Senin, 13 Oktober 2014

UTS_Wita Eka Sucita(1112051000126)KPI5E

Latar Belakang
Setiap orang tua dan semua guru ingin membina anak agar menjadi orang yang baik, mempunyai kepribadiaan yang kuat, dan sikap mental yang sehat, serta akhlak yang terpuji. Semua itu dapat diusahakan melalui pendidikan, baik formal maupun informal. Setiap pengalaman yang dilalui anak, baik melalui penglihatan, pendengaran maupun perlakuan yang diterima akan ikut menentukan pembinaan pribadinya. Kepribadian orang tua merupakan unsur-unsur pendidikan tak langsung, maka sikap anak terhadap guru agama akan sanggat dipengaruhi oleh sikap orang tuannya terhadap agama dan guru agamanya.
Guru agama mempunyai tugas yang cukup berat, yaitu ikut membina pribadi anak di samping mengajarkan pengetahuan agama kepada anak. Guru agama harus membawa anak didik ke arah pembinaan pribadi yang sehat dan baik. Setiap guru agama harus menyadaribahwa segala yang terefleksi dari dirinya akan menjadi unsur pembinaan yang lebih dominan bagi anak didik daripada pengajarannya secara langsung. Guru agama dapat memperbaiki kesalahan yang dibuat oleh orang tua, kemudian bersama guru-guru lain membantu pembinaan anak sehingga perkembangan moralnya terkontrol.
Pendidikan agama di lembaga pendidikan bagaimanapun akan memberi pengaruh bagi pembentukan jiwa keagamaan kepada anak. Namun demikian, besar-kecilnya pengaruh tersebut sangat tergantung pada berbagai faktor yang dapat memotivasi anak untuk memahami niali-nilai agama. Sebab, pendidikan agama lebih dititikberatkan pada bagaimana membentuk kebiasaan yang selaras dengan tuntunan agama.
Pada dasarnya, suatu peristiwa atau kejadian tidak pernah lepas dari peristiwa lain yang mendahuluinya. Dengan demikian juga, dengan timbul dan berkembangnya filsafat ataupun ilmu. Menurut  Rinjin, filsafat dan ilmu timbul dan berkembang karena akal budi, thauma, dan aporia.
Menurut Imanuael Kant 1724-1804 "filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang didalamnya tercakup empat persoalan (1) apakah yang dapat kita kerjakan? (jawabannya metafisika), (2) apakah yang seharusnya kita kerjakan? (jawabannya etika), (3) sampai dimanakah harapan kita? (jawabannya agama), (4) apakah yang dinamakan manusia? (jawabannya antropologi)".
Orang berfilsafat dapat diumpamakan sebagai seseorang yang berpijak dibumi sedang tengadah kebintang-bintang. Ia ingin mengetahui hakikat dirinya dalam kemestaan alam. Karakteristik berfikir filsafat yang pertama adalah menyeluruh dan kedua mendasar.
Filsafat mempunyai keeratan yang sangat kuat dengan etika. Dapat diketahui bahwa etika itu menyelidiki segala perbuatan manusia kemudian menetapkan hukum baik atau buruk. Kita sekalian memberi hukum kepada beberapa perbuatan bahwa "ia baik atau buruk, benar atau salah, hak atau batal). Hukum ini merata diantara manusia, baik yang tinggi kedudukannya maupun yang rendah, baik dalam perbuatan yang besar maupun yang kecil.
Etika berasal dari bahasa Yunani Kuno "ethikos", berarti "timbul dari kebiasaan" adalah sesuatu di mana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Etika dimulai bila manusia merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapat-pendapat spontan kita. Kebutuhan akan refleksi itu akan kita rasakan, antara lain karena pendapat etis kita tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain. Etika terbagi menjadi tiga bagian meta-etika (studi konsep etika), etika normatif ( studi penentuan nilai), dan etika terapan (studi penggunaan nilai-nilai etika).
Pembahasan
Pada masyarakat terdapat banyak peranan. Setiap individu bebas untuk mengisi dan memainkan peranan itu, yang kerap menimbulkan masalah adalah pemahaman dan pengisian peranan itu tidak berjalan sesuai koridor yang ada. Artinya, tidak jarang ditemukan penyimpangan disana-sini. Secara sikologis, semakin banyak terjadi penyimpangan peran dalam masyarakat, semakin tinggi pula friksi dan konflik baik verbal maupun fisikal.
Tingkat kepatuhan masyarakat terhadap kaidah yang ada tidak selamanya dalam posisi menggembirakan. Ada saat bahkan berada dalam titik mengecewakan. Kenyataan demikian terjadi terutama ketika masyarakat dihadapkan pada pilihan baru sebagai dampak tak terhindarkan dari pengaruh sesuatu yang dianggap modern. Maka dari itu saya ingin mengangkat kasus yang cukup menjadi perhatian saya tentang masalah pendidikan anak terhadap agama terutama mengaji Al-Quran dengan cara pengajaran dan sikap guru mengaji dijaman sekarang.
Kurangnya kesadaran akan pendidikan agama di masyarakat perkotaan  sekarang ini mulai dirasakan, bisa dilihat dengan kurangnya anak-anak yang ingin pergi ke Mushala atau Masjid untuk belajar mengaji. Orangtua lebih mengharuskan anaknya belajar secara formal di sekolahan ataupun tempat les untuk mengguasai ilmu-ilmu pengetahuan tapi tidak memperhatikan pendidikan agamanya.
Tapi berbeda dengan masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan tapi yang kurang mampu dalam hal ekonomi dan pendidikannya, mereka masih mau memperhatikan pendidikan agama untuk anak-anak mereka. Walaupun kadang ini juga menjadi masalah untuk guru mengajinya. Karena guru mengajinya itu juga kurang memiliki pendidikan formal sehingga ia tidak mempunyai mata pencaharian yang lain selain menjadi guru mengaji.
Contoh satu kasus adik saya setiap pulang mengaji di akhir minggu selalu menyampaikan keluhan gurunya yang sedikit agak marah karena setiap minggu yang seharusnya giliran bayar mingguan tapi murid-muridnya banyak yang tidak masuk. Masalah ini jadi perhatian yang menarik bagi saya. Kenapa guru mengaji adik saya itu sampai bersikap seperti itu?, apakah beliau tidak mengadakan paguyuban orang tua untuk membahas atau melaporkan kegiatan belajar mengajarnya?, dan kenapa dia mengeluhkan masalah pemasukan kepada anak-anak yang sebenarnya anak-anak didiknya masih belum pantas untuk tau masalah itu?. Maka dari itu saya melakukan wawancara pada guru mengajinya.
Kemudian saya melakukan wawancara kepada Ustad. Muslim yaitu guru mengaji adik saya tentang perasaan beliau menjadi seorang guru mengaji beliau menjawab "saya senang menjadi guru mengaji karena saya menganggap mengajar mengaji adalah sebagian dari ibadah, saya menjalankannya dengan ikhlas".
Tapi ketika saya menanyakan hal yang cukup sensitif tentang bayaran dari beliau mengajar mengaji dan beliau menjawab "dulu ketika saya masih kecil, orangtua mendatangi kediaman rumah guru mengaji untuk menitipkan anaknya belajar mengaji Al-Quran di Mushala. Tiap minggu orangtua saya memberikan uang minyak (bayar mingguan) kepada guru mengaji sebagai ungkapan terimakasih kepada guru mengaji saya. Tapi saat ini orangtua sudah tidak memperhatikan etika menitipkan anaknya kepada guru mengaji, anak mereka disuruh mengaji kesini tanpa orangtua itu basabasi menitipkan anaknya untuk belajar mengaji disini. Sampai kadang saya tidak tau anak siapa itu yang mengaji disini, sehingga saya merasa geram ketika waktunya bayaran yang dihari biasa itu muridnya banyak tapi ketika akhir minggu yang datang mengaji hanya 3-5 orang saja" ujar beliau. 
Kemudian setelah melakukan wawancara dengan guru mengaji saya melakukan wawancara dengan salah satu seorang orang tua murid yang anaknya mengaji disitu, namanya ibu Nengsih, saya menanyaka pendapatnya tentang sikap guru mengaji anaknya yang mengatakan kurang adanya perhatian dari orang tua murid dan bagaimana pendapatnya tentang hal guru mengaji tersebut mengeluh akan bayaran yang tidak didapatkan dengan sepantasnya. Lalu ibu Nengsih pun menjawab pertanyaan saya. Menurut ibu nengsih bahwa sikap yang dilakukan oleh guru mengaji tersebut kurang tepat karena guru ngajinya itu tidak menyampaikan masalah itu kepada orang tua muridnya padahal rata-rata anak yang mengaji disitu ibu-ibunya mengaji mingguan juga paginya di situ, harusnya hal itu jadi ajang pertemuan orang tua murid juga. "Karena kurang etis saja rasanya menegur anak-anak yang masuk padahal mereka sudah bayar tapi masih saja di omelin. Pa ustad itu kadang suka ngomel ga sesuai tempat dan sama siapa sih" bergitu kata bu Nengsih.
Dan memang jika dilihat kalau rata-rata orang tua yang menitipkan anak-anaknya mengaji disitu adalah orang-orang menegah kebawah jadi harusnya sikap saling memahami juga diperlukan dalam masalah ini.
Dasar-Dasar Ilmu
Ontologi
Ontologi merupakan salah satu di antara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Dalam persoalan ontologi orang menghadapi persoalan bagaimanakah kita menerangkan hakikat dari segala yang ada ini? Pertama kali orang dihadapkan pada adanya dua macam kenyataan. Yang pertama, kenyataan yang berupa materi (kebenaran) dan kedua, kenyataan yang berupa rohani (kejiwaan).
Noeng Muhadjir dalam bukunya filsafat ilmu mengatakan, ontologi membahas apa yang ada, yang tidak terkait oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berusaha mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan lorens bagus, menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.
Epistemologi
Epistemologi atau teori pengetahuan ialah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, pengandai-pengandaian, dan dasar-dasarnya serta pertanggungjawaban atas pertanyaan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Pengetahuan yang diperoleh oleh manusia melalui akal, indera, dan lain-lain mempunyai metode tersendiri dalam teori pengetahuan, di antaranya adalah:
Metode induktif
Metode deduktif
Metode positivisme
Metode kontemplatif
Metode dialektis
Dalam kasus yang diambil ini menurut saya kasus ini masuk kedalam metode dialektis karena Dalam kehidupan sehari-hari dialektika berarti kecakapan untuk melakukan perdebatan. Dalam teori pengetahuan ini merupakan bentuk pemikiran yang tidak tersusun dari satu pikiran tetapi pemikiran itu seperti dalam percakapan, bertolak paling kurang dua kutub. Karena ini hampir sama dengan penelitian yang saya lakukan masalah ini tidak tersusun dari satu masalah saja tetapi dari berbagai masalah sama seperti halnya ada dua orang yang sedang bicara pembicara itu yang mulanya dari mana tapi pembicaraan itu teralihkan dengan pembicaraan yang lain seperti kutub yang bertolak lebih dari dua kutub.
Aksiologi
Aksiologi berasal dari kata axios (yunani) yang berarti nilai dan logos yang berarti teori. Jadi aksiologi adalah "teori tentang nilai". Sedangkan arti aksiologi yang terdapat di dalam bukunya Jujun S. Suriasumantri filsafat ilmu sebuah pengantar populer bahwa aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.
Nilai itu objektif atau subjektif adalah sangat tergantung dari hasil pandangan yang muncul dari filsafat. Nilai akan menjadi subjektif, apabila subjek sangat berperan dalam segalahal kesadaran manusia menjadi tolok akur segalanya; atau eksistensinya, maknanya dan validalitasnya tergantung pada reaksi subjek yang melakukan penilaian tanpa mempertimbangkan apakah ini bersifat piksis atau fisis. Nilai objektif, jika ia tidak tergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai. Nilai objektif muncul karena adanya pandangan dalam filsafat tentang objektivisme. Objektivisme ini  beranggapan pada tolok ukur suatu gagasan berada pada objekny, sesuatu yang memiliki kadar secara realitas benar-benar ada.
Metodologi
Metodologi yang digunakan adalah metodologi kualitatif, yaitu penelitian yang menekankan pada pemahaman mengenai masalah-masalah dalam kehidupan sosial berdasarkan kondisi reatitas atau natural setting yang holistik, komplek dan rinci. Metode ini juga menekankan pada aspek pemahaman secara mendalam terhadap suatu masalah daripada melihat permasalahan untuk penelitian generalisasi. Kualitatif juga biasa disebut sebagai proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Tujuan dari metodologi ini bukan suatu generalisasi tetapi pemahaman secara mendalam terhadap suatu masalah. Penelitian kualitatif berfungsi memberikan kategori subtantif dan hipotesis penelitian kualitatif.
Penelitian diadakan pada:
Tanggal : Minggu, 12 Oktober 2014
Narasumber : 1. Ustd. Muslim (guru mengaji)
  2. Nengsih (orang tua murid)
Waktu : 1. 20.00-20.30
  2. 21.00-22.00
Tempat : Poris Gaga Baru, Tangerang
Analisis
Dari wawancara yang saya lakukan dengan guru mengajinya saya paham bahwa beliau juga ingin hasil jasanya itu dihargai, walaupun tidak besar tapi kesadaran orang tua yang menitipkan anaknya untuk belajar mengaji itu kurang. Tapi menurut saya hal yang dilakukan oleh guru mengajinya kurang tepat dengan cara jika pertemuan di akhir minggu selalu menegur anak-anak yang datang dan menyampaikan keluhannya kepada anak-anak yang datang itu bahwa ia merasa tidak senang jika setiap akhir minggu itu pasti banyak yang tidak masuk karena takut dimintai bayaran. Dan beliau juga sering mengatakan kalau beliau tidak mendapatkan pemasukan karena muridnya tidak bayaran. Itu dirasa sangat bertentangan dengan etika seorang pengajar.
Profesi guru adalah profesi yang terhormat. Profesi ini merupakan sebuah jabatan yang membutuhkan itelektual secara khusus, yang didapat melalui aktifitas belajar serta pelatihan yang mempunyai tujuan untuk menguasai keahlian atau keterampilan dalam melayani orang lain, dimana mereka akan memperoleh gaji atau upah dalam bidang tertentu. Tapi dari semua itu yang harus diperhatikan bagi seorang guru adalah harus mempunyai kesadaran bahwa jabatan guru merupakan suatu profesi yang sangat terhormat, mempunyai perlindungan, mempunyai martabat, serta mulia. Untuk itu guru harus menjungjung tinggi etika profesi mereka. Guru mengabdikan diri serta berbakti untuk membuat cerdas bangsa dan meningkatkan kualitas manusia.
Seorang guru harus selalu tampil dengan profesional akan tugas utamanya untuk mendidik, mengajar, membimbing dan mengevaluasi anak didiknya dalam pendidikan yang ia ajarkan kepada anak didiknya.

Daftar Pustaka
Amin, Ahmad. 1995. Etika Ilmu Akhlak. Jakarta: Bulan Bintang
Ardial. 2014. Paradigma dan Model Penelitian Komunikasi. Jakarta: Bumi Aksara
Arifin, Bambang Syamsudin. 2008. Psikologi Agama. Bandung: Pustaka Setia
Bakhtiar, Amsal. 2004. Filsafat Ilmu. Jakarta: Rajagrafindo Persada
Bertens, K. 2000. Etika. Jakarta: Gramedia Pusaka Utama
Mulyanto, Heru dan Anna Wulandari. 2010. Penelitian Metode dan Analisis. Semarang: cv Agung
Ridwan, Aang. 2013. Filsafat Komunikasi. Bandung: Pusaka Setia
Sumadiria, Haris. 2014. Sosiologi Komunikasi Massa. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
http://manusiapinggiran.blogspot.com
http://wikipedia.org
http://seputarpendidikan003.blogspot.com




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini