Senin, 17 September 2012

tugas sosial agama KPI 1D_2012_Tiara Desta Arum

Nama   : Tiara Desta Arum
Kelas   : KPI 1/D 2012
Mata Kuliah    : Sosiologi Agama(Bpk. Tantan)
·         Pengertian sosiologi dari Auguste Comte Oleh Tiara Desta Arum
 
1. Sejarah Perkembangan Sosiologi
Menurut dan Pemikiran Berger sosiologi berkembang manakala masyarakat menghadapi ancaman terhadap hal yang selama ini dianggap sebagai hal yang memang seharusnya demikian, benar, nyata-menghadapi apa yang oleh berger dan berger disebut threats to the taken-for-granted world[1]. Manakala hal ini menjadi pegangan manusia dalam mengalami krisi, maka mulailah orang melakukan hal renungan sosiologi.
L.Layendecker pun mengaitkan kelahiran sosiologi dengan serangkaian perubahan berjangka panjang yang melanda Eropa Barat diabad pertengahan . proses perubahan jangka panjang yang diidentifikasi Laeyendecker ialah (1) tumbuhnya kapitalisme pada akhir abad ke-15,(2) perubahan dibidang social dan politik,(3) perubahan berkenaan dengan reformasi Martin Luther,(4) Meningkatnya Invidualisme, (5) Lahirnya ilmu pengetahuan modern, (6) berkembangnya kepercayaan pada diri sendiri. Layender pun menyebutkan dua revolusi yang terjadi diabad ke-18, yaitu Revolusi industri serta revolusi perancis (lihat Laeyendercker,1983:11-43) .
Dan dalam buku Ritzer dijelaskan bahwa kekuatan sosisal yang mendorong pertumbuhan sosiologi ialah :
1.      Revolusi politik
2.      Revolusi Industri dan munculnya kapitalisme
3.      Sosialisme
4.      Urbanisasi
5.      Perubahan keagamaan
6.      Pertumbuhan ilmu
Berbagai proses perubahan social berjangka panjang pun mulai terjadi akibat proses perubhan social berjangka panjang ang dijabarkan Leyendecker dan Ritzer itulah "ancaman terhadap tatanan social" (threa to taken-for-granted world) yang telah begitu menggoncang masyarakat eropa dan seakan membangunkannya setelah terlena beberapa abad. Factor ini merupakan penyebaba utama mengapa pemikiran sosiologi mulai berkembang secara serentak dibeberapa Negara di Eropa-Inggris, perancis, Jerman-dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, yaitu terjadi pada abad kedelapan belas dan awalabad ke Sembilan belas.
 
 
2. Para Perintis Sosiologi
 
Setiap ilmu pengetahuan tentulah pasti mempunyai tokoh tertentu yang mengembangkan dan sebagai perintis ilmu yang dikemukakannya . Ilmu sosiologi pun juga mengenal sejunlah orang yang telah dianggap sebagai perintis dari ilmu tersebut.
            Biasanya para ahli sosiologi membedakan antara para perintis awal yang hidup pada awal ke-18 dan ke-19, dan para tokoh sosiologi masa kini yang hidup di abad ke-20.orang yang oleh Lewis Coser dianggap sebagai pemuka pikiran sosiologi atau Masters Of  Sosiological Though, ialah Saint-Simon, Comte, Spencer, Durkheim, Weber, Simmel sebagai tokoh sosilogi kalsik (Clasical Founders) dan orang seperti Mead, Goffman, Homans, Thibaut dan Kelly Blau, parson, Merton, Mills Dahrendorft, Coser , Collin sebagai penganut perspektif masa kini[2] .
 Pembahasan ini akan dimulai dengan uraian mengenai beberapa sumbangan penting para perintis awal bagi perkembangan sosiologi sebagai ilmu. Sosiologi pada masi ini berakar pada sumbangan pikiran pada tokoh klasik. Pemikiran tokoh masa kini seperti Mills, Dahrendorf, Coser dan Collins misalnya sangat memperlihatkan pengaruh Mark yang hidup di abad ke-19; pemikiran Homans dan Blau menampilkan tooh Utilitarianisme seperti Bentham,dan Pemikiran Mertondan Parsons menunjukan pengaruh pemikiran dari Durkheim.
Dalam sebuah imu pengetahuan sangatlah beraku asas menhormati pemikiran orang yang terdahulu, seperti Sir Izacc Newton, tokoh Matematika dan ilmu pengethuan alam, menyatakan rasa hormatnya ini melalui ungkapan yang terkenal " if I have seen father, it is by standing on th shoulder of giants" ,ia mengaku bahwa ia mampu melihat jauh kedepan karena berdiri diatas pundak para raksasa yang telah mendahuluinya. Dalam itu pun sama seperti dengan ilmu sosiologi, para tokoh yang sudah ada pun mampu mengembangkan sosiologi karena dilandaskan pemikiran mereka pada sumbangan pemikiran para perintis sosiologi abad ke 18 dan 19, sedangkan para raksasa tersebut juga berdasarkan para took filsafat social yang sudah mendahului mereka.
Dan disini penulis akan mejelaskan perintis sosiologi yang benar- benar dianggap pemahamannya mudah diterima oleh orang banyak dan merekalh yang disebut sebagai tokoh para pirintis sosiologi.
 
 
1.      Auguste Comte (1798-1857)
 
Dalam ilmu pengetahuan dikenal istilah paternity yaitu sebuah pengakuan bahwa seorang tokoh adalah pendiri suatu bidang ilmu dengan memberikan nama "Bapak" bagi bidang ilmu yang bersangkutan. Dalam sosiologi tokoh yang dianggap sebagai seorang bapak ialah Auguste Comte .ia adalah seorang ahli filsafat yang berasal dari Perancis . namun ada pendapat lain yang berlainan seperti Reiss, Jr (1968) bahwa seorang Auguste Comte lebih tepat dipanggil seorang Godfather atau wali dari pada seorang progenitor (leluhur) sossiologi karena sumbangan comte terbatas pada pemberian nama dan suatu filsafat yang membantu perkembangan sosiologi . Menurut Reiss tokoh yang lebih tepat dianggap sebagai penyumbang utama bagi ilmu sosiologi adalah Emile Durkheim.
            Awal nama sosiologi memang merupakan hasil ciptaan dari Comte yaitu suatu gabungan antara romawi socius dan kata yunani logos . coser (1977) mengisahkan bahwa comte semula bermaksud memberikan nama social physic bagi ilmu yang akan diciptakannya itu, namun kemudian mengurungkan niatnya itu Karena pada saat itu kata tersebut sudah digunakan oleh seorang tokoh lain yaitu,Saint Simon.
            Salah satu sumbangan penting lain bagi sosiologi, sebagaimana telah dikemukakan Reiss adalah suatu filsafat yang mendorong perkembangan sosiologi . pemikiran ini diutarakan comte dalam bukunya: course de hiloshophie positive . didalam buku ini telah diutarakannya oleh comte mengenai "hukum kemajuan manusia" atau "hukum tiga jenjang" menurut pandangan ini, sejarah manusia akan melewati tiga jenjang yang mendaki jenjang teologi, jenjang metafisika, dan jenjang positif. Pada jenjang pertama manusia akan menjelaskan gejala disekitarnya dengan mengacu pada hal yang bersifat adikodrati, lalu kemudian pada jenjang kedua manusia akan mengacu pada kekuatan metafisik atau abstrak , dan pada jenjang tertinggi atau akhir ,jenjang positif , penjelasan gejala alam maupun social dilakukan dengan mengacu pada deskripsi ilmiah yang didasarkan pada hukum ilmiah[3].
            Karena Comte memperkenalkan metode positif ini, maka Comte dianggap sebagai perintis dari positivisme. Ciri metode positif ialah bahwa objek yang harus dikaji harus berupa fakta , dan bahwa kajian yang disampaikan haruslah bermanfaat serta mengarah ke kepastian dan kecermatan . sarana yang menurut comte dapat digunakan untuk melakukan kajian adalah :
1.      Pengamatan
2.      Perbandingan
3.      Eksperimen
4.      Metode Historis[4]
 
Mengapa seorang comte berpendapat bahwa sebuah sosiologi haruslah berpikiran positif Karena dalam pandangannya sosiologi harus samalah pandangannya dengan sebuah ilmu pengetahuan alam yang sudah ada sebelumnya , dan menurut hematnya kegiatan kajian sosiologi yang tidak menggunakan metode pengamatan, perbandingan dan eksperimen maupun historis bukanlah kajian ilmiah melainkan hanya sebuah renungan atau khayalan biasa.
Suatu pandangan yang menarik dari Comte adalah bahwa sosiologi menurutnya adalah ratu dari segala ilmu-ilmu social. Dalam bayangannya hanya mengenai hirearki ilmu, sosiologi bahkan menempati kedudukan diatas astronomi, fisika, ilmu kimia, dan biologi. Dan sumbangan penting lain yang diberikan Comte adalah pembagian sosiologi kedalam dua bagian besar yaitu statika social(social statics) yaitu sebuah kajian terhadap tatanan social dan dinamika sosial(social dynamics) yaitu kajian terhadap kemajuan dan perubahan sosial dan statika ini mewakili stabilitas sedangkan dinamika mewakili perubahan. Dengan memakai anologi dari biologi Comte juga menyatakan bahwa hubungan antara statika social dengan dinamika social dapat disamakan dengan hubungan antara anatomi dan fisiologi.
             Bahkan sampai sekarang pun klasifikasi comte ini masih sangat relevan dan diterima .Dalam literature sosiologi masa kini kita senantiasa menjumpai ahli sosiologi yang mempelajari social statics, melakukan kajian terhadap tatanan social seperti misalnya kajian terhadap struktur social suatu masyarakat, institusi dan sebagianya . Namun ada pula ahli sosiologi yang memusatkan perhatiannya pada social dynamics yang mengkaji perubahan social seperti misalnya perubahan social yang melanda Negara baru setelah berakhirnya perang dunia II, arah perubahannya, dampaknya dan sebagainya.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Daftar Pustaka
Sunarto Kamanto,pengantar sosiologi(Jakarta:Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI,1993)


[1] lihat berger dan berger, 1981:30
[2] Contemporary perspective.lihat Johnson,1981
[3] Lihat antara lain,Beck, 1979:27-45;coser,1977
[4] Lihat Laeyendecker,1983:143-145

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini