Senin, 29 September 2014

ETIKA II_MOHAMMAD MIQDAD_KPI 5C

NAMA           : MOHAMMAD.MIQDAD

NIM/KELAS : 1112051000075 / KPI 5C


Etika II : ETIKA TERAPAN
 
A.    Bidang Yang Menjadi Garapan Etika Terapan:

Dalam kehidupan saat ini, etika terapan memiliki peranan penting terhadap keharmonisan kehidupan manusia. Sebab Etika terapan sangat berpengaruh dalam mempengaruhi perilaku atau kebiasaan manusia khususnya sekarang ini karena merupakan sebagai aturan pegangan, dan pedoman bagi setiap orang dalam kehidupan dan kegiatan khusus tertentu. Sementara itu, Etika terapan sendiri juga menyoroti suatu profesi atau masalah. Sebagai contoh etika terapan yang membahas suatu profesi yakni membahas etika kedokteran, etika bisnis, etika kepustakawanan dan sebagainya.

Istilah Profesi lahir konon bermula pada abad pertengahan di Eropa Barat, hal tersebut sejalan dengan munculnya industri. Revolusi industri yang berkembang melahirkan kelas baru dalam masyarakat, seperti kelas industrialis, kelas pedagang, dan kelas teknisi. Kehadiran kelas-kelas baru ini mengakibatkan konsep profesi berubah.

Secara umum profesi merupakan pekerjaan dan pengabdian kepada masyarakat yang memerlukan pengetahuan, keahlian, dan keterampilan serta memerlukan prasyarat khusus. Soekarman (2004) mendefinisikan bahwa profesi adalah sejenis pekerjaan atau lapangan pekerjaan yang untuk melaksanakannya dengan baik memerlukan keterampilan dan / atau keahlian khusus yang diperoleh dari pendidikan dan / atau pelatihan secara berkesinambungan sesuai dengan perkembangan bidang pekerjaan atau lapangan pekerjaan yang bersangkutan.

Selanjutnya dalam berprofesi, diperlukan adanya pedoman atau pegangan dalam melaksanakan kegiatannya, yang hal ini disetiap profesi memiliki kode etik masing-masing. Sedangkan Etika profesi adalah sikap hidup berupa keadilan untuk memberikan pelayanan professional terhadap masyarakat dengan ketertiban penuh dan keahlinan sebagai pelayanan dalam rangka melaksanakan tugas berupa kewajiban terhadap masyarakat.

 

B.     Pendekatan etika terapan

Terdapat tiga pendekatan dalam etika terapan ;

1.      Praktis

Etika profesi hendaknya dilihat sebagai ilmu yang bersifat praktis, untuk itu di dalam kajiannya, etika profesi tidak meninggalkan segi atau landasan teoritisnya. Sebagai ilmu praktis maka etika profesi memiliki sifat yang mementingkan tujuan perbuatan dan kegunaannya, baik kegunaan secara pragmatis maupun secara utilitaristis dan deontologis.

2.       Pragmatis

Yang dimaksud dengan pragmatis dalam etika etika profesi yakni melihat bagaimana kegunaan itu memiliki makna bagi seorang profesional melalui tindakan yang positif yang berupa pelayanan terhadap klien, pasien atau pemakai jasa. Sejalan dengan kegunaan pragmatis, maka, kegunaan yang bersifat utilitaristis akan sangat bermanfaat apabila dapat menghasilkan perbuatan yang baik.

3.      Moralis

Di dalam penerapannya atau dalam dunia kerja, seorang profesional harus dibimbing oleh norma moral, yaitu norma yang mewajibkan tanpa syarat (begitu saja) tanpa disertai pertimbangan lain.

C.    Metode etika terapan

Ada empat unsur metode etika yang sejalan dengan terbentuknya pertimbangan moral pada umumnya:

a.       Dari sikap awal menuju refleksi

Dalam melihat sesuatu atau hal baru, sikap awal seseorang mungkin bisa menerima atau tidak, bersikap netral, atau malah bersikap apatis, yang mula-mula sikap ini belum direfleksikan. Sikap awal seperti ini biasanya dipertahankan tanpa mau berfikir lebih panjang sampai suatu saat berhadapan dengan suatu peristiwa atau suatu keadaan yang menggugah refleksi. Pada saat itu sikap awal menjadi masalah dan pemikiran moral kita tergugah. Dengan itu refleksi etis mulai perjalanannya. Hal itu bisa berlangsung dalam hidup pribadi seseorang yang berfikir tentang salah satu masalah etis. Tapi hal yang sama bisa terjadi juga pada skala lebih besar dalam etika terapan yang dijalankan dengan cara sistematis. 

b.      Informasi

Sikap awal yang mula-mula belum jelas arahnya, dengan adanya informasi seseorang dapat mengetahui bagaimana keadaan objektif dan melakukan pertimbangan terhadap keadaan tersebut.

c.      Norma-norma moral

Metode ketiga ini merupakan unsur terpenting dalam metode etika terapan. Tak dapat dipungkiri, dalam etika terapan diperlukan penerapan norma-norma moral yang dapat diterima dan berlaku bagi semua orang sebagai pelaku terhadap kasus atau bidang tertentu.

d.      Logika

Norma-norma yang diberikan dalam etika terapan harus bersifat logis. Logika dapat memperlihatkan bagaimana dalam suatu argumentasi tentang masalah moral berkaitan dengan kesimpulan etis dan premisnya menurut aturan logika. Selain itu, Logika juga dapat menunjukkan kesalahan penalaran yang barangkali terjadi dalam argumentasi.


D.   
Relasi Etika dan Filsafat.

Etika dan filsafat atau filsafat dengan etika pada dasarnya memiliki hubungan yang sangat erat. Sebab Filsafat merupakan ilmu pengetahuan yang berusaha mengkaji segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada dengan menggunakan pikiran.  Salah satu bagiannya adalah membahas tentang etika yaitu pembahasan tentang tingkah laku manusia, Dengan demikian, jelaslah bahwa etika termasuk salah satu komponen dalam filsafat.

Pada mulanya hampir keseluruhan disiplin ilmu bagian dari filsafat, namun dengan seiringnya perkembangan zaman disiplin ilmu semakin berkembang dan meluas, sehingga pada akhirnya membentuk disiplin ilmu tersendiri.

  

DAFTAR PUSTAKA

Rachman H & Zulfikar Zen, Etika Kepustakawanan, (Jakarta:CV. Sagung Seto, 2006)

K.Bertens, Etika, (Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama,1993)

Mufid, Muhamad,Etika dan  Filsafat Komunikasi.(Jakarta:Kencana, 2009).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini