahas profesi dapat disebut: etika kedokteran, etika politik, etika bisnis, dan sebagainya. Di antara masalah-masalah yang dibahas oleh etika terapan dapat disebut: penggunaan tenaga nuklir sebagai pembangkit listrik, pembuatan, pemilikan dan penggunaan senjata nuklir, dan sebagainya.

Terdapat empat cabang besar etika terapan yang paling banyak perhatian pada zaman sekarang. Empat cabang tersebut dua di antaranya menyangkut profesi dan dua lagi mengenai masalah: etika kedokteran, etika bisnis, etika tentang perang dan damai (termasuk di dalamnya masalah persenjataan nuklir), dan etika lingkungan hidup. Keempat macam etika terapan tersebut menarik begitu banyak perhatian karena di bidang-bidang tersebut berlangsung perkembangan yang paling pesat, sehingga terutama jika berhadapan dengan persoalan-persoalan etis, perlu segera ditangani dan dicarikan pemecahnya.

Cara lain untuk membagikan etika terapan adalah membedakan antara makroetika dan mikroetika. Makroetika membahas masalah-masala moral pada skala besar, artinya masalah-masalah ini menyangkut suatu bangsa seluruhnya atau bahkan seluruh umat manusia. Mikroetika membicarakan pertanyaan-pertanyaan etis dimana individu terlibat, seperti kewajiban dokter terhadap pasiennya atau kewajiban pengacara terhadap kliennya. Kadang-kadang di antara makroetika dan mikroetika disisipi lahi jenis etika terapan yang ketiga, yaitu mesoetika. Mesoetika menyoroti masalah-masalah etis yang berkaitan dengan suatu kelompok atau profesi. Misalnya kelompok ilmuwan, profesi wartawan, dan sebagainya.

Supaya klasifikasi cabang-cabang etika terapan ini agak lengkap, akhirnya dapat disebut lagi sebuah pembagian lain, biarpun relevansinyaa sekarang sering diragukan. Yang dimaksudkan adalah pembagian etika trepan ke dalam etika individual dan etika sosial. Etika individual membahas kewajiban manusia terhadap dirinya sendiri, sedangkan etika sosial memandang kewajiban manusia sebagai anggota masyarakat. Tapi ksulitan tentang pembagian ini adalah bahwa manusia perorangan pun merupakan anggota masyarakat. Manusia  selalu adalah makhluk sosial, sehingga tidak bisa dibedakan antara etika semata-mata individual dan etika semata-mata sosial. Sebagai masalah bagi etika individual dulu sering disebut: bunuh diri. Tapi perlu ditegaskan, perbuatan seperti bunuh diri pun tidak melibatkan invidu bersangkutan saja. ini tidak pernah suatu masalah pribadi saja, karena besar sekali pengaruhnya atas keluarga, teman-teman, sekolah, lingkungan kerja, dan sebagainya. Dan rupanya tidak ada suatu masalah pun yang bisa dilepaskan dari konteks sosialnya, sehingga pembagian ke dalam etika individual dan etika sosial kehilangan relevansinya.

 

B.  Pendekatan Etika Terapan

1.      Praktis

Etika Profesi sebagai Ilmu Praktis dan Terapan Etika profesi hendaknya dilihat sebagai ilmu yang bersifat praktis. Oleh karena itu, di dalam kajiannya etika profesi tidak meninggalkan segi atau landasan teoretisnya. Sebagai ilmu praktis, etika profesi memiliki sifat yang mementingkan tujuan perbuatan dan kegunaannya, baik secara pragmatis maupun secara utilitaristis dan deontologis.

2.      Pragmatis

Memandang etika profesi secara pragmatis berarti melihat bagaimana kegunaan itu memiliki makna bagi seorang profesional melalui tindakan positif berupa pelayanan terhadap klien, pasien atau pemakai jasa. 

3.      Moralis

Di dalam penerapan profesinya, seorang profesional harus dibimbing oleh norma moral, yaitu norma yang mewajibkan tanpa syarat (begitu saja) tanpa disertai pertimbangan lain.

Ciri khas etika terapan salah satunya adalah kerja sama erat antara etika dan ilmu-ilmu lain. Etika terapan tidak bisa dijalankan dengan baik tanpa kerja sama itu, karena ia harus membentuk pertimbangkan tentang bidang-bidang yang sama sekali di luar keahliannya. Karena itu pelaksanaan etika terapan minta suatu pendekatan multidisipliner, suatu pendekatan yang melibatkan berbagai ilmu sekaligus.

Dalam hal ini kita dapat membedakan antara pendekatan multidisipliner dan interdisipliner. Pendekatan multidisipliner adalah usaha pembahasan tentang tema yang sama oleh berbagai ilmu, sehingga semua ilmu itu memberikan sumbangannya yang satu di samping yang lain. Dan sedangkan pendekatan interdisipliner adalah kerja sama antara beberapa ilmu tentang tema yang sama dengan maksud mencapai suatu pandangan terpadu. Pendekatan interdisipliner dijalankan dengan cara lintas disiplin.

 

C.  Metode Etika Terapan

Etika terapan merupakan pendekatan ilmiah yang psti tidak seragam. Di sini tidak mau diberi kesanseolah-olah dalam etika terapan selalu memakai metode yang sama. Justru untuk ilmu praktis seperti etika terapan tidak ada metodde siap pakai yang bisa dimanfaatkan begitu saja oleh semua orang yang berkecimpung di bidang ini. Dalam etika terapan, variasi motode dan variasi pendekatan pasti besar sekali. Terdapat empat unsur yang dengan salah satu cara selalu berperanan dalam etika terapan. Empat unsur yang dimaksudkan adalah:

1.      Dari sikap awal menuju refleksi

Sikap awal merupakan sikap tertentu seseorang terhadap suatu hal atau masalah yang dihadapinya. Sikap moral berupa sikap awal ini bisa pro atau kontra atau juga netral, masalah bisa tak acuh terhadap sesuatu, tapi bagaimanapun mula-mula sikap ini dalam keadaan belum direfleksikan. Artinya, orang Belem memikirkan mengapa dia bersikap demikian terhadap masalah itu. Sikap awal ini terbentuk oleh macam-macam faktor yang ikut memainkan peranan dalam hidup seorang manusia, seperti: pendidikan, agama, kebudayaan, watak seseorang, pengalaman pribadi, media massa, kebiasaan, dan lain-lain. Umumnya sikap awal ini orang pertahankan tanpa memikirkannya lebih dalam lagi sampai saat dia berhadapan dengan suatu peristiwa atau keadaan yang menggugah refleksinya. Refleksi yang dilakukan selanjutnya dapat saja mengubah sikap awal tadi atau malah semakin meneguhkannya.

Sikap awal kita menjadi sesuatu yang problematis ketika kita bertemu dengan orang yang memiliki sikap lain tentang masalah yang sama. Kita bisa berbeda pandangan tentang sesuatu hal, umpamanya, tentang hukuman mati eutanasia; atau tentang masalah lebih sederhana, umpamanya tentang tindakan pemberantasan korupsi, tentang penentuan jodoh oleh orang tua, dan sebagainya. Berhadapan dengan sikap awal yang berbeda ini, pemikiran moral kita mulai tergugah, dan pada saat itulah refleksi etis kita mulai berlangsung. Kita mulai merefleksikan sikap awal, kita bertanya lebih dalam mengana kita bersikap demikian terhadap masalah itu; apa alasan yang bisa kita pertanggungjawabkan yang melandasi sikap kita itu;  apakah alasan-alasan itu bisa tahan uji dihadapan berbagai alasan-alasan yang dikemukakan, yang melatarbelakangi sikap orang lain yang berbeda dengan sikap kita; dan sebagainya.

2.      Informasi

Setelah pemikiran etis tergugah, unsur kedua yang dibutuhkan adalah informasi, yang tentu mempunyai kaitan dengan masalah yang sedang dihadapi. Kita butuh informasi penting dan obyektif mengenai sesuatu hal, dengannya kita bisa mengetahui dengan lebih baik tentang sesuatu yang sedang kita hadapi. Tanpa informasi yang memadai, maka sikap moral kita terhadap sesuatu sulit dipertanggungjawabkan. Kita butuh informasi yang berasal dari sumber yang dapat dipercaya, yang memiliki keahlian dan punya wawasan yang luas. Kalau informasi penting tidak kita dapatkan, maka sikap moral hanya didasarkan atas asumsi-asumsi pribadi. Pentingnya mendapatkan informasi yang memadai merupakan salah satu alasan mendasar mengenai etika terapan harus dijalankan dalam konteks kerja sama multidisipliner.

3.      Norma-norma moral

Unsur ini dalam metode etika terapan adalah norma-norma moral yang relevan untuk topik atau bidang bersangkutan. Norma-norma moral ini sudah diterima dalam masyarakat, tapi harus diketahui juga sebagai relevan untuk topik atau bidang yang khusus ini. Tidak bisa disangkal, penetapan norma-norma moral ini merupakan unsur terpenting dalam metode etika terapan.

Penetapan norma-norma moral ini bukanlah pekerjaan yang gampang, artinya penerapan norma-norma tersebut tidak berlangsung seperti penerapan prinsip-prinsip teori makanika dan teknik. Karena itu nama "etika terapan" sebetulnya bisa menyesatkan dan ada etikawan yang tidak senang dengan nama itu karena alasan tersebut. Dalam penelitian etika terapan sering kali norma itu harus tampak dulu atau harus membuktikan diri sebagai norma.Norma yang bersangkutan harus diterima oleh semua orang sebagi berlaku untuk kasus atau bidang tertentu. Pembentukan penilaian moral sering dimulai oleh suatu kelompok kecilyang memperjuangkan suatu pandangan etis tertentu.

4.      Logika

Uraian yang diberikaan dalam etika terapan harus bersifat logis juga. Ini tentu tidak merupakan tuntutan khusus bagi etika saja, sebab berlaku untuk setiap uraian yang mempunyai pretensi rasional. Logika dapat memperlihatkan bagaimana dalam suatu argumentasi tentang masalah moral perkaitan kesimpulan etis dengan premis-premisnya dan juga apakah penyimpulan itu tahan uji, jika diperiksa secara kritis menurut aturan-aturan logika.

 

D.  Relasi Etika dan Filsafat

Hubungan antara Etika dan Filsafat  adalah bahwa etika merupakan salah satu hal yang dihasilkan dari adanya filsafat. Seperti definisi diatas, filsafat berkaitan dengan pandangan hidup manusia akan suatu kebenaran. Dan dalam definisi etika dikatakan bahwa etika berhubungan dengan moral manusia dan tingkah laku yang  sopan dan santun. Jadi filsafat menghasilkan etika dan dibenarkan bahwa etika itu ada dalam diri manusia dan seharusnya dimiliki oleh setiap manusia dalam kehidupannya sebagai pedoman dalam pergaulan dilingkungannya. Jadi hubungan antara etika dengan filsafat sangat erat. Jika tidak ada filsafat maka etika pun juga tidak akan terbentuk.

.

 

 

 
Sent from Windows Mail
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini