Senin, 29 September 2014

Taufik Abdullah_KPI 5E_Tugas Etika 2

NAMA           : Taufik Abdullah
NIM/KELAS : 1112051000163 / KPI 5E
 
Etika II :
 
ETIKA TERAPAN
 
Etika terapan merupakan pendekatan ilmiah yang pasti tidak seragam. Dalam etika terapan, variasi metode dan variasi pendekatan pasti besar sekali.Setiap orang yang ingin membentuk suatu pendirian yang beralasan tentang problem – problem etis juga di luar kerangka etika terapan yang resmi akan menjumpai empat unsure.
\Empat unsure yang dimaksudkan ini adalah : sikap awal, informasi, norma-norma moral, dan logika.
1.      Dari Sikap Awal Menuju Refleksi
 
Dalam usaha membentuk suatu pandangan tentang masalah etis apapun, kita tidak pernah bertolak dari titik nol. Selalu sudah ada suatu sikap awal. Kita mulai dengan mengambil suatu sikap tertentu terhadap masalah bersangkutan. Demikian dengan orang- \orang yang mulai menekunui etiaka terapan.
Pada saat itu sikap awal menjadi problematic dan pemikiran moral kita tergugah. Dengan itu refleksi etis mulai perjalannannya.
Hal itu bisa berlangsung dalam hidup pribadi seseorang yang berfikir tentang salah satu masalah etis. Tapi hal yang sama bias terjadi juga pada skala yang lebih besar dalam etika terapan yabg dijalankan secara sistematis.
2.      Informasi
 
Setelah pemikiran etis tergugah, unsur kedua yang dibutuhkan adalah informasi. Hal itu terutama mendesak bagi masalah etis yang terkait dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Bisa saja terjadi sikap awal yang pro atau kontra itu sebenarnaya masih sangat emosional atau sekurang-kurangnya dikuasai oleh factor subjektif yang tidak sesuai kenyataan objektif.
Kiranya sudah jelas bahwa informasi yang dibutuhkan dalam masalah seperti ini hanya bias diberikan oleh ahli-ahli dibidang itu dan sebenarnya bukan oleh sembarang ahli tapi hanya mereka yang berwawasan luas.
Dengan demikian perlunya informasi merupakan salah satu alas an terpenting mengapa etika terapan harus dijalankan dalam konteks kerja sama multidisipliner.
3.      Norma-norma Moral
 
Unsur berikut dalam etika terapan adalah norma-norma moral yang relevan untuk topik atau bidang yang bersangkutan. Tidak bias disangkal, penerapan norma-norma moral ini merupakan unsure terpenting dalam metode etika terapan. Dari situ tidak bias ditarik kesimpulan bahwa penerapan norma-norma merupakan pekerjaan gampang.
 
4.      Logika
 
Uraian yang diberikan etika terapan harus bersifat logis juga. Ini tentu tidak merupakan tuntutan khusus bagi etik saja, sebab berlaku untuk setiapa uraian yang mempunyai potensi rasional.
Logika dapat memperlihatkan bagaimana dalam suatu argumentasi tentang masalah moral berkaitan kesimpulan etis beserta premis-premisnya dan juga apakah penyimpulan itu tahan uji, jika diperiksa secara kritis menurut aturan –aturan logika.
Logika dapat menunjukan kesalahan dalam penalaran dan inkonsistensi yang barangkali terjadi dalam argumentasi. Logika juga memungkinkan kita untuk menilai definisi dan klasifikasi yang dipakai dalam argumentasinya. Sikap awal, informasi, norma-norma etis dan penyusupan logis adalah empat unsure yang terpenting dalam membentuk etika terapa.
 
5.      Relasi etika dan filsafat
 
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha mengkaji segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada dengan menggunakan pikiran.  Salah satu bagiannya adalah membahas tentang etika yaitu pembahasan tentang tingkah laku manusia, Dengan demikian, jelaslah bahwa etika termasuk salah satu komponen dalam filsafat. Banyak ilmu yang pada mulanya merupakan bagian dari filsafat, tetapi karena ilmu tersebut kian meluas dan berkambang, akhirnya membentuk disiplin ilmu tersendiri dan terlepas dari filsafat. Demikian juga etika, dalam proses perkembangannya sekalipun masih diakui sebagai bagian dalam pembahasan filsafat, ia merupakan ilmu yang mempunyai identitas sendiri. (Alfan: 2011)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini