Senin, 13 Oktober 2014

Tugas UTS (Sholahul Imani El Azmi 1112051000103 KPI 5D)

ETIKA MAJELIS TA'LIM DENGAN MASYARAKAT SEKITAR
 
A.   Latar Belakang
Pada zaman yang sudah serba modern ini banyak sekali orang-orang yang tahu tentang etika, namun ternyata masih banyak juga diantara mereka yang tak mengerti apa itu etika seakan-akan etika hanya makna kiasan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya pada kalangan masyarakat pendidikan menengah kebawah tapi juga pada masyarakat yang berpendidikan menengah keatas.
Seperti yang kita ketahui dari media yang sudah sangat modern di zaman ini, banyak orang-orang yang mengumbar aib orang-orang terdekat mereka atau bahkan aib mereka sendiri pada media seakan-akan bangga dengan kesalahan yang telah mereka perbuat.
Etika sendiri berbicara tentang nilai-nilai dan norma-norma etika sebagai pedoman perilaku masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Pada cabang filsafat, etika berbicara tentang nilai dan norma.
Maka sesuai dengan judul diatas, saya akan membahas persoalan etika pada Majelis Ta'lim Nurul Jannah. Karena dalam sama dengan majelis ta'lim yang lainnya tentu saja majelis ini mengajarkan tentang ilmu-ilmu tentang agama Islam.
 
B.   Pembahasan
Dalam menuntut ilmu agama tentulah kita diajarkan tentang toleransi beragama dan etika komunikasi dengan agama lain. Agar agama yang satu dengan agama yang lain baik yang mayoritas maupun yang minoritas tidak merasa dikucilkan dalam masyarakat.
Etika sendiri berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu ethikos yang berarti timbul dari kebiasaan, maksudnya adalah sebuah sesuatu di mana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian mioral.
Secara metodologis, tidak setiap hal perbuatan dapat dikatakan sebagai etika. Etika memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi. Karena itulah etika merupakan suatu ilmu, sebagai suatu ilmu, objek dari tika sendiri adalah tingkah laku manusia, etika sendiri memiliki sudut pandang normatif. Maksudnya, etika melihat dari sudut baik dan buruk terhadap perbuatan manusia.
Saya akan membahas persoalan etika pada Majelis Ta'lim Nurul Jannah. Secara harfiah majelis ta'lim artinya adalah tempat belajar bagi masyarakat. Majelis ta'lim sendiri tentu saja mempunyai peran sangat penting bagi umat Islam untuk belajar selain di madrasah-madrasah. Karena dalam agama Islam sendiripun majelis ta'lim sangat dianjurkan seperti dalam ayat hadits berikut ini "Dari Abi Dzarin r.a: bahwa menghadiri majelis ta'lim lebih baik dari pada sholat seribu raka'at, dan dari pada seribu mati syahid, juga lebih baik dari pada melayat seribu orang sakit". Maksud dari hadits tersebut ialah untuk menyuruh kita hadir dalam majelis ta'lim karena belum tentu kita mampu melakukan sholat seribu raka'at, mati syahid seribu kali ataupun punya 1000 kawan yang mati syahid, dan menjenguk 1000 orang yang sedang sakit.
Hasil wawancara saya kepada salah satu jama'ah Majelis Ta'lim Nurul Jannah yang bernama Misar Marzuki untuk menjawab hasil penelitian saya mengenai kurangnya lahan masjid-masjid untuk menampung para jama'ah yang begitu banyak, karena dalam majelis-majelis yang saya lihat sekarang ini bukan hanya untuk menampung para jama'ah saja bahkan juga untuk menampung orang-orang yang berdagang disekitarnya. Sedangkan dalam Islam kita diajarkan untuk bertoleransi dalam beragama. Allah berfirman "Hai orang-orang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan" (QS. Al Maidah : 8).
Toleransi beragama yang saya maksud disini adalah menghargai eksistensi agama orang lain. Toleransi adalah istilah dalam konteks sosial, budaya, dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat, yang salah satu contohnya adalah toleransi beragama, dimana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat mengizinkan keberadaan agama-agama lainnya. Karena seperti yang kita ketahui di zaman sekarang ini majelis-majelis ta'lim tidak hanya digelar di dalam masjid dan mushola tapi bahkan majelis digelar dilapangan-lapangan dan di jalan-jalan raya yang tentunya akan merugikan beberapa pihak bahkan dari agama lain. Agama lain pun tentu saja akan memberikan nilai buruk bagi agama kita bahkan bukan hanya dari agama lain dari agama kita sendiripun akan berpendapat sama ketika mereka merasa dirugikan.
 
C.   Tujuan Teori
Pada persoalan etika dalam Majlis Ta'lim Nurul Jannah ini saya menggunakan teori Utilitarianisme yang menurut teori ini, suatu tindakan dapat dikatakan baik jika membawa manfaat bagi sebanyak mungkin anggota masyarakat, atau dengan istilah yang sangat terkenal "the greatest happines of the greatest numbers".
Perbedaan paham utilitarianisme dengan paham egoisme etis terletak pada siapa yang memperoleh mamfaat. Egoisme etis melihat dari sudut individu, sedangkan paham utilitarianisme melihat dari sudut kepentingan orang banyak (kepentingan bersama, kepentingan masyarakat).
Dalam  teori ini, utilitarianisme diringkas menjadi 3 paham yang salah satunya adalah paham deontologi, yang mengatakan bahwa etis tidaknya suatu tindakan tidak ada kaitannya sama sekali dengan tujuan, konsekuensi atau akibat dari tindakan tersebut. Konsekuensi suatu tindakan tidak boleh menjadi pertimbangan untuk menilai etis atau tidaknya suatu tindakan. Suatu perbuatan tidak pernah menjadi baik karena hasilnya baik, hasil  baik tidak pernah menjadi alasan untuk membenarkan suatu tindakan.
Seperti yang saya jelaskan sebelumnya bahwa ada salah satu kendala pada Majelis Ta'lim Nurul Jannah. Dan kendala tersebut masuk kedalam teori utilitarianisme  dalam paham deontologi, yang dimana ada masyrakat-masyarakat tertentu yang merasa dirugikan dengan tertutupnya akses jalan umum yang biasanya dapat mereka lewati.
 
D.   Metodologi Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kualitatif artinya data yang digunakan merupakan data kualitatif deskriptif. Menurut Suharsimi Arikunto, penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan keadaan atau status kejadian.
Dalam hal ini, saya sebagai peneliti ingin memaparkan situasi atau peristiwa. Apabila data yang diperlukan telah terkumpul, lalu di klasifikasikan dalam data yang bersifat kualitatif, yaitu digambarkan dengan kata-kata atau kalimat dipisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan.
Subyek penelitian adalah Misar Marzuki yang merupakan jama'ah dari majelis ta'lim Nurul Jannah. Penelitian ini mengambil lokasi di Jl. Kemang Utara G, Jakarta Selatan. Metode yang digunakan adalah wawancara memberi pengarahan pada pewawancara mengenai hakikat permasalahan yang ada maupun tentang pertanyaan yang diajukan kepada sumber yang diwawancarai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini