Senin, 29 September 2014

Tugas ke2-Ahmad Zainuddin Syah

ETIKA TERAPAN
Etika terapan adalah studi etika yang menitikberatkan pada aspek aplikatif atas dasar teori etika atau norma yang ada. Etika terapan muncul karena perkembangan pesat etika dan kemajuan ilmu lainnya. Etika terapan bersifat praktis karena memperlihatkan sisi kegunaan dari penerapan teori dan norma etika pada perilaku manusia.
Contoh:
Etika terapan yang menyoroti permasalahan iklim dan lingkungan menghasilkan kajian mengenai etika lingkungan hidup.
 
A.    Bidang yang menjadi garapan etika saat ini
Etika profesi adalah etika yang berkaitan dengan profesi manusia atau etika yang diterapkan dalam dunia kerja manusia. Profesi berasal dari bahasa Latin: professues yang berarti suatu kegiatan manusia atau pekerjaan manusia yang dikaitkan dengan sumpah suci. Pengertian lain mengartikan sebagai perbuatan seseorang yang dilakukan untuk memperoleh nilai komersial. Di dalam dunia kerjanya, manusia membutuhkan pegangan, berbagai pertimbangan moral dan sikap yang bijak. Secara khusus, etika profesi membahas masalah etis yang berkaitan dengan profesi tertentu. Misalnya, etika dokter (kedokteran), etika pustakawan (perpustakaan), etika humas (kehumasan), dll.
Seorang profesional dituntut memiliki keahlian yang diperolehnya secara formal melalui pendidikan tinggi. Perolehan keahlian secara formal sangat penting ketika seorang profesional bersumpah atas dasar profesi tertentu, seperti dokter,.
Profesi dokter, Dengan keahliannya seorang dokter dapat bekerja disuatu tempat, membuka praktek, dan memberikan pelayanannya kepada khalayak. Kode etik profesi merupakan aturan atau norma yang diberlakukan pada profesi tertentu. Didalam norma tersebut terdapat beberapa persyaratan yang bersifat etis dan harus ditaati oleh pemilik profesi. Misalnya kode etik dokter, kode etik pustakawan, dll. Kode etik tertua dimunculkan oleh Hippocrates, bapak Ilmu Kedokteran di abad ke-5 SM yang terkenal dengan "Sumpah Hippocrates".
 
B.     Pendekatan Etika Terapan
Praktis, etika terapan hendaknya dilihat sebagai ilmu yang bersifat praktis. Oleh karena itu kajiannya etika profesi tidak meninggalkan segi atau landasan teoritisnya. Etika profesi memiliki sifat yang mementingkan tujuan perbuatannyadan kegunaanya, baik secara pragmatis maupun secara utilitaristis dan deontologis.
Pragmatis, Prespektif pragmatis melihat bagaimana kegunaan itu memiliki makna bagi seorang professional melalui tindakan positif. Contohnya pelayanan terhadap klien, pasien atau pemakai jasa.
Moralis, norma-norma moral tidak pernah mengwang-awang diudara, tapi tercantum dalam suatu sistem moral yang menjadi suatu kebudayaan. Terdapat banyak kebudayaan, dimana kebudayaan yang berbeda dapat mempunyai norma moral yang berbeda pula
 
C.    Metode Etika terapan
 metode etika terapan dalam hal ini sejalan dengan proses terbentuknya pertimbangan moral pada umumnya. Empat unsur yang dimaksud disini adalah: Sikap awal, informasi, norma-norma moral, logika. Berikut di bawah ini dipaparkan empat unsur tersebut, sebagai berikut:
         Sikap awal :Sikap awal merupakan sikap tertentu seseorang terhadap suatu hal atau masalah yang dihadapinya 
         Informasi : Kita butuh informasi, yang tentu mempunyai kaitan dengan masalah yang sedang dihadapi.
         Norma-norma moral : Norma-norma moral yang relevan untuk topik atau bidang bersangkutan, yang sudah sedemikian mengakar di tengah-tengah masyarakat, dan bukan baru diciptakan untuk kesempatan ini saja
         Logika berpikir : Proses pembahasan suatu masalah yang sedang dihadapi harus mematuhi tuntutan berpikr logis-rasional. Ini diperlukan bagi setiap usaha pembahasan untuk menghasilkan kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan secara moral
 
D.    Relasi Etika dan Filsafat
Etika merupakan salah satu hal yang dihasilkan dari adanya filsafat. filsafat berkaitan dengan pandangan hidup manusia akan suatu kebenaran. Dan dalam definisi etika dikatakan bahwa etika berhubungan dengan moral manusia dan tingkah laku yang  sopan dan santun. Jadi filsafat menghasilkan etika dan dibenarkan bahwa etika itu ada dalam diri manusia dan seharusnya dimiliki oleh setiap manusia dalam kehidupannya sebagai pedoman dalam pergaulan dilingkungannya. Jadi hubungan antara etika dengan filsafat sangat erat. Jika tidak ada filsafat maka etika pun juga tidak akan terbentuk.
 
 SUMBER
·         Ardianto, Elvinaro & Bambang Q. Aness, Filsafat Ilmu Komunikasi, Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2007.
·         Widjayanti Sjafariah Rosmaria, SS. M.Si, Etika, Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008.
·         Jurnal HMJ Aqidah dan Filsafat UIN SGD Bandung Vol. I No. 1, April 2013
·         K. Bertens, ETIKA, hlm. 295-303
 
 

 
 
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini